NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Keesokan paginya, Regan baru saja selesai mengikuti rapat singkat di ruang direksi, ponselnya yang tergeletak di atas meja kayu mahoni bergetar hebat.

Nama David berkedip di layar. Regan tidak membuang waktu dan langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Dave," sapa Regan.

"Gan, lagi sibuk gak lo?" tanya David dari seberang telepon.

"Baru banget selesai rapat. Ada apa? Penting?"

Suara David terdengar terlampau santai, kontras dengan debaran di dada Regan. "Hasil tes DNA yang waktu itu kamu minta... udah keluar nih."

Deg.

Regan yang semula menyandarkan punggungnya dengan lesu ke kursi kerja langsung menegakkan posisi duduknya. Seluruh otot tubuhnya mendadak menegang.

"Udah keluar?" ulang Regan memastikan, suaranya merendah.

"Iya, udah di meja gue."

"Gimana hasilnya, Dave? Zayyan... dia anak aku, kan?" cecar Regan bertubi-tubi.

David malah terkekeh pelan di ujung telepon, sengaja memancing emosi sahabatnya. "Mendingan kamu langsung datang aja deh ke rumah sakit sekarang."

"Kenapa gak kamu kasih tahu sekarang aja sih lewat telepon? Tinggal sebutin hasilnya apa susah?" tanya Regan, mulai kehilangan kesabaran.

"Enggak mau," tolak David.

"Lebih enak kalau kamu baca hitam di atas putihnya sendiri."

Regan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Dave, tolong ya jangan bikin aku jantungan. Bisa gak usah bercanda dulu?"

"Aku gak bercanda, Regan," nada suara David sedikit melunak, meski sisa senyumnya masih terasa.

"Dokumen resminya udah legal dan selesai diproses. Kamu ambil sendiri ke sini, sekalian nanti aku jelasin detail medisnya."

Regan mengembuskan napas panjang, mencoba mengontrol emosinya yang membubung. "Oke. Kamu posisi di rumah sakit sekarang, kan?"

"Iya, aku di ruang kerja kayak biasa. Datang aja kalau kamu udah senggang."

Pip.Panggilan pun berakhir sepihak.

Selama seminggu terakhir, ia berkali-kali dihantui oleh berbagai kemungkinan buruk dan harapan semu. Dan kini, jawaban mutlak yang ia tunggu-tunggu akhirnya sudah berada di depan mata.

Tanpa berpikir dua kali, Regan segera menyambar jas hitamnya yang tersampir di sandaran kursi. Ia meraih kunci mobil, lalu melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya dengan tergesa, mengabaikan tatapan heran dari sekretarisnya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Regan tiba di rumah sakit dengan langkah tergesa. Ia langsung melangkah cepat menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja David.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk," sahut suara dari dalam.

Regan membuka pintu dengan cepat. David yang sedang duduk santai di balik meja kerjanya langsung menegakkan posisi duduk begitu melihat siapa yang datang.

"Akhirnya datang juga lo. Sini, duduk dulu," sambut David.

Regan melangkah mendekat. Wajahnya tampak tenang, tetapi gurat kegelisahan yang amat sangat tidak bisa disembunyikan dari sorot matanya. David kemudian mengambil sebuah map cokelat tebal yang sudah disiapkannya di atas meja.

"Lo duduk dulu, Gan. Tenang dulu," kata David menyodorkan kursi.

"Enggak usah basa-basi, Dave. Langsung kasih aja ke aku hasilnya," potong Regan cepat, suaranya terdengar serak dan tidak sabaran.

David menghela napas panjang melihat kekerasan kepala sahabatnya. Tanpa banyak bicara lagi, ia menyodorkan map cokelat tersebut ke hadapan Regan.

"Nih. Baca sendiri."

Jemari Regan sedikit bergetar saat menerima map itu. Dengan napas yang mulai memburu, ia membuka lembaran pertama dan membaca rentetan kalimat medis di sana dengan cepat. Semakin jauh matanya membaca, napas Regan terasa semakin tertahan di tenggorokan. Hingga akhirnya, sepasang matanya berhenti tepat pada kesimpulan di bagian paling bawah halaman. 99,99%.*

Regan seketika membeku.

Ia menatap angka itu lama sekali, seolah berharap salah melihatnya. Pria itu membaca ulang baris kalimat tersebut. Dan sekali lagi. Namun, hasil yang tertera di sana tetap sama, tidak berubah satu angka pun.

"Dia..." Suara Regan keluar dengan sangat serak dan bergetar hebat. "Dia... beneran anak aku, Dave?"

David mengangguk pelan, menatap Regan dengan sorot mata bersimpati. "Iya, Gan. Secara ilmiah dan medis, Zayyan adalah anak kandung kamu. Darah daging kamu sendiri."

Sepasang mata Regan mendadak terasa memanas dan berair. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah telapak tangan, lalu sedetik kemudian terdengar suara tawa pelan yang terdengar sangat getir sekaligus rapuh dari bibirnya.

"Aku... aku punya anak, Dave..." gumamnya di sela tawanya yang bergetar.

David tersenyum tipis, ikut merasakan kelegaan sahabatnya. Ia berdiri dari kursinya lalu menepuk pelan bahu tegap Regan. "Selamat, Bro. Ternyata firasat dan ikatan batin kamu selama ini gak salah."

Regan meraup wajahnya dengan kasar, menghapus jejak basah yang hampir jatuh di pipinya. Luapan rasa bahagia yang teramat besar sempat membuncah di dadanya, namun rasa bahagia itu seketika berubah menjadi rasa sesak yang menghimpit perih saat wajah Arin mendadak melintas di benaknya.

Wanita itu... Arin-nya... telah membesarkan Zayyan seorang diri selama sembilan tahun ini. Mengalami kesulitan ekonomi, menahan caci maki orang-orang, menghadapi kemiskinan, dan memikul beban seberat itu sendirian, sementara dirinya hidup bergelimang harta tanpa tahu apa-apa di Jakarta.

"Aku... aku benar-benar telat, Dave. Aku bodoh banget..." gumam Regan penuh penyesalan, suaranya parau menahan tangis.

Regan menatap kembali angka 99,99% di atas kertas tersebut. Benar kata David, ia tidak boleh menyerah sekarang. Apa pun yang akan terjadi nanti, apa pun penolakan yang akan diberikan Arin, satu hal yang kini mutlak di dalam hidupnya, Zayyan adalah putranya, dan ia akan melakukan apa saja untuk mengambil kembali tempatnya di sisi anak dan wanita itu.

David meremas bahu sahabatnya itu, mencoba menyalurkan kekuatan. "Kamu belum terlambat, Regan. Sekarang kamu udah tahu kebenarannya. Kalau kamu ngerasa masih ada kesempatan buat memperbaiki semuanya, kejar. Perjuangkan mereka."

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!