Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Aula utama perlahan mulai kosong setelah badai finansial empat triliun itu mereda.
Abraham Zevan langsung menginstruksikan seluruh pengawal untuk menjaga ketat resor Lembang, sementara para tetua adat pulang dengan wajah penuh kepuasan—menyangka bahwa menantu baru mereka baru saja melakukan taktik monopolistic acquisition paling jenius abad ini.
Namun bagi Riyan Sadewa, malam ini baru saja dimulai.
Dia digandeng oleh Kezia menuju kamar pengantin utama di lantai atas resor. Kamar itu sudah dihias dengan ribuan kelopak bunga mawar merah, lilin-lilin aromaterapi bernuansa menenangkan, dan sebuah kasur berukuran super king size yang tampak sangat empuk.
Namun, udara di dalam kamar sama sekali tidak menenangkan. Aura dingin bin cemburu dari Kezia masih terasa pekat.
Klek.
Pintu kamar dikunci dari dalam oleh Kezia.
Riyan langsung menelan ludah, buru-buru melepas blangkon emasnya yang terasa mulai membuat kepalanya pening.
"Kezia... soal si Pirang tadi itu, sumpah aku gak ada maksud apa-apa ya. Aku cuma mau—"
"Aku tahu apa maksudmu, Suamiku," potong Kezia sambil membalikkan tubuhnya. Dia mulai melepas satu per satu jarum dan perhiasan mahkota pengantin dari kepalanya, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai indah jatuh ke bahu.
Kezia melangkah mendekati Riyan dengan tatapan mata elang yang melunak, berubah menjadi tatapan intens yang membuat jakun Riyan naik turun.
"Kamu sengaja membeli 100% saham Vandersen Entertainment seharga empat triliun karena kamu ingin memotong seluruh pengaruh Keluarga Vandersen dari bisnis pariwisata Bandung, kan? Kamu ingin melindungi Zevan Group dari serangan mereka di masa depan dengan cara mencaplok musuhmu secara total," bisik Kezia, kini jaraknya hanya tinggal beberapa sentimeter dari dada Riyan.
'Bukan, Nona! Gua cuma pengen miskin! Kenapa lu selalu nemuin alasan jenius di balik kebebalan gua?! teriak Riyan menjerit dalam hati.
"Tapi..." Kezia meletakkan kedua telapak tangannya yang halus di dada Riyan, merasakan detak jantung kuli itu yang berdegup kencang.
"Tindakanmu yang menawarkan empat triliun tunai di depan Valerie tadi... membuat wanita itu besar kepala. Dia mengira kamu membelinya karena kamu tertarik padanya secara personal. Dan aku... sangat tidak menyukai cara dia menatapmu tadi."
Napas Riyan memburu. Wajah Kezia yang sangat cantik tanpa cela kini berada tepat di bawah dagunya.
Wangi melati dan bedak pengantin adatnya benar-benar menguji iman seorang mantan kuli bangunan berkaus kutang.
"T-Terus... sekarang gimana?" tanya Riyan dengan suara parau yang mendadak gagap.
Kezia tersenyum tipis, seulas senyum dominan yang sangat seksi.
"Sekarang adalah malam pertama kita. Lupakan denda tiga triliun itu untuk malam ini. Biarkan aku menunjukkan bagaimana seorang istri dari Keluarga Zevan melayani pria yang sudah menyelamatkan nya."
Sebelum Riyan sempat merespons, Kezia perlahan mendorong tubuh Riyan hingga pria itu jatuh terduduk di tepi kasur yang empuk. Namun, tepat ketika Kezia hendak mencondongkan tubuhnya lebih dalam—
TRINGGG!
Layar transparan Sistem mendadak meledak di depan mata Riyan dengan warna merah menyala yang berkedip-kedip agresif.
[Peringatan Darurat Sistem! Efek Samping Akuisisi Terdeteksi!]
[Log Bisnis: 10 Kelab Malam Terbesar milik Vandersen Entertainment di Kota Bogor dan Bandung saat ini sedang mengalami lonjakan pengunjung sebesar 400% akibat berita akuisisi brutal oleh 'Kuli Triliunan' yang viral di media sosial!]
[Status Omzet: Tiket masuk dan penjualan minuman di seluruh kelab malam melonjak drastis malam ini, menghasilkan keuntungan instan sebesar 80 Miliar Rupiah dalam waktu 2 jam!]
[Peringatan Kematian: Keuntungan komersial terdeteksi sebelum denda dibayarkan! Saldo Anda saat ini merangkak naik menjadi 2,53 Triliun Rupiah!]
[Perintah Sistem: Hentikan keuntungan ini atau denda mati lemas di tempat akan dieksekusi dalam 10 detik!]
'DEMI ADUKAN SEMEN PASIR CIANJUR! Riyan langsung melotot panik. Napasnya mendadak terasa tersumbat, persis seperti peringatan Sistem yang mulai mencekik dadanya secara gaib.
Uang haram dari dunia gemerlap malam itu malah masuk ke rekeningnya saat dia mau melakukan malam pertama!
"Uhuk! Uhuk!" Riyan terbatuk hebat, memegangi lehernya yang mendadak kaku.
Kezia tersentak kaget, langsung memegang bahu Riyan. "Riyan?! Kamu kenapa? Ada apa?!"
"H-Handphone... mana handphone gua?!" racik Riyan dengan mata mendelik panik, tangannya meraba-raba kasur mencari ponsel satelitnya.
Begitu berhasil menyambar ponsel, dengan sisa napas yang semakin menipis akibat cekikan gaib Sistem, Riyan langsung mencari nomor kontak rahasia Valerie Vandersen yang baru saja dia simpan. Dia menekan tombol panggil dengan ujung jempolnya yang gemetar hebat.
Bip... Bip...
"Halo, Riyan?" suara Valerie terdengar di seberang sana, berlatar belakang suara dentuman musik remix dugem yang sangat keras dan bising.
"Wah, baru juga satu jam gua keluar dari resor, lu udah kangen aja telepon gua dari kamar pengantin? Kenapa? Kezia gak seru di ranjang?" cibir Valerie dengan nada menggoda.
"P-Pirang! Dengerin gua bajingan!" bentak Riyan dengan suara terengah-engah menahan napas.
"Gua perintahin lu sebagai pemilik 100% saham sekarang juga! Telepon seluruh manajer kelab malam lu di Bandung dan Bogor! TUTUP SEMUA KELAB MALAM GUA MALAM INI JUGA! SEKARANG!"
Hening sejenak di seberang telepon. Suara musik dugem bahkan terdengar menjauh, seolah Valerie sedang berjalan keluar ke area yang lebih sepi karena syok.
"Lu gila, Riyan?!" pekik Valerie seolah mendengar instruksi dari orang kesurupan.
"Malam ini seluruh kelab malam kita lagi hype parah gara-gara berita lu beli perusahaan gua! Kita lagi dapet omzet puluhan miliar dalam beberapa jam! Kenapa malah disuruh tutup?!"
"GUA GAK MAU TAHU! KELUARKAN SEMUA PENGUNJUNG! GRATISIN SEMUA MINUMAN YANG UDAH DIPESAN, BALIKIN DUIT TIKETNYA DUA KALI LIPAT! KALAU DALAM LIMA MENIT KELAB MALAMNYA GAK KOSONG DAN RUGI... GUA BAKAL PECAT LU DARI POSISI DIREKTUR!" ANCAM Riyan dengan mata memerah, dadanya semakin sesak.
Kezia Zevan yang menyaksikan suaminya berteriak-teriak panik di atas kasur pengantin sambil mengancam Valerie untuk mengosongkan kelab malam mendadak terpaku.
Sepasang mata indahnya perlahan melebar, dan ekspresi terkejut di wajah cantiknya perlahan berubah menjadi ekspresi kekaguman yang teramat sangat dalam.
'Luar biasa... batin Kezia, tangannya menutup mulutnya sendiri karena syok.
'Jadi ini langkah pertamanya setelah menguasai Vandersen Entertainment? Dia sengaja mengosongkan kelab malam di saat puncaknya untuk memicu 'Artificial Scarcity' (Kelangkaan Buatan) demi menaikkan harga prestise kelab malam itu besok! Pria ini benar-benar monster bisnis yang berdarah dingin!
Sementara itu, Riyan masih berjuang dengan sisa nyawanya di telepon.
"Valerie! Lakuin sekarang atau gua hancurin karir lu!"