Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Aroma bau minyak kayu putih yang sangat menyengat langsung menusuk hidung Riyan Sadewa begitu kesadarannya perlahan-lahan kembali.
Ketika dia membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit berukiran emas dari ruang VIP Hotel Grand Royal.
Di sekeliling sofa tempat Riyan terbaring, Kezia Zevan sedang mengusap keningnya dengan sapu tangan sutra. Sementara di sudut ruangan, Agus dan Ujang berdiri siaga dengan raut wajah sangat cemas, masih memegang botol minyak kayu putih ukuran jumbo.
"Riyan! Kamu sudah sadar, Suamiku?" tanya Kezia dengan suara penuh kelembutan, matanya memancarkan rasa khawatir sekaligus kekaguman yang mendalam.
"Aduh, Bos! Alhamdulillah udah bangun!" seru Agus lega. "Tadi pas Bos pingsan sambil teriak nama 'Mbah Nardo da Panci', kami udah panik mau gotong Bos pake gerobak semen ke puskesmas!"
Riyan memegangi kepalanya yang terasa dipukuli dengan balok kayu. Kenangan pahit dari lelang beberapa menit lalu langsung berputar di otaknya seperti rekaman horor: Dia berniat membuang satu triliun untuk lukisan rongsokan, tapi malah untung dua triliun bersih karena ada sketsa tersembunyi Leonardo da Vinci di balik kanvasnya!
Dengan jemari gemetar, Riyan melirik jam digital transparan di sudut matanya yang terus berkedip tenang:
[Status Saldo Aktif: 4,22 Triliun Rupiah!]
[Batas Waktu Penyelesaian Denda Vandersen: Sisa 32 Jam : 10 Menit]
[Peringatan Sistem: Jika saldo ini tidak dihabiskan atau dikurangi secara signifikan sebelum denda jatuh tempo, penalti fisik tingkat lanjut akan dieksekusi!]
Empat koma dua puluh dua triliun... Riyan rasanya ingin menangis membenturkan kepalanya ke pilar marmer. 'Gua buang duit, bukannya miskin malah nambah kaya dua kali lipat! Kenapa Leonardo da Vinci harus melukis di kanvas bekas si Pirang sih?!
"Riyan," Kezia membuka suara sambil menyodorkan segelas air hangat.
"Berita tentang keberhasilanmu menemukan sketsa Da Vinci seharga tiga triliun sudah menyebar ke seluruh media bisnis internasional."
"Saham portofolio pribadi yang kamu pegang di Zevan Group malam ini ikut melonjak 15%. Para kolektor barang antik dari Eropa sekarang sedang memburu namamu."
Riyan meneguk air hangat itu sampai habis dalam sekali teguk. "Kezia... tolong jangan bahas saham dulu. Aku mau muntah denger kata 'untung'."
Kezia tersenyum tipis, merapikan rambut Riyan yang berantakan. "Aku mengerti. Sebagai jenius finansial, kemenangan sebesar ini mungkin bagimu sudah biasa dan tidak membakar adrenalinmu lagi. Lalu, apa langkahmu selanjutnya setelah menguasai bursa antik?"
Riyan menarik napas panjang, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Sifat kulinya yang pantang menyerah kembali menyala di tengah keputusasaan.
'Gua gak boleh nyerah! batin Riyan membakar semangatnya sendiri.
'Kalau barang antik justru bikin gua untung karena nilai sejarahnya, berarti gua harus beli barang-barang gaya hidup mewah yang harganya overprice tapi nilainya bakal langsung anjlok begitu keluar dari toko! Barang-barang penyusutan nilai (depresiasi) paling parah di dunia!'
"Kezia," kata Riyan mendadak sambil berdiri dari sofa.
"Besok pagi, aku mau belanja barang-barang gaya hidup mewah. Aku mau borong mobil super, jam tangan berlian, baju desainer, dan semua barang borjuis yang ada di pasar kolektor mewah Bandung!"
Kezia menatap Riyan dengan binar mata yang semakin berbinar-binar.
"Kamu mau melakukan lifestyle war (perang gaya hidup) untuk memicu kompetisi konsumsi dengan Keluarga Vandersen yang saat ini sedang memegang empat triliun tunai darimu?"
'Bukan perang gaya hidup, Nona! Gua cuma mau beli barang deprestiasi biar duit gua menguap! jerit Riyan dalam hati, namun di luar dia hanya mengangguk tegas dengan wajah dingin buatan.
"Betul! Aku bakal bikin standar gaya hidup di kota ini hancur total!" seru Riyan mantap.
Keesokan harinya, pukul 10.00 WIB.
Riyan mendatangi "Vandersen Luxury Gallery", pusat perhiasan dan jam tangan antik paling megah di kawasan pusat kota Bandung yang kini dikelola langsung oleh Valerie Vandersen dari sisa unit usisanya.
Riyan datang tidak sendirian. Dia diboyong oleh Kezia dengan konvoi limosin, dikawal oleh 12 pengawal kulinya Agus, Ujang, dan tim yang hari itu memakai kacamata hitam Ray-Ban namun tetap dengan gaya khas mereka: jas Hugo Boss terbuka, kaos kutang Swan putih, dan sandal jepit Swallow.
Kedatangan Riyan langsung disambut histeris oleh para wartawan dan pengunjung elit mal. Valerie Vandersen yang sedang meninjau etalase perhiasan bersama manajernya langsung membeku di tempat saat melihat Riyan melangkah masuk.
"Riyan Sadewa?!" pringas Valerie, dadanya naik turun melihat pria yang kemarin malam baru saja memberinya empat triliun tunai namun juga membuat namanya dipermalukan di acara lelang.
"Mau ngapain lagi lu ke sini?! Lu udah dapet lukisan da Vinci itu, sekarang lu mau ngacak-ngacak toko perhiasan gua?!"
Riyan melangkah mendekati etalase kaca yang memajang jam tangan emas berlapis permata. Dia menatap Valerie dengan senyum menyebalkan.
"Gua ke sini mau belanja, Pirang," kata Riyan santai. "Gua denger jam tangan dan perhiasan mewah itu begitu dibeli dari toko, nilainya langsung anjlok 30% sampai 50% di pasar sekunder kan? Gua suka barang-barang yang rugi kayak gitu."
Valerie tertawa sinis, merapikan rambut pirang platinumnya.
"Rugi matamu! Jam tangan yang ada di dalam etalase ini adalah limited edition koleksi raksasa dunia! Harganya tidak pernah turun, justru naik tiap tahun! Apalagi kalau dibeli oleh kolektor!"
'Hah?! Harganya naik tiap tahun?! Riyan mendadak tersentak, keningnya berkerut tajam.
"Iya!" Valerie membusungkan dadanya bangga. "Contohnya jam tangan Patek Philippe Grandmaster Chime berlapis berlian di etalase utama ini! Harganya 500 Miliar Rupiah! Dan hanya ada tiga di dunia! Kalau lu beli hari ini, tahun depan harganya bisa jadi 700 Miliar!"
Riyan Sadewa langsung berkeringat dingin. Otak kulinya menjerit panik. 'Gila! Masa jam tangan kecil begitu harganya setengah triliun dan malah makin mahal?! Ini toko perhiasan apa tempat nernak duit?!
Riyan memutar otaknya yang panik. Dia menatap jam tangan setengah triliun itu, lalu menatap Valerie, dan akhirnya melirik ke arah Agus serta Ujang yang sedang berdiri selonjoran di dekat pintu masuk sambil memegang es lilin dua ribuan.
Sebuah ide paling absurd, gila, dan merusak pasar barang kolektor mewah mendadak terlintas di dalam kepala kuli Riyan!
"Pirang," panggil Riyan dengan nada suara yang sangat tenang namun berbahaya. "Gua beli jam tangan 500 miliar itu sekarang juga. Tapi gua punya satu syarat mutlak."
Valerie menyipitkan matanya. "Syarat apa?!"
Riyan melangkah mendekati etalase utama, menyunggingkan senyum paling gila dalam hidupnya.
"Gua mau beli jam tangan 500 miliar ini... bukan buat gua pakai di pergelangan tangan. Tapi gua mau jadiin jam tangan setengah triliun ini sebagai... kalung rante untuk lehernya si Agus!"
'Hah?!
Seluruh isi galeri mewah itu seketika menjadi hening tanpa suara. Valerie, Kezia, manajer toko, hingga para pengunjung berkacamata hitam langsung membelalakkan mata mereka sampai hampir keluar dari saragnya!
Jam tangan karya seni tertinggi dunia seharga setengah triliun rupiah... mau dijadikan kalung leher untuk seorang satpam berkaos kutang dan bersandal jepit?!