"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Tragedi Kulkas Kosong
Sore harinya, tepat pukul lima lewat lima belas menit, badai dokumen di meja kerja Arka akhirnya mereda. Sang CEO menghela napas panjang sembari menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, meregangkan lehernya yang terasa kaku. Matanya melirik ke arah sofa panjang. Kosong.
Ke mana dokter rewel itu? batin Arka. Baru saja ia hendak meraih telepon interkom untuk memanggil Karina, pintu ruangan kerjanya terbuka tanpa diketuk—sebuah kelakuan kriminal yang di gedung ini hanya berani dilakukan oleh satu orang saja.
Ayana masuk dengan langkah riang, menenteng dua kantong plastik besar berlogo supermarket premium yang ada di lantai bawah gedung Pradipta Tower. "Pak Bos! Rapat sudah selesai, analisis sudah kelar, sekarang waktunya kita pulang. Dan tebak apa? Saya sudah membelikan bahan makanan sehat untuk stok di tempat Anda."
Arka mengernyitkan alisnya, menatap dua kantong plastik itu dengan pandangan malas. "Pulang? Saya belum mau pulang ke rumah utama. Saya mau ke pentomahse saya di kawasan Jakarta Selatan."
"Mau ke rumah utama, penthouse, apartemen, atau kolong jembatan sekalipun, saya tidak peduli, Pak," sahut Ayana santai sembari meletakkan kantong plastik itu di atas meja kopi dengan suara berdebum pelan. "Yang penting saya harus ikut ke tempat tinggal Anda sekarang untuk melakukan sidak. Saya harus memastikan lingkungan tempat Anda istirahat itu higienis, bebas debu pemicu sesak, dan yang paling penting... kulkasnya tidak berisi makanan sampah."
Arka mendengus pelan, berdiri dari kursinya sambil mengancingkan jas abu-abunya. "Kamu berlebihan, Dokter Ayana. Penthouse saya dibersihkan oleh tim cleaning service profesional setiap hari dua kali. Tidak ada debu di sana."
"Oh ya? Bagaimana dengan isi kulkasnya? Apakah mereka juga menyaring makanan yang masuk ke lambung Anda? Pasti isinya cuma minuman beralkohol, makanan kaleng penuh pengawet, atau kopi instan kan?" skakmat Ayana sembari menaikkan sebelah alisnya dengan percaya diri.
Arka tidak membalas. Diamnya sang CEO adalah jawaban "iya" yang mutlak bagi Ayana. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Ayana menyambar tas medisnya. "Nah, makanya. Ayo jalan, Pak Bos. Pak Joko pasti sudah memanaskan mesin mobil di bawah."
Penthouse milik Arkananta Pradipta di lantai teratas salah satu gedung kondominium paling mewah di Senayan ternyata adalah cerminan dari kepribadian pemiliknya: luas, sangat modern, namun terasa sepi dan dingin. Didominasi oleh warna monokrom—hitam, putih, dan abu-abu—hampir tidak ada dekorasi yang menunjukkan bahwa tempat ini dihuni oleh manusia yang memiliki kehangatan emosi. Tidak ada foto keluarga, tidak ada pajangan berwarna cerah. Hanya ada lukisan abstrak bernuansa gelap di ruang tengah.
Begitu pintu akses privat lift terbuka langsung di dalam penthouse, Ayana langsung melangkah masuk tanpa canggung, meninggalkan Arka yang masih berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan bagaimana dokter pribadinya itu mulai bertingkah seolah-olah dia adalah pemilik rumah yang baru pulang mudik.
"Wah, gila... ini sih bukan penthouse, ini lapangan futsal dikasih kasur," gumam Ayana takjub saat melihat ruang tengah yang luas dengan dinding kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta di waktu senja. "Tapi kok sepi banget ya? Seperti kuburan mewah."
"Saya suka ketenangan," sahut Arka datar, melangkah masuk lalu melepaskan jasnya dan menyampirkannya di sandaran sofa kulit berharga ratusan juta. Ia melonggarkan dua kancing teratas kemeja putihnya, lalu berjalan menuju dapur bersih yang bernuansa marmer hitam.
Ayana mengekor di belakangnya, membawa dua kantong plastik belanjaan tadi. "Ketenangan itu beda sama kesepian, Pak Arka. Rumah itu harusnya punya jiwa."
Tanpa permisi, Ayana langsung membuka pintu kulkas dua pintu berukuran raksasa milik Arka. Begitu pintu terbuka, embusan angin dingin langsung menerpa wajah Ayana, bersamaan dengan pemandangan yang membuat dokter muda itu langsung mengelus dadanya berulang kali.
"Astagfirullahaladzim, Pak Arka..." Ayana menatap isi kulkas itu dengan pandangan horor. "Ini kulkas seorang CEO triliuner atau kulkas mahasiswa akhir pekan yang lagi stres?"
Kulkas raksasa itu nyaris kosong melongpong. Tidak ada sayur, tidak ada buah, tidak ada daging segar. Di rak tengah hanya ada belasan botol air mineral premium, beberapa botol minuman bersoda, tiga botol wine mahal, dan... tumpukan kotak kopi instan siap minum. Di bagian freezer, hanya ada beberapa bungkus makanan beku instan yang kadar natriumnya pasti setinggi langit.
Arka berdiri di samping meja bar dapur, melipat tangannya di dada dengan ekspresi tidak berdosa. "Saya jarang makan di rumah. Biasanya sekretaris saya yang memesankan makanan di kantor atau saya makan siang bersama klien di restoran bintang lima."
"Dan kalau Anda lapar tengah malam saat panic attack Anda kumat, Anda makan makanan beku penuh pengawet ini sambil minum kopi dingin? Luar biasa. Lambung Anda terbuat dari semen sepertinya, ya?" sindir Ayana tajam.
Dengan gerakan cekatan, Ayana mengeluarkan semua barang "terlarang" dari dalam kulkas Arka. Botol-botol soda dan kotak kopi instan ia keluarkan tanpa ampun, lalu ia gantikan dengan bahan-bahan baru yang tadi ia beli di supermarket bawah kantor: buah apel malang segar, jeruk, beberapa ikat sayur bayam, wortel, dada ayam filat yang higienis, dan telur organik.
Arka hanya bisa memperhatikan dengan kening berkerut dalam saat barang-barang kesukaannya disingkirkan begitu saja ke atas meja bar. "Dokter Ayana, itu kopi saya—"
"Tidak ada kopi-kopian untuk seminggu ke depan, Pak Arka. Titik. Tidak pakai tapi," potong Ayana galak, menunjuk Arka dengan sebuah wortel mentah yang baru saja hendak ia masukkan ke dalam laci sayur kulkas. "Mulai malam ini, Anda harus makan masakan segar yang dimasak langsung, bukan makanan instan yang diawetkan."
Arka menghela napas panjang, merasa frustrasi karena ia sama sekali tidak punya kuasa untuk mendebat wanita ini jika sudah menyangkut urusan medis. "Lalu siapa yang mau memasak semua itu? Saya tidak punya asisten rumah tangga yang menginap di sini. Mereka hanya datang pagi hari untuk membersihkan tempat ini lalu pulang jam tiga sore."
Ayana menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap Arka dengan pandangan tidak percaya. "Hah? Jadi Anda sendirian di penthouse sebesar ini setiap malam?"
Arka hanya mendeham pelan, pandangan matanya mendadak beralih menatap lantai marmer di bawahnya. Ada kilatan sepi dan kerapuhan yang kembali mengintip dari balik sepasang mata indahnya—kilatan yang sama yang Ayana lihat saat di UGD dan di ruang rapat tadi siang.
Ayana menghela napas, kemarahannya mendadak surut digantikan oleh rasa iba yang tulus. Menjadi orang paling kaya di Pradipta Group ternyata harus dibayar mahal dengan kesepian yang mencekik di setiap sudut malam.
"Ya sudah," Ayana mengikat kembali rambut cokelatnya menjadi cepolan asal yang estetik, lalu menggulung lengan kemeja birunya hingga sebatas siku. "Berhubung saya ini dokter pribadi yang sangat bertanggung jawab pada keselamatan KPR... eh maksudnya keselamatan pasien, malam ini saya yang akan masakkan makan malam untuk Anda."
Arka membelalak kecil, menatap Ayana dengan pandangan sangsi. "Kamu? Bisa memasak? Kamu tidak berniat meracuni saya agar bisa kabur dengan uang muka gaji yang sudah saya transfer tadi siang, kan?"
Ayana mendengus keras, tangannya langsung meraih pisau dapur dan talenan kayu dari rak dapur Arka. "Heh, Pak Bos! Begini-begini saya ini anak kosan legendaris zaman kuliah dulu ya! Menu masakan saya mungkin tidak estetik seperti restoran bintang lima langganan Anda, tapi saya jamin rasanya bisa bikin Anda melupakan semua kesedihan duniawi. Sekarang, Anda pergi mandi, ganti baju yang nyaman, lalu ke sini lagi dalam waktu tiga puluh menit. Paham?"
Arka menatap Ayana selama beberapa detik. Di bawah siraman lampu dapur yang temaram, sosok Ayana yang sedang sibuk memotong wortel dengan gerakan lincah mendadak memberikan warna baru di dalam penthouse-nya yang biasanya sunyi dan mati. Aroma sayuran segar dan kehangatan yang dibawa wanita itu seolah mulai mencairkan kebekuan di dalam hati sang CEO.
"Baik. Jangan bakar dapur saya, Dokter Ayana," gumam Arka pelan sebelum melangkah pergi menuju kamar utamanya, meninggalkan seulas senyum tipis di wajah Ayana yang diam-diam merasa lega karena berhasil membuat pasien VIP-nya itu patuh tanpa perlu menggunakan jarum suntik.
.
Bersambung.
💪💪