NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Terbang ke Maladewa

Seminggu kemudian, Renata tiba di terminal keberangkatan khusus Bandara Soekarno-Hatta dan menemukan Nathan berdiri di samping Xavier.

Ia berhenti menarik koper.

“Kenapa kamu di sini?”

Nathan mengenakan kemeja gelap dan membawa tas kabin. “Aku ikut.”

“Ini perjalanan kerja Purnama.”

“Peralatan yang kalian bawa memakai modul penerbangan buatan Prima dan diangkut dengan pesawat sewaan Angkasa. Aku terdaftar sebagai pengawas integrasi.”

Renata menoleh kepada Xavier.

Lelaki itu mengangkat kedua tangan. “Dokumennya sah. Latar belakangnya juga lolos. Saya menempatkan dia sebagai pengamat tanpa akses inti.”

“Kamu bisa menolak.”

“Bisa,” jawab Xavier. “Tapi dia mengirim enam halaman alasan teknis dan menelepon tiga direktur sebelum matahari terbit. Saya ingin melihat berapa lama dia bertahan tanpa mengganggu.”

Nathan menatapnya dingin. “Aku berdiri di sini.”

“Saya tahu. Itu sebabnya saya bilang langsung.”

Renata mengembuskan napas. “Terserah. Asal dia nggak menyentuh sistem saya.”

“Sistemmu?” ulang Nathan.

“Sistem proyek.”

Pemeriksaan keberangkatan dilakukan terpisah dari penumpang umum. Perangkat kerja diberi segel inventaris, dokumen izin diperiksa dua kali, dan setiap anggota tim menandatangani larangan membawa salinan data keluar dari lokasi.

Nathan memperhatikan Renata memimpin pengecekan tanpa bantuan. Ia ingin bertanya sejak kapan perempuan itu mampu mengelola proyek lintas negara, tetapi kalimat di parkiran lelang kembali teringat.

Karena kamu nggak pernah bertanya.

Pesawat sewaan Purnama lepas landas menjelang siang. Xavier duduk berhadapan dengan Renata sambil membahas peta jaringan lokasi. Nathan memilih kursi di samping istrinya sebelum anggota tim lain sempat duduk.

“Posisi itu untuk analis saya,” kata Xavier.

“Dia bisa duduk di sana.” Nathan menunjuk kursi lain.

Renata tidak mengangkat kepala dari tablet. “Kalau kalian mau berkelahi soal kursi, saya pindah ke belakang.”

Keduanya langsung diam.

Selama penerbangan, Xavier menjelaskan bahwa lokasi di Maladewa awalnya merupakan fasilitas komunikasi darurat milik mitra keamanan. Purnama menangani infrastrukturnya, tetapi beberapa bulan terakhir terjadi akses aneh dari jalur laut.

“Kita nggak tahu apakah sasarannya data Purnama atau jaringan mitra,” katanya.

“Karena itu pemisahan sistem harus dilakukan sebelum pemeriksaan,” jawab Renata. “Saya nggak akan masuk ke jaringan pemerintah tanpa surat kewenangan yang jelas.”

“Sudah disiapkan.”

Nathan menyimak, semakin sadar bahwa dirinya tidak memahami setengah dari pekerjaan Renata. Perempuan yang dulu ia anggap hanya menghabiskan waktu dengan laptop ternyata berani menetapkan batas kepada seorang direktur di depan seluruh tim.

Setelah beberapa jam, lautan biru memenuhi jendela. Pulau-pulau kecil terlihat seperti titik hijau dengan lingkaran pasir putih.

Renata menatap keluar. Untuk sesaat, ketegangan di bahunya mengendur.

Nathan memperhatikan pantulan wajahnya di kaca.

“Kamu suka laut?” tanyanya.

“Aku jarang punya waktu melihatnya.”

“Kita pernah berencana...”

Ia berhenti. Mereka tidak pernah merencanakan bulan madu. Opa pernah memesan perjalanan setelah pernikahan, tetapi Nathan membatalkannya karena Cheryl baru kembali ke Jakarta.

Renata menoleh. “Berencana apa?”

“Nggak ada.”

Pesawat mendarat di pulau utama, lalu tim melanjutkan perjalanan dengan pesawat laut kecil. Udara asin menyambut begitu pintu dibuka. Matahari memantul tajam di permukaan air, sementara deretan vila berdiri di atas laguna jernih.

Seorang lelaki muda berseragam lapangan menunggu di dermaga pulau pribadi.

“Selamat datang. Saya Liam, penanggung jawab keamanan lokasi.”

Bahasa Indonesianya kaku tetapi jelas. Ia memberi hormat singkat kepada Xavier, lalu membantu mengangkat kotak perangkat.

“Bos Xavier jarang membawa orang ke sini,” katanya kepada Renata.

“Saya dibawa untuk bekerja.”

“Tetap jarang.”

Nathan mengambil kotak dari tangan Liam sebelum pemuda itu sempat membawakan tas Renata.

“Yang ini untuk vila,” katanya.

Liam mengangguk tanpa membantah, tetapi Xavier tersenyum lebar.

“Pengawas integrasi ternyata juga petugas bagasi.”

“Diam.”

Lokasi kerja berada di sisi pulau yang tertutup untuk tamu. Bangunan rendah berwarna pasir menyatu dengan pepohonan, sedangkan antena komunikasi disamarkan di antara struktur layanan resor.

Renata langsung memeriksa ruang server. Udara di dalam dingin dan kering, kontras dengan panas di luar.

Ia meminta dua jaringan dipisah secara fisik, akses tamu dimatikan, dan semua perubahan dicatat oleh dua orang. Tidak ada satu perintah pun yang menyebut cara menembus sistem. Fokusnya adalah menjaga bukti dan menutup jalur yang sudah disalahgunakan.

Liam membuka buku akses manual. Ada dua kunjungan kapal servis yang tidak cocok dengan daftar jadwal.

“Kapal pertama datang saat pergantian jaga,” katanya. “Mereka membawa izin digital.”

“Siapa yang memverifikasi?” tanya Renata.

“Sistem otomatis.”

“Mulai sekarang, izin digital harus dibandingkan dengan daftar tertulis dan konfirmasi suara dari pusat. Sistem yang sedang diperiksa nggak boleh menjadi satu-satunya penjaga dirinya sendiri.”

Nathan mengambil lembar kunjungan. “Nomor vendor kedua terdaftar sebagai pemasok komponen Prima.”

Renata menoleh cepat. “Kamu kenal?”

“Nama perusahaannya. Bukan orangnya.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, kehadiran Nathan berguna. Ia menelepon kantor Jakarta melalui jalur aman dan meminta verifikasi kontrak tanpa menyebut lokasi. Hasil awal menunjukkan vendor tersebut memang pernah bekerja untuk Prima, tetapi kontraknya berakhir delapan bulan lalu.

“Jangan hubungi vendor langsung,” pesan Renata. “Kita belum tahu siapa yang memakai identitasnya.”

Nathan mengangguk. Kali ini ia mengikuti instruksi tanpa berdebat.

Xavier menyerahkan alat satu per satu. Ia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus mundur.

Nathan mencoba membantu memindahkan panel kabel.

“Bukan yang itu,” kata Renata.

“Labelnya sama.”

“Warnanya sama, fungsinya beda.”

“Kenapa nggak ditulis jelas?”

Xavier menyodorkan botol air kepada Renata. “Karena orang yang bekerja di sini sudah tahu.”

Nathan memasang kembali panel dengan wajah gelap.

Beberapa saat kemudian, kotak perangkat besar harus dipindahkan ke meja pemeriksaan. Xavier membungkuk untuk mengangkat satu sisi. Tubuhnya mendadak kaku. Keringat muncul di pelipis meski pendingin ruangan sangat dingin.

Renata menahan kotak. “Jangan dipaksa.”

“Saya baik-baik saja.”

Xavier berbalik, mengeluarkan tablet kecil dari saku, lalu menelannya dengan air. Tangan kirinya menekan bagian bawah perut sesaat.

“Luka lama?” tanya Renata.

“Kenang-kenangan pekerjaan sebelumnya.”

“Kalau mengganggu, keluar dari ruang server.”

“Perhatian sekali,” ujar Nathan.

Renata menatapnya dingin. “Saya nggak mau klien pingsan di atas alat mahal.”

Liam mengambil alih kotak tanpa komentar. Namun dari caranya melihat Xavier, jelas kejadian itu bukan pertama kali.

Menjelang petang, tahap isolasi selesai. Tim belum menemukan pelaku, tetapi jalur keluar data telah berhenti dan log asli aman untuk diperiksa keesokan hari.

Mereka berjalan kembali melalui jalur kayu di tepi pantai. Langit berubah jingga, lalu merah muda. Angin membawa aroma laut dan daun kelapa.

Xavier berjalan di sisi Renata sambil menjelaskan jadwal besok. Nathan beberapa langkah di belakang, membawa dua kotak yang sebenarnya bisa diangkut staf.

“Kalau terus cemberut, matahari terbenamnya tersinggung,” kata Xavier kepadanya.

“Aku sedang memikirkan pekerjaan.”

“Tentu.”

Vila untuk tim terbagi menjadi tiga bangunan. Staf keamanan dan analis menempati dua vila di sisi timur. Karena perubahan daftar tamu mendadak, Renata dan Nathan mendapat satu vila dengan dua kamar terpisah. Xavier berada di bangunan lain dekat Liam dan pusat komunikasi.

“Saya bisa pindah dengan staf perempuan,” kata Renata.

Koordinator memeriksa daftar. “Kamar mereka sudah penuh perangkat. Setiap kamar di vila ini punya kunci sendiri, Bu.”

“Nggak akan ada masalah,” kata Nathan.

Renata menatapnya. “Masalah biasanya nggak tahu dirinya masalah.”

Di dalam vila, ruang tengah menghadap langsung ke laguna. Pintu kaca dapat dibuka menuju teras kecil dengan tangga turun ke air.

Nathan meletakkan koper Renata di depan kamar tanpa masuk.

“Kamu terlalu percaya Xavier.”

“Saya percaya kontrak dan batas akses.”

“Dia jelas memberi perhatian lebih.”

“Dia lebih sopan daripada kamu.”

Nathan terdiam, lalu masuk ke kamarnya sendiri.

Saat makan malam, seluruh tim duduk di meja panjang dekat pantai. Xavier memastikan Renata mendapat hidangan tanpa kacang setelah membaca formulir perjalanan. Nathan memperhatikan pelayan mengganti piringnya.

“Kamu alergi kacang?” tanyanya.

“Ringan.”

“Aku nggak tahu.”

“Ada banyak hal yang kamu nggak tahu.”

Liam yang duduk di ujung meja menunduk pada makanannya, berpura-pura tidak mendengar. Xavier justru mendorong piring buah ke arah Renata.

“Besok kita mulai pukul enam. Jalur laut paling aktif sebelum matahari tinggi.”

Nathan menyela, “Dia harus istirahat.”

“Dia yang memilih jadwalnya,” jawab Xavier.

“Saya bisa mulai pukul enam,” kata Renata. “Tapi semua orang yang masuk ruang server harus sudah menyerahkan perangkat pribadi malam ini.”

Tim segera mematuhi. Nathan mengeluarkan ponselnya paling akhir. Sebelum menyerahkannya ke loker aman, layar menampilkan unggahan terjadwal Cheryl: foto lama mereka berdiri sangat dekat di sebuah pesta kampus.

Renata sempat melihat gambar itu, lalu memalingkan wajah tanpa komentar.

Nathan membuka percakapan Cheryl. Pesan terakhirnya masih belum dibalas. Ia mengetik pertanyaan singkat tentang unggahan tersebut, tetapi tanda pesannya tidak pernah berubah menjadi dibaca.

Perasaan terganggu muncul. Namun ketika ia menoleh, Renata sudah berbicara dengan Xavier tentang pekerjaan esok hari, seolah foto itu sama sekali tidak penting.

Di Jakarta, Cheryl duduk di apartemen dengan puluhan foto lama terbuka di laptop. Ada gambar dirinya dan Nathan saat kuliah, makan malam perusahaan, serta liburan bersama teman-teman. Ia memilih foto yang memberi kesan paling dekat, menyusunnya sebagai unggahan terjadwal, lalu menulis satu kalimat.

Ada kenangan yang tidak bisa digantikan siapa pun.

Ia menonaktifkan tanda baca di percakapan Nathan, mengarsipkan pesan masuk, dan memutuskan tidak akan menjawab panggilan lelaki itu selama beberapa hari.

“Nathan,” bisiknya sambil menekan jadwal unggah, “tunggu sampai kamu mengingat siapa yang selalu ada.”

Malam turun cepat di pulau.

Renata selesai mandi dan membuka laptop untuk memeriksa jadwal esok hari. Di luar kamar, lantai kayu berderit.

Seseorang berhenti tepat di depan pintunya.

Bayangan Nathan terlihat di celah bawah pintu.

Lalu terdengar ketukan pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!