⚠️ UNTUK 18TH KEATAS, BIJAKLAH DALAM MEMBACA!
Caleste seorang gadis Werewolf yang terlanjur "Having Fun" dengan seorang Vampire bernama Ian, ternyata dari hubungan terlarang itu Caleste hamil. Bayi Hybrid percampuran Werewolf dan Vampire.
Bayi yang menjadi ancaman kaum Werewolf, Vampire maupun Witch. Disisi lain Ian ternyata malah jatuh cinta dengan seorang manusia i'm, Freya gadis blonde yang merupakan seorang Psikolog.
Apa yang akan terjadi pada bayi Hybrid itu?
Read more...
"I'm Fallin Love With Devil"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 | This is a Lie!
Saat ini Gillbert tengah bahagia dengan adanya berita anak dari Ian, Ia meyakini bahwa Ian bisa menemukan kembali sisi kemanusiaannya dengan kehadiran bayi ini. Setelah mengabari Bianca kini Gill datang mencari Ian.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
Di balkon sebuah Hotel kini Ian tengah bersantai sambil memperhatikan penduduk kota yang lalu lalang dari atas gedung.
"Good evening Gillbert!" ucap Ian yang mengetahui kedatangan saudaranya itu.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, ikuti aku!" saut Gill.
"Aku tidak akan kemana-mana sampai aku mengetahui siapa saja musuhku di sini!" ucap Ian padanya.
"Kau akan menyesal jika tak mendengarkanku kali ini, follow me!" ucap Gill dengan tegasnya.
Kemudian Ian terpaksa mengikuti kakaknya itu sampai ke Makam Tua. Namun langkah Ian terhenti di depan Gerbang Makam dan Ia menatap tajam ke arah Gillbert yang sudah masuk ke Makam itu.
"Jangan main-main Gill!" tegas Ian di sana.
Tak lama Davina datang,
"Please come in!"
Lalu Ian melangkahkan kakinya memasuki Makam Tua itu. Davina membawa Ian dan Gillbert masuk sampai ke dalamnya. Sesampainya di dalam Ian terkejut melihat tempat sakral ini yang sudah dipenuhi oleh kaum Penyihir dan ada seseorang yang Ia kenali di hadapannya.
"Apa-apaan ini?! Caleste?" ucap Ian menatap gadis Werewolf itu.
"Kau mengenali gadis ini?! Saat ini Ia sedang mengandung anak mu!" jelas Gillbert tanpa basa basi.
"Hahaha, lelucon macam apa ini!" saut Ian kemudian.
"Awalnya aku pun berfikir seperti itu, tapi aku sudah masuk ke memorinya dan memastikan hal itu!" jelas Gillbert kini.
"Tidak, ini tidak mungkin! This is a lie! Kalian berbohong!" teriak Ian seketika sambil menunjuk ke semua yang ada di sana.
Emosinya seketika tersulut dan Ia sangat terkejut dengan yang di hadapinya kini.
"Vampire tidak bisa bereproduksi!" tegas Ian di sana.
"Tapi Werewolf bisa!" sambar Davina si Penyihir itu.
"Kau sudah tidur dengan laki-laki lain dasar wanita jalang, akuilah!" saut Ian seketika sambil menunjuk ke arah Caleste.
"Hey, aku berhari-hari telah bersembunyi di hutan dan kini menjadi tahanan kaum Penyihir ini, yang mereka lihat tentang bayi Hybrid, apa menurutmu aku tidak akan memberontak jika ini bukan milik mu!" tegas si gadis Werewolf itu.
Sontak Ian terdiam terpaku sejenak...
"Aku telah berkali-kali memastikan bahwa ini bayi Hybrid dengan bantuan the Ancestors, dan ya kami membutuhkan bantuan kalian Vampire Tua untuk mengalahkan Daniel, kau harus mengalahkan Daniel dan membebaskan kaum Penyihir dari perbudakannya, kami bisa menjaga bayi Hybrid mu selamat atau kami bisa membunuhnya!" jelas Davina kemudian kepada seorang Ian.
Mendengar ucapan itu dari seorang Penyihir membuat emosi Ian makin tersulut di sana, baru kali ini dia merasa terdesak.
"How dare you!"
Sautnya sambil menatap bengis ke arah Penyihir itu kini.
"Beraninya kau memerintahku, mengancamku dengan yang kau anggap itu sebagai kelemahanku! Penipuan ini begitu menyedihkan, aku tidak akan mendengar sepatah kata pun dari mulut kalian!" ucap Ian yang mulai gusar saat ini sambil melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.
"Stop Ian! Listen!"
Teriak Gillbert seketika, Ia meminta Ian untuk mendengarkan detak jantung janin yang ada di dalam rahim Caleste. Sontak Ian terhenti di sana dan menatap perut Caleste kini, Ia menggunakan kekuatan Supranatural seorang Vampire yang dapat mendengar dengan jelas dari jarak jauh sekalipun.
Ian nampak tercengang, matanya mulai sayu kini dan emosinya mulai redup. Gillbert memperhatikan raut wajah saudaranya itu dengan jelas. Namun egonya masih tak terkalahkan.
"Kill her and her baby, peduli apa aku!" ucapnya setelah itu sambil bergegas pergi meninggalkan Makam Tua ini.
Seketika Caleste pun menjadi panik akan sikap Ian,
"Persetan aku ingin pergi dari sini!" ucapnya gemetar.
"Tunggu, tidak ada yang boleh menyentuh gadis ini, aku akan berbicara dengan Ian dan meluruskan semuanya!" saut Gillbert seketika dan meyakinkan Davina dengan kaum Penyihir lainya.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
Kemudian Gillbert mengejar Ian dan berusaha meyakinkannya.
"This is a lie, aku tidak akan tertipu dengan semua kebohongan ini!" cecar Ian yang kesal sepanjang perjalanannya.
"Ian dengarkan aku, anak ini bisa menjadi kesempatan untuk kita!" teriak Gill dari belakang sambil menarik tangan saudaranya itu.
"Kesempatan untuk apa?!" teriak Ian kesal.
Seketika Gillbert memegang dan menatap tegas wajah Ian di sana,
"Untuk mengulang kembali, mengambil kembali apa yang hilang dari kita, kasih sayang, rasa kemanusiaan, orang tua kita membenci kita setelah kita menjadi Vampire bahkan bukan atas kesalahan kita, keluarga kita telah hancur, dan yang kita inginkan adalah sebuah keluarga!" jelas Gillbert padanya dengan kesungguhan.
Kemudian Ian melepaskan tangan Gillbert darinya dan menatapnya balik.
"Aku tidak akan terpengaruh!" ucapnya sambil bergerak pergi dari sana.
"Mereka, para Penyihir itu memang memanfaatkan mu, tapi dengan mereka anakmu bisa hidup!" teriak Gillbert padanya.
"Akan ku bunuh mereka semua dengan tanganku satu persatu!" cecar Ian kini sambil terus melangkah.
Dengan cepat Gillbert melesat dengan kekuatan Vampire-nya dan menghadang Ian dari depan.
"Lalu apa?! Kau akan melanjutkan kehidupan mu sebagai Iblis, makhluk yang paling dibenci, apa itu begitu penting bagimu hingga semua orang takut saat mendengar namamu di sebut!" sambar Gillbert di sana.
"Mereka semua takut karena aku memiliki kekuatan yang mereka takuti, lalu apa yang akan diberikan anak ini, kekuatan?!" ucap Ian kini pada saudaranya itu.
"Keluarga adalah kekuatan Ian, cinta, kesetiaan, ketulusan, itu adalah kekuatan, dan itu yang kita punya dulu sebelum kau menjadi Vampire Bengis dengan ego, amarah dan paranoia yang menciptakan seseorang yang hampir tak ku kenali lagi sebagai saudaraku ini!" tegas Gillbert padanya.
Sontak Ian terdiam mendengar perkataan Gillbert. Ia semakin berfikir kini.
"I'm asking you to stay here, aku memintamu sebagai saudara, dan aku akan membantumu, kita akan membangun tempat tinggal bersama-sama, jadi selamatkan gadis ini, selamatkan bayimu!" tegas Gillbert lagi padanya.
Lalu Ian mendekat perlahan dan berbisik di telinga saudaranya itu.
"No!"
Dengan cepat Ia melesat dari sana dan pergi meninggalkan Gillbert.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
Di sebuah lorong di tengah kota kini sepasang kekasih sedang bercumbu mesra.
"Bibirmu semakin menggilaiku!" bisik pria itu pada kekasihnya.
Mereka terus berciuman, saling menghisap dan memainkan lidah satu sama lain, tak luput sesekali pria itu meremas b*kong indah kekasihnya.
"Sssssh,"
Desah dari wanita itu semakin liar.
Tak lama dari kejauhan Ian yang melintasi lorong itu melesat ke arah sepasang kekasih ini.
"Leave! Pergi dari sini tanpa bersuara, atau kalian takkan dapat bercumbu esok!" ucap Ian menatap mata manusia itu dengan kekuatan Hipnotis seorang Vampire.
Sontak pasangan muda mudi ini bergerak pergi dari sana. Ian yang kini frustasi tak ingin menambah masalahnya di Kota Daniel. Ia menenggak habis sebotol Bourbon dan berjalan tergopoh di lorong itu.
Traaaakkk...
Di bantingnya botol yang telah kosong itu hinga terserak puing-puing pecahannya.
"Apa perkataanku untuk meninggalkanku sendirian tak cukup jelas?!" ucap Ian pada seseorang kini.
Ya, Gillbert sedari tadi masih mengikutinya dari belakang.
"Beruntung sekali leher pemuda pemudi itu bisa lepas dari gigitan seorang Ian!" ucap Gillbert di sana.
"Kenapa kau selalu mendesakku tentang anak itu!" teriak Ian yang kesal kini.
Gillbert pun yang kini sudah muak melihat tingkah Ian sontak melesat ke arahnya dan mengangkat tubuh Ian ke dinding lorong itu.
"Kau tak akan lari dari masalah ini!" tegas Gillbert padanya.
"Lepaskan aku!" teriak Ian.
"Aaarrrgh!"
Seketika Ian memutar tangan kakaknya itu dan membantingnya ke lantai.
Sontak Gillbert yang ikut tersulut emosinya kini tak tinggal diam, Ia mematahkan tiang besi pagar yang ada di ujung lorong dan memukul Ian di sana sampai berdarah.
Plaaakkk...
"Meskipun aku harus menyia-nyiakan keabadianku untuk menyelamatkan mu dari keras kepala, ke sensitifan dan kekejaman dirimu sendiri, itu tak masalah!" ucap Gillbert membangunkan adiknya yang sudah tersungkur itu.
"Hahaha, kau menyedihkan sekali Gillbert!" ucap Ian tertawa.
"Mana yang lebih menyedihkan, aku atau pengecut yang hanya melihat dunia ini dari paranoia-nya saja!" sentak Gillbert padanya.
"Ciih, kau ini perasa yang bodoh!" saut Ian di sana.
"Meski begitu aku masih bertahan sampai sekarang, duduk lah!" tegas Gillbert pada adiknya itu.
Mereka bertengkar layaknya kakak beradik pada umumnya, dan kini mereka terduduk dengan pembicaraan yang serius.
"Dulu kota ini adalah rumahku, dan selama aku pergi Daniel mendapatkan semua yang ku inginkan, kekuasaan, kesetiaan dan keluarga, aku menginginkan semua itu kembali, I will be a king!" ucap Ian pada saudaranya.
"Jadi itukah arti anak ini untukmu, hanya untuk alat sebuah kekuasaan?!" sambar Gillbert kemudian.
"Lalu apa artinya untukmu?!" ucap Ian sambil menatap tajam ke arah Gill.
"Menurutku anak ini akan memberikanmu sesuatu yang kau sendiri tak percaya bisa memlikinya!" ucap Gillbert dengan tenang.
"What is that?!"
"Cinta tanpa syarat untuk keluarga, hati!" jelas Gillbert pada Ian sambil menepuk pundaknya.
Sontak Ian termenung sejenak dan terus menatap dalam dalam kakaknya itu.
"Katakan pada Davina kita sepakat!" ucap Ian kini sambil melesat pergi dari sana.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
⚜️Nantikan di Next Bab⚜️
tak bisa berkata-kata 😎
apa talinya kendor ya...??🙄🙄