NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 36: Forum Heboh

Foto dari rumah hantu muncul di akun gosip kampus pukul delapan pagi.

Gambarnya buram. Hanya terlihat sosok perempuan di dalam mobil, tubuh seorang laki-laki yang membungkuk dekat, dan cahaya senter memantul di kaca. Namun sandal kelinci Kirana yang diletakkan di lantai mobil tampak cukup jelas.

Primadona UN punya pacar misterius? tulis akun itu. Setelah Nara, ada siapa lagi?

Komentar langsung menebak Fajar, Bima, bahkan fotografer poster. Tidak seorang pun berani menyebut Arya karena wajah laki-laki itu tertutup bayangan.

Kirana menunjukkan unggahan kepada Winda. “Aku bilang kita ketahuan.”

“Secara teknis, mereka cuma tahu kamu punya sandal.”

“Semua orang tahu sandal itu milikku.”

Winda menghubungi pengelola acara. Panitia menelusuri lokasi dan menemukan mahasiswa yang mengambil foto. Ia mengaku hanya ingin mengirim ke grup teman, tetapi salah satu anggota grup meneruskannya ke akun base.

“Minta unggahan diturunkan?” tanya Winda.

Kirana berpikir. Foto itu diambil dari area umum, tidak menampilkan wajah jelas, dan tidak mengandung ancaman. Memaksakan penghapusan hanya akan memperbesar kecurigaan.

“Biarkan. Tapi minta mereka menghapus nomor plat yang terlihat di versi asli.”

Winda menyampaikan permintaan privasi. Pengelola akun menyunting gambar tanpa memperdebatkan.

Di kantin, mahasiswa memperlakukan rumor itu seperti permainan tebak-tebakan. Ada yang mendekati Kirana dengan daftar kandidat. Ia menjawab semua pertanyaan dengan kalimat sama.

“Kehidupan pribadi bukan kuis berhadiah.”

Winda sengaja mengalihkan perhatian dengan mengunggah kegagalan dirinya melawan pocong. Video itu viral kecil dan membuat diskusi berpindah pada rumah hantu.

Strategi itu bekerja sampai Cindy masuk kelas dan bertanya cukup keras, “Pacar misterius itu orang kampus juga, Kira?”

Beberapa mahasiswa langsung menoleh.

Kirana menutup laptop. “Kenapa kamu perlu tahu?”

“Aku cuma khawatir rumor mengganggu nama produksi.”

“Produksinya sudah selesai dan laporan keuangannya bersih. Kehidupan pribadiku tidak masuk evaluasi.”

Cindy tersenyum tipis. “Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, kenapa sensitif?”

“Privasi bukan pengakuan bersalah.”

Winda menepuk meja sebagai tanda percakapan selesai. Ketika Arya masuk, suasana kembali tertib. Ia tidak menatap Kirana lebih lama dari mahasiswa lain, tetapi topik kuliahnya tentang asimetri informasi terasa seperti lelucon pribadi.

“Pasar bereaksi bukan hanya terhadap fakta,” jelasnya. “Ia juga bereaksi terhadap kekosongan informasi. Spekulasi tumbuh ketika orang merasa berhak mengisi ruang yang tidak mereka pahami.”

Seseorang di belakang berbisik, “Seperti pacar misterius Kirana.”

Arya berhenti menulis. “Contoh yang lebih relevan secara akademik, Saudara.”

Kelas tertawa kecil, dan pembicaraan tidak berlanjut.

Seusai kelas, Kirana menerima surat elektronik dari administrasi. Fakultas menyetujui permintaan Arya untuk melepaskan diri dari penilaian akhir Kirana. Berkasnya akan diperiksa Pak Yudi dan seorang dosen eksternal. Alasan resmi yang dicatat adalah potensi konflik kepentingan dalam produksi teater, tanpa mengungkap hubungan pribadi.

Kirana membaca dokumen itu dua kali. Arya sudah menyiapkan jalan agar saat mereka terbuka nanti, tidak ada nilai yang bisa dipakai sebagai senjata.

Arya mengirim pesan setelah melihat foto.

Sudutnya bagus. Fotografernya kurang pencahayaan.

Kirana membalas, Mas malah senang?

Biar mereka penasaran.

Kalau tahu itu Mas, mereka tidak cuma penasaran.

Saya siap.

Arya juga mengirim foto formulir persetujuan akademik yang sudah ditandatangani. Di bawahnya ia menulis: Satu langkah lagi.

Dua kata itu membuat Kirana diam. Arya selalu siap mengaku. Dialah yang meminta waktu karena takut pekerjaannya dinilai melalui hubungan.

Sore hari, ia menelepon Feby dari kamar.

“Kalau aku terbuka sekarang, menurutmu bodoh?”

Feby mengikat rambut di layar. “Yang bodoh adalah mengambil keputusan karena akun gosip. Kamu siap dengan konsekuensinya?”

“Belum tahu.”

“Berarti jangan buru-buru. Dan aku masih memegang pendapat cowok ganteng cenderung brengsek.”

“Dia menjagaku waktu mabuk.”

“Bagus. Standar minimum.”

“Dia membuat penilaian ganda.”

“Juga benar.”

“Dia membeli apartemen sebelah.”

Feby berhenti. “Itu romantis atau menyeramkan tergantung konteks.”

“Dia memberiku kode rumah dan menerima aturan privasi yang kubuat.”

“Baik. Nilainya naik dari tersangka menjadi diawasi.”

“Feby!”

“Tugas sahabat bukan langsung percaya pada laki-laki yang punya wajah bagus.”

Kirana tertawa. Feby kemudian melembut. “Aku cuma tidak mau kamu hilang di dunianya. Kalau dia membuatmu tetap jadi dirimu sendiri, aku akan mencoba percaya.”

Malamnya, Arya datang ke 803 membawa martabak. Winda sengaja pergi membeli kopi agar mereka bisa bicara.

“Mereka tidak tahu itu Mas,” kata Kirana.

“Belum.”

“Mas ingin mereka tahu?”

“Saya ingin hubungan ini tidak membuatmu merasa bersembunyi. Tapi saya tidak akan mengumumkan tanpa persetujuanmu.”

Kirana melihat ulang foto buram. Aneh, ia tidak takut karena orang menduga dirinya memiliki pacar. Ia hanya takut mereka menyerang pekerjaan dan pilihannya.

“Kita tunggu perlindungan akademik selesai,” putusnya. “Setelah itu, aku tidak mau menyangkal.”

Arya mengulurkan tangan. “Sepakat.”

Jari mereka bertaut di atas meja. Di layar, komentar terus menebak nama laki-laki misterius. Kirana mematikan ponsel.

Ia belum siap membuka rahasia hari ini. Namun untuk pertama kalinya, ia mulai membayangkan berdiri di samping Arya tanpa bayangan, tanpa kaca gelap, dan tanpa alasan untuk melepaskan tangan.

Bayangan itu tidak lagi membuatnya ingin mundur sedikit pun. Ia justru mulai bertanya-tanya kapan mereka bisa berjalan melintasi halaman kampus bersama, menerima semua tatapan orang, dan tetap memilih satu sama lain tanpa harus berpura-pura asing lagi setiap hari nanti juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!