Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Di balik pintu kayu ek tebal berlapis kedap suara kamar VIP itu, Evander Vale-Knight sama sekali tidak melangkahkan kakinya menuju lobi rumah sakit.
Pria itu tidak pergi ke mana-mana. Ia tidak melesat dengan mobil balapnya untuk menjemput Gabriella Margareth seperti yang dipikirkan Cherry dengan penuh kepahitan di dalam sana.
Evander berdiri bersandar pada dinding lorong yang sunyi, menatap layar ponselnya yang baru saja meredup. Ia sudah memikirkannya matang-matang.
Keputusan ini mutlak, setegas garis finis yang biasa ia lewati. Urusan kewajiban moralnya pada Gabriella Margareth akan ia anggap selesai sampai di sini.
Pria itu tidak lagi peduli pada apa pun yang berkaitan dengan wanita itu, termasuk drama kehamilan atau pernikahan kewajiban yang sempat direncanakan keluarganya. Cukup sudah dua tahun dunianya berputar dalam kepalsuan.
Evander perlahan meluncur turun, mendudukkan tubuh kekarnya langsung di atas lantai marmer dingin, tepat di depan pintu kamar Cherry. Ia baru saja menutup teleponnya setelah menghubungi kepala pengawal pribadi keluarga Vale-Knight.
Dengan nada dingin tanpa bantahan, ia memerintahkan anak buahnya untuk mengurus seluruh kebutuhan Gabriella, mengantarkan atau menjemput gadis itu ke mana pun dia mau—asal tidak melibatkan kehadirannya lagi.
Kini, Evander bukan lagi pria sombong yang menganggur dari tanggung jawab rasa sakit.
Pria itu sadar, ia memiliki satu jiwa yang teramat hancur yang harus ia sembuhkan terlebih dahulu. Zacheriyya Tengiz adalah prioritasnya sekarang, hatinya, dan seluruh sisa hidupnya.
Jika ia harus memohon di lantai rumah sakit ini setiap hari agar Cherry percaya, maka ia akan melakukannya.
Dug! Dug! Dug!
Suara derap langkah sepatu yang tergesa-gesa memecah kesunyian lorong VIP.
Dari ujung koridor, muncul dua orang gadis yang berlari dengan heboh, memicu kepanikan kecil bagi para perawat yang berjaga di meja konter.
Mereka adalah Alessia dan Svea, dua sahabat karib Cherry yang sejak sore tadi histeris mendengar kabar kecelakaan motor dan tugas penjinakan bom yang diambil Cherry.
"Dimana Cherry?! Astaga, di mana ruangan VIP-nya?!" seru Alessia dengan napas terengah-engah, tas tangannya bergoyang liar di pundaknya.
"Apa Cherry baik-baik saja? Di mana bajingan Knight itu? Aku dengar dia juga ada di sini!" timpal Svea tidak kalah heboh.
Penampilan Svea saat itu benar-benar luar biasa mencolok: ia mengenakan topi kupluk rajut kebesaran hingga menutupi sebagian alisnya, kacamata hitam besar, serta masker medis yang menutupi separuh wajahnya—bergaya layaknya agen rahasia yang gagal total dalam penyamaran.
Evander perlahan bangkit dari lantai, membersihkan celananya sekilas.
Kehadiran dua gadis itu membuat gurat kelelahan di wajahnya sedikit bergeser.
"Ayo, masuk. Cherry ada di dalam," ucap Evander dengan suara parau, seraya memutar knop pintu dan membukanya lebar-lebar untuk mereka.
...°°°°...
Di dalam ruangan, Zacheriyya yang saat itu sedang tersedu-sedu, meringkuk memeluk lututnya dengan sisa air mata yang masih basah di pipi, mendadak tersentak kaget. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, terkejut melihat pintu kamarnya dijebol oleh suara lengkingan yang sangat ia kenali.
"Cherry-ku sayang!!!" Svea berteriak dramatis, langsung melesat masuk ke samping ranjang, mengabaikan keberadaan Evander.
Melihat Cherry yang matanya sembab dan hidungnya memerah karena habis menangis sendirian, atmosfer kamar mendadak berubah menjadi aneh.
Evander yang melangkah masuk paling belakang, berdiri di sudut ranjang dengan wajah yang ikut menyedihkan.
Pria kekar berotot itu menatap Cherry dengan sepasang mata yang berkaca-kaca kembali, ikut merasa hancur melihat sisa air mata wanita yang dicintainya.
Evander tahu persis kenapa Cherry menangis—karena ingatan masa lalu dan rasa sakit atas kehilangan bayi mereka.
Namun, ekspresi wajah Evander yang ikut mewek di sudut ruangan itu langsung disalahartikan secara fatal oleh kedua sahabat Cherry.
Alessia berkacak pinggang, menatap Evander dengan pandangan menuduh yang teramat tajam. "Tunggu dulu... Kenapa kau ikut memasang wajah seperti anjing kehujanan begitu, Tuan Knight? Jangan katakan padaku..."
"Apa pria Knight ini menyakitimu lagi, Cherry?!" potong Svea dengan nada suara yang naik beberapa oktav di balik maskernya.
Ia langsung memasang kuda-kuda bertarung yang konyol, menggulung lengan jaketnya dengan heboh. "Aku akan membunuhnya sekarang juga! Beraninya dia membuat sahabatku menangis di ranjang rumah sakit!"
Svea berbalik, menatap Alessia yang berdiri satu meter di belakangnya. "Jangan tahan aku, Alessia! Demi Tuhan, lepaskan aku! Aku akan mencakar wajah tampannya yang angkuh itu sampai tidak dikenali lagi oleh sponsor balapannya! Lepaskan aku, Al!" teriak Svea dengan gerakan tubuh seolah-olah sedang ditahan dengan sekuat tenaga oleh seseorang.
Padahal, kenyataannya... Alessia sama sekali tidak menarik atau menahan tubuh Svea.
Alessia hanya berdiri santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sahabatnya yang bertingkah konyol itu dengan pandangan datar.
"Svea, aku bahkan tidak menyentuh ujung bajumu," cetus Alessia malas.
Svea menghentikan gerakan dramatisnya sesaat, melirik Alessia dari balik kacamata hitamnya, lalu berdehem canggung di balik masker.
"Ah... benarkah? Kau harusnya menahanku agar terlihat seperti di film aksi, Al. Struktur tubuhku tidak cocok untuk bertarung sungguhan dengan pembalap berotot ini."
Melihat tingkah konyol Svea yang luar biasa aneh dengan topi kupluk kegedean, kacamata hitam di dalam ruangan, dan masker medis yang naik turun setiap kali ia berbicara, pertahanan kesedihan Cherry runtuh seketika.
Ruangan VIP yang semula dipenuhi atmosfer melankolis yang mencekik itu mendadak meledak oleh suara tawa renyah.
Cherry tertawa hingga bahunya terguncang, melupakan sejenak rasa nyeri di tubuh dan linu di dadanya.
"Svea... lepas kacamata hitammu, bodoh. Ini di dalam rumah sakit, bukan di sirkuit balap malam hari," ucap Cherry di sela-sela tawanya, air mata sisa kesedihannya kini bercampur dengan air mata karena geli.
Evander yang melihat Cherry akhirnya bisa tertawa lagi, perlahan menarik sudut bibirnya.
Di dalam hatinya yang hancur, setitik kebahagiaan kecil menyeruak melihat binar kehidupan kembali di mata hazel milik Zacheriyya, meskipun tawa itu hadir bukan karena dirinya.
Di sela-sela riuhnya tawa yang dihadirkan oleh kelakuan konyol Svea, Zacheriyya tanpa sadar mencuri pandang ke arah sudut ruangan.
Di sana, di dekat tirai pembatas yang sedikit terbuka, Evander masih berdiri bergeming. Tatapan mata hazel Cherry diam-diam meneliti figur pria itu yang tampak begitu kontras dengan keangkuhannya di masa lalu.
Tidak ada lagi sorot mata tajam yang menuntut kepatuhan, tidak ada lagi senyum sinis yang biasanya menghiasi bibir sang pembalap elite.
Yang tertinggal di sana hanyalah seorang pria yang tampak lelah, dengan pundak yang sedikit merosot dan sepasang mata merah yang menatapnya tanpa putus.
Cherry merasakan dadanya berdenyut aneh saat menyadari betapa intensnya perhatian pria itu tertuju padanya.
Ada rasa hangat yang samar, namun dengan cepat ia lapisi kembali dengan dinding es kebencian yang kokoh. Jangan tertipu lagi, Zacheriyya, bisik hatinya mengingatkan.
Pada detik yang sama, Evander yang sejak tadi tidak sedetik pun mengalihkan fokusnya, menangkap basah sepasang mata yang teramat dirindukannya itu sedang menatap ke arahnya.
Detik ketika manik mata mereka bertemu, waktu seolah melambat di dalam kamar VIP yang bising itu. Evander tidak memalingkan wajah.
Sebaliknya, ia justru membalas tatapan curian Cherry dengan sepasang mata yang memancarkan kejujuran yang telanjang, sebuah permohonan bisu yang teramat dalam agar wanita itu bisa melihat langsung ke dalam jiwanya yang kini telah berserah sepenuhnya.
Pria itu memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus—jenis senyuman yang sudah dua tahun ini hilang dari wajahnya.
Melalui tatapan itu, Evander seolah ingin meyakinkan Cherry bahwa dunia luar, Gabriella, dan segala rumor sialan di luar sana tidak lagi memiliki arti apa pun.
Hanya ada Zacheriyya Tengiz di dalam semesta prioritasnya saat ini.
Cherry yang merasa tertangkap basah segera membuang mukanya ke arah lain, mendadak berpura-pura sangat tertarik pada cerita Alessia yang sedang mengomeli penyamaran konyol Svea.
Namun, rona merah yang samar di puncak telinganya yang bersih tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa hatinya tidak sepenuhnya mati rasa.
Evander yang menyadari penolakan halus itu hanya mampu menarik napas panjang, membiarkan dadanya sesak oleh rasa bersalah yang tak berkesudahan, namun di saat yang sama, ia merasakan secercah harapan.
Selama Cherry masih bersedia meliriknya—meski dengan tatapan terluka—Evander bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan tetap berdiri di sana, menjadi pelindung yang paling setia di depan pintu kamarnya, memastikan tidak ada satu pun hal buruk yang boleh menyentuh wanitanya lagi.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua