Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Mom..” panggil anak itu dengan raut agak ragu, ia bahkan belum berani menatap Yvaine.
"Ya?," jawab Yvaine dengan lembut.
“Katanya Mommy sakit.. jadi aku datang..” suaranya kecil, ragu. “Aku takut Mommy marah…”
Nama anak itu adalah Darrel Raguel.
Namun orang-orang memanggilnya Joy yang memiliki makna sebagai harapan sederhana agar ia bisa hidup bahagia.
Yvaine menatapnya lama dan merasa hatinya terasa seperti diremas.
Ia mengulurkan tangan, mengusap rambut anak itu dengan lembut.
“Aku tidak marah,” katanya perlahan. “Aku hanya khawatir.”
Joy menahan napas.
“Kalau kamu sakit, aku akan sedih. Jadi jangan membuat dirimu kedinginan, ya?”
Mata Joy melebar, ia tidak menyangka sang ibu mengatakan hal itu bahkan dengan suara yang sangat ringan.
"Mommy khawatir sama aku?," tanyanya seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Yvaine mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Ya.”
Anak itu tersenyum mendengar itu, kali ini ia memberanikan diri menatap Yvaine.
Keduanya berpandangan beberapa detik, kemudian Yvaine menarik selimut, ia mengangkat Joy naik ke tempat tidur dan menyelimutinya dengan rapi.
“Malam ini tidur di sini saja, ya. Dengan Mommy.”
Joy menatapnya dengan ragu.
“Di sini?”
Ada harapan dalam suaranya, namun juga ada sedikit ketakutan karna tidak biasanya ia mendapat perlakuan seperti itu dari ibunya.
Yvaine tersenyum tipis, lalu mencubit hidungnya pelan.
“Kenapa? Apa kamu tidak mau?”
“Tidak! Aku mau!” Joy langsung memeluk lehernya erat, takut kesempatan itu hilang.
Yvaine tertawa kecil, kemudian ia menunduk, lalu mengecup pipi bulat anak itu.
Joy membeku, seketika itu juga wajahnya memerah.
Dengan tiba-tiba, ia membalas ciuman itu dengan cepat, lalu bersembunyi di bawah selimut, pura-pura tidur.
Yvaine terdiam sejenak, lalu tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Joy mengintip. Ia melihat Yvaine yang sudah menutup mata.
Senyum kecil terukir di bibirnya.
‘Mommy begitu lembut…’
Pikiran itu menjadi hal terakhir sebelum ia tertidur.
Namun ia tidak tahu bahwa beberapa saat setelah itu, Yvaine membuka matanya kembali.
Tangannya terangkat, menyentuh rambut anak itu dengan lembut.
Tatapannya berubah menjadi lebih hangat, seolah ia telah membuat keputusan penting.
Perlahan, ia memeluk anak itu lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya ia tertidur dengan perasaan damai, ditemani aroma susu lembut yang menenangkan.
Saat pikiran itu berputar perlahan di benak kecilnya, kantuk akhirnya menang. Mata Joy yang semula terbuka setengah kini tertutup sepenuhnya. Napasnya menjadi teratur, dan senyum kecil yang manis masih tersisa di bibirnya saat ia terlelap dalam pelukan hangat itu.
Ia tidak tahu, tidak pernah menyadari bahwa beberapa saat setelah ia benar-benar tertidur, wanita yang memeluknya membuka matanya kembali.
Yvaine menatap anak itu dalam diam.
Tangannya perlahan terangkat, menyibak helaian rambut halus di dahi Joy. Sentuhannya begitu lembut, seolah ia takut membangunkannya. Di bawah cahaya bulan yang redup, wajah anak itu terlihat begitu polos hingga tanpa sadar membuat hatinya menghangat.
Ada kilau halus di matanya dan hatinya merasakan perasaan yang sulit dijelaskan.
Setelah beberapa saat, napas Yvaine menjadi lebih dalam. Seolah-olah, dalam keheningan malam itu, ia telah mengambil sebuah keputusan penting yang tidak bisa ia tarik kembali.
Perlahan, ia menarik anak itu lebih dekat ke dalam pelukannya.
Aroma susu yang samar dari tubuh kecil itu memenuhi inderanya, menenangkan hatinya dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia berada di dunia ini, Yvaine tertidur dengan damai.
Cahaya bulan mengalir masuk ke dalam ruangan, menembus tirai yang berkibar pelan di jendela. Sinarnya lembut, seperti air yang menyapu lantai dan dinding dengan keheningan. Ia menyinari dua sosok di atas ranjang, yang sedang terlelap dalam kehangatan yang tak terucapkan.
Pemandangan itu begitu harmonis. Seolah dunia di luar tidak pernah ada.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆