NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 - SIAPA KINANTI ITU?

Jauh di dalam bilik rahasia yang terhubung dengan kamarnya di vila keluarga Wijaya, Kirana duduk bersila di depan Batu Gema yang mulai menyala redup. Sinar kebiruan dari batu itu memantul di dinding-dinding bercat gelap, menciptakan suasana yang sunyi, tenang, dan penuh rahasia di tengah malam yang larut.

Kunang, roh pendamping kecil yang selalu setia, sudah berkeliling memeriksa setiap sudut ruangan. Ia melapor dengan suara berbisik, "Nyonya, ruang siar sudah siap. Pintu terkunci rapat, dan jejak gema cadangan sudah ditutup rapat."

Kirana mengangguk puas. Ruangan ini tidak diketahui siapa pun, bahkan keluarganya sendiri. Hanya di tempat inilah ia melepas wajah Kirana dan menjelma menjadi dirinya yang lain, suara yang menyeberangi langit tanpa pernah terlihat.

Sudah dua tahun sejak ia terbangun dari Peti Kaca Rembulan, dan selama itu pula nama Kinanti tumbuh menjadi penyanyi anonim yang tak pernah menampakkan wajah kepada siapa pun.

---

Sebelum mulai, pikirannya sempat melayang ke peristiwa hari ini. Sebentar lagi Akademi Militer Kekaisaran akan membuka tahun ajaran baru, dan Sekar akan berangkat ke Provinsi Kedaton untuk menempuh pendidikan di sana.

Begitu Sekar pergi, Kirana bisa sedikit beristirahat dari segala drama yang selalu dibawanya ke rumah ini, dan rumah pun akan kembali tenang.

Sedangkan hubungan Ayah dan Ibu, mau dibawa ke arah mana pun kelak, itu urusan mereka berdua. Kirana tidak akan ikut campur di dalamnya.

---

"Tutup pintunya dan atur ruang siar," ujar Kirana kepada Kunang. "Baik, Nyonya," jawab Kunang patuh, lalu sibuk merapikan tirai dan memastikan tak ada celah cahaya yang bocor ke luar.

Di ruangan itu hanya ada Batu Gema sebagai sarana utama, sebuah cermin gema kecil untuk membaca pesan, dan satu kursi kayu sederhana. Kirana tidak pernah memperlihatkan wajahnya; yang keluar dari ruangan ini hanyalah suaranya yang menghidupkan malam.

Dalam dua tahun terakhir, nama Kinanti telah mengumpulkan puluhan juta pendengar setia di seluruh penjuru Cakrawala.

Kini ia adalah salah satu penyanyi paling terkenal di jaringan Gema, dan setiap suaranya selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang di seluruh sembilan provinsi Kekaisaran Cakrawala.

"Kakang Kinanti sudah datang! Malam ini kidung apa yang akan kau bawakan untuk kami?" Sebuah pesan muncul di cermin gema, diikuti oleh puluhan pesan lain yang melintas seperti ombak laut.

Kirana menatap untaian pesan yang terus mengalir, serta Keping Surya dan Perahu Awan yang berkilauan menandai hadiah dari para pendengarnya yang tak terhitung jumlahnya.

Ia menarik napas pelan, lalu menyamarkan suaranya menjadi nada yang lebih muda dan bersemangat, layaknya seorang pemuda yang riang.

"Terima kasih semuanya. Malam ini aku akan membawakan kidung kuno yang sudah lama hilang, Kidung Embun Pagi."

"Kidung ini tercatat dalam kumpulan resep Alam Kuna. Dahulu ia dinyanyikan dengan iringan kecapi seribu senar, tetapi kecapi semacam itu sudah tidak ada lagi di zaman sekarang. Maka malam ini aku akan membawakannya hanya dengan sebuah kecapi sederhana."

Di zaman seperti ini, bahkan kidung yang paling sederhana pun bisa dianggap telah lama punah dan tidak dikenal orang.

Sebab kidung sederhana itu justru menyimpan banyak rahasia: penguasaan laras, pengaturan napas, dan pemilihan bait yang hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Kebanyakan orang hanya bergantung pada ramuan dasar untuk mengisi perut, dan tak banyak yang mampu pergi ke rumah makan mahal. Mereka hanya bisa mendengarkan siaran lewat Batu Gema untuk menghibur hati yang lelah.

Itulah sebabnya popularitas Kinanti bisa meroket begitu cepat, meskipun ia tidak pernah sekali pun memperlihatkan wajahnya.

Yang lebih penting, banyak kidung yang dibawakannya tidak pernah terdengar oleh siapa pun di zaman ini, namun semuanya terdengar sangat merdu dan menyentuh hati.

Kirana memejamkan mata, mengatur napasnya, dan membiarkan ketenangan memenuhi seluruh ruangan hingga ke ujung jarinya.

Ketika nada pertama keluar dari bibirnya, ruang siar itu seketika hening, hanya diisi oleh suara yang lembut, dalam, dan menenangkan.

"Aku iri pada kecapi itu, bisa begitu dekat dengan jari-jari Kakang!" tulis seorang pendengar dengan penuh semangat.

"Kalau aku, aku iri pada Batu Gema. Ia menemani Kakang setiap malam!" sahut pendengar yang lain tak kalah antusias.

"Apa hanya aku yang iri pada keluarga Kakang? Mereka bisa mendengar kidung ini setiap hari!" tulis yang ketiga, dan ratusan pendengar lain mengikuti, saling menyahut dengan meriah.

Kidung itu usai. Sejenak keheningan menyelimuti ruang siar, kemudian gelombang pesan dan hadiah membanjiri cermin gema, memancarkan kehangatan yang menyentuh hati sang penyanyi.

---

Sementara itu di istana, Guruh yang sedang menonton siaran Kinanti di Gelang Lentera membuka mulutnya dengan takjub. Rangga yang sedang membaca dokumen di sampingnya akhirnya tidak tahan, lalu berkata dingin, "Kalau kau berisik terus, kupadamkan Gelang Lentera!"

Guruh merasa sangat teraniaya, "Tuan, kidung Kakang Kinanti ini benar-benar merdu. Sepanjang hidupku, aku belum pernah sedekat ini mendengarkannya. Aku tidak tahan membisu."

Rangga menunduk kembali pada dokumennya dan mengabaikannya sama sekali.

Guruh tidak berani lagi berceloteh. Sudah hampir dua tahun ia menjadi penggemar penyanyi ini, dan selalu penasaran dengan siapa sebenarnya sosok di balik suara itu.

Ia juga merasa tidak puas, karena tuannya tidak pernah memberinya kesempatan untuk mengundang sang penyanyi datang ke istana.

Maka Guruh memutuskan untuk mencari tahu keberadaan sang penyanyi, lalu mengundangnya datang menyanyi langsung untuk tuannya. Dengan begitu, tuannya pasti akan mengakui ketajaman seleranya!

Menelan air ludah yang sebenarnya tidak ada, Guruh diam-diam menghubungi Cakra, roh Arsip Agung yang mengatur segala catatan langit.

Cakra mengira Rangga memiliki keperluan mendadak, sehingga ia segera menyambung panggilan itu dengan cepat. "Panglima, ada yang bisa aku lakukan?"

Guruh berkata, "Bukan, aku yang mencarimu. Bisakah kau melacak jejak gema seorang penyanyi untukku? Aku ingin tahu informasi terperinci tentangnya."

"Hehe," jawab Cakra singkat.

"Hei, jangan 'hehe' terus, ini urusan penting!" desak Guruh. "Tuan akhir-akhir ini sering gelisah dan sulit tidur, sedangkan kidung Kinanti sangat merdu. Aku ingin mengundangnya menyanyi untuk Tuan." Cakra bertanya dengan malas, "Kau ini roh pendamping, bagaimana kau tahu kidungnya bagus atau tidak?"

"Lihat saja ulasan para pendengar di jaringan Gema! Apa kau tidak pernah membaca tanggapan orang sebelum menilai sesuatu?" Guruh membalas dengan nada menang.

Cakra terlalu malas berdebat dengannya, tetapi karena urusan ini demi Panglima, tidak ada salahnya melacak. Keluarga istana dan panglima tertinggi memang memiliki keistimewaan itu.

Namun semenit kemudian, ketika Cakra melihat hasil penelusuran jejak gema itu, ia merasa sedikit mati rasa. Jejak itu menuju ke sebuah kamar sederhana di dalam vila keluarga Wijaya, tempat yang tak pernah ia duga sama sekali.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!