Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Tujuh orang pria berwajah garang dengan tato di sekujur lengan turun dari motor mereka.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pria berkepala plontos dengan bekas luka sayatan memanjang di pipi kirinya.
Pria itu mengenakan jaket kulit usang dan memegang sebatang pipa besi berkarat di tangan kanannya.
"Hei anak kota yang malang!" teriak pria berkepala plontos itu dengan suara serak yang menggelegar.
"Di mana kakek tua bangka itu bersembunyi?"
Rizky berjalan dengan tenang mendekati kerumunan preman itu tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Berkat efek kebugaran dari Air Terjun Pelangi, rasa percaya dirinya sedang berada pada tingkat tertinggi.
"Kakek saya sudah meninggal kemarin sore," jawab Rizky dengan nada datar dan dingin.
"Saya adalah Rizky, cucunya sekaligus pemilik baru dari kawasan wisata Gunung Sumber Abadi ini."
Pria plontos itu meludah sembarangan ke tanah dan tertawa mengejek.
Cuih!
"Oh, jadi kamu tumbal baru yang dikirim oleh keluargamu yang pelit itu ya?" ucap pria itu sambil memukul-mukulkan pipa besi ke telapak tangannya.
"Namaku Bagas, dan aku tidak peduli siapa yang mengurus tempat sampah ini sekarang."
Bagas berjalan mendekati Rizky hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.
"Kakekmu meminjam uang lima puluh juta dari bosku tiga tahun lalu untuk memperbaiki pagar kawat yang rusak."
"Dengan bunganya, hutang itu sekarang menjadi seratus juta rupiah."
"Karena kakekmu sudah mati, maka kamulah yang harus melunasi hutang itu hari ini juga."
Rizky mengerutkan keningnya mendengar jumlah uang yang disebutkan oleh Bagas.
Bunga lima puluh juta dalam tiga tahun adalah lintah darat yang sangat mencekik leher.
"Saya baru mengambil alih tempat ini kemarin sore," jawab Rizky dengan tenang menatap tepat ke mata Bagas.
"Saya belum punya uang sebanyak itu sekarang."
"Beri saya waktu satu bulan untuk membuka tempat ini dan saya akan melunasi hutang pokoknya saja."
Mendengar negosiasi itu, anak buah Bagas langsung tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu abad ini.
"Satu bulan?" ulang Bagas dengan mata melotot marah.
"Kamu pikir kami ini badan amal yang bisa kamu bodohi sesuka hati?"
Bagas mencengkeram kerah kaus Rizky dengan kasar menggunakan tangan kirinya.
"Bayar hari ini, atau kami akan menghancurkan loket karcis jelek ini dan membakar seluruh hutan di gunungmu!" ancam Bagas sambil mengangkat pipa besinya tinggi-tinggi.
Rizky tidak bergeming sedikit pun dari posisinya berdiri.
Matanya menatap tajam ke arah Bagas dengan aura intimidasi yang membuat preman itu sedikit terkejut.
Ding!
[Peringatan Sistem!]
[Host terdeteksi sedang berada dalam bahaya ancaman fisik.]
[Misi Darurat diterbitkan: Pertahankan harga diri Gunung Sumber Abadi!]
[Tugas: Usir kelompok preman Bagas keluar dari gerbang wisata tanpa ampun.]
[Hadiah Keberhasilan: 50 Poin Wisata dan 1 Kartu Keterampilan Acak.]
[Apakah Host ingin mengakses Toko Sistem untuk membeli item pertahanan sementara?]
[Saat ini Host memiliki 100 Poin Wisata.]
"Tampilkan item yang bisa kupakai sekarang juga, Sistem!" perintah Rizky di dalam batinnya dengan cepat.
Layar biru transparan langsung muncul di sebelah kepala Bagas tanpa bisa dilihat oleh sang preman.
[Menampilkan Item Rekomendasi:]
[1. Sarung Tangan Besi Ringan (Harga: 50 Poin) - Meningkatkan daya pukul Host sebesar 200 persen selama sepuluh menit.]
[2. Semprotan Bau Busuk (Harga: 30 Poin) - Mengeluarkan gas menyengat yang membuat target mual dan pusing.]
[3. Perisai Angin (Harga: 100 Poin) - Menciptakan hembusan angin kencang yang mementalkan musuh dalam radius lima meter.]
Rizky membaca ketiga pilihan itu dalam waktu kurang dari dua detik.
Dia butuh sesuatu yang bisa memberikan kejutan luar biasa agar preman-preman desa ini tidak berani kembali lagi dalam waktu dekat.
"Beli Perisai Angin sekarang!" batin Rizky memberikan keputusannya.
[Transaksi berhasil.]
[Saldo Poin Wisata: 0.]
[Item Perisai Angin berhasil diaktifkan.]
Tepat ketika Bagas hendak mengayunkan pipa besinya ke arah wajah Rizky, sebuah keanehan terjadi.
Wushhhhh!
Tiba-tiba saja, angin topan berskala kecil meledak dari dalam tubuh Rizky menuju segala arah.
Angin itu melolong dengan sangat kencang dan menyapu debu jalanan hingga menciptakan badai pasir sesaat.
"Ugh, angin apa ini!" teriak Bagas dengan panik karena cengkeramannya pada kerah Rizky terlepas begitu saja.
Bruk! Brak!
Kekuatan angin itu langsung menghantam dada Bagas dan keenam anak buahnya dengan sangat telak.
Mereka semua terlempar mundur hingga sejauh lima meter dan jatuh bergulingan di atas jalanan berbatu yang keras.
Pipa besi yang dipegang Bagas terlempar jauh dan menghantam salah satu sepeda motor mereka hingga penyok.
"Aduh, punggungku sakit sekali," rintih salah satu preman sambil memegangi pinggangnya yang menghantam batu.
Bagas terbatuk-batuk sambil mencoba berdiri dengan susah payah.
Wajah garangnya kini tergantikan oleh ekspresi ketakutan yang sangat mendalam.
Dia menatap Rizky yang masih berdiri tegak di tempatnya semula tanpa bergerak satu inci pun.
Di mata Bagas, sosok pemuda kota itu tiba-tiba terlihat seperti seorang pendekar sakti yang memiliki ilmu gaib.
"Ilmu hitam macam apa yang kamu pakai, anak sialan!" teriak Bagas sambil mundur perlahan menjauhi gerbang.
Rizky hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum dingin.
"Saya sudah bilang, beri saya waktu satu bulan," ucap Rizky dengan suara yang menggema tenang.
"Jika kalian berani datang lagi sebelum waktunya dan membuat keributan di tempat wisataku, angin barusan hanyalah peringatan kecil."
"Lain kali, aku akan membuat kalian semua terlempar hingga ke dasar jurang."
Bagas menelan ludahnya dengan kasar dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera naik ke motor.
"Kita pergi dari sini sekarang!" perintah Bagas dengan suara panik.
"Urusan kita belum selesai anak kota, ingat itu baik-baik!"
Gerungan mesin motor kembali terdengar bersahutan saat kelompok preman itu memutar balik kendaraan mereka.
Brummm! Brummm!
Dalam hitungan detik, mereka semua melarikan diri menuruni gunung layaknya anjing yang ketakutan karena ekornya diinjak.
Rizky menatap kepergian mereka sambil menghela napas panjang dan melepaskan ketegangan di pundaknya.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Misi Darurat: Pertahankan harga diri Gunung Sumber Abadi telah berhasil diselesaikan!]
[Host mendapatkan 50 Poin Wisata.]
[Host mendapatkan 1 Kartu Keterampilan Acak.]
"Ternyata menggunakan poin secara strategis sangat memuaskan," ucap Rizky sambil tersenyum lebar menatap saldo poinnya yang kembali terisi.
Namun, sebelum dia sempat membuka hadiah kartu keterampilannya, suara langkah kaki terdengar dari arah seberang jalan.
Rizky menoleh dan melihat Pak Joko sedang berjalan ragu-ragu mendekati gerbang wisata.
Bapak tua itu memegang sebuah rantang makanan kecil di tangannya dengan wajah yang masih terlihat tegang.
"Nak Rizky," panggil Pak Joko dengan suara pelan.
"Bapak lihat gerombolan Bagas baru saja lari ketakutan dari sini."
"Apakah kamu menggunakan dukun untuk mengusir mereka?" tanya Pak Joko dengan tatapan penuh selidik.
Rizky tertawa pelan mendengar pertanyaan polos dari pemilik warung kopi tersebut.
Ini adalah kesempatan emas untuk mulai memasarkan tempat wisatanya kepada penduduk lokal secara langsung.