Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 9
"Aaawwsss..," rintih Aulia pelan. Setitik darah merah segar langsung muncul di ujung jarinya, menodai kain putih bersih di dekat payet yang baru saja dia pasang.
Aulia segera menekan jarinya, menahan rasa perih yang tak seberapa dibanding rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Aroma parfum wanita yang manis dan menyengat itu seolah menjadi penegas dari semua kecurigaannya selama ini. Itu bukan parfum rekan kerja pria, bukan pula wewangian yang biasa Galang gunakan.
Galang yang melihat Aulia meringis spontan membungkuk.
"Kamu kenapa? Kena jarum? Mana aku lihat..." Tangannya terulur, hendak memeriksa jari istrinya.
Namun, sebelum tangan Galang menyentuhnya, Aulia dengan cepat menarik tangannya menjauh. Dia berdiri, membawa gaun tari Cantika yang sudah selesai dijahit ke dalam pelukannya, melindunginya agar tidak terkena noda darah lebih banyak.
"Nggak apa-apa. Cuma kurang fokus," kata Aulia, suaranya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi.
Dia bahkan tidak sudi menatap mata Galang. Penolakan halus namun tegas itu membuat tangan Galang menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya dia turunkan kembali ke samping tubuhnya. Rasa bersalah di hatinya kian mencuat, bersinggungan dengan ego lelaki yang merasa tersinggung karena diabaikan.
"Aulia, aku tahu kamu marah soal uang bulanan itu. Tapi bulan ini pengeluaranku benar-benar banyak. Ibu juga terus-terusan minta dibantu untuk biaya rumah sakit..." Galang mulai mencari pembenaran.
Dia menggunakan alasan ibunya sebagai tameng, meski jauh di dalam lubuk hatinya dia tahu sebagian besar uangnya habis di restoran bintang lima tadi bersama Belinda. Aulia menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamar Cantika. Dia membelakangi Galang, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai emosinya.
"Aku nggak mempermasalahkan uang itu, Mas. Cukup nggak cukup, akan aku cukup-cukupkan untuk Cantika. Seperti yang selalu aku lakukan selama ini, bahkan hampir selama enam bulan terakhir uang itu semakin berkurang setiap bulannya. Biasanya kalau kamu pulang malam uang bulanan yang kamu dapat akan ;ebih banyak dari lemburan sehingga kita bisa membeli beberap barang yang kita inginkan untuk mengisi rumah..." Galang membeku.
"Lalu kenapa sikapmu seperti ini? Sejak aku pulang kamu bahkan nggak mau melihat wajahku," tuntut Galang, suaranya mulai meninggi karena merasa dipojokkan oleh keheningan Aulia.
"Aku ini suamimu, Aulia. Aku lelah kerja seharian, dan saat pulang, ini sambutan yang kudapatkan? Kamu juga selalu tidur di kamar Cantika,"
Kerja seharian. Kata-kata itu terdengar begitu menggelikan di telinga Aulia. Bekerja seharian hingga wangi tubuhnya berubah menjadi wangi parfum wanita lain di jam yang hampir tengah malam.
Aulia membalikkan badannya perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, dia menatap langsung ke dalam manik mata Galang. Tatapannya tidak memancarkan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan sebuah kekosongan dan kekecewaan yang teramat dalam.
"Besok pagi-pagi sekali Cantika harus pentas, Mas. Ini momen besar untuknya. Dia sudah latihan berbulan-bulan demi hari esok," ujar Aulia dengan nada suara yang teratur namun menusuk.
"Aku hanya ingin menyimpan energiku untuk mendukung putriku esok hari. Aku tidak punya waktu untuk berdebat hal yang tidak penting malam ini."
Aulia menjeda kalimatnya, matanya melirik sekilas ke arah kerah kemeja Galang sebelum kembali menatap suaminya.
"Mandilah, Mas. Bersihkan dirimu. Aroma baju yang kamu pakai sekarang... benar-benar membuatku pusing."
Tanpa menunggu jawaban dari Galang, Aulia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar Cantika, menutup pintunya dengan pelan namun rapat. Galang terpaku di tengah ruang tamu yang sunyi. Kata-kata terakhir Aulia bagaikan Guntur di malam sepi. Dia refleks mengangkat kerah kemejanya dan menghirup aromanya sendiri. Seketika wajahnya pucat. Aroma parfum high end milik Belinda yang tadi sempat memeluknya saat berpamitan di dalam mobil, tercium sangat jelas.
Galang menyandarkan punggungnya ke dinding, perlahan merosot hingga terduduk di atas ubin yang dingin. Amplop coklat di atas karpet seolah menertawakan ketidakberdayaannya. Di dalam kamar yang tertutup, Aulia memeluk gaun tari Cantika di kegelapan, membiarkan air matanya luruh tanpa suara, berjanji dalam hati bahwa besok, demi senyum putrinya, dia akan menjadi ibu yang paling kuat di muka bumi untuk anaknya yang paling hebat.
Keesokan paginya, gemercik air wudu dan lantunan doa lirih Aulia memecah keheningan fajar. Jam dinding baru menunjukkan pukul lima pagi, namun semangat di dalam dada Aulia sudah menyala sepenuhnya. Setelah salat subuh, dia segera membangunkan Cantika dengan kecupan lembut di pipi.
"Anak hebat Mama, yuk bangun. Hari ini hari besar Cantika," bisik Aulia manis.
Cantika menggeliat, membuka matanya yang bulat, dan sedetik kemudian senyumnya langsung mengembang lebar begitu mengingat hari ini dia akan naik ke atas panggung. Gadis kecil itu melompat dari tempat tidur dengan riang, bersiap untuk mandi dan berdandan.
Sementara itu, Galang terbangun dengan leher kaku di atas sofa ruang tamu. Dia ketiduran di sana setelah semalaman dihantui rasa bersalah dan kepanikan moral. Begitu mendengar suara tawa kecil Cantika dari arah dapur, Galang buru-buru bangkit. Dengan langkah canggung, dia melongok ke dapur dan mendapati Aulia sedang menyuapi Cantika sarapan bubur ayam, sementara gaun putih berpayet indah itu sudah tergantung rapi di dekat pintu.
"Pagi, Cantika... Pagi, Aulia," sapa Galang dengan suara serak, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Cantika melambaikan tangannya yang mungil,
"aaaiiii... Paaa...paaaaa" serunya dengan artikulasi yang terbata namun penuh usaha.
Aulia hanya mengangguk sekilas tanpa sepatah kata pun. Fokusnya seratus persen terkunci pada sang putri, menyeka sudut bibir Cantika yang terkena kecap dengan penuh kasih sayang. Pengabaian itu terasa lebih dingin daripada air sumur di pagi buta, membuat Galang mati kutu di ambang pintu.
"Jam berapa pentasnya dimulai? Biar... biar aku yang antar kalian," tawar Galang, mencoba menebus kesalahannya.
"Jam delapan tepat, Mas. Dan kami harus sudah di sana jam tujuh untuk gladi resih terakhir," jawab Aulia tenang, akhirnya bersuara walau nadanya sedatar garis lurus.
"Kalau kamu mau ikut, bersiaplah sekarang. Tapi kalau kamu ada urusan lain, kami bisa naik taksi online."
Sindiran halus tentang 'urusan lain' itu langsung menusuk tepat di ulu hati Galang. Dia teringat janji yang dia buat dengan Belinda semalam, menemani wanita itu ke butik mewah siang ini. Kepalanya mendadak berdenyut pening, terjebak di antara dua dunia yang bertolak belakang.
Tepat pukul setengah tujuh, mobil Galang membelah jalanan pagi yang masih lengang menuju aula yayasan. Di kursi belakang, Cantika tak henti-hentinya menggerakkan jemarinya, melatih gerakan tari yang akan dia bawakan. Aulia mendampinginya, memberikan isyarat-isyarat penyemangat lewat gerakan tangan dan senyuman hangat yang tak pernah pudar untuk putrinya.
Sesampainya di aula yayasan, suasana sudah sangat ramai. Balon-balon berwarna-warni, panggung kecil yang dihias megah, serta riuh rendah suara anak-anak berkebutuhan khusus beserta orang tua mereka memenuhi ruangan. Semangat dan harapan membubung tinggi di tempat ini.
Aulia segera membawa Cantika ke ruang ganti untuk mengenakan gaun putihnya. Ketika Cantika keluar dari ruang ganti dengan gaun berpayet berkilau yang dijahit Aulia hingga larut malam, Galang yang menunggu di luar ruangan terkesiap. Putrinya tampak begitu cantik, bagaikan malaikat kecil. Tak ada yang berbeda dari Cantika dan anak-anak normal pada umumnya, dia memiliki fisik sempurna. Namun Cantika masih berusaha keras untuk bisa berbicara lancar. Dia bukan anak yang ga-gu seperti yang ada dalam pikiran keluarga Galang.
"Paaaaaa...." Teriak Cantika melambaikan tangannya.