Ini kisah berbagi cinta.
Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.
Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.
Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?
Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.
kasih like dan votenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kesepakatan
Amira masuk ke kamarnya dengan pecahan tangisnya yang tak bisa ditahan lagi. Tak ada yang perduli padanya, karena diacara pernikahan tadi hanya ada keluarga Anita, Gilwang dan pak penghulu. Semua hanya merasakan bahagia.
Acara pernikahan sederhana sudah selesai. Pak penghulu pun pamit.
Kedua orang tua Anita juga akan pamit pulang. Namun sebelum pulang, mereka berpesan pada Gilwang untuk menjaga anaknya dan membuatnya bahagia. Mereka meminta Gilwang untuk segera meresmikan pernikahan keduanya dihadapan orang banyak.
Gilwang hanya mengangguk-ngangguk pertanda menyanggupi permintaan kedua orang tua Anita. Setelah mengucapkan selamat pada putrinya dan Gilwang menantunya, kedua orang tua Anita pamit pulang.
Kini tinggal Gilwang dan Anita di ruang tamu. Rasa bahagia Gilwang ia tumpahkan dengan memeluk Anita istri keduanya yang baru dinikahinya. Anita pun merasa bahagia sudah menjadi istri Gilwang.
"Aku senang sekali akhirnya bisa menikahimu, aku akan membuatmu bahagia Anita karena kamu orang yang sangat aku cintai," ucap Gilwang sembari memeluk erat tubuh Anita.
"Aku juga sangat bahagia sayang menjadi istrimu meski hanya pernikahan siri," ucap Anita.
"Meski tak seperti yang aku inginkan menjadi istrimu satu-satunya, tapi sebentar lagi aku akan menendang istri pertamamu Gilwang. Dan aku yang akan menjadi istrimu satu-satunya," batin Anita dalam pelukan Gilwang dengan senyum menyeringai.
Gilwang dan Anita berjalan menuju kamarnya. Dirasa Anita jalannya lambat, Gilwang pun menggendong Anita menuju ke kamarnya. Ditunjukkannya rasa tak sabar ingin menikmati momen pengantin baru dengan kekasih tercintanya.
Saat sampai didepan pintu kamarnya, Gilwang dan Anita mendengar Amira yang menangis sesenggukan didalam kamarnya. Ada sedikit iba dihati Gilwang. Gilwang menurunkan Anita didepan pintu dan menyuruhnya masuk duluan ke dalam kamar.
"Kamu mau kemana Gilwang?" Tanya Anita sedikit curiga.
"Aku akan bicara sama Amira sebentar," jawab Gilwang.
"Jangan bilang kamu kasihan padanya, dia bukan orang yang kamu cintai. Biarkanlah dia meratapi nasibnya. Siapa suruh tidak mau diceraikan, dasar wanita bodoh," umpat Anita.
"Aku tidak merasa kasihan pada Amira, aku hanya ingin mengucapkan kata terima kasih padanya. Kamu jangan curiga gitu, aku hanya mencintaimu Anita," Gilwang meyakinkan Anita.
"Bener ya!" tegas Anita.
"Iya."
Gilwang perlahan membuka pintu kamar Amira yang tertutup. Dilihatnya Amira menangis dengan posisi tiduran diatas ranjang dengan hijab yang sudah nampak kusut melekat di kepalanya. Ada rasa kasihan dihati Gilwang, namun dia mencoba meredamnya.
"Kenapa kamu menangis Amira?" Tanya Gilwang yang duduk di tepi ranjang membelakangi Amira yang juga tiduran miring membelakanginya.
Amira bangun dari tidurannya, kedua tangannya sibuk mengusap air matanya yang tiada henti mengalir.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, bukannya kamu sudah tau aku sangat terpaksa mengizinkanmu menikah. Ya beginilah hatiku rasanya sakit, mungkin karena aku mencintaimu. Kenapa begitu menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai," ucap Amira yang masih nangis sesegukan.
"Itu salahmu sendiri kenapa harus mencintaiku, lebih baik rasa cintamu padaku kamu ubah menjadi rasa benci."
"Andai saja aku bisa, aku tidak akan jatuh cinta padamu Gilwang. Pasti aku akan meninggalkanmu lebih dulu tanpa kamu suruh. Aku bukanlah tipe orang yang mudah luluh hatinya. Aku begitu sulit jatuh cinta meski dengan orang yang sangat sayang dan cinta padaku."
"Namun sejak aku melihatmu kenapa cintaku harus jatuh padamu, dan kamu tidak merasakan hal yang sama denganku. Karena kamu orang yang di jodohkan oleh orang tuaku, aku yakin kamulah jodohku, jadi aku harus mempertahankannya. Itulah alasanku."
"Dan kamu harus tau Gilwang, aku melakukan semua ini karena aku ingin tetap bersamamu orang yang bisa membuatku jatuh cinta." Amira ingin Gilwang tau tentang hatinya.
"Terserah kamu. Tapi jangan salahkan aku kalau kamu terluka. Sebenarnya aku kesini bukan ingin mendengar curhatanmu, tapi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena izinmu aku bisa menikah dengan kekasih tercintaku. Dan terbebas dari ancaman ayahku. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."
Setelah mengucapkan kata terima kasih, Gilwang meninggalkan Amira yang masih saja menangis. Amira hanya menatap Gilwang berlalu meninggalkan kamarnya dengan sisa tangisnya.
"Aku sungguh bodoh, kenapa harus menangis sampai seperti ini. Kenapa air mataku tak henti-hentinya mengalir," batin perih Amira.
Gilwang sebenarnya merasa kasihan pada Amira, tapi dia tak mau menghiraukannya, malah menggerutu menyalahkan Amira kenapa tidak mau lari saja darinya.
Hari sudah malam, saatnya Gilwang akan menjalankan misinya menjadi pengantin baru dan akan menikmati malam pertamanya dengan Anita istri yang sangat dicintainya.
Anita sedang duduk di meja rias menyisir rambutnya yang seharian tadi belum sempat ia rapikan. Gilwang mendekati Anita dan memeluknya dari belakang dengan mesra dan berbisik di telinganya.
"Kamu sudah siap sayang."
Maksud Gilwang ingin mengajak Anita mekakukan hubungan suami istri.
Anita merasa geli dan meminta Gilwang segera melepaskan pelukannya.
"Siap apa sayang? Kamu tu yang seharusnya bersiap," ucap Anita spontan.
"Aku sudah siap kok! Ayo kemarilah."
Tangan Gilwang melambai meminta Anita untuk segera ikut dengannya diatas ranjang.
"Aku disini aja sayang, biar lebih enak," ucap Anita
"Di kursi itu! Mana bisa sayang?" Gilwang menyunggingkan mulutnya.
"Maksudku aku disini, dan kamu tetap di situ. Aku mau bicara serius sama kamu."
"Bicara apa Anita?"
"Dengar ya Gilwang. Aku tau kamu pasti menginginkan hubungan suami istri dimalam pertamamu ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya, maafkan aku Gilwang."
"Apa maksud kamu Anita? Kenapa kamu tidak bisa melakukannya." Gilwang dibuat bingung dengan sikap Anita.
"Aku akan membuat kesepakatan denganmu. Aku memang menikah denganmu, tapi aku ingin menjadi istrimu satu-satunya. Aku ingin kamu menceraikan Amira istri yang tidak kamu cintai itu," pinta Anita.
"Tidak bisa Anita, aku tidak bisa menceraikan Amira. Kecuali kalau dia memang melepaskanku."
"Aku tau pasti jawabanmu itu. Pokoknya aku ingin menjadi istrimu satu-satunya. Aku tidak mau di duakan. Dan aku tidak mau melayanimu diatas ranjang sebelum kamu bercerai dengan Amira."
"Ya Allah, kenapa kamu seperti ini Anita? Kenapa kamu mempersulitku. Aku sudah menepati janjiku menikahimu. Kenapa kamu malah membuat kesepakatan seperti itu?" Gilwang sangat kesal mendengar ucapan Anita, kedua tanganya sibuk mengoyak rambutnya.
"Semua karena kesalahanmu Gilwang, kalau kamu benar-benar cinta padaku dan ingin hidup bersamaku, lakukanlah itu."
"Itu tak semudah ucapanmu. Apa kata orang tuaku nanti yang tak ingin kami berpisah dan ancamannya," jelas Gilwang.
"Terserah kamu Gilwang, kalau kamu tidak bisa aku akan meninggalkanmu." Anita menakuti Gilwang.
"Jangan Anita, jangan tinggalkan aku." Gilwang mendekati Anita yang masih duduk di kursi riasnya, memohon-mohon.
"Oke demi kamu akan aku lakukan, tapi itu butuh waktu."
Anita tersenyum lega mendengar jawaban Gilwang.
"Kena kamu Gilwang. Kamu benar-benar mencintaiku Gilwang," batin Anita dengan senyum kelegaannya.