Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep talk with Bara
Selesai berkuda, Luna dan Bara kembali ke vila. Mereka memilih duduk di taman belakang vila sambil minum teh. Suasana sunyi hanya sesekali suara angin bertiup.
Luna sedikit gelisah, berbanding terbalik dengan sikap Bara yang sangat tenang. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Selain tentang suaminya, juga tentang kejadian semalam yang tak sengaja ia saksikan.
Untuk mengakhiri kecanggungan, Luna sudah memutuskan untuk bicara lebih dulu.
"Pa …" panggil Luna.
"Ya," sahut Bara singkat.
"Aku minta maaf."
Bara menoleh ke arah Luna.
"Untuk?"
"Un-tuk yang semalam. Aku benar-benar tidak sengaja."
"Aku pikir terjadi sesuatu dengan papa," imbuh Luna.
Bara tersenyum tipis. Ia lantas membawa cangkir teh ke dekat mulutnya, meminumnya, dan kembali meletakannya ke atas meja. Gerakannya pelan penuh perhitungan.
"Bukan masalah."
Luna spontan mendongak.
"Harusnya aku yang minta maaf karena mengejutkanmu."
Luna masih melihat Bara, menatap pria itu penuh arti.
"Apa Papa juga sengaja memanggil Bibi dan yang lainnya ke sini?"
Bara mengangguk pelan. "Aku tahu kamu pasti kurang nyaman dengan kejadian semalam jika kita hanya berdua."
Kini Luna yang mengangguk pelan. Ia tersenyum tipis. Rupanya ayah mertuanya orang yang begitu perhatian dan pengertian.
"Pa …," panggil Luna. "Kenapa Papa tidak menikah lagi?"
Luna bicara dengan nada hati-hati. Takut Bara marah padanya.
"Belum ada yang cocok."
Luna mengangguk pelan beberapa kali.
"Mama Imelda pasti baik sekali sehingga Papa tidak bisa melupakannya."
Bara tidak merespon ucapan Luna. Ia justru memilih untuk kembali menikmati tehnya.
"Pernah aku menyukai seseorang. Tapi sayangnya dia sudah menikah dengan pria lain."
Luna yang sedang menikmati kue strawberry seketika berhenti, tangannya menggantung di udara. Pandangannya mengarah pada Bara. Ia tidak percaya ada wanita yang berani menolak ayah mertuanya yang begitu baik.
"Tapi aku akan merebutnya kembali," lanjut Bara.
Ucapan Bara nyaris membuat Luna tersedak.
GLEK
Luna menelan air liurnya sendiiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Mertuanya tak bisa ditebak. Bara terlihat begitu tenang, tetapi menyimpan banyak bahaya.
"Kenapa, Pa?"
"Pria yang dia nikahi tidak baik."
Hening menyelimuti suasana. Luna terdiam tanpa tahu harus berbuat.
"Tapi … jika nanti Papa berhasil merebut wanita itu? Apa mas Raka akan setuju?"
Bara menoleh ke arah Luna, menatapnya sesaat dengan senyuman tipis. "Akan kubuat dia tunduk pada keputusanku."
Luna menganga, ayah mertuanya benar-benar mengerikan. Namun, ia sama sekali tak takut karena Bara selalu memperlakukannya dengan begitu hangat, bertolak belakang dengan sikapnya yang terlihat dingin.
"Baiklah, kita akhiri pembicaraan ini," ucap Bara. "Ayo kita persiapkan untuk acara nanti malam."
"Ayo," sahut Luna penuh semangat.
"Aku akan menyuruh bibi untuk belanja," ucap Luna.
Bara berniat memanggil salah satu anak buahnya.
"Tunggu, Pa," cegah Luna.
Bara pun menoleh.
"Bagaimana kalau kita yang belanja saja," ucap Luna.
Alis Bara terangkat sebelah.
"Aku mohon." Luna menyatukan kedua telapak tangannya.
Bara kemudian mengangguk. "Sesuai keinginanmu."
****
Hari sudah senja, langit sudah dihiasi oleh cahaya temaram di balik bukit. Luna sedang mempersiapkan bahan untuk acara barbeque nanti malam. Tidak sendiri, ia dibantu oleh seorang pelayan.
Sementara Bara, setelah berbelanja pria itu masuk ke salah satu ruangan bersama Ares. Dia adalah asisten pribadi Bara. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang penting, hingga butuh waktu lama untuk selesai.
Tepat pukul tujuh malam, Luna melihat Bara keluar dari vila diikuti oleh Ares. Ekspresi wajah keduanya terlihat serius. Luna merasa penasaran apa yang mereka bahas hingga membuat wajah mereka nampak menegang.
"Semua sudah siap?" tanya Bara. Ekspresinya berubah lebih hangat dari sebelumnya.
"Sudah, Pa," jawab Luna.
"Baiklah, sekarang tugasku." Bara menarik Luna menjauh dari panggangan, ia mengambil alih tugas memangggang. "Kamu tunggu saja."
"Papa bisa?"
"Masih meragukan kemampuanku memasak?"
Luna menggeleng cepat. Ia tahu seberapa enak masakan ayah mertuanya itu.
Sesaat kemudian, sepiring daging sudah ada di meja, ada pula sosis, seafood dan sayuran. Mata Luna berbinar melihat makanan yang terlihat lezat itu.
Tidak ada orang lain. Hanya ada mereka berdua. Sebelumnya Bara sudah meminta para anak buahnya untuk pergi.
"Makanlah."
Luna mengangguk senang. "Aku gak akan sungkan lagi."
"Pelan-pelan. Ini masih panas."
Luna nampak tidak memperdulikan hal itu. Ia makan, hawa panas menyentuh lidahnya.
"Aw … panas."
"Aku sudah bilang ini panas."
"Aku sudah tidak sabar untuk memakannya."
Bara menggeleng pelan lalu tertawa kecil. Ia lantas mengambil satu daging, meniupnya, dan menyuapkan ke mulut Luna.
Keduanya makan sambil mengobrol. Sesekali tertawa di sela obrolan. Makanan sudah hampir habis. Mereka berpindah ke tempat lain. Duduk di atas rerumputan.
Luna memandang ke atas dengan tatapan kosong. Bara yang duduk sampingnya pun bertanya.
"What's wrong?"
Luna spontan menoleh.
"Merindukanmu suamimu?"
Luna menatap Bara sekilas sebelum mengangguk. "Andai dia dan mama Imelda ada di sini pasti suasananya akan lebih menyenangkan."
"Hmmmm."
Suasana kembali hening.
"Di sudah menghubungimu?"
"Ya. Tapi …"
"What happened? Tell me everything?"
Luna menghela napas sebelum mulai bicara.
"Dia masih marah padaku karena aku sebelumnya ingin mengadopsi seorang anak," aku Luna.
"Kenapa harus adopsi?" tanya Bara. "Kalian bisa melakukan progam bayi tabung?"
"Mas Raka tidak mau?"
"Why."
Luna menunduk untuk menyembunyikan cairan bening di matanya. Dadanya mulai terasa sesak. Ia merasa sudah tidak sanggup menyembunyikan rahasia yang selama ini menyiksanya.
"Luna …"
"Aku sudah berjanji pada mas Raka untuk tidak menceritakan masalah ini," ucap Luna. "Tapi aku merasa tersiksa."
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
Luna menatap Bara dengan matanya yang basah. Bibirnya mulai terbuka, ia berniat menceritakan hal yang menyiksanya selama ini.
"Mas Raka impoten, Pa," ungkap Luna.
Alis Bara terangkat sebelahan. "Impoten?"
Luna mengangguk. Ia sempat ragu untuk menceritakan masalah yang sensitif itu, tetapi rasanya Luna sudah tak sanggup menanggungnya sendiri. "Selama ini kami sudah mencoba berbagai cara. Tapi setiap akan berhasil, mas Raka tiba-tiba berhenti dan … dia meninggalkanku."
"Aku merasa ada yang dia sembunyikan dariku."
"Kamu tidak bertanya apa alasannya?"
"Sudah. Tapi jika aku terus mendesaknya, dia akan marah."
Tangan Bara terangkat, mengusap cairan bening di sudut mata Luna. "Dengar, Luna. Jika ada yang disembunyikan oleh Raka, suatu saat pasti akan terbuka dengan sendirinya."
Bara menepuk-nepuk punggung tangan Luna. "Ingat, sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, suatu saat akan tercium baunya."
"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah sayangi dirimu sendiri." Bara menyelipkan rambut ke belakang telinga Luna, menatapnya penuh arti.
"Sekarang lebih baik tutup matamu. Aku punya kejutan untukmu."
"Kejutan?" Ekspresi sedih Luna berubah menjadi penasaran.
Bara mengangguk. "Lihat ke sana."
Bara menujuk ke arah lapang.
"Tapi sebelum itu tutup matamu."
Luna merasa penasaran dan tanpa ragu menutup mata.
Bara menjentikkan jari dan meminta Luna membuka mata. "Open your eyes."
Perlahan Luna membuka mata. Pada saat yang bersamaan sebuah cahaya muncul dari bumi, melesat cepat ke udara dan berubah menjadi serpihan cahaya yang sangat indah.
Refleks Luna berdiri dan bersorak gembira. Kembang api terus melesat ke udara tanpa henti.
"Suka?" bisik Bara
Luna mengangguk senang. "Thank you."
"You're welcome."
Luna lantas membawa dirinya sendiri masuk ke dalam pelukan Bara, merasakan kehangatan seorang ayah atau mungkin pria lain.
"Pa." Luna mendongak membuat tatapannya bertemu dengan Bara dan menatap ayah mertuanya itu penuh arti. "Happy new year."
Bara mengangguk pelan lantas sedikit membungkuk, mengecup kening Luna dalam jeda waktu lebih lama.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man