Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
Waktu berputar dengan sangat cepat tanpa disadari. Satu minggu telah berlalu sejak insiden adu mulut di lorong sekolah hari itu. Sejak saat itu pula, aku tidak lagi sering berpapasan atau bertemu dengan Clara di area sekolah. Kesibukanku sebagai siswa kelas 12 benar-benar menyita seluruh waktu dan energiku. Setiap hari setelah jam pelajaran usai, aku harus mengikuti bimbingan belajar intensif dan pendalaman materi untuk persiapan menghadapi ujian kelulusan akhir sekolah.
Hari-hari yang penuh dengan tumpukan buku dan latihan soal pun terlewati. Hari yang sangat aku tunggu-tunggu akhirnya tiba—pekan ujian kelulusan dilangsungkan dengan ketat. Satu minggu penuh perjuangan menguras otak di dalam ruang ujian akhirnya tuntas sudah. Kini, seluruh beban ujian telah terangkat dari pundakku. Aku dan teman-teman seangkatanku tinggal menunggu pengumuman tanggal resmi kelulusan kami.
Siang itu, dengan perasaan yang jauh lebih lega dan santai, aku melangkah pulang menuju rumah sederhana milik keluargaku. Namun, begitu kakiku melangkah mendekati halaman depan rumah, langkahku mendadak terhenti sejenak.
Sesosok pria bertubuh tegap tampak sedang berdiri bersandar di samping mobil sedan hitam yang terparkir rapi di depan pagar rumahku. Pria itu mengenakan kemeja rapi dan celana kain gelap yang sangat formal. Dia adalah Egi.
Aku mengerutkan dahi, berjalan mendekatinya dengan raut wajah yang diliputi rasa heran.
"Loh... Gi? Kamu enggak masuk kerja hari ini?" tanyaku heran melihat penampilannya yang super rapi di jam kerja. "Kok jam segini sudah ada di depan rumah gue?"
Egi menoleh, merapikan kerah kemejanya seraya menyunggingkan senyum tipis. "Masuk kok, Arkan. aku tetap kerja hari ini. cuma disuruh sama Pak Frans Sanjaya buat datang ke sini dan jemput kamu sekarang."
Alisku makin bertaut rapat. "Pak Frans? Pak Frans ada perlu apa sama aku, Gi? Tiba-tiba banget nyuruh kamu jemput aku?"
Egi menarik napas panjang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seraya menatapku dengan tatapan mata yang sangat serius.
"Aku sih enggak tahu banyak soal detail ada perlu apa Pak Frans sama kamu," balas Egi dengan nada suara yang sengaja dipelankan. "Tapi yang jelas... ada kabar duka. Pak Jhon, pengawal pribadinya Clara, tadi pagi meninggal dunia karena serangan jantung."
Deg!
Mata memelotot kaget setengah mati! Dadaku berdesir hebat mendengar kabar yang sangat mendadak itu. Pak Jhon, sosok pengawal senior yang selalu setia mengawal dan menjaga
Clara ke mana pun gadis itu pergi, tiba-tiba dikabarkan telah tiada.
"Hah?! Kok bisa, Gi?!" tanyaku refleks dengan nada suara yang meninggi saking kagetnya. "Pak Jhon kan kelihatannya sehat-sehat saja kemarin-kemarin!"
Egi menatapku datar, membalas pertanyaanku yang panik dengan jawaban santai yang sangat khas darinya. "Ya bisalah, Arkan... Dia kan manusia biasa, bukan malaikat.
Kalau sudah waktunya dipanggil, ya meninggal."
Aku tertegun sejenak, menelan ludah seraya menggelengkan kepala pelan. "Iya sih... Kamu benar. Aduh... turut berduka cita ya buat keluarga Pak Jhon dan keluarga Sanjaya. Kasihan Clara pasti sedih banget."
Egi mengangguk pelan menyetujui ucapan duka citaku. Namun, selang beberapa detik kemudian, Egi memajukan badannya sedikit mendekat ke arahku, berbisik dengan nada bicara yang sarat akan analisis tajam.
"Tapi Kan... Ini cuma prediksi dan firasat aku saja ya," ujar Egi seraya menepuk bahuku pelan. "Kemungkinan besar, alasan Pak Frans memanggil kamu hari ini adalah untuk meminta kamu jadi pengawal pribadi Clara yang baru, menggantikan posisi almarhum Pak Jhon. Ini cuma prediksi aku saja sih, tapi feeling aku jarang meleset."
Mendengar tebakan Egi, jantungku mendadak berdegup dua kali lebih cepat! Menjadi pengawal pribadi Clara Adelin? Gadis manja, galak, dan judes yang baru saja bermusuhan denganku di sekolah seminggu yang lalu? Bayangan harus berada di samping Clara selama 24 jam penuh langsung membuat pikiranku campur aduk antara kaget, bingung, dan cemas.
Namun, aku tahu tidak ada gunanya berspekulasi terlalu lama di depan rumah.
"Ya sudah kalau gitu, Gi... Biar aku masuk ke dalam dulu buat ganti baju yang rapi," ucapku menetralkan rasa gugupku.
"Iya, cepat ya. Jangan bikin Pak Frans menunggu terlalu lama," pesan Egi.
Aku segera melangkah masuk ke dalam rumah, meletakkan tas sekolahku di atas meja, lalu membasuh wajahku di kamar mandi. Aku memilih kemeja lengan panjang berwarna gelap yang bersih serta celana bahan yang tampak rapi dan sopan.
Setelah merapikan rambut di depan cermin dan memastikan penampilanku sudah layak untuk bertemu dengan seorang pengusaha besar seperti Pak Frans, aku melangkah keluar rumah.
Beberapa menit kemudian, aku sudah berdiri kembali di halaman depan. "Ayo, Gi! Aku sudah siap."
"Sip. Naik," balas Egi seraya membukakan pintu penumpang depan untukku.
Aku masuk ke dalam kabin sedan hitam yang sejuk itu. Mobil pun perlahan melaju meninggalkan kawasan rumahku, membelah jalanan kota menuju kediaman megah keluarga Sanjaya, membawa rasa penasaran besar di dalam dadaku tentang takdir apa yang sedang menungguku di sana.
Tinggalkan komentar kamu ya gan. Terimakasih