NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 1

"Apa? Menikah?!"

"Iya, Tuan. Tuan Besar sudah memutuskan untuk menjemput Tuan agar kembali ke rumah utama. Hari pernikahan Tuan juga sudah ditentukan. Malam ini juga Tuan diminta pulang. Kalau tidak..."

"Kalau tidak apa?"

"Perusahaan akan sengaja dibiarkan tumbang. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah Tuan harus menikahi putri dari keluarga Wijaya."

Vio mengepalkan kedua tangannya.

"Aku akan memikirkannya lagi. Aku pulang besok saja. Aku bisa pulang sendiri."

"Baik, Tuan."

Setelah pria itu pergi, Vio hanya bisa mengembuskan napas panjang. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai pikiran. Paksaan dari kedua orang tuanya membuat hatinya benar-benar kacau.

"Kamu yakin, Bro, mau pulang?" tanya Reno.

Vio menggeleng pelan.

"Aku juga nggak tahu. Oh ya, aku duluan. Aku mau ke rumah Zilia."

Reno menepuk pelan bahu sahabatnya.

"Semoga kalian berdua menemukan jalan keluarnya. Jangan sampai hubunganmu sama Zilia hancur. Dia gadis baik, jangan sampai kamu sia-siakan."

Vio tersenyum tipis.

"Tenang. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menghancurkan hubunganku dengan Zilia."

"Semangat, Bro. Sana pergi."

Vio langsung melajukan motornya menuju rumah Zilia.

Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu rumah.

Tok... tok... tok...

Pintu pun terbuka, memperlihatkan sosok Ibu Retno.

"Nak Vio, ada apa malam-malam ke sini?"

"Zilia belum tidur, kan, Bu?"

Ibu Retno menggeleng.

"Belum pulang. Tadi dia pergi sama Edo dan Rara. Memangnya ada perlu apa?"

"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma mau ketemu."

"Itu, mereka sudah pulang."

Ibu Retno menunjuk ke arah ujung jalan saat melihat Zilia berjalan pulang bersama kedua temannya.

"Zil, itu ada Vio."

Zilia menoleh. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya.

"Kalian dari mana?" tanya Vio.

"Dari belanja buat acara terakhir sama anak-anak kampus. Memangnya kamu ada perlu apa ke rumah?"

"Ra, Do, Bu... aku mau ngajak Zilia keluar sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan."

"Ciee... jangan-jangan mau ngelamar, nih," goda Rara sambil tertawa.

"Apaan sih, Ra."

"Ehem... kita dukung kok," sahut Edo sambil mengangkat kedua jempolnya.

"Boleh, kan, Bu?" tanya Vio kepada Ibu Retno.

"Boleh. Tapi jangan pulang terlalu malam."

"Iya, Bu."

Tak lama kemudian, Vio mengajak Zilia pergi.

Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Tidak ada obrolan seperti biasanya. Zilia memilih menikmati angin malam, sementara Vio sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Ancaman dari kedua orang tuanya terus terngiang di kepalanya.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah danau kecil yang tak jauh dari desa.

Zilia turun dari motor dan memandang sekeliling. Suasana malam itu cukup ramai. Banyak pasangan muda duduk di tepi danau sambil mengobrol dan menikmati semilir angin.

"Kita duduk di sana, yuk," ajak Vio.

Zilia mengangguk.

Mereka pun duduk berdampingan di tepi danau. Tanpa sadar, Vio meraih tangan Zilia dan menggenggamnya erat.

"Zil... kamu nggak keberatan, kan, kalau aku pulang ke kota? Aku diminta kembali ke rumah untuk menggantikan Papaku kerja."

Vio menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku janji, setelah semua urusan selesai, aku akan kembali. Aku akan menjemputmu, melamarmu, lalu menikahimu."

Zilia terdiam.

Ia ingin meminta Vio tetap tinggal, tetapi ia sadar dirinya tidak punya hak untuk menahan seseorang yang sedang memenuhi panggilan orang tuanya.

Vio kembali berkata pelan,

"Aku akan terus menghubungimu. Kalau ada waktu libur, aku pasti akan datang menemui kamu."

Zilia menatap pria di sampingnya.

"Aku memang nggak punya hak melarangmu pulang. Apalagi ini menyangkut orang tuamu. Yang bisa kulakukan hanya mendukung keputusanmu."

Mendengar jawaban itu, Vio langsung memeluk Zilia erat.

"Terima kasih... Aku janji tidak akan mengecewakanmu."

Zilia perlahan melepaskan pelukan itu. Wajahnya memerah karena malu.

"Aku mau pesan makanan dulu, ya."

"Nggak usah. Aku tadi sudah makan bareng Edo sama Rara. Kamu saja yang makan. Aku cukup pesan minuman."

"Ya sudah."

Vio pun berjalan menuju kios makanan yang berada di pinggir danau.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Obrolan mereka mengalir hingga malam semakin larut.

Mengingat janjinya kepada Ibu Retno untuk tidak mengantar Zilia pulang terlalu malam, Vio akhirnya mengajak gadis itu kembali ke rumah.

Menulis

Keesokan paginya, matahari baru saja menampakkan sinarnya. Udara desa masih terasa sejuk ketika Vio telah bersiap dengan sebuah tas ransel yang disampirkan di bahunya.

Ia berdiri beberapa saat di depan tempat tinggalnya. Tatapannya menyapu setiap sudut tempat yang selama ini menjadi saksi kehidupannya bersama teman-teman dan juga kisah cintanya dengan Zilia.

"Hari ini semuanya berubah," gumamnya lirih.

Vio lalu menghidupkan motor dan melaju menuju rumah Zilia.

Tak lama kemudian, ia tiba di depan rumah sederhana itu. Begitu motornya berhenti, Ibu Retno yang sedang menyapu halaman menoleh.

"Nak Vio?"

Vio tersenyum sopan.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi juga. Masuk dulu, Nak."

"Iya, Bu."

Vio melangkah masuk. Zilia yang baru keluar dari dapur langsung menghentikan langkahnya ketika melihat pria yang dicintainya sudah berdiri di ruang tamu.

"Kamu jadi berangkat hari ini?" tanya Zilia pelan.

Vio mengangguk.

"Iya. Aku sengaja datang buat pamit."

Suasana seketika menjadi hening.

Ibu Retno mempersilakan Vio duduk, lalu menuangkan segelas teh hangat.

"Nak Vio, Ibu titip Zilia kalau nanti sudah waktunya. Kalau memang berjodoh, datanglah baik-baik bersama keluargamu."

Vio menerima gelas itu dengan kedua tangannya.

"Iya, Bu. Itu juga yang saya inginkan. Saya mohon doa Ibu supaya semua urusan saya dipermudah."

Ibu Retno mengangguk sambil tersenyum.

"Ibu doakan yang terbaik."

Vio kemudian berdiri dan menyalami Ibu Retno dengan penuh hormat.

"Terima kasih selama ini sudah menerima saya dengan baik."

"Jaga diri baik-baik di kota."

"Iya, Bu."

Setelah berpamitan dengan Ibu Retno, Vio mengalihkan pandangannya kepada Zilia.

"Aku boleh ngomong sebentar?"

Zilia mengangguk lalu mengikuti Vio keluar rumah.

Mereka berdiri di bawah pohon mangga yang tumbuh di halaman.

Vio menggenggam kedua tangan Zilia.

"Aku berangkat."

"Hati-hati."

"Aku akan sering menghubungimu."

"Aku tunggu."

Vio tersenyum tipis.

"Kalau nanti aku lama membalas pesanmu, bukan berarti aku melupakanmu. Mungkin aku sedang sibuk atau memang tidak diberi kesempatan."

Zilia mengangguk pelan.

"Aku percaya sama kamu."

"Jangan pernah percaya omongan orang sebelum mendengarnya langsung dariku."

Ucapan itu membuat hati Zilia sedikit bergetar.

"Memangnya akan ada apa?"

Vio menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Nggak ada. Aku cuma nggak mau ada kesalahpahaman di antara kita."

Zilia mengangguk, meski hatinya mulai dipenuhi firasat yang sulit dijelaskan.

Vio mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

"Tunggu aku."

"Aku akan menunggu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Vio berbalik melangkah pergi. Berkali-kali ia menoleh ke belakang. Sementara Zilia tetap berdiri di tempatnya, melambaikan tangan hingga motor Vio menghilang di tikungan jalan.

Perjalanan menuju kota memakan waktu beberapa jam.

Semakin dekat dengan pusat kota, ekspresi Vio semakin datar. Senyum yang tadi ia tunjukkan kepada Zilia lenyap begitu saja, berganti tatapan dingin.

Tak lama kemudian, mobil yang menjemputnya memasuki sebuah kawasan elite. Gerbang besi raksasa terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah mansion megah yang berdiri di atas lahan luas.

Beberapa pelayan sudah berbaris rapi di halaman.

"Selamat datang, Tuan Muda."

Vio bahkan tidak melirik mereka. Langkahnya terus menuju pintu utama.

Baru saja memasuki ruang tamu yang megah, seorang pria paruh baya dengan jas hitam berdiri menunggunya.

Dialah Armand Mahendra, ayah Vio sekaligus pemilik Mahendra Group.

"Akhirnya kamu pulang juga," ucap Armand dengan suara tenang.

Vio berhenti beberapa langkah di hadapannya.

"Bukankah itu yang Papa inginkan?"

Armand tersenyum tipis.

"Seharusnya kamu menyambut kepulanganmu dengan lebih baik."

Vio menatap ayahnya tanpa sedikit pun rasa hangat.

"Aku pulang bukan karena ingin. Aku pulang karena dipaksa."

Senyum di wajah Armand perlahan menghilang.

"Kamu masih keras kepala."

"Bukan keras kepala. Aku hanya sadar kalau kepulanganku bukan karena Papa merindukan anak sendiri."

Vio menatap lurus kedua mata ayahnya.

"Aku hanyalah bidak yang ingin Papa tukarkan demi kepentingan bisnis."

Ruangan yang luas itu mendadak sunyi.

Para pelayan saling menundukkan kepala. Tak seorang pun berani mengangkat wajah.

Armand menghela napas panjang.

"Kamu akan mengerti suatu hari nanti."

Vio tersenyum sinis.

"Tidak. Yang aku mengerti hanya satu... di rumah ini, perasaan tidak pernah lebih penting daripada keuntungan."

Setelah mengatakan itu, Vio melangkah melewati ayahnya tanpa meminta izin sedikit pun.

Tatapan Armand mengikuti kepergian putranya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menyadari bahwa jarak antara dirinya dan Vio bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan telah berubah menjadi tembok yang sangat sulit untuk dihancurkan.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!