Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Kegelapan Jurang
Gerimis tipis membasuh atap-atap paviliun batu Keluarga Lin, membawa aroma tanah basah yang dingin. Di sudut paling belakang kediaman megah itu, sebuah paviliun kecil yang lapuk berdiri terasing. Di sanalah Lin Huang tinggal—atau lebih tepatnya, diasingkan.
Malam ini adalah Malam Pengujian Tulang Jiwa, tradisi tahunan di mana garis keturunan utama Keluarga Lin memamerkan bakat kultivasi mereka. Dari kejauhan, Huang bisa mendengar sorak-sorai riuh dan dentang lonceng perunggu yang megah. Saudara sepupunya, Lin Tian, baru saja dinyatakan memiliki Tulang Roh Harimau Guntur, sebuah bakat langka yang akan membawanya ke puncak sekte besar.
Sementara Huang? Dia hanya menatap telapak tangannya yang dipenuhi kapalan dan luka gores. Di dunia di mana Qi (energi alam) adalah segalanya, Huang adalah sebuah anomali yang sial. Meridian di dalam tubuhnya layu, buntu, dan menolak aliran Qi sekecil apa pun. Di mata dunia, dan terutama di mata keluarganya sendiri, dia tak lebih dari seonggok daging tak berguna.
"Sampah tetaplah sampah," kalimat itu dilontarkan oleh pamannya sendiri, sang Tetua Kedua, tepat di depan wajah Huang tiga tahun lalu saat ibunya tiada. Sejak hari itu, Huang belajar bahwa di dunia kultivasi, air mata adalah kelemahan dan belas kasihan adalah kemewahan yang tidak pernah sanggup ia beli.
Namun, Huang menolak untuk menyerah pada takdir.
Setiap malam, ketika seluruh kediaman telah terlelap, Huang akan menyelinap ke tebing belakang gunung. Di bawah siraman cahaya bulan yang dingin, dia melatih fisiknya secara ekstrem. Jika tubuhnya tidak bisa menampung Qi, maka dia akan menempa daging dan tulangnya hingga sekeras baja.
Seribu pukulan, dua ribu tendangan, hingga buku jarinya pecah dan darah merembes ke tanah. Rasa sakitnya begitu menusuk, seolah jiwanya sedang dikuliti hidup-hidup, namun sepasang matanya tetap menyala bagai bara api di kegelapan.
"Jika langit tidak memberiku jalan," bisik Huang di antara napasnya yang terengah-engah, darah menetes dari sudut bibirnya akibat memaksakan diri melampaui batas manusia normal, "maka aku akan membelah langit ini dengan tanganku sendiri."
Langkah pertamanya dimulai malam ini, dari titik paling bawah, menuju puncak yang tak terbayangkan.
Malam semakin larut. Kabut tebal mulai turun dari puncak gunung, menyelimuti tebing tempat Huang berlatih hingga menyisakan kesunyian yang mencekam.
Huang baru saja menyelesaikan tendangan ke dua ribu seratus ketika dadanya tiba-tiba terasa seperti dihantam godam tak kasat mata. Dia terhuyung, berlutut di atas tanah berbatu sambil mencengkeram dadanya. Napasnya memburu, terasa panas dan membakar tenggorokan.
"Uhuk!"
Setitik darah segar yang berwarna merah pekat keluar dari mulutnya, menodai batu hitam di bawahnya. Tubuhnya telah mencapai batas. Memaksa berlatih fisik tanpa adanya Qi untuk memulihkan otot sama saja dengan bunuh diri perlahan. Namun, bagi Huang, berhenti berarti menerima takdir sebagai pecundang.
Saat dia mencoba bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar, seberkas cahaya ungu redup tiba-tiba memancar dari celah batu di bawah tetesan darahnya.
Huang mengerutkan kening. Rasa sakit di dadanya mendadak sirna, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari telapak tangannya. Tanah di bawahnya bergetar pelan, bukan karena gempa bumi, melainkan seperti detak jantung raksasa yang terbangun dari tidur ribuan tahun.
Craakk!
Batu tempat Huang bertumpu retak. Sebelum dia sempat melompat mundur, tanah di sekitarnya ambles. Huang kehilangan pijakan. Tubuhnya meluncur jatuh ke dalam kegelapan jurang terlarang yang selama ini dihindari oleh seluruh anggota Keluarga Lin.
Angin malam menderu di telinganya. Di tengah kepasrahan antara hidup dan mati, Huang menolak memejamkan mata. Jika ini adalah akhir hidupnya, dia ingin melihat apa yang menjemput nyawanya.
BUM!
Tubuh Huang menghantam dasar jurang. Anehnya, dia tidak hancur menjadi berkeping-keping. Sesuatu yang empuk dan dingin—seperti tumpukan lumut kuno—telah menahan laju jatuhnya, meski benturan itu tetap membuat tulang rusuknya retak dan kesadarannya hampir hilang.
Dengan pandangan yang kabur oleh darah dan keringat, Huang memaksakan diri untuk melihat sekeliling. Dia berada di dalam sebuah gua bawah tanah yang sangat luas. Di tengah gua tersebut, mengapung sebuah kristal hitam pekat sebesar rumah.
Di dalam kristal itu, samar-samar terlihat sebuah kerangka makhluk bersayap enam yang memancarkan aura tekanan yang begitu dahsyat hingga membuat atmosfer terasa berat.
"Ratusan tahun... akhirnya ada darah yang mampu mengusik segel ini," sebuah suara bergema langsung di dalam kepala Huang. Suara itu tidak terdengar marah, melainkan terdengar tua, lelah, namun menyimpan keagungan yang tak tertandingi.
Huang berusaha bersuara, namun tenggorokannya terlalu kering.
"Manusia dengan meridian mati, namun memiliki kehendak sekeras baja langit," suara itu tertawa kecil, sebuah tawa yang menggetarkan seluruh gua. "Menarik. Sangat menarik. Bocah, apakah kau ingin membalikkan takdirmu? Apakah kau siap menanggung rasa sakit yang seribu kali lebih hebat dari yang kau rasakan malam ini?"
Di ambang batas kesadarannya, Huang mengepalkan tinjunya yang berdarah. Di kepalanya, kilasan wajah-wajah yang meremehkannya, tatapan jijik keluarganya, dan kata-kata 'sampah' kembali terngiang.
"Aku... mau," bisik Huang lirih, namun penuh penekanan.
"Bagus. Ingatlah hari ini, bocah. Hari di mana Ras Iblis Kuno memberimu kunci untuk menjungkirbalikkan dunia."
Kristal hitam itu tiba-tiba pecah. Miliaran serpihan cahaya hitam dan ungu melesat, berputar di udara, lalu menghujam langsung ke arah dada Lin Huang.
Rasa sakit yang menyusul kemudian membuat semua latihan ekstrem Huang selama ini terasa seperti gigitan semut. Huang menjerit histeris saat energi asing yang sangat dingin dan pekat memaksa masuk, menghancurkan meridiannya yang telah mati, lalu membangunnya kembali dari awal. Tulang-tulangnya patah dan menyambung kembali dalam hitungan detik.
Di dalam kegelapan jurang yang dalam, transformasi mengerikan sedang terjadi. Lin Huang yang tidak berguna sedang dihancurkan, dan dari abunya, sesuatu yang baru—sesuatu yang akan ditakuti oleh empat ras di bawah langit—sedang dilahirkan.
Ketika fajar menyingsing di atas kediaman Keluarga Lin, jurang terlarang kembali sunyi. Namun, di dasarnya yang kelam, segalanya telah berubah.
Huang terbangun dengan napas yang teratur dan dalam. Saat membuka mata, dia tidak lagi merasakan rasa sakit yang meremukkan tubuhnya semalam. Sebaliknya, sensasi luar biasa mengalir di setiap jengkal tubuhnya.
Ketika dia melihat kedua tangannya, luka-luka gores dan kapalan kasar yang didapatnya dari latihan bertahun-tahun telah hilang, digantikan oleh kulit yang bersih namun terasa sepadat perunggu.
Huang bangkit berdiri, lalu memejamkan mata untuk memeriksa bagian dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak seirama dengan denyut energi yang asing. Di tempat di mana meridiannya yang layu dulu berada, kini membentang jaringan jalur energi baru berwarna ungu gelap yang kokoh dan luas.