Hal yang tidak terduga oleh Aileen adalah kedua orang tua yang sangat ia sayangi tega menukar dirinya dengan hutang kedua orang tuanya, menjadikannya pengantin seorang Mafia kejam yang terkenal di Kotanya.
Brian Erlangga tidak membiarkan Aileen merasakan bahagia hidup bersamanya, ia di tuntut untuk bekerja dan menghasilkan uang untuknya sebagai pengganti uang yang telah di berikan kepada Papanya.
Aileen bukanlah seorang wanita yang cengeng, ia mampu mengatasi kesulitannya seorang diri. Suatu hari ia sudah merasakan jenuh hidup bersama Brian lantas menginginkan perceraian, tapi yang ia dapat adalah sebuah siksaan.
Suatu hari pihak kepolisian mengirim seorang detektif untuk menangkap Brian, ia berpura-pura menjadi bodyguard Aileen. Adelio membebaskan Aileen dari tangan Brian dan membawanya pergi jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal bencana
Hari semakin gelap, senja sudah menyingsing di ufuk barat para tamu dan undangan mulai meninggalkan mansion utama. Tapi tidak dengan kedua orang tua dan adik iparku, mereka masih duduk bersenda gurau denganku. Brian yang berada di ujung ruangan bersama John melirikku dengan tatapan yang tak suka.
"John apa saja yang ia bertiga bicarakan?" tanya Brian dengan masih memandangiku.
"Maksut tuan nona kembar dan istri tuan, atau mertua tuan?" berbalik bertanya sambil mengikuti arah mata tuan mudanya.
"Si kembar, berhenti mengatakan ke dua orang tua itu mertuaku!. Dia tak pantas menjadi mertuaku, setelah ku dapatkan apa yang ku mau, putrinya juga akan segera ku tendang dari hidupku. Akan ku buat dia menderita dengan menyuruhnya selalu bekerja siang dan malam, untuk menggantikan uang yang telah ku berikan kepada papanya."
"Nona kembar nampak menyukai istri anda tuan, karena umur mereka tidak terpaut jauh. Obrolannya juga tentang kehiduapan anak muda jaman sekarang, ingin menonton film yang lagi booming dan berbelanja bersama pastinya."
"Pastikan Aileen tidak memakai uangku sepeserpun John, aku tak akan memberikannya uang. Kecuali dia mau bekerja dan menghasilkan uang sendiri."
"Bukankah itu yang kemarin beliau mau tuan, mohon di baca lagi surat perjanjian pra nikahnya!" John memberikan secarik kertas itu kepada Brian.
"Kau pikir aku bodoh haaa...!" ujarnya setengah berteriak.
"Maafkan saya tuan" ujar John sambil menunduk.
"Sudah malam sebaiknya kau urus kedua orang tua itu, supaya cepat pulang. Aku ingin istirahat bersama istri baruku sekarang" ujarnya sambil tersenyum nakal ke arahku yang tak sengaja melihatnya.
John menghampiri kedua orang tuaku, walaupun ragu dia tetap melakukan tugas yang di berikan oleh tuan mudanya.
"Permisi Tuan... Nyonya... karena hari sudah malam, dan tuan Brian ingin segera beristirahat. Anda akan di antar supir untuk pulang" John melirik ke arahku, agar aku juga mengatakan supaya kedua orang tuaku cepat pulang.
Aku masih diam melihat ekspresi kedua orang tuaku yang saling mengernyitkan dahinya keheranan, mereka berdua nampak terkejut dan mulai beranjak dari duduknya.
"Eh... em... baiklah asisten John, kami akan segera pulang. Nanti saya akan meminta supir untuk kemari mengantar baju serta barang-barang milik Aileen, yang berada di rumah" papaku berucap.
"Tidak usah repot-repot, aku tidak suka istriku memakai bajunya yang lama. Lagi pula aku sudah menyiapkan baju dan semua keperluan istriku selama tinggal bersamaku" Brian tiba-tiba membuka suaranya.
"Oh, trimakasih tuan. Anda baik sekali, saya mohon anda bisa menjaga putri saya baik-baik" ujar Mama sambil berucap sukur.
"Jangan banyak bicara cepat pergi dari rumahku, dan bawa ini..." Brian melemparkan sebuah amplop berwarna coklat ke arah papaku.
"Bukankah itu yang kalian tunggu sedari pagi!" ujarnya sambil menarik tanganku pergi dan mengajakku pergi ke kamar.
Papa langsung menangkap amplop coklat itu, sambil sedikit membuka lipatan amplop. Matanya membulat penuh dengan bibir yang tersenyum lebar. Kemudian menutup kembali lipatan amplop tersebut.
"Trimakasih tuan anda begitu dermawan" teriaknya dengan mata berbinar.
Papa langsung menarik tangan Mama dan beranjak pergi dari mansion utama ini, aku melihat kedua orang tuaku pergi dari atas balkon kamar Brian. Mataku berkaca-kaca, dadaku terasa di hantam benda keras, rasanya makin berkecamuk saat kedua orang tuaku benar-benar meninggalkanku bersama seorang Mafia jahat.
Mungkin ini adalah awal ceritaku, cerita seorang tawanan seorang Mafia kejam.
Brian tertawa saat melihatku menangisi nasibku dan meninggalkanku sendiri bersamanya.
"Kau kenapa?, ingin pergi bersama mereka?" ujarnya.
"Kau kasihan sekali ya, bahkan kedua orang tuamu tidak memperdulikanmu dan menjualmu kepadaku. Sungguh menyedihkan, berhenti menangis aku ingin kau membantuku untuk mandi jadi jangan hanya berdiam di sana kau sekarang adalah pelayanku. Jadi apapun yang aku mau kau harus bisa melakukannya!" ujarnya sambil sedikit tertawa, matanya sungguh menunjukkan ketidak sukaannya kepadaku.
Aku menjatuhkan diriku ke lantai, memukul dadaku yang terasa sesak. Kali ini aku tidak menimpali semua ucapan Brian karena aku masih berusaha menerima keadaanku saat ini, mungkin karna terlalu lama Brian berteriak kembali memanggil namaku.
"Aileen..., sedang apa kau di sana?! cepat bantu aku membersihkan diri!."
Aku mengelus dadaku berulang-ulang, berharap sesak di dadaku segera menghilang dan aku bisa menerima kenyataan kalau sekarang aku adalah istri dari seorang Mafia.
'Astaga apa yang dia inginkan?!, ya Tuhan tolong lindungi aku. Aku tak mau menyerahkan diriku kepadanya' gumamku dengan dada yang semakin bergemuh.
"Ya tuan..." jawabku sambil pergi ke kamar mandi.
Pelan-pelan ku buka pintu kamar mandi, dadaku berdetak kencang karna baru kali ini aku berada di kamar mandi bersama seorang lelaki.
"Tu... tuan saya harus melakukan apa? tanyaku gugup.
"Masuk ke dalam bath up, aku ingin kau menggosok punggungku!" ujarnya tanpa menoleh kepadaku.
"Tapi saya masih memakai gaun, kalau begitu biar saya mengganti baju dulu tuan" ujarku sambil bergetar, dan memutar badan.
"Kau lelet sekali, aku tak perduli kau sedang memakai apa saat ini! Berdiri kau di sini" Brian menyeret tubuhku untuk berdiri di depan bath up dan mengarahkan shower kepadaku.
"Tuan mau apa?"
"Duduk di bawah, malam ini aku yang akan memandikanmu!. Mulai besok kau harus memandikanku di pagi dan malam hari, ingat itu!"
Brian benar-benar melakukan hal itu, dia mengguyur badanku menggunakan air dingin. Hampir satu jam lamanya ia menyuruhku untuk tetap berada di bawahnya, sedangkan Brian kini tengah tidur di ranjangnya yang hangat.
Hati Terbelah Di Ujung Senja mampir nih 😍
maaf baru sempat mampir lagi
semangat