Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Terindah
Mobil Danendra terus menanjak menyusuri jalan berkelok menuju Agrowisata Lereng Mahitala.
Sementara itu, di sisi lain, sebuah mobil berwarna putih memasuki area parkir gedung utama. Kemudian Alana turun sambil membawa sebuah map tipis di tangannya.
Begitu melihat Alana masuk, seorang resepsionis yang sedang menjaga langsung berdiri. "Selamat pagi, Bu."
"Pagi. Pak Danendra sudah di ruangannya?"
Resepsionis itu tampak ragu sejenak. "Maaf, Bu. Hari ini Pak Danendra tidak masuk kantor."
Alana mengernyit, "tidak masuk?"
"Iya, Bu. Beliau sudah memberi arahan sejak kemarin bahwa hari ini semua urusan yang tidak mendesak dijadwalkan ulang."
Alana terlihat sedikit heran. "Pak Danen sakit?"
"Oh, tidak." Resepsionis itu terseyum ramah, "Pak Danendra sedang menghabiskan akhir pekan bersama istrinya."
Alana terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata. "Bersama istrinya?"
"Iya, Bu. Katanya beliau ingin berkeliling kawasan agrowisata dan menginap di vila sampai besok."
Alana mengalihkan pandangan sesaat. Ia mengingat kembali Danendra yang dahulu. Lelaki itu sering kali menghabiskan malam minggu di ruang kerjanya, untuk menyelesaikan laporan dari pada beristirahat. Tetapi kini... ia justru rela meningalkan semua pekerjaan demi menghabiskan waktu bersama Niken.
"Begitu, ya..." gumamnya lirih dengan sedikit rasa kecewa.
"Apakah ada pesan yang ingin ibu tinggalkan?" tanya resepsionis dengan sopan.
Alana tersenyum tipis, "tidak. Bilang saja aku hanya mampir."
"Baik, Bu."
Alana berbalik, ia hendak kembali menuju mobil. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sebuah foto promosi yang terpajang di lobi.
Foto itu memperlihatkan sebuah vila kayu yang menghadap hamparan kebun dan pegunungan. Di bawahnya tertulis 'Vila Mahitala – Tempat Terbaik Menikmati Hangatnya Kebersamaan'.
Alana menghembuskan napas panjang. "Dulu aku pernah membayangkan berdiri di sana bersamanya. Tapi ternyata, takdir memilih orang lain."
Ia tersenyum tipis, kali ini sebagai bentuk penerimaan daripada penyesalan. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, Alana melangkah keluar dari gedung utama.
Di sisi lain...
Jauh di atas kawasan agrowisata, mobil Danendra baru saja berhenti di sebuah gardu pandang.
Niken turun dengan wajah penuh kekaguman. "Masya Allah.... Indah sekali."
Danendra berdiri di sampingnya, memperhatikan senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajah Niken.
Melihat kebahagian sederhana itu, ia merasa keputusannya meninggalkan pekerjaan selama dua hari bukanlah suatu kerugian, karena ia sudah bersama perempuan yang telah Allah titipkan sebagai pendamping hidupnya.
Angin pegunungan berhembus pelan, memainkan ujung jilbab Niken saat berdiri sambil bersandar di pagar kayu gardu pandang itu, ia pandangi hamparan hijau yang membentang luas sejauh mata memandang.
Kabut tipis yang tadi menyelimuti perbukitan perlahan menghilang. Di bawah sana, terlihat petak-petak kebun sayur milik warga, deretan pepohonan, dan beberapa bangunan kayu yang menjadi bagian dari Agrowisata Lereng Mahitala.
"Masya Allah..." ucapnya lagi. "Kalau melihat pemandangan seperti ini rasanya semua beban langsung hilang."
Danendra yang berdiri di belakangnya tersenyum. "Itulah alasan aku membangun gardu pandang ini," katanya.
Niken menoleh. "Memangnya dulu belum ada?" tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh Danendra.
"Dulu, tempat kita berdiri ini hanya tanah kosong, bahkan jalannya masih berupa bebatuan."
Niken kembali ke arah lembah. "Sekarang justru menjadi tempat tercantik di Wonosobo."
Danendra ikut bersandar di pagar kayu. "Semua ini dimulai dari mimpi yang sederhana."
"Mimpi?"
"Iya. Dulu Ayah hanya memiliki kebun di lereng ini. Hasilnya cukup, tapi tidak banyak. Suatu hari aku berpikir, kenapa keindahan tempat ini hanya dinikmati orang-orang yang bekerja di sini?"
Niken mendengarkan dengan seksama, kemudian ia berkata. "Jadi Mas ingin orang lain juga bisa menikmatinya?"
Danendra mengangguk, kemudian mulai bercerita. "Awalnya banyak yang menganggap idenya terlalu beresiko. Membangun Agrowisata di tempat seperti ini bukan perkara mudah. Butuh waktu bertahun-tahun, butuh biaya yang tidak sedikit, dan yang paling sulit, meyakinkan orang-orang bahwa tempat ini memiliki masa depan."
Niken tersenyum bangga. "Tapi Mas sekarang sudah berhasil."
"Bukan hanya aku. Tapi Ayah, para karyawan, dan warga sekitar juga ikut berjuang." Ia lalu menunjuk ke arah beberapa petak kebun yang berada di kejauhan, "lihat kebun itu."
Niken mengikuti arah telunjuk Danendra, "itu milik warga?" Tanyanya.
"Iya."
"Hasil panennya kita bantu pasarkan. Sebagian juga dijual langsung kepada pengunjung, jadi mereka ikut merasakan manfaatnya."
Mata Niken berbinar mendengarnya. "Berarti Lereng Mahitala bukan hanya tempat wisata, tapi juga menghidupi banyak keluarga."
Danendra mengangguk. "Itulah yang paling membuatku bangga."
Niken memandang suaminya dengan tatapan berbeda. Selama ini ia mengenal Danendra sebagai pengusaha yang tegas, namun kini ia melihat sisi lain dari lelaki tersebut. Menurutnya, Danendra bukan hanya sekedar seseorang yang pandai membangun usaha, tetapi juga seseorang yang memiliki banyak kepedulian terhadap banyak orang.
"Mas, aku merasa bangga. Aku bangga menjadi istri dari orang yang membangun tempat seindah ini."
"Jangan memujiku terlalu tinggi, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar."
"Justru orang yang benar-benar hebat biasanya berkata seperti itu." Kata Niken yang membuat Danendra tertawa kecil.
Saat itulah terdengar suara langkah kaki dari belakang.
"Permisi, Pak Danendra."
Keduanya menoleh bersamaan. Tampak seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun datang sambil tersenyum ramah, ia mengenakan seragam lapangan berwarna hijau tua dan topi bertuliskan Lereng Mahitala.
"Pak Surya." Ucap Danendra sambil mengulurkan tangan.
"Maaf menganggu. Saya lihat mobil Bapak di bawah, jadi saya menebak Bapak pasti mengajak Ibu ke gardu pandang dulu."
Danendra tersenyum ramah kepadanya. "Tebakan Pak Surya benar. Lagi pula menurutku, siapa pun yang datang ke sini harus melihat pemandangan ini lebih dulu."
Pak Surya mengangguk setuju. Pandangannya kemudian beralih kepada Niken. "Selamat datang, Bu. Saya Surya. Terima kasih, sudah datang ke Lereng Mahitala."
Niken membalas salamnya dengan senyum hangat. "Terima kasih, Pak. Tempat ini indah sekali."
Pak Surya tersenyum bangga. "Ini semua berkat kerja keras banyak orang," katanya, lalu ia melirik Danendra sambil tersenyum kecil. "Dan... berkat keras kepalanya Pak Danendra juga."
Danendra terkekeh pelan, "Pak Surya mulai lagi."
"Kalau dulu Bapak menyerah saat banyak yang meragukan proyek ini, mungkin tempat ini tidak akan pernah ada." Kemudian Pak Surya beralih menatap Niken, "Ibu tahu? Dulu banyak sekali yang bilang kalau agrowisata ini tidak akan bertahan, tapi Pak Danendra tidak pernah mundur."
Niken lalu menoleh kepada suaminya, tatapannya dipenuhi oleh rasa kagum. Sementara Danendra justru mengusap punggung lehernya, ia merasa sedikit malu karena kisah perjuangannya diceritakan di depan istrinya sendiri.
"Ayo, Pak," kata Pak Surya kemudian. "Kalau Ibu sudah puas menikmati pemandangan, saya antar berkeliling. Teman-teman di bawah juga sudah tidak sabar ingin bertemu Ibu."
Danendra langsung menatap Niken. "Bagaimana? Masih ingin di sini sebentar lagi atau kita lanjut?"
Niken memandang hamparan perbukitan di hadapannya sekali lagi, kemudian mengangguk. "Kita lanjut," katanya. "Tapi besok sebelum pulang, aku ingin ke sini lagi."
Danendra tersenyum hangat sambil menatapnya. "Tentu. Tempat ini tidak akan ke mana-mana, kapan pun kamu ingin datang, aku pasti akan menemanimu."
...****************...