" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Menghadiri acara pesta
Sean memeluk pacar kecilnya dengan perasaan remuk redam memikirkan segalanya.
"Ayang, longgarkan pelukannya. Ara sesak," ucap Ara yang berada di pelukan Sean.
"Maafkan aku, Baby," kata Sean melonggarkan pelukannya.
"Ayang, apa tempatnya jauh?" tanya Ara yang bersandar dalam pelukan Sean.
"Ayang," panggil Ara karena Sean hanya diam saja.
"Mmmmh," bete Ara menatap Sean yang bukannya menjawab malah sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mendengar Ara sama sekali.
"Masih lama, Nona. Sekitar 25 menit lagi," kata Bimo menjawab karena Ara sudah kesal sementara Sean tak kunjung sadar dari lamunannya.
"Ayang!" Ara menggoyahkan tubuh Sean agar menatapnya.
"Iya, ada apa, Baby?" kata Sean mengelus-elus kepala Ara dengan lembut.
"Ayang mikirin apa, kok sampai nggak denger Ara ngomong?" cemberut Ara.
"Kamu bilang apa?" tanya Sean yang sungguh tidak fokus.
"Mmmh," Ara memangku kedua tangannya dan duduk membelakangi Sean.
Sean menatap Bimo, menanyakan alasan kenapa pacar kecilnya sampai ngambek.
......
"Kalian keluarlah dulu," ucap Sean yang meminta sopir dan Bimo keluar lebih dulu.
"Kenapa disuruh keluar? Kan masih lama sampainya," ucap Ara langsung berbalik menatap Sean begitu mereka keluar.
Tanpa berkata apa-apa, Sean memeluk Ara, bahkan menarik Ara sampai duduk di atas pangkuannya.
"Ayang!" rengek Ara yang tidak bisa duduk dengan tenang.
"Baby, tenanglah," ucap Sean menaikkan kedua kaki Ara ke atas kursi agar duduk miring di pangkuannya.
"Ayang, kenapa?" tanya Ara melihat tatapan dalam Sean padanya.
"Mikirin apa?" tanya Ara melingkarkan kedua tangannya di leher Sean.
"Kamu kenapa ngambek? Aku salah apa?" tanya Sean.
"Habis Ayang nggak dengerin Ara ngomong, sibuk aja dengan pikiran sendiri," celetuk Ara dengan ekspresi sebalnya.
"Ayang mikirin apa?" kepo Ara sementara Sean hanya tersenyum.
"Jangan-jangan Ayang mikir punya istri banyak lagi," tebak Ara yang membuat Sean syok mendengarnya.
"Tidak, Baby. Kalaupun nanti kondisi memaksaku untuk melakukan itu, maka kamu adalah istri kesayanganku," ucap Sean mengecup pipi Ara.
"Ayang, emang istri Tuan Besar itu banyak, ya?" tanya Ara menatap Sean dengan serius.
"Tidak, istri Ayahku hanya satu. Namun, Kakek dan beberapa keturunan di masa lalu memang punya beberapa istri karena sulit mendapatkan keturunan," jujur Sean tanpa menutupi silsilah keluarganya.
"Apa Ayah dan Ibu dulu juga sulit mendapatkan keturunan?" pertanyaan Ara.
"Kenapa bertanya begitu, Baby? Buktinya aku ada, berarti mereka tidak sulit mendapatkan keturunan," jawaban logis Sean.
"Iya, maksud Ara, Ayang kan cuma sendiri aja. Kenapa nggak ada adik?" pertanyaan Ara.
"Lalu pacar kecilku ini kenapa jadi anak tunggal?" pertanyaan Sean membalikkan pertanyaan sambil mencubit hidung Ara yang tidak terlalu mancung.
"Ara sendiri karena kata Daddy anak gadisnya tidak ada duanya. Sebab itu Ara nggak punya adik," jawab Ara yang membuat Sean terdiam.
"Wajar orang tua Ara kesal melihat aku dan keluarga menghadiri acara bisnis bersama Shania. Ternyata sejak kecil putri mereka selalu diutamakan, bahkan kasih sayang untuknya sangat utuh," batin Sean.
"Ayang mikirin apa sih?" kata Ara melihat Sean yang melamun lagi.
"Tidak ada, Baby," kata Sean menyuruh Bimo dan sopir masuk lagi agar mereka bisa melanjutkan perjalanan.
"Ara mau duduk," Ara cepat-cepat turun dari atas pangkuan Sean sebelum Bimo dan sopir masuk ke mobil.
.....
Sesampai di tempat acara, Sean berjalan menggandeng Ara diikuti Bimo dan lima bodyguard-nya memasuki ruangan acara.
"Baby, selama kita menghadiri acara, kamu harus banyak tersenyum dan anggun, ya. Tapi nanti setelah selesai menghadiri acara, boleh manja lagi," ucap Sean mengajari pacar kecilnya.
"Mau peluk lengan Ayang," suara kecil Ara yang terus berjalan mengikuti Sean di sampingnya.
"Biar aku yang menggandengmu," ucap Sean yang justru ingin menunjukkan pada publik betapa dia mencintai pacar kecilnya.
Sean menyapa beberapa rekan bisnis yang ditemuinya, bahkan memperkenalkan Ara sebagai pasangannya sampai ketika kamera menyoroti mereka pun Sean semakin menunjukkan kasih sayang untuk Ara.
Setelah menyapa pihak penyelenggara pesta, Sean mengajak Ara untuk mencicipi hidangan.
"Baby, kamu ingin apa?" tanya Sean begitu mereka berdiri dekat meja hidangan.
"Mau Ayang, boleh?" bisik Ara menggoda Sean.
"Baby, aku yang akan melahap kamu," bisik Sean dengan lebih nakal lagi.
"Ihhhh, takut," suara kecil Ara dengan ekspresi cemberutnya.
"Jangan macam-macam denganku," ucap Sean mengambil piring dan mengambilkan Ara beberapa macam puding.
"Mau rasa stroberi juga," kata Ara yang dengan cepat diambilkan Sean.
"Makanlah," senyum lebar Sean menarik kursi untuk Ara lalu duduk berhadapan.
"Suapi," manja Ara.
"Baby," kata Sean mengelus tangan pacar kecilnya pertanda tidak boleh manja.
"Mmmmh, baiklah," kata Ara tersenyum karena dia sudah berjanji akan mengikuti tata krama yang Sean ajarkan.
"Makanlah yang banyak," gemas Sean tersenyum lebar memandangi setiap ekspresi di wajah pacar kecilnya.
"Ayang mau?" tawar Ara.
"Tidak," ucap Sean yang sudah merasa kenyang memandangi wajah Ara.
"Ayang, Ara boleh nambah?" bisik Ara yang ingin lagi.
"Baiklah, tunggu di sini," kata Sean mengambil satu piring puding lagi.
"Makanlah," kata Sean memindahkan piring Ara yang sudah kosong ke hadapannya lalu menaruh piring berisi puding yang baru dia ambilkan.
"Ayang kan belum makan apa-apa," kata Ara menatap piring kosong di hadapan Sean.
"Ayo makan sedikit," kata Sean menatap orang di sekitarnya yang ramai, namun saat tidak ada yang memperhatikan mereka, Ara langsung menyuapi Sean.
"Manis?" tanya Ara menatap Sean yang sedang mengunyah puding yang dia suapi.
"Kamu jauh lebih manis, Baby," ucap Sean dengan jujur.
"Cepat habiskan pudingnya. Sebentar lagi acara intinya akan dimulai," kata Sean yang diangguki Ara.
"Ayang, kalau menghadiri acara bisnis begini, kita pulangnya jam berapa?" tanya Ara begitu duduk bersama Sean di kursi tamu menghadap ke panggung.
"Kamu belum pernah menghadiri acara bisnis seperti ini?" tanya Sean.
"Belum, Ara cuma nemenin Daddy kalau acara bisnisnya siang atau sore," jawab Ara.
"Sekitar jam sembilan kita akan pulang," jawab Sean yang juga tidak ingin membawa acara terlalu lama.
"Daddy beneran udah izinin Ara, kan?" tanya Sean lagi.
"Udah," jawab Ara dengan excited mulai memperhatikan pembawa acara di atas panggung.
Sean menautkan jari-jarinya dengan Ara yang terlihat excited sekali melihat acara yang sedang berlangsung di atas panggung.
"Perusahaan Ayang kapan ulang tahun?" bisik Ara setelah cukup lama menatap ke arah panggung, kini menatap Sean.
"Sekitar satu bulan lagi," jawab Sean.
"Nanti ketika acara ulang tahun perusahaan, aku ingin kamu mendampingi aku, Baby," pinta Sean.
"Tapi kan Ara nggak paham semua aturan dan ketentuannya," suara kecil Ara.
"Kamu kan bisa belajar dulu, Baby."