NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Prosesi pemakaman berlangsung di bawah langit kota Bandung yang mendung, beberapa tetangga dekat dari gang rumahnya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

​Saat kedua peti kayu diturunkan ke liang lahat dan tanah merah mulai menimbunnya sedikit demi sedikit, Nadia hanya bisa mengepalkan tangannya di depan dada, tenggorokannya naik turun menahan emosi didalam dirinya.

​Resya berdiri di samping Nadia, merangkul bahu sahabatnya itu erat-erat dengan air mata yang terus mengalir. Namun, Nadia sendiri justru tidak lagi menangis. Airmatanya seolah telah habis terkuras sepanjang malam di kamar mayat rumah sakit.

​Wajah Nadia pucat, namun tatapan matanya lurus menatap nisan kayu bernama kedua orang tuanya.

​Di dalam hatinya yang hancur berkeping-keping, Nadia berbisik. 'Ayah, Ibu... terima kasih sudah mencintai Nadia sejauh ini. Nadia janji, Nadia tidak akan membiarkan kesedihan ini merusak masa depan yang sudah Ayah dan Ibu perjuangkan. Nadia akan tetap senyum, Nadia akan tetap kuat.'

​Setelah seluruh pelayat pulang, Nadia tetap bertahan di sana hingga matahari terbenam. Ia mengelus kayu nisan ayahnya, lalu mengelus nisan ibunya. Dengan senyuman tipis yang sangat dipaksakan, sebuah senyuman palsu untuk menutup luka rapat-rapat, Nadia melangkah pergi dari pemakaman.

Nadia melangkah masuk ke rumahnya yang masih dipenuhi beberapa tetangga dan kerabat yang bertakziah. Suasana rumah kecil itu terasa begitu asing dan sesak, bau bunga melati yang menyeruak di udara justru membuat dadanya semakin dihimpit sesak.

​Nadia berjalan ke arah dapur kecilnya yang sepi, berniat mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan membakar, tangannya yang masih gemetar meraih gelas kaca di atas rak.

​Namun, baru saja Nadia memutar keran air, sebuah bayangan tubuh berdiri di ambang pintu dapur. ​Bibi Ratih, adik kandung dari almarhum Ayahnya yang datang dari Purwakarta dan berdiri sambil bersedekap dada, .atanya menatap Nadia dari atas ke bawah dengan raut wajah yang penuh tuduhan dan ketidaksukaan.

​Tanpa memedulikan kondisi emosional Nadia yang baru saja kembali dari pemakaman, Bibi Ratih langsung membuka suara dengan nada sinis yang cukup keras.

​"Harusnya kamu berpikir, Nadia. Padahal Ibu sama Bapak kamu itu jauh-jauh pergi ke Purwakarta buat menghadiri seribu harinya Nenekmu. Niat mereka baik, mau berbakti. Tapi gara-gara perjalanan itu, malah mereka yang meninggal," cetus Bibi Ratih dengan pandangan tajam.

​Bibi Ratih melangkah lebih dekat, menunjuk dada Nadia dengan jarinya. ​"Coba kalau kamu ikut atau coba kalau kamu melarang mereka berangkat naik travel murahan begitu, mungkin takdirnya nggak bakal kayak gini. Orang tua cuma punya anak satu, tapi pas pergi malah dibiarkan jalan sendiri tanpa ada yang mendampingi. Sekarang kalau sudah begini, siapa yang rugi?" ucapnya.

​Kata-kata itu menghantam dada Nadia bagaikan pukulan telak. Tenggorokan Nadia makin tercekat, napasnya tertahan.

​Nadia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jemari tangannya terangkat ke udara, mencoba membentuk bahasa isyarat untuk menjelaskan bahwa ia tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, bahwa orang tuanya sendiri yang memintanya fokus kuliah.

​Namun, Bibi Ratih justru melambaikan tangan dengan wajah malas dan enggan melihat gerakan tangan Nadia.

​"Sudahlah! Nggak usah kibas-kibas tangan begitu, saya nggak paham dan nggak mau paham bahasa isyaratmu itu!" potong Bibi Ratih tajam.

"Sekarang kamu sendirian di rumah ini. Dengar ya, rumah ini kan atas nama Bapakmu, nanti kita bicarakan soal pembagian harta atau sisa peninggalan orang tuamu. Jangan sampai kamu pikir kamu bisa menguasai semuanya sendiri cuma karena kamu anak satu-satunya!" lanjut Bibi Ratih.

​Setelah melontarkan kalimat beracun itu, Bibi Ratih berbalik dan melangkah keluar dari dapur tanpa rasa bersalah sedikit pun, meninggalkan Nadia yang berdiri membeku di depan keran air yang masih mengalir.

​Gelas di genggaman Nadia bergetar hebat, rasa bersalah yang mendalam seketika merayap dan mencengkeram hatinya.

"​Tidak, Nadia. Jangan dengarkan!" bisik suara hati Nadia yang coba melawan keputusasaan itu.

​Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, ia menarik napas panjang dan menahan panas di balik kelopak matanya agar air mata itu tidak menetes lagi. Ia meremas pinggiran meja dapur kayu hingga buku-buku jarinya memutih, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di dalam jiwanya.

​Nadia mematikan keran air, meneguk air putih itu hingga kandas lalu menaruh gelasnya kembali dan mengusap wajahnya pelan. ​Ketika ia membuka mata kembali, Nadia memaksakan kedua sudut bibirnya untuk tertarik ke atas. Ia mengulas sebuah senyuman, senyuman palsu yang begitu rapi, yang mulai hari ini menjadi topeng kokohnya untuk menghadapi kekejaman dunia.

​'Ibu dan Ayah ingin aku kuat, aku nggak boleh hancur cuma karena kata-kata Bibi Ratih. Aku harus membuktikan kalau aku bisa bertahan dan membahagiakan Ayah dan Ibu yang ada di surga,' batin Nadia mantap sambil menepuk dadanya sendiri.

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya berkerudung instan melangkah masuk ke dapur. Bu Tika, tetangga sebelah rumah yang selama ini paling sering menyapa Nadia, menatap gadis itu dengan raut wajah penuh empati.

​Bu Tika mendekat, lalu mengusap lengan Nadia pelan dan menggerakkan bibirnya secara perlahan dan jelas agar Nadia bisa membaca artikulasinya.

​"Nadia... kamu yang sabar ya, Nak. Oh iya, Ibu mau tanya, apakah nanti malam kamu mau mengadakan tahlilan untuk almarhum Bapak dan almarhumah Ibu kamu?" tanya Bu Tika hati-hati.

​Nadia menatap wajah Bu Tika. Hatinya terenyuh oleh kebaikan tetangganya itu, namun kenyataan pahit menyentil kesadarannya. Tabungan yang ditinggalkan orang tuanya sangat menipis setelah dipakai untuk mengurus biaya pemakaman dan ambulans tadi siang.

​Nadia menatap Bu Tika, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah serba salah. Ia mengatupkan kedua tangannya di dada, memberi isyarat memohon maaf bahwa ia tidak bisa mengadakan tahlilan di rumah.

​Bu Tika yang sudah lama mengenal keluarga Nadia langsung paham. Ia mengangguk mengerti, menepuk-nepuk bahu Nadia dengan lembut.

"Iya, tidak apa-apa, Nadia. Yang penting doa kamu sebagai anak sholehah selalu sampai untuk Bapak dan Ibu," ucap Bu Tika.

​Namun, keheningan hangat itu mendadak buyar ketika suara melengking dari arah pintu dapur terdengar. Bu Wati, tetangga lain yang terkenal biang gosip di kompleks itu, menyelonong masuk sambil membawa piring bekas kue.

​"Bu Tika ini ya pakai ditanya segala," celetuk Bu Wati dengan nada sumbang dan senyum meremehkan.

​"Nadia ini kan anak yatim piatu sekarang, nggak punya uang! Orang tuanya cuma buruh sama tukang jahit, tabungannya mana ada. Kalau maksa adain pengajian tujuh hari, mau bayar konsumsi pakai apa? Pakai daun? Sudah bagus dia bisa bayar kuburan tadi siang!" lanjut Bu Wati tanpa memedulikan perasaan Nadia sama sekali.

​Bu Tika seketika menoleh tajam ke arah Bu Wati, "Bu Wati! Tolong jaga bicaranya! Ini masih suasana duka!" tegurnya keras.

​"Loh, saya kan cuma bicara kenyataan, Bu Tika! Daripada dia memaksakan diri lalu ngutang ke sana-sini, kan kasihan juga," balas Bu Wati acuh tak acuh lalu melengos pergi keluar dapur.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!