Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.
Atau begitulah seharusnya.
Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.
Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.
AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.
Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Kevin Tan
Kevin Tan tiba di kantin sepuluh menit lebih awal. Ini tidak biasa—Kevin terkenal di seluruh angkatan sebagai orang yang datang tepat waktu hanya untuk ujian, dan itupun kadang terlambat dua menit.
Tapi pesan Arka semalam membuatnya penasaran sampai tidak bisa tidur.
*Lebih besar dari nikah.* Apa maksudnya?
Kevin duduk di meja yang sama—meja sudut yang sudah jadi spot tetap Arka. Dia memesan Nasi Goreng Spesial (porsi tambah telur, tambah kerupuk, extra sambal) dan es jeruk. Sementara menunggu, dia memainkan ponsel sambil menyapa setidaknya empat orang yang lewat.
"Kev! Lo kok di sini pagi banget?"
"Ada meeting penting, bro."
"Meeting apa? Lo join BEM?"
"Bukan. Bisnis."
"Lo? Bisnis?"
Kevin nyengir. Orang-orang mengenalnya sebagai social butterfly ITB—anak yang tahu siapa pacar siapa, siapa dosen yang gampang kasih A, di mana tempat nongkrong terbaik di Dago, dan nomor HP contact di setiap organisasi kampus dari BEM sampai paduan suara. Kalau ada informasi yang dibutuhkan, Kevin tahu siapa yang harus ditelepon.
Tapi bisnis? Kevin Tan?
Arka datang pukul dua belas tepat. Kaos hitam polos, celana cargo, ransel. Dia duduk tanpa basa-basi, memesan Indomie Goreng—menu abadi—dan menatap Kevin.
"Lo serius mau dengar?"
Kevin meletakkan ponsel. "Bro, gue nggak tidur gara-gara chat lo semalam. Cepet ceritain."
Arka menarik napas. Dia sudah merencanakan percakapan ini—apa yang harus diungkap, apa yang harus ditahan. Kevin adalah orang yang tepat untuk ini. Tapi ada batas.
"Lo tahu kan soal Oyen?"
"Duh, siapa yang nggak tahu." Kevin memutar mata. "Lo literally raja Tokopedia. Gue denger dari anak-anak—yang di mading itu, yang Rangga hampir nangis di kantin. Lo legenda, bro."
"Oyen bukan tujuan akhir."
Kevin berhenti mengunyah kerupuk. "Maksudnya?"
"Oyen itu modal. Langkah pertama. Sekarang aku punya dana, punya pengalaman operasional, punya reputasi kecil. Tapi aku mau sesuatu yang jauh lebih besar."
"Seberapa besar?"
Arka menurunkan suaranya. "Aku mau bikin platform. Aplikasi berita yang pakai algoritma rekomendasi—setiap user dapat feed berbeda sesuai minat mereka. Personalized news engine."
Kevin menatapnya. Tiga detik. Lima detik.
"Lo mau bikin... Toutiao versi Indonesia?"
Arka mengangkat alis. Dia tidak menyangka Kevin tahu Toutiao.
"Gue banyak baca, bro," kata Kevin, membaca ekspresinya. "Terutama soal startup China. Toutiao itu gila—valuasi 75 miliar dolar. Dan mereka cuma agregator berita." Matanya mulai menyala. "Lo mau bikin itu di Indonesia? Di 2018? Belum ada yang melakukan ini di sini."
"Exactly."
"Namanya?"
"KlikNews."
Kevin mengulanginya pelan. "KlikNews." Lalu lebih keras. "KlikNews." Dia mengangguk. "Catchy. Gampang diingat. Orang Indonesia suka nama yang langsung ke inti."
Arka mengeluarkan ponsel dan menunjukkan architecture diagram yang sudah dia siapkan—versi yang disederhanakan, tanpa menyebutkan dari mana asalnya.
"Ini arsitektur sistemnya. Recommendation engine berbasis hybrid model—collaborative filtering plus content-based analysis. Backend Python, frontend React Native. Mobile-first karena 80% internet Indonesia lewat smartphone."
Kevin mengambil ponsel itu dan mempelajari diagram. Meski programming di luar bidangnya, dia cukup pintar untuk memahami gambaran besar.
"Lo bisa bikin ini sendiri?"
"Kode, ya. Tapi bisnis lebih luas dari kode." Arka menatapnya langsung. "Aku butuh seseorang yang bisa handle sisi manusia. Partnership dengan media. Negosiasi dengan publisher. Marketing, branding, hubungan dengan investor kalau waktunya tiba. Seseorang yang bisa masuk ke ruangan mana pun dan keluar dengan deal."
Kevin meletakkan ponsel. Dia tahu apa yang sedang terjadi.
"Lo mau gue jadi co-founder?"
"Partner. Lima puluh-lima puluh di operasional. Equity—kita atur nanti, tapi kamu dapat bagian yang fair."
Hening sejenak. Di sekeliling mereka, kantin ramai—bunyi piring, tawa, denting sendok, suara dosen yang lewat sambil menelepon. Semua itu terasa jauh.
Kevin menyilangkan lengan. "Bro, gue mau jujur. Gue itu tipikal anak yang tahu seribu hal tapi nggak pernah finish satu pun. Gue join tiga organisasi kampus, ketuanya dua, tapi nggak ada satu pun yang gue rasa benar-benar penting. Gue tahu banyak orang tapi nggak pernah pakai koneksi itu buat sesuatu yang nyata."
Dia bersandar. "Tapi lo... lo beda. Lo nggak cuma ngomong. Lo bikin Oyen dari nol—dari pabrik yang hampir bangkrut jadi brand nasional. Dalam tiga bulan." Matanya serius sekarang—Kevin yang jarang serius. "Kalau lo bilang KlikNews bisa jadi besar, gue percaya."
"Percaya saja nggak cukup," kata Arka. "Kerjanya banyak. Keras. Setiap hari."
"Lo kenal gue, bro. Kalau gue commit, gue all in." Kevin mengulurkan tangan melewati meja. "Partner."
Arka menjabatnya. "Partner."
Kevin langsung berubah mode—dari sahabat menjadi co-founder. Perubahan itu terjadi begitu cepat, Arka hampir bisa melihat saklar yang berpindah di belakang matanya.
"Oke. Pertanyaan pertama: timeline?"
"MVP dalam dua minggu. Aku handle semua development. Kamu mulai list media-media berita lokal yang bisa kita crawl—mulai dari yang besar: Detik, Kompas, Tribun, Tempo, CNN Indonesia. Setelah itu tier dua: media daerah. Kita butuh minimal 200 sumber berita untuk launch."
"Dua minggu?" Kevin hampir tersedak es jeruk. "Lo mau bikin app full-fledged dalam dua minggu?"
"MVP. Minimum viable product. Masih jauh dari versi final."
"Tetap gila, bro."
"Aku bisa."
Kevin menatapnya lama. Lalu dia mengangkat bahu dan mengeluarkan buku catatan dari tas—buku catatan fisik, bukan digital, karena Kevin percaya bahwa hal-hal penting harus ditulis tangan.
"Oke. Dua minggu. List media. Apalagi?"
"Content deal. Hubungi departemen digital setiap media dan tanyakan syarat untuk redistribusi konten mereka. Kita butuh lisensi atau setidaknya kesepakatan informal sebelum launch."
"Got it."
"Satu lagi." Arka menarik napas. "Kamu akan tanya dari mana teknologinya. Dari mana aku bisa bikin recommendation engine yang bahkan Google belum implement di Indonesia."
Kevin menunggu.
"Jawaban singkatnya: aku punya resource yang nggak bisa aku ceritakan sekarang. Yang penting—hasilnya nyata, dan legal."
Kevin menatapnya lima detik. Lalu dia mengangguk. "Bro, lo sudah buktikan diri lo dengan Oyen. Gue nggak butuh tahu cara kerja mesin lo. Gue cuma perlu tahu lo bisa deliver."
"Aku bisa."
"Then that's enough." Kevin mengangkat gelas es jeruknya. "Toast?"
Arka mengangkat gelas es tehnya. Dua gelas plastik bersentuhan dengan bunyi yang tidak heroik sama sekali.
Tapi di dalam kepala Arka, momen ini punya bobot yang tidak bisa diukur. Di kehidupan sebelumnya, dia tidak pernah punya partner. Dia kerja sendiri, lembur sendiri, dan mati sendiri di lantai kantor pukul dua pagi.
Kali ini berbeda.
Kevin membuka buku catatannya dan mulai menulis—list media yang akan dia hubungi, dimulai dari yang kontaknya sudah dia punya. Tangannya bergerak cepat, tulisannya berantakan tapi penuh energi.
"Bro," kata Kevin tanpa mengangkat kepala. "Satu pertanyaan lagi."
"Apa?"
"Tim teknis. Lo nggak bisa bikin ini sendirian selamanya. Kalau KlikNews scale, lo butuh engineer lain. Dari mana?"
Arka tersenyum tipis. Pertanyaan yang tepat.
"Aku sudah punya rencana untuk itu," katanya. "Ada proyek yang mau aku publish di GitHub minggu ini. Open source. Kalau ada orang yang cukup bagus untuk notice dan contribute, itu orang yang aku cari."
Kevin mengangkat alis. "Lo mau rekrut programmer lewat GitHub?"
"Cara terbaik untuk menemukan talent yang sesungguhnya."
Kevin menggeleng sambil tertawa. "Lo emang beda, Arka."
Arka menghabiskan Indomie terakhirnya. Meletakkan mangkuk.
Dua mahasiswa ITB di kantin yang bau nasi goreng, dengan modal laptop dan buku catatan, baru saja memulai perusahaan yang—dalam dua tahun—akan mengubah cara 50 juta orang Indonesia membaca berita.
Tapi itu cerita untuk nanti.
Untuk hari ini, langkah pertamanya adalah dua minggu coding tanpa tidur, dan 200 email ke departemen digital media seluruh Indonesia.
Kevin sudah mulai menelepon. Arka membuka laptop.
KlikNews dimulai.