Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA BARU
Di ruang makan yang sederhana namun bersih, aroma nasi hangat dan lauk yang baru matang tercium sangat menggugah selera. Lisa, Joe, dan Arthur duduk melingkar di meja kayu yang tidak terlalu besar. Piring-piring di depan mereka penuh dengan makanan yang disiapkan Lisa sejak pagi tadi. Udara pagi yang sejuk masuk lewat jendela yang terbuka lebar, menambah suasana tenang yang jarang bisa mereka rasakan belakangan ini.
"Makanlah yang banyak," ucap Lisa sambil menyodorkan piring berisi lauk tambahan kepada mereka berdua. "Kalian butuh tenaga lebih untuk pulih sepenuhnya. Jangan pelit pada perut sendiri."
Arthur langsung menyambar sendok dan makan dengan lahapnya, seakan belum makan selama berhari-hari. Setelah menelan beberapa suapan, ia menatap Lisa dengan wajah serius namun tersenyum jahil.
"Hei, Lisa... gimana kalau loe kerja sama gue?" tanyanya tiba-tiba sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Gue mau buka lowongan khusus untuk loe — posisi tukang masak tetap di rumah gue. Gue janji bakal makan semua yang loe masak tanpa sisa."
Lisa menatapnya sekilas, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis. "Kalau begitu, sebaiknya kau segera bangun dari mimpimu itu. Aku belum gila sampai mau menjadi koki pribadi untuk orang yang tidak tahu berterima kasih sepertimu."
Arthur tertawa kecil, lalu memuji dengan tulus sambil mengunyah makanan di mulutnya. "Tapi jujur, Lis... masakan loe benar-benar enak. Walau sikap loe kadang seperti mak lampir yang sedang marah besar, tapi tangan loe di dapur itu luar biasa. Siapa pun yang bisa makan masakan loe setiap hari pasti beruntung."
Joe yang mendengar percakapan itu hanya tertawa lepas sambil menepuk bahu Arthur pelan. "Sudah, sudah... jangan berdebat terus. Makan dulu sebelum dingin."
Setelah selesai makan, mereka bekerja sama membereskan meja dan mencuci peralatan hingga bersih kembali. Tak lama kemudian, Lisa berjalan menuju ruang tamu tempat Joe dan Arthur sedang duduk santai sambil mengatur napas. Ia duduk di kursi berhadapan dengan mereka, lalu menatap Joe dengan tatapan yang lebih serius dari sebelumnya.
"Lisa, sejak kapan sebenarnya loe mengikuti kami?" tanya Joe.
Lisa menarik napas sebentar sebelum menjawab. "Aku sudah memperhatikan gerak-gerik kalian sejak hari pertama kita masuk kuliah bersama. Bukan karena kebetulan, tapi karena aku tahu siapa kalian dan apa yang sedang kalian cari. Aku membiarkan kalian tahu keberadaanku saat itu saja waktu yang tepat."
Arthur melongo mendengar penjelasan itu. "Wah... ternyata loe bukan sekadar teman sekelas biasa ya, Lis."
Lisa tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada tegas. "Untuk sekarang, jangan banyak bergerak dulu. Istirahatlah dengan benar. Biarkan tubuh kalian pulih sepenuhnya. Kalau kalian terlalu memaksakan diri, bukan musuh yang kalah — kalian sendiri yang akan jatuh duluan."
Arthur langsung membusungkan dada dengan penuh percaya diri. "Hei, jangan meremehkan gue ya! Kalau lawannya cuma satu orang, gue pasti bisa menang dengan mudah. Gue bukan selemah yang loe kira."
Tiba-tiba wajah Arthur berubah menjadi cemas. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Aduh... rumah gue! Pasti sekarang sudah hancur lebur gara-gara ulah Alex, Rey, dan Billy. Mereka pasti mengamuk di sana setelah kita kabur."
Joe menatap sahabatnya itu dengan tenang, lalu menepuk bahu Arthur pelan. "Jangan terlalu khawatir soal itu, Arthur. Setelah semua ini selesai, loe bisa gantian menumpang di rumah gue. Kita lihat siapa yang lebih lama bertahan hidup bersama."
Lisa ikut tersenyum mendengar candaan itu, lalu berkata dengan nada serius kembali. "Besok pagi aku akan tetap masuk ke kampus. Aku akan mencari tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang soal kalian berdua. Mungkin ada berita atau kabar yang bisa kita manfaatkan."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Arthur dengan tatapan menanti. "Arthur... apakah kau bisa menghubungi ayahmu, Steven? Kita butuh bantuan atau setidaknya kabar darinya."
Arthur mendengus pelan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Ayah gue? Mungkin saja dia sudah pindah ke planet Mars," keluhnya dengan nada bercanda namun bermaksud serius. "Dia suka sekali pergi bepergian dalam waktu sangat lama, dan sering kali tidak membawa alat komunikasi apa pun seperti ponsel. Bisa-bisa dia sedang mendaki gunung yang belum pernah didaki orang lain lalu tersesat di sana tanpa tahu jalan pulang."
Joe tersenyum melihat kelakuan sahabatnya, lalu menatap Lisa dengan tulus. "Terima kasih, Lisa. Terima kasih sudah bersedia merawat kami berdua di sini, di tengah situasi yang sesulit ini. Kami tahu ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan."
Lisa hanya mengangguk pelan tanpa banyak bicara. Setelah itu, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, membiarkan tubuh mereka memulihkan tenaga yang masih tersisa.
Saat sore hari tiba, langit berubah warna menjadi jingga kemerahan. Pintu rumah itu perlahan terbuka, dan Mama Rey melangkah masuk dengan tenang. Ia membawa sebuah bungkusan besar berisi pakaian di tangannya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Joe dan Arthur muncul berjalan perlahan menuju ruang tamu. Mama Rey menyambut mereka dengan senyum lembut namun penuh perhatian, lalu menyerahkan bungkusan besar itu kepada mereka berdua.
"Ini ada pakaian baru untuk kalian," ucapnya dengan nada lembut. "Cepat ganti pakaian yang ada bercak darah itu. Tidak baik dibiarkan terlalu lama menempel di kulit."
"Terima kasih, Tante," ucap Joe dan Arthur serentak.
Setelah berganti pakaian yang bersih dan nyaman, mereka kembali ke ruang tamu dan duduk bersama Mama Rey. Suasana menjadi hening sejenak sebelum Mama Rey membuka pembicaraan.
"Joe..." panggilnya pelan namun tegas. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Joe menatap lurus ke depan, matanya menyala dengan tekad yang tidak bisa digoyahkan. "Saya akan tetap melanjutkan apa yang sudah saya mulai, Tante. Balas dendam saya belum selesai."
Mama Rey menghela napas panjang, lalu menatapnya dengan pandangan penuh perhatian. "Baiklah... tapi ingatlah satu hal. Jangan sampai keinginan membalas dendam membuat matamu menjadi buta, sehingga kau terjatuh lagi tanpa sempat melihat ke mana kau sebenarnya melangkah."
Ia melanjutkan penjelasannya dengan nada yang lebih serius. "Musuh yang kau hadapi bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang sangat pintar membaca situasi dan memanfaatkan kelemahan orang lain. Untuk mengalahkan mereka, kau tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan atau amarah. Kau harus menyusun langkah yang cerdik, bahkan licik — supaya mereka tidak pernah menyangka dari mana serangan itu datang."
Joe mengangguk memahami nasihat itu.
"Kalau begitu..." lanjut Mama Rey, "apa yang saat ini paling kau butuhkan?"
Joe menatapnya dengan tegas. "Saya butuh mobil, Tante. Yang bisa dipakai untuk menempuh perjalanan jauh tanpa menarik perhatian orang lain."
Mama Rey mengerutkan kening sedikit. "Ke mana tujuan kalian berdua?"
Joe menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Saya hendak menemui seseorang. Orang yang bisa membantu membalaskan dendam saya."