Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. ( Bonus Lembur )
"Makin dipikir rasanya malah semakin aneh. Dia sebenarnya kenapa sih?" gumam Andrea bingung memikirkan sikap laki-laki yang sudah lima hari ini selalu datang menjemput. "Mulutnya selalu saja melontarkan ejekan, tapi malah tak pernah absen menampakkan diri di sini sejak hari pertama mengantarku pulang. Heran."
Tok tok tok
"Ya, Nek. Sebentar lagi selesai," seru Andrea saat pintu kamar diketuk.
"Bosmu sudah datang dari tadi. Lekas keluar dan temui dia," sahut Nenek Erwita. Sebagai orang yang telah berumur, dia cukup mengerti ada hal tak biasa antara cucunya dengan laki-laki yang beberapa hari ini selalu datang di pagi hari. "Semoga saja Andrea tidak membuat masalah yang menyebabkan bosnya jadi sewaspada ini padanya. Dasar gadis nakal. Hmm,"
Lucien, santai memainkan kunci mobil sembari menunggu Andrea keluar. Sebenarnya dia ingin sekali masuk dan bertamu, tapi gadis itu tak mengizinkan. Alasannya sangat konyol. Hanya karena dia menyebut jalan menuju rumah ini gelap seperti hutam rimba, Andrea mengancam akan memasungnya jika berani melangkah masuk ke dalam rumah yang terbilang sederhana ini. Lalu apakah Lucien merasa takut? Tentu saja tidak. Dia hanya agak sungkan saja. Mwehehe.
Ceklek
"Secantik apapun kau berdandan, tidak akan ada pria yang mau menjadi kekasihmu. Dasar jelek, cepat kema ....
Krik krik krikk
Tiba-tiba terdengar suara jangkrik di telinga Lucien begitu dia bertatap muka dengan orang yang muncul dari dalam rumah. Membeku, rohnya seperti melayang keluar saat menyadari kalau yang datang adalah seorang nenek tua.
"Maaf, apa cucuku menyusahkanmu?" tanya Nenek Erwita setelah tersadar dari keterkejutan. Begitu membuka pintu, dia langsung disemprot ejekan yang mana ditujukan untuk cucunya.
"Em itu ... ah bagaimana ya," sahut Lucien kikuk. Sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal, dia memutuskan untuk mendekat. Canggung, untuk pertama kali Lucien meminta maaf pada orang lain. "Nenek, namaku Lucien dan aku adalah bosnya Andrea. Kalimat yang barusan ... aku minta maaf. Itu hanya sekadar candaan yang sering kami lakukan saat sedang bersama di kantor. Tolong jangan dimasukkan ke hati ya."
"Candaan?"
"Iya, candaan."
Candaan jenis apa yang bernada ejekan? Nenek Erwita jelas mendengar kalau pria bernama Lucien ini mengatai cucunya jelek. Di mana letak candaannya?
"Nenek, Lucien. Kalian sedang membicarakan apa?"
Andrea yang sudah selesai bersiap, menatap bergantian pada bos dan neneknya. Dua orang beda usia ini terlihat canggung, membuatnya jadi penasaran.
"Sudah selesai?"
"Sudah, Nek. Tapi maaf ya hari ini aku tak bisa menemani Nenek sarapan."
Nenek Erwita mengelus rambut Andrea penuh sayang sambil menatapnya seksama. Walaupun hanya memakai riasan tipis, cucunya punya wajah cantik dengan hidung kecil mancung dan mata bulat yang indah. Juga dengan bulu mata lentik serta bibir mungil berwarna merah muda natural. Ukuran tubuhnya memang tak terlalu tinggi, tapi pinggangnya sangat ramping dan kulitnya putih bersinar seperti pangsit rebus. Di mana letak jeleknya? Nenek Erwita rasa mata Lucien ada yang rusak.
"Ada apa, Nek? Kenapa melamun?" tanya Andrea khawatir. "Tubuh Nenek ada yang tidak nyaman? Mau ku temani periksa ke dokter tidak? Hari ini aku bisa minta izin cuti setengah hari. Bolehkan, bos?"
Lucien yang sedang asik menikmati kecantikan alami Andrea, tergagap saat gadis ini tiba-tiba bertanya.
"Bo-boleh, tentu saja boleh."
"Nenek dengar itu? Aku temani pergi ke dokter ya?"
"Tidak usah, An. Nenek tidak apa-apa," sahut Nenek Erwita menolak. Tubuhnya sehat, hanya ingin membuktikan kalau ucapan Lucien tidaklah benar.
"Benar tidak apa-apa?"
"Iya. Sudah sana berangkat, sudah siang. Nanti kalian terlambat."
"Terlambat apa. Akukan berangkat bersama dengan bosku. Siapa yang berani protes."
Daun telinga Lucien seketika terangkat ke atas saat Andrea terang-terangan memuji kekuasaannya. Tersenyum-senyum tidak jelas, dia berbalik badan sambil berkacak pinggang. Lucien lalu berteriak, yang mana membuat dua wanita di belakangnya berjengit kaget.
Plaakk
"Gila kau ya. Kenapa berteriak begitu!" tegur Andrea jengkel. Ini masih pagi tapi bosnya sudah berulah.
"Tidak apa-apa. Kalian lanjut mengobrol saja," sahut Lucien sambil terus tersenyum.
Mengabaikan keanehan Lucien, Andrea membimbing sang nenek masuk ke dalam rumah kemudian pamit berangkat kerja. Sampai di dekat Lucien, dia reflek menggaet lengan pria ini lalu mengajaknya menuju mobil.
"Pagi-pagi sudah genit begini. Sengaja menggodaku ya?" seloroh Lucien sambil memandangi tangan Andrea yang melingkar di tangannya.
(Wanita memang paling suka pada pria yang punya kekuasaan. Setelah tadi pamer tentangku di depan neneknya, sekarang dia malah seenaknya memeluk lenganku. Dasar gadis matre)
Lain dimulut lain juga dengan isi hati. Seenaknya bicara, tapi hati mengharap lebih. Itulah situasi ektrem yang dialami Lucien saat ini. Dan sayangnya hal tersebut tak disadari oleh Andrea.
"Mulutmu bisa tidak sehari saja jangan mengeluarkan kata yang membuatku kesal? Menuduhku bertingkah genit dan sengaja menggodamu, tingkahku yang mana yang membuatmu bisa berpikir seperti itu?" protes Andrea begitu mobil mulai melaju.
"Ambil ini."
Sebuah kotak dilemparkan Lucien ke pangkuan Andrea. "Bonus lembur beberapa hari ini. Tidak perlu histeris, nilainya tak seberapa."
"Bonus?" Cepat-cepat Andrea mengambil kotak tersebut lalu membukanya. "Ponsel? Apa maksudnya?"
"Astaga, An. Tidak salah kau bertanya seperti itu padaku?"
"Bos, setengah mati aku mengikuti jam kerjamu yang kelewat sibuk. Lalu kau hanya mengganti jam lemburku dengan sebuah ponsel?"
Wajah Andrea memerah. Dia melempar balik kotak ponsel tersebut lalu memasang ekspresi siap tempur. "Tidak mau. Aku maunya uang, bukan ponsel."
Ingat sedang mengendarai mobil, Lucien memilih untuk menepi terlebih dahulu sebelum adu mulut dengan Andrea. Kebiasaan ini rutin mereka lakukan setiap akan berangkat ke kantor.
"Dasar bodoh! Kau lupa apa bagaimana dengan kejadian saat aku ketakutan karena tak bisa menghubungimu? Itulah kenapa sekarang aku memberimu ponsel agar kapanpun ingin tahu keadaanmu bisa langsung menelpon. Bagaimana sih! Otakmu terbuat dari apa hah!"
"Atas dasar apa kau ingin tahu keadaanku? Lagipula waktu itu tidak ada yang menyuruhmu untuk khawatir padaku. Kau saja yang berlebihan!" Andrea tak mau kalah.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Mulai hari ini kau harus pakai ponsel itu!" tegas Lucien tak terbantahkan.
"Kalau aku menolak?"
"Aku akan merantai kakimu."
"Lucien, kau sudah tidak waras ya!"
"Tentu saja aku sangat waras, makanya memberimu ponsel. Cepat berterima kasih padaku. Harganya lumayan mahal lho."
Kembang kempis dada Andrea karena menahan kesal. Ingin rasanya dia menjambak rambut Lucien yang suka seenaknya ini.
"Ck, ke mana aku harus mengirim uang?" tanya Lucien akhirnya tak tega. Ternyata uangnya begitu menarik di mata Andrea sampai-sampai gadis ini menunjukkan ekspresi memelas di hadapannya.
(Dia manis sekali kalau sedang merajuk begini. Tak apalah keluar uang sedikit, mungkin itu bisa membuatnya lebih bangga karena memiliki bos sempurna sepertiku)
"Langsung berikan padaku saja, bos. Aku belum sempat membuka rekening sendiri," ucap Andrea semringah. Sebentar lagi dia akan segera mendapatkan uang. Ahhh senangnya.
"Astaga, kau ini sebenarnya datang dari pedalaman mana sih, An. Ponsel tak punya, rekening pun tak ada. Jangan bilang kau juga tidak punya akun media sosial," keluh Lucien takjub akan ketertinggalan zaman Andrea. Kok bisa ada manusia yang gaya hidupnya terbatas seperti ini. Benar-benar mirip manusia purbakala.
"Memang tidak ada. Kan aku tidak punya ponsel."
"Ya Tuhan," ....
Sambil menggerutu, Lucien mengeluarkan dompet hendak mengambil uang tunai. Akan tetapi isinya kosong.
"Wahhh, bos besar sepertimu ternyata bisa kehabisan uang juga ya. Memalukan sekali," ejek Andrea dengan tampang polosnya.
"Kalau tidak mau kehilangan gigimu, lebih baik kau diam saja. Kau pikir kehidupan di kota sama dengan kehidupanmu di desa? Zaman sudah modern, An. Kau saja yang ketinggalan zaman. Huh!"
Alhasil, Andrea memanyunkan bibir selama perjalanan menuju kantor gara-gara Lucien gagal memberinya uang. Sementara Lucien sendiri mati-matian menahan diri agar tidak ....
(Lama-lama ku makan juga gadis ini. Sengaja sekali memajukan bibir seperti itu. Pasti sedang merayu agar aku menciumnya lebih dulu. Huhhh, mana manis sekali wajahnya)
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂