NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gak akan Cape

"Nikah yuk."

Kedua tangan Kafa yang menggenggam setir tidak berubah sedikit pun. Ia tetap menatap lurus ke depan.

Namun beberapa detik kemudian, terdengar helaan napas panjang darinya.

"Dara."

"Iya?"

"Baru selesai salat."

"Lah, emangnya habis salat gak boleh ngajak nikah?"

"Bukan begitu."

"Terus?"

Kafa melirik sekilas ke arah Andara. "Kamu nggak capek?"

"Capek apa?"

"Ditolak terus."

Andara justru tersenyum kecil. "Nggak."

"Kenapa?"

"Karena selama Kakak belum nikah sama orang lain, berarti aku masih punya kesempatan."

Kafa kembali mengembuskan napas pelan. "Kamu ini..."

"Apa?"

"Keras kepala."

"Bukan."

"Lalu?"

"Namanya istiqamah."

Kafa spontan terkekeh pelan. "Jangan semua istilah dipakai sembarangan."

Andara ikut tertawa kecil. "Ya... intinya aku serius."

"Dara."

"Apa lagi?"

"Kakak pernah bilang apa?"

Andara berpikir sejenak. "Banyak."

"Khusus soal ini...... Kalau Kakak nggak punya perasaan yang sama."

"Iya tau."

Kafa kembali fokus pada jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan.

"Andara."

"Hm?"

"Kakak nggak mau kamu menggantungkan masa depanmu pada seseorang yang belum tentu menjadi takdirmu."

Andara memandang ke luar jendela. "Aku tau."

"Kalau tau, kenapa masih begini?"

"Karena aku nggak bisa bohong sama hati aku."

Keheningan kembali memenuhi mobil. Hanya suara mesin kendaraan dan lantunan murattal yang terdengar pelan.

Beberapa menit kemudian, Andara kembali membuka percakapan.

"Kalau nanti... sepuluh tahun lagi aku masih suka sama Kakak, gimana?"

Kafa tersenyum tipis. "Sepuluh tahun lagi?"

"Iya."

"Berarti umur kamu hampir tiga puluh."

"Nah."

"Terus?"

"Mungkin saat itu aku masih ngajak Kakak nikah."

Kafa kembali terkekeh kecil. "Dara."

"Iya?"

"Kakak doain."

"Apa?"

"Semoga sepuluh tahun lagi kamu menemukan laki-laki yang jauh lebih baik daripada Kakak."

Andara langsung menggeleng kuat. "Aku nggak mau."

"Kenapa?"

"Karena menurut aku..." Ia menoleh menatap wajah Kafa yang sedang fokus menyetir. "...nggak ada yang lebih baik dari Kakak."

Kafa menghela napas pelan. "Dara..."

"Bisa aja, sepuluh tahun lagi Kakak sudah menikah dengan orang lain."

Andara menjawab tanpa berpikir panjang. "Dan orang itu pasti aku, Kak."

Kafa menoleh sekilas sambil menggeleng geli. "Kamu ini sungguh..."

"Gila?"

"Iya."

Andara malah tersenyum semakin lebar. "Kata 'gila' terlalu sederhana buat menggambarkan perasaan aku ke Kakak."

Kafa tak mampu menahan senyum tipis yang mulai terukir di wajahnya. "Manis sekali ucapan kamu."

"Semanis senyum Kakak."

Tanpa sadar, lengkungan di bibir Kafa semakin jelas. Ia sendiri heran. Setiap kali bersama Andara, suasana yang tadinya serius hampir selalu berubah menjadi penuh canda. Gadis itu selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum.

Entah lewat tingkahnya yang konyol. Celetukannya yang spontan. Atau kepolosannya yang sering kali membuat Kafa kehabisan kata-kata.

Andara yang melihat senyum itu langsung berseru riang. "Nah, kan senyum!"

Kafa berdeham kecil, berusaha menyembunyikan senyumnya. "Kenapa?"

"Aku tau."

"Tau apa?"

"Cuma aku yang bisa bikin Kakak senyum kayak gitu."

"Oh ya?"

"Iya dong."

Kafa menggeleng pelan sambil kembali mengarahkan pandangannya ke jalan. "Kamu percaya diri sekali."

"Bukan percaya diri. Aku cuma percaya sama usaha."

"Usaha apa?"

"Usaha bikin Kakak bahagia." Andara tersenyum lebar, lalu menambahkan dengan penuh keyakinan, "Karena usaha tidak akan mengkhianati hasil."

Kafa terkekeh pelan. "Itu siapa yang ngajarin?"

"Internet."

"Pantes."

"Loh, emangnya salah?"

"Bukan salah."

"Terus?"

"Kamu terlalu percaya diri."

Andara menggeleng. "Bukan percaya diri. Aku Optimis."

"Bedanya?"

"Kalau percaya diri, aku yakin sama diriku. Kalau optimis, aku yakin Allah punya rencana yang indah."

Kafa melirik sekilas ke arah Andara. "Kamu yakin?"

"Sangat."

"Kalau ternyata rencana Allah bukan Kakak?"

Andara terdiam beberapa detik. Lalu ia tersenyum kecil.

"Berarti Allah sedang ngajarin aku cara mencintai dengan ikhlas."

Jawaban itu membuat Kafa sedikit terkejut. Ia tak menyangka Andara akan menjawab setenang itu.

"Tapi..." Andara kembali melanjutkan, "...selama Allah belum bilang 'tidak' lewat takdir-Nya, aku masih boleh berharap, kan?"

Kafa mengembuskan napas pelan. "Berharap boleh."

"Tuh kan."

"Tapi jangan memaksa."

"Aku nggak maksa."

"Kamu hampir setiap ketemu ngajak Kakak nikah."

"Itu namanya mengingatkan."

"Mengingatkan apa?"

"Kalau ada perempuan salehah yang lagi nunggu dilamar."

Kafa spontan tertawa kecil. "Dara..."

"Hm?"

"Kamu lucu."

Mata Andara langsung berbinar. "Serius?"

"Iya."

"Berarti aku berhasil bikin Kakak ketawa lagi."

Kafa hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Target hari ini tercapai."

"Target?"

"Iya."

"Apa lagi target kamu besok?"

Andara berpura-pura berpikir keras. "Hmm... Mungkin bikin Kakak jatuh cinta."

Kafa kembali menggeleng pelan. "Itu target yang berat."

Andara tersenyum penuh keyakinan. "Nggak ada yang berat kalau Allah yang mudahkan."

Ucapan itu membuat Kafa kembali terdiam. Entah mengapa, setiap kali Andara berbicara tentang harapan, gadis itu selalu berhasil menyelipkan keyakinannya kepada Allah.

Dan justru itulah yang membuat Kafa sulit memarahinya. Karena di balik semua tingkah konyol dan celetukan yang sering membuatnya geleng-geleng kepala, ada hati yang tulus, doa yang terus dipanjatkan, dan keyakinan yang tak pernah lepas dari Rabb-nya.

***

"Bundaaa..." Andara berlari kecil memasuki rumah begitu mobil Kafa berhenti di halaman.

Di ruang tengah, Aira dan Azzam memang sudah menunggu kepulangan putri mereka.

"Anak nakal ini udah Kafa jemput, Bun," Ucap Kafa sambil ikut melangkah masuk.

Aira tersenyum lega. "Alhamdulillah. Makasih ya, Nak, udah jemput Dara."

Kafa mengangguk hormat. "Sudah tugas Kafa, Bun."

Azzam yang sedari tadi memperhatikan keduanya akhirnya berdiri dari sofa. "Kamu udah makan, Fa?"

"Belum, Bi."

"Yaudah, makan bareng aja."

Kafa tampak ragu. "Tapi, Abi..."

Belum sempat ia melanjutkan, Aira lebih dulu memotong. "Kafa..."

"Iya, Bun?"

"Udah lama kita nggak makan bareng satu meja."

Nada suara Aira terdengar begitu lembut. "Bunda kangen."

Kalimat sederhana itu langsung meluluhkan hati Kafa.

Ia tersenyum kecil. "Yaudah deh, Bun."

"Nah, gitu dong." Wajah Aira langsung berbinar.

Kafa memang hampir tidak pernah bisa menolak permintaan kedua orang tua angkatnya.

Sejak kecil hingga dewasa, rasa hormat dan sayangnya kepada Azzam dan Aira tak pernah berubah.

Lagipula... Diam-diam ia juga merindukan suasana makan bersama keluarga.

Melihat Kafa langsung mengiyakan permintaan kedua orang tuanya, Andara langsung mengembuskan napas kesal pura-pura.

"Tuh, kan."

Semua menoleh ke arahnya.

"Kalau sama Abi sama Bunda, Kakak langsung nurut."

Kafa terkekeh kecil. "Iya lah."

"Kenapa?"

"Mereka orang tua Kakak."

Andara langsung memutar bola matanya. "Nah, itu dia."

Ia menoleh kepada Azzam dengan wajah memelas. "Abi..."

"Hm?"

"Lamarin Kak Kafa buat aku, dong."

Azzam yang sedang mengambil segelas air hampir saja tersedak. "Dara..."

"Serius, Bi."

"Kamu mulai lagi."

Andara mengangguk mantap. "Iya. Kalau masih ada Opa..."

Ia menghela napas pelan. "...aku pasti minta tolong sama Opa buat lamarin Kak Kafa."

Kafa spontan menepuk dahinya pelan. "Dara..."

"Apa lagi, Kak?"

"Kamu ini nggak pernah menyerah, ya?"

Andara justru tersenyum bangga. "Kalau menyerah berarti aku bukan Andara namanya."

Azra yang baru saja turun dari lantai dua dan mendengar percakapan itu langsung menggeleng sambil tertawa kecil.

"Fix."

"Apa?"

"Adik gue emang levelnya beda."

"Kenapa?"

"Orang lain itu masih sibuk kuliah, masih main-main dan masih ingin menikmati umurnya. Nah kamu?" Azra menunjuk Andara. "Malah sibuk nyuruh Abi lamarin Kak Kafa."

Satu rumah langsung dipenuhi tawa.

Andara yang menjadi bahan candaan hanya menyengir tanpa rasa malu sedikit pun. "Ya nggak apa-apa. Namanya juga usaha."

Kafa hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Dalam hati ia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang bisa begitu konsisten mengejarnya selama bertahun-tahun... tanpa sedikit pun kehilangan semangat.

Usai makan malam bersama, Kafa berdiri dari kursinya. Ia menyalami Azzam dan Aira lebih dulu sebelum berpamitan.

"Abi, Bunda... Kafa pamit pulang."

Aira langsung menatap putra angkatnya dengan wajah sendu. "Kamu nggak mau nginep di sini, Nak?"

Kafa tersenyum meminta maaf. "Nggak bisa, Bun."

"Kenapa?"

"Besok pagi ada meeting. Kafa janji, nanti kalau sempat pasti menginap."

Aira langsung menggeleng pelan. "Kamu selalu bilang nanti."

Kafa hanya tersenyum kecil. "Iya, Bun."

Azzam yang sedari tadi memperhatikan akhirnya ikut bersuara. "Gimana kerjaan kamu, Fa? Lancar aja, kan?"

"Alhamdulillah, Bi. Semua berkat doa Abi dan Bunda juga."

Azzam mengangguk bangga. "Alhamdulillah."

Kemudian ia menatap Kafa sambil tersenyum jahil.

"Tapi..."

"Apa, Bi?"

"Abi sekarang lagi nunggu mantu."

Kafa terkekeh kecil. "Bi..."

"Serius."

"Arshaf aja udah nikah. Aryan juga, bahkan udah punya tiga buntut. Terus tinggal kamu yang masih betah sendiri."

Kafa hanya mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe masih nyari, Bi."

Belum sempat Azzam menjawab, Andara yang sejak tadi duduk di sofa langsung menyela.

"Ngapain dicari?"

Semua mata tertuju padanya.

"Kan jodoh Kakak udah ada di sini." Ia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang sangat percaya diri.

Suasana ruang keluarga langsung hening selama beberapa detik.

Lalu...

"Hahaha!" Azra menjadi orang pertama yang tertawa.

"Ya Allah, Dara."

"Kok ketawa?"

"Kakak salut."

"Kenapa?"

"Percaya diri kamu nggak pernah turun."

Andara mengangkat dagunya. "Bukan percaya diri."

"Lagi?"

"Kepastian."

"Kepastian dari mana?"

"Dari hati."

Azra kembali tertawa. "Itu bukan kepastian, itu halusinasi."

"Azra!" Aira langsung menegur putranya.

Azra buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Iya, iya... aku diem."

Sementara Kafa hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Dara."

"Apa, Kak?" Andara tersenyum manis.

"Kamu ini ada-ada aja."

Andara berjalan menghampiri Kafa hingga berdiri tepat di depannya. "Aku serius."

"Kakak juga serius."

Kafa menatap Andara dengan lembut. "Kamu perempuan yang baik."

Mata Andara langsung berbinar. "Benarkah?"

"Iya."

"Terus?"

"Kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik juga."

Senyum di wajah Andara perlahan memudar. "Tapi... Aku maunya Kakak."

Kafa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengusap pelan puncak kepala Andara, seperti yang selalu ia lakukan sejak gadis itu kecil.

"Jangan pulang terlalu malam lagi."

"Iya."

"Belajar yang rajin."

"Iya."

"Jaga kesehatan."

"Iya."

Andara menghela napas pelan. "Kak. Kapan nasihatnya berubah jadi akad?"

Azzam dan Aira saling berpandangan sambil menahan tawa.

Sementara Kafa hanya mengusap dahinya pasrah. "Kamu memang nggak pernah kehabisan cara ya."

Andara tersenyum manis. "Kalau buat mengejar Kakak, gak akan pernah."

***

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.

Rumah mulai kembali tenang. Sejak Kafa pamit pulang, Aira sudah masuk ke kamar untuk beristirahat. Begitu pula Azra yang memilih menghabiskan malam di kamarnya. Hanya Azzam yang masih duduk seorang diri di ruang keluarga.

Tatapannya kosong mengarah ke halaman rumah. Namun pikirannya sedang dipenuhi oleh satu hal.

Andara.

Sebagai seorang ayah, ia memahami bahwa perasaan tidak bisa dipaksa. Ia juga tau putrinya benar-benar tulus mencintai Kafa. Bahkan mungkin sudah terlalu lama. Namun justru itulah yang membuat hatinya dipenuhi kekhawatiran.

Bukan karena ia tidak percaya kepada Kafa. Sama sekali bukan. Ia mengenal Kafa jauh lebih baik daripada siapa pun.

Laki-laki itu tumbuh di bawah pengawasannya sejak kecil. Azzam tau bagaimana akhlak, prinsip, dan cara Kafa menjaga diri.

Yang ia khawatirkan... Adalah hati putrinya sendiri. Andara adalah seorang perempuan. Menurutnya, perempuan tidak seharusnya terus-menerus mengejar seseorang hingga melupakan harga dirinya.

Meski begitu, Azzam juga bersyukur. Selama ini Andara tidak pernah melewati batas. Ia tidak memaksa. Tidak mengganggu kehidupan Kafa. Tidak pula melakukan hal-hal yang melanggar adab.

Cara Andara mengejar cintanya memang unik. Kadang membuat semua orang geleng-geleng kepala. Kadang membuat mereka tertawa.

Tetapi Azzam tau, semua itu lahir dari ketulusan hati putrinya. Ia hanya takut... Suatu hari nanti, ketulusan itu justru berubah menjadi luka.

Ia mengembuskan napas panjang, Azzam akhirnya bangkit dari duduknya. Langkahnya berhenti di depan kamar Andara.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk aja, Bi." Suara putrinya terdengar dari dalam. "Aku belum tidur kok."

Azzam membuka pintu perlahan. Andara tampak duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memangku buku hariannya.

Melihat ayahnya datang, ia langsung menutup buku itu lalu tersenyum kecil.

"Belum ngantuk, Bi?"

Azzam ikut tersenyum. "Belum. Boleh Abi ngobrol sebentar?"

"Tentu." Andara menggeser duduknya, memberi ruang di sampingnya.

Azzam memilih duduk di kursi dekat tempat tidur. Ia menatap putrinya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

"Dara..."

"Iya Abi."

"Abi mau tanya sesuatu."

"Tanya aja."

"Kamu capek nggak?"

Andara mengernyit bingung. "Capek apa?"

"Berharap pada seseorang yang sampai hari ini belum bisa membalas perasaan kamu."

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!