Tristan Emilio, menyimpan dendam atas kematian adiknya. Merencanakan pembalasan dendam dengan menyakiti Gendis Nayaka Putri.
"Kehormatan dibalas kehornatan, nyawa dibalas nyawa," ujar Tristan.
"Lakukan apapun semaumu, lampiaskan dendammu tapi jangan sakiti keluargaku," sahut Naya.
Apakah dendam Tristan akan terbayarkan?
Bagaimana nasib Naya setelah merelakan hidupnya untuk membayar kesalahan sang Kakak?
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan
Naya berjalan membawa dokumen yang akan dia berikan kepada Tristan sesuai arahan Bu Mira. Sempat bertemu rekan lainnya yang akan keluar dari villa. Ternyata tidak semua rekan kerjanya keluar, beberapa masih terlihat sedang menikmati fasilitas villa dengan bermain biliar dan ada juga yang berkaraoke.
Naya berjalan sesuai petunjuk arah, dia belum tahu dimana kamar Tristan hanya tahu nama kamarnya saja.
“Kayaknya ini deh,” ujar Naya membaca Anyelir di depan pintu. Kamar itu terpisah dari bangunan utama, lebih mirip rumah hunian. Naya mengetuk pintu, tidak lama pintu terbuka dimana Tristan berdiri di tengah pintu.
“Saya diminta Bu Mira mengantar ini,” ujar Naya. Tristan hanya bergeser seakan mempersilahkan Naya untuk masuk. Naya melangkah melewati Tristan, lalu menuju meja sofa dan meletakan dokumen di atas meja. Gerak-geriknya tidak lepas dari tatapan mata Tristan yang berjalan mengekor Naya lalu duduk di salah satu sofa.
“Saya permisi dulu, Pak.”
“Tunggu, saya belum minta kamu pergi. Duduklah!” titah Tristan.
Naya ragu untuk duduk, bahkan saat mendaratkan tubuhnya di atas sofa dia lakukan dengan sangat pelan seakan hendak duduk di atas benda tajam.
“Saya masih ada yang harus dikerjakan. Kamu sorting dokumen ini berdasarkan budget terbesar.”
“Baik, Pak.” Naya patuh tanpa berpikir dan berprasangka apapun. Tristan sengaja meninggalkan Naya, menuju kitchen island. Berdiri sambil minum soda kaleng yang baru saja dia ambil dari lemari es. Tatapannya terus tertuju pada Naya yang duduk membelakanginya.
Tristan tersenyum melihat tingkah Naya, sepertinya obat yang diminum sudah mulai bereaksi. Terlihat gelisah dan menggeser duduknya sesekali mengusap tengkuknya. Berada di daerah dataran tinggi dengan udara yang cukup dingin tapi Naya merasakan gerah dan panas yang menyiksa.
“Aku kenapa sih,” lirihnya.
“Sudah selesai?” tanya Tristan, membuat Naya terkejut dan menjatuhkan dokumen yang berada di pangkuannya.
“Maaf Pak, sepertinya harus … shhh saya urutkan lagi.” Naya menggigit bibirnya menahan sesuatu yang tidak biasa. Tristan mendekat lalu membungkuk membantu Naya mengambil dokumen yang jatuh ke lantai. Tangannya bersentuhan dengan kaki Naya, membuat tubuh Naya semakin meremang.
“Are you okay?” tanya Tristan. Titik-titik keringat terlihat di kening Naya, membuat Tristan menyentuh area itu dan mengusapnya. “Sepertinya kamu kurang sehat,” ujar Tristan setelah dengan sengaja menyentuh kulit Naya membuat gadis itu tersentak. Ada gejolak yang tidak bisa dia tahan.
“Pak … Tristan, tolong aku,” ujar Naya lirih.
“Hey, ada apa?” tanya Tristan yang kini duduk disamping Nana lalu merangkul bahunya. Tubuh mereka menempel bahkan sentuhan Tristan pada bahu yang masih terbalut blouse, membuat Naya memejamkan mata dan menggigit bibirnya.
Naya meremass ujung blousenya lalu mengerang sembari menahan nafasnya yang mulai memburu. Nafasnya semakin berat dengan tatapan berkabut gair*h, menahan rasa yang semakin menuntut.
“Pak Tristan.”
“Ya.”
Kini mereka bertatapan, “Arghhh!” Naya menggeram lalu mendekatkan wajahnya menyatukan bibir mereka dengan gerakan perlahan dan semakin dalam. Tristan tentu saja menyambut dengan gembira, karena yang Nayaka alami adalah bagian dari rencana
Cukup lama mereka berbagi saliva saat saling memagut. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Tristan. Nafas keduanya tersengal karena silaturahmi bibir yang cukup lama.
“Ma-af Pak, tapi tolong saya. Saya ….” Naya tidak melanjutkan kalimatnya, kembali menyambar bibir Tristan dan menyessapnya dan saling membelit lidah mereka.
Tristan mulai melaksanakan aksinya dengan meraih tubuh Naya, menyentuh area sensitif dari tubuh gadis yang berada dalam pelukannya masih dalam keadaan saling memagut. Entah siapa yang memulai, saat ini pakaian Naya sudah tergolek di atas meja, begitu pun atasan Tristan yang sudah terjatuh di lantai.
Naya berbaring di atas sofa dengan mata terpejam, Tristan sedang melucuti kain segitiga dan kain renda yang masih tersisa. Matanya menatap nyalang pada tubuh polos Naya.
“Kamu yakin?” tanya Tristan sambil menyentuh pusat tubuh Naya. Membuat gadis itu mendessah dan menganggukkan kepalanya.
“Hm, kamu sudah basah, sayang.” Tristan menggendong Naya ala bridal menuju kamar dan membaringkannya di ranjang.
“Kita mulai sayang,” ujar Tristan.
Andaru Dirja, aku akan lakukan apa yang sudah kamu lakukan pada adikku, batin Tristan dengan wajah sinisnya.
\=\=\=\=\=
gentala & ajeng
kerennnnnnnn lahhhhh pkknya
tristan²... kamu kan blum tau crta aslinya gmn, main bales dendam aja, hati² besok nyesel aja, tau rasa deh
Naya gak ada salah apapun. Sheryl juga salah karena gak bisa jaga diri.
pengecut kau... semoga kau bucin sama naya