Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Pasar
Pagi datang dengan sinar matahari yang mengawali cerahnya suasana. Seperti kesepakatan tadi malam Tias akan pergi ke pasar bersama neneknya menggunakan sepeda. Namun sepertinya ia lupa memasang alarm hingga membuat tiupan terompet peringatan yang mirip dengan milik malaikat maut itu bergema nyaring.
" Tiaaaaaass ! Bangun kamu ! Dasar anak gadis pemalas ! Janjinya pagi pagi mau ke pasar tahunya jam delapan belum bangun ! Tiaaaass ! Bangun !"
Seketika paginya yang cerah hancur lebur bersama kerasnya suara teriakkan neneknya. Sinar mentari yang hangat dan cerah tidak bisa lagi membantu suasana hatinya yang terlanjur suram.
" Tiaaasss !"
" Iya nek !"
Nah, kan ! Jadinya Tias juga ikut berteriak ujung ujungnya. Semoga saja neneknya tidak menghukumnya setelah ini.
" Kamu berani bentak nenek ?!"
Bagus, doanya tidak terkabul. Allah memang maha mengetahui dan maha bijaksana sampai doanya langsung dijawab seketika.
" Kenapa diam ! Kamu mau ngelawan nenek iya hah ?!"
Tias langsung menggelengkan kepalanya. Siapa yang berani melawan orang yang lebih tua darinya itu ? Bahkan Tias takut neneknya kehabisan suara karena terus berteriak. Atau yang lebih parahnya lagi jantung neneknya bisa jatuh ke perut karena tidak kuat menahan kesal.
Astaga, jangan sampai hal itu terjadi. Nanti Tias tidak memiliki siapa siapa lagi di kampung ini.
" Ngapain kamu diem aja di situ ?! Cepat sana mandi Tias !"
Tias langsung tersadar lalu berlari ke kamar mandi. Kan kalau sudah begini terpaksa ia harus bertemu dengan air dingin ?.
Sebenarnya siapa sih yang nyiptain mandi ?.
Tias tidak mau kalau harus mandi apalagi pagi pagi seperti ini. Bahkan kulitnya sudah memucat gara gara Tias paksakan mandi dengan air dingin. Semoga saja kedepannya tidak ada orang yang nyiptain mandi dengan air es. Bisa bisa Tias mati kaku di dalam kamar mandi karena itu.
Setelah selesai mandi Tias cepat cepat berpakaian dan bersiap siap untuk pergi ke pasar bersama neneknya. Tidak perlu cantik dandanannya, mengingat Tias datang kemari hanya membawa dua setel baju. Nanti Tias beli di pasar kalau ada yang bagus di sana.
Tias keluar kamar dan menghampiri neneknya yang sedang menyiapkan sepeda. Masih terlihat bagus sih menurutnya. Modelnya juga kekinian, pasti sepeda itu neneknya beli pas zaman sekarang bukan zaman dulu. Sudah kelihatan dari modelnya, mana lucu lagi karena ada keranjangnya di depan.
" Nek."
Ruwi menoleh menatap Tias dari atas kepala sampai ujung kaki lalu memandang wajahnya. " Kamu mandi kan ?"
Tias mengangguk cepat.
" Cepat kali ! Kamu bersih mandinya kan, nggak asal nyiram aja ? Bisa bisa kamu kurapan loh kalau mandi nggak bersih." ucap Ruwi yang membuat Tias penasaran.
" Masa sih nek ? Kok bisa ?"
" Ya bisalah kan kotorannya belum terangkat semua. Ditambah lagi kalau sabunannya cepat cepat. Udah ayo berangkat nanti kita keburu siang."
Tias mengangguk patuh dan naik ke atas sepeda. Wow ! Ternyata sepedanya cukup tunggi juga. Tias kira tadi tingginya bisa lebih rendah dari ini.
" Bisa nggak ?"
" Bisa nek tenang aja. Bismillahirrahmanirrahim." Tias mengayuh sepeda perlahan lahan untuk membiasakan diri.
Diperjalanan Tias melihat banyak orang orang yang memandangnya penasaran. Tentu saja, siapapun itu orangnya kalau melihat wajah baru pasti membuat semua orang bertanya tanya dan penasaran karena ingin tahu. Tias saja seperti itu juga kalau melihat orang baru di kompleks rumahnya dulu.
Yah, kecuali orang orang yang independen atau cuek terhadap sekitarnya. Ngomong ngomong disepanjang jalan ini tidak sedikit pula orang orang yang menyapa neneknya dengan wajah ramah.
" Nek mampir !"
" Mau kemana nek !"
" Belanja nek ?!"
" Pulang nanti mampir kesini ya nek !"
Nah, seperti itu contohnya. Tias yang tidak mengenal mereka hanya bisa diam dan tersenyum layaknya orang bodoh.
Mau bagaimana lagi ?.
Ingin menyapa tetapi Tias tidak kenal. Tidak disapa ia takut dikira sombong. Tidak senyum dirinya nanti dikira sombong juga. Tapi kalau senyum Tias merasa seperti orang bodoh.
" Kapan kapan kamu kenalan sama orang orang sini juga. Jadinya kamu nggak rikuh kayak gini."
" Iya nek, nanti kan kalau Tias udah lama tinggal di sini bisa kenal sama mereka juga. Orang kan tinggal satu kampung kita."
" Iya juga. Eh, habis ini belok kiri jangan kelewatan nanti kita nyasar." ucap Ruwi.
" Iya nek." Tias membelokkan sepedanya kearah kiri sesuai permintaan neneknya. Tubuhnya sudah mulai berkeringat karena terus mengayuh sepeda.
Lumayanlah nggak usah olahraga lagi. Tiap hari begini bisa hilang daging lemaknya sekilo. Tias hampir saja tertawa sendiri karena pemikiran konyolnya.
" Nah itu pasarnya." Ruwi menunjuk tempat orang orang yang ramai berjualan.
" Pasar lokal nek ?"
" Ya iyalah pasar lokal. Jadi maunya kamu gimana ? Inikan kampung Tias bukan kota." ucap Ruwi.
Tias tertawa pelan menutupi rasa malunya. Ia turun dari sepeda lalu berjalan mengikuti neneknya ke dalam pasar.
" Ikan ! Ikan ikan ikan ikaaan ! Ibu, bapak ayo beli ikannya di sini masih segar dan murah !"
" Sayur ! Buk beli sayur ? Masih segar segar loh ini baru dipetik !"
" Sayang anak anak anaaak ! Bajunya murah murah untuk anak ibu dan bapak ! Ayo cepat dibeli sebelum kehabisan ! Sayang anak anak anaak !"
Seperti itulah keadaan pasar di sini. Lucu tapi berisik, hampir saja tadi Tias menertawakan para pedagang yang berteriak mempromosikan barang dagangannya. Kata kata yang mereka teriakkan itu lucu dan kreatif menurutnya. Mereka bahkan tidak malu malu saling melemparkan candaan yang membuat pasar ini tidak membosankan.
Pasar lokal ini Tias lebih menyukainya dibandingkan pasar di kota tempatnya berada.
" Tias ada yang mau kamu beli ?" tanya Ruwi.
" Tias mau beli baju nek kalau ada yang bagus."
" Ya udah, tapi kita selesai belanja dulu ya ? Nanti baru kita cari baju buat kamu. Soalnya nanti keburu habis yang bagus bagusnya kalau udah kesiangan."
" Iya nek."
Ruwi berjalan menuju tukang penjual sayuran. " Ro berapa ini bayamnya ?"
" Eh, nenek. Ini bayamnya lima ribu dua ikat nek. Kalau yang di ujung itu bayam cabutnya tujuh ribu dua ikat."
Ruwi mengambil bayam cabut lalu menoleh memandang Tias. " Tias kamu suka yang mana ? Bayam cabut atau bayam biasa aja yang kayak gitu."
Tias menatap kedua jenis bayam yang ditunjukkan neneknya. Sama saja, tidak ada yang berbeda dari kedua bayam itu. Masih sama sama bewarna hijau dan memiliki batang yang bagus. Hanya bedanya bayam cabut itu ada akarnya dan bayam yang satunya lagi tidak.
" Sama aja pun nek. Nggak ada yang beda, warnanya juga masih sama sama hijau cuma beda ada akarnya aja."
Ruwi tercengang mendengar jawaban polosnya itu. Berbeda dengan si penjualan sayuran yang sudah tertawa kencang.
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....