"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Rival Sang Panglima
"Ada urusan apa Ksatria Kekaisaran yang terhormat sudi menginjakkan kaki di butik kecilku?"
Suara Leon memecah keheningan yang mendadak mencekam saat lonceng pintu Ruby Rose Boutique berdenting nyaring. Dua pria tegap berbaju zirah kelabu melangkah masuk. Pria di depan yang memegang kompas sihir itu adalah Ksatria Gideon, seorang perwira tinggi elit dari Ibukota yang posisinya tepat satu tingkat di bawah Panglima Agung. Aura kuat yang dibawanya membuat Paul secara refleks bergeser satu langkah, menyembunyikan Marry di balik punggung tegapnya.
Gideon tidak menyahut ucapan Leon dan sepasang mata emasnya terpaku pada kompas sihir di tangannya yang bergetar cepat, memancarkan sisa-sisa pendaran warna merah samar. Langkah kakinya yang berat berdentum di atas lantai beludru, berjalan lurus melewati Leon dan berhenti tepat tiga langkah di hadapan Anna.
"Tundukkan kepalamu jika berhadapan dengan perwira Kekaisaran, Nona Muda," tegur rekan Gideon dengan nada sombong.
Namun, Gideon justru mengangkat tangannya, mengisyaratkan bawahannya untuk diam. Di bawah siraman lampu gantung sihir butik, Gideon menatap lurus ke arah sepasang mata perak Anna. Untuk pertama kalinya dalam sejarah investigasinya, Ksatria Elit itu tertegun. Kecantikan alami Anna dengan rambut yang terurai bebas tanpa tudung, berpadu dengan ketenangan yang tidak biasa bagi seorang rakyat jelata, seketika memicu percikan ketertarikan yang asing di dalam dada Gideon. Ada keheningan yang intens dan berbahaya yang tertangkap di udara selama beberapa detik saat mata coklat Gideon mengunci sosok Anna.
HISSS!
Desisan tajam dari dalam keranjang rajut Anna memecah ketegangan. Mimi mendadak melompat keluar, mendarat di rak kayu atas dan dengan sengaja menyenggol segulung kain premium hingga jatuh ke arah lain.
TAK! TAK!
Seketika itu juga, jarum kompas sihir di tangan Gideon berputar liar dan berbalik menunjuk ke arah gulungan kain yang jatuh di lantai. Gideon mengerutkan keningnya, beralih menatap kain tersebut. Ia mengira kompasnya sejak awal merespons sisa-sisa artefak kain sihir yang tertimbun di toko logistik ini, bukan dari tubuh gadis di depannya.
Leon dengan sangat tenang langsung melangkah maju, memotong jarak pandang Gideon terhadap Anna. Dengan senyum yang tajam namun penuh wibawa, Leon bersedekap dada. "Ksatria Gideon, tempat ini beroperasi di bawah imunitas dagang logistik Solmara yang sah. Dan jika Anda masih berniat menggeledah tanpa surat resmi dari kediaman Panglima Tertinggi Aethan, kurasa kita akan memiliki urusan politik yang rumit setelah ini."
Mendengar nama Aethan disebut, rahang Gideon mengeras. Otoritas sang Panglima adalah absolut di wilayah ini. Meskipun ia masih menaruh curiga pada kain-kain di butik ini dan lebih teramat tertarik pada sosok Anna, Gideon tahu ia belum bisa bergerak gegabah.
Gideon melangkah mundur, menyelipkan kembali kompas sihirnya ke balik jubah kelabunya. Sebelum berbalik arah, ia melemparkan seulas senyum tipis yang sarat akan arti langsung ke arah mata perak Anna. "Kita pasti akan segera bertemu lagi, Nona Manis. Kuharap butikmu ini selalu dipenuhi keberuntungan."
Begitu kedua ksatria itu melangkah keluar dan menghilang di antara keramaian para warga distrik elite, Paul dan Marry mengembuskan napas panjang yang sedari tadi mereka tahan.
"Terima kasih, Tuan Leon. Anda sangat baik," ucap Paul bersyukur, meraba kapak tersembunyi di balik jubahnya yang nyaris ia cabut jika situasi memburuk.
"Bukan masalah, Tuan Paul. Kalian sebaiknya pulang dan beristirahat di rumah, nanti aku hubungi lagi untuk Grand Opening-nya ya. Sementara biar aku yang memantau pergerakan para ksatria itu di sekitar sini" jawab Leon ramah, mengantar keluarga Anna hingga ke depan pintu.
Namun, begitu kereta kuda keluarga Anna bergerak menjauh, senyum ramah di wajah Leon lenyap seketika.
Ia mengunci pintu depan butik rapat-rapat, membalik papan nama menjadi Closed, lalu melangkah cepat menuju ruang rahasia di lantai bawah tanah. Leon mendekati sebuah altar batu kecil, mengalirkan Mana miliknya untuk mengaktifkan segel sihir komunikasi khusus militer yang terenkripsi tingkat tinggi pada sebuah artefak yang tidak mungkin dimiliki oleh pengusaha biasa.
BZZZTTT.
Riakan hitam pekat muncul di udara, menampilkan siluet tegap Aethan yang sedang duduk di kursi kebesarannya di dalam kastil militer.
"Lapor, Panglima Tertinggi," ucap Leon, menjatuhkan satu lututnya ke lantai dengan khusyuk. Seluruh lagak pengusaha eksentriknya menguap, menyisakan aura seorang mata-mata militer yang terlatih. "Target utama aman. Sesuai perintah Anda, hamba telah memfasilitasi Ruby Rose Boutique tanpa memicu kecurigaan Nona Anna. Namun ... ada interupsi dari Ibukota siang ini."
"Ksatria Gideon?" Suara berat Aethan terdengar dari balik riakan sihir, sedingin es utara.
"Benar, Panglima. Kompas pelacaknya sempat bereaksi, namun berhasil dialihkan. Tapi ... ada satu hal yang lebih mendesak," Leon menelan ludah sejenak sebelum melanjutkan. "Ksatria Gideon menunjukkan ketertarikan fisik yang tidak wajar pada Nona Anna pada pandangan pertama. Sebelum pergi, dia bahkan sengaja memberi isyarat akan kembali mendekati Nona Anna."
KRETEK!
Suara retakan kayu terdengar sangat keras dari seberang komunikasi sihir. Sepasang mata perak Aethan berkilat marah, dipenuhi kabut cemburu dan kemurkaan tirani yang seketika membakar ujung dokumen militer di tangan kirinya hingga menjadi abu. "Awasi cecunguk itu, Leon. Jika dia berani menyentuh seujung kuku milikku ... kau tahu apa yang harus kau lakukan."
"Dimengerti, Panglima."
lanjut yaaaaa