Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Brum!
Mobil sport merah itu akhirnya melaju memasuki garasi rumah megah Clarissa dengan aman.
Mesin mobil dimatikan, namun Clarissa sama sekali tidak segera membuka pintu untuk keluar.
Wanita cantik itu menyandarkan kepalanya di setir mobil dengan bahu yang naik turun mengatur nafas.
Devan yang duduk di kursi penumpang hanya diam memperhatikan istrinya tanpa berniat mengganggu.
"Kamu mau duduk di sini sampai pagi, Nyonya Bos?" tanya Devan memecah keheningan garasi yang sunyi.
Clarissa perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Devan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Topeng wanita karir sedingin es yang selama ini selalu ia pakai akhirnya retak malam ini.
Tekanan mental dari menghadapi Keluarga Sanjaya rupanya benar-benar menguras seluruh energinya hingga batas maksimal.
"Aku takut, Devan," bisik Clarissa dengan suara yang sangat pelan dan rapuh.
"Selama bertahun-tahun aku selalu sendirian melawan serigala-serigala yang ingin merebut perusahaan warisan kakekku ini."
Satu tetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipi mulus sang CEO muda itu.
Devan terdiam sejenak melihat kerapuhan luar biasa dari wanita yang biasanya selalu memerintahnya dengan galak.
Mantan Dewa Perang itu mengangkat tangan kanannya perlahan lalu mengusap rambut kepala Clarissa dengan lembut.
"Kamu tidak sendirian lagi sekarang, Clarissa," ucap Devan dengan nada bariton yang sangat menenangkan.
"Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu."
Deg.
Jantung Clarissa berdegup kencang mendengar janji yang diucapkan dengan sangat tulus itu.
Perasaan hangat menjalar ke seluruh dadanya membuat rasa takutnya memudar dan tergantikan oleh rasa aman yang mutlak.
Clarissa buru-buru menghapus air matanya lalu mengangguk pelan dengan pipi yang sedikit merona merah.
"Ayo kita masuk, aku harus mandi karena merasa sangat lelah," ucap Clarissa segera membuka pintu mobil untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
Devan tersenyum kecil melihat tingkah istrinya lalu ikut turun menyusul wanita itu masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya, rutinitas di kantor Grup Rajawali berjalan dengan sangat lancar dan damai tanpa gangguan Riko.
Devan menghabiskan hari itu duduk santai di ruang CEO sambil sesekali membantu Clarissa menyortir dokumen penting.
Kedekatan mereka berdua di ruangan itu terasa semakin natural layaknya pasangan sungguhan.
Waktu berlalu dengan cepat hingga langit di luar jendela berubah menjadi gelap total.
"Akhirnya selesai juga tumpukan berkas sialan ini," keluh Clarissa sambil meregangkan otot bahunya.
"Ayo kita pulang Devan, aku ingin menyuruh Bi Inah memasak sup ayam malam ini."
"Siap laksanakan, Bos," jawab Devan sambil meraih kunci mobil dan tas kerja milik Clarissa.
Brum!
Mobil sport mereka melaju meninggalkan area gedung perkantoran menuju jalan tol lingkar luar kota.
Jalanan malam itu kebetulan sangat sepi karena hujan rintik-rintik mulai turun membasahi aspal.
Tik! Tik! Tik!
Suara rintik hujan yang menabrak kaca mobil memecah keheningan yang cukup nyaman di antara mereka berdua.
Namun ketenangan itu tiba-tiba hancur ketika mereka melewati tikungan tajam di ujung jalan tol yang belum selesai dibangun.
Cittt!
Clarissa menginjak rem mendadak dengan sangat keras hingga tubuh mereka berdua terdorong ke depan.
Dua buah mobil SUV hitam berukuran besar sengaja diparkir melintang memblokir seluruh badan jalan.
Lampu sorot dari kedua mobil itu menyala sangat terang dan menyilaukan mata.
"Ada apa ini? Kenapa mereka memblokir jalan?" tanya Clarissa dengan suara bergetar panik.