NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru

Napasnya terputus-putus. Yang Chan tersentak bangun, membuat kasur tipisnya berderit akibat gerakan mendadak itu. Dadanya naik-turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi kaus yang ia kenakan pagi itu.

Kusamnya langit-langit kamar dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa sudut menyambut tatapan matanya yang masih buram.

Bayangan ruangan rumah sakit yang sepi, aroma obat-obatan kimia yang menyengat paru-parunya, hingga bunyi nyaring dari monitor jantung yang melambat di detik-detik terakhir kehidupan sebelumnya masih terasa begitu nyata melekat di dalam ingatan.

Penyakit kronis sialan itu benar-benar telah merenggut paksa masa mudanya dan mengakhiri nyawanya dengan menyedihkan di masa lalu.

Tangan kanannya bergerak perlahan menggapai dada kiri. Ia menekan telapak tangannya di sana, merasakan detak jantung di balik tulang rusuknya yang kini berdegup dengan normal. Detak itu terasa kuat, teratur, dan sangat sehat.

Embusan napas panjang dilepaskannya dengan lega, membiarkan sisa kepanikan dari memori buruk itu menguap bersama udara fajar. Ada rasa syukur yang luar biasa hangat mengalir di dalam dadanya. Ia benar-benar telah diberikan kesempatan kedua untuk hidup kembali di tubuh yang baru ini.

Dalam balutan selimut lusuh yang sedikit kasar, bisikan pelan terdengar di sudut kamar yang sepi itu. "Aku hidup. Sungguh-sungguh hidup kembali."

Di tengah kesunyian pagi yang tenang itu, ia menetapkan satu tujuan utama secara absolut di dalam kepalanya. Kali ini, ia hanya ingin hidup panjang umur, sehat, dan damai. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauhi segala bentuk gaya hidup gila yang penuh pertarungan berdarah, atau perebutan harta pusaka leluhur yang kerap mempertaruhkan nyawa pelakunya.

'Persetan dengan pertarungan gila,' pikirnya sambil tersenyum tipis. 'Menghindar adalah jalan terbaik untuk tetap selamat dan menikmati hidup.'

Menyingkirkan selimut hangatnya, ia segera beranjak dari tempat tidur tanpa alas kaki. Langkah kakinya yang ringan membawa tubuh ringkih itu menuju ke sudut ruangan, tepat di depan sebuah cermin gantung sederhana yang berbingkai kayu tipis.

Sosok seorang remaja laki-laki yang baru menginjak usia empat belas tahun terpantul jelas di hadapannya. Wajahnya tampak agak pucat dengan sepasang mata yang sayu serta rambut hitam pendek yang berantakan ke segala arah.

Yang Chan mencoba mengepalkan kedua tangan kurusnya erat-erat, lalu memejamkan mata dalam upaya sementaranya untuk merasakan sesuatu di dalam aliran darahnya.

Entah itu aliran energi spiritual yang hangat, ataupun gejolak kekuatan Qi yang biasa dibicarakan orang-orang di luar sana.

Namun, kenyataannya nihil. Tidak ada kehangatan atau getaran energi apa pun di dalam tubuhnya.

Remaja seusianya di luar sana rata-rata sudah mulai mengalami lonjakan energi spiritual yang membuat mereka mampu berlari kencang atau melompat tinggi, tetapi Yang Chan sadar bahwa tubuhnya sama sekali belum membangkitkan bakat spiritual apa pun.

Ia kembali membuka mata, lalu memandangi telapak tangannya di depan cermin.

"Benar-benar kosong, seperti tong kosong," bisiknya, lalu terkekeh pelan tanpa beban.

Tidak ada rasa kecewa atau amarah kepada takdir yang tidak adil di dalam hatinya.

Alih-alih merasa frustrasi atau mengutuk keadaan seperti kebanyakan tokoh utama dalam cerita kepahlawanan, Yang Chan justru merasa sangat tenang dan gembira.

Statusnya sebagai pemuda biasa tanpa bakat ini justru sangat sejalan dengan keinginannya sejak awal untuk hidup biasa-biasa saja.

Tanpa adanya bakat spiritual, ia tidak perlu memikul tanggung jawab besar untuk dikirim ke garis depan pertempuran. Ia tidak harus dipaksa masuk ke akademi khusus kultivator.

Menjadi manusia biasa yang tidak menonjol adalah berkah terbesar untuk melancarkan rencana pensiun dininya.

Dengan langkah yang santai, ia berjalan mendekati jendela kayu kamarnya yang sedikit berderit karena engsel yang berkarat. Tangannya mendorong kedua daun jendela itu lebar-lebar ke arah luar.

Seketika, embusan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah dan sisa embun semalam yang segar.

Yang Chan menghirup oksigen itu dalam-dalam, membiarkan paru-parunya yang sehat bekerja dengan maksimal.

Dari jendela lantai dua ini, ia bebas memandang ke arah jalanan di bawah yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Inilah Era Pasca-Kebangkitan, dunia baru tempat ia berada sekarang.

Sejarah dunia mencatat bahwa sekitar dua ratus tahun yang lalu, sebuah peristiwa besar yang dinamakan Gelombang Spiritual Pertama melanda seluruh penjuru bumi secara tiba-tiba.

Kejadian dahsyat tersebut seketika merombak total hukum fisika yang selama ini dipercaya oleh manusia, memadatkan energi Qi murni secara masif di atmosfer, serta memicu mutasi yang sangat brutal pada ekosistem bumi hingga hampir memusnahkan peradaban manusia karena serangan monster-monster liar yang bermutasi karena gelombang Qi.

Namun, untungnya umat manusia berhasil beradaptasi dan selamat dari jurang kepunahan massal itu.

Kini, di era yang baru, kultivasi bukan lagi dipandang sebagai mitos kuno para pertapa misterius yang berdiam diri di atas puncak gunung sunyi, melainkan telah bergeser menjadi fondasi utama peradaban modern yang menggerakkan sektor ekonomi global, sistem pertahanan militer, hingga kurikulum wajib di institusi pendidikan.

Yang Chan mengamat-amati seorang tetangga paruh baya di seberang jalan yang sedang menyapu halaman toko dengan bantuan mantra angin. Pemandangan aneh yang terasa sangat kocak bagi seseorang yang pernah hidup di dunia sains modern yang kaku.

Ia hanya tersenyum tipis melihat kehebohan era modern-spiritual itu dari jendelanya.

Di matanya, semua kompetisi kekuatan dan ambisi kultivasi itu terasa sangat melelahkan untuk diikuti. Biarkan saja orang lain yang sibuk bertarung menyelamatkan dunia atau berebut tempat sebagai kultivator terkuat di bawah langit.

Ia perlahan menarik kembali daun jendela itu, menutupnya dengan rapat agar suara bising dari luar tidak mengganggu ketenangannya lagi.

Pandangannya kini tertuju pada pintu kamar kayu yang tertutup rapat di depannya.

Di balik celah pintu, ia bisa mendengar sayup-sayup suara ibunya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur, lengkap dengan denting wajan yang beradu pelan.

Aroma masakan yang sederhana namun menggugah selera mulai merayap masuk ke dalam hidungnya.

Yang Chan merapikan kaus rumahnya sebentar, menepis beberapa helai debu imajiner yang menempel di pundaknya. Ia melangkah mantap mendekati pintu, menautkan langkah pertamanya hari ini pada rutinitas damai keluarganya yang hangat.

Tangannya meraih gagang pintu kayu yang dingin, lalu memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi klik pelan.

"Hari baru, di kehidupan baru," bisiknya pada diri sendiri.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!