Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ia tahu kalau Aisyah ada di balik pintu itu. Adiknya pasti mendengar setiap kata yang ia ucapkan. Hanya saja, Aisyah memilih diam.
Keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penolakan. Salsa menarik napas panjang, lalu mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia memejamkan mata beberapa detik, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali berbicara.
"Aisyah," Suara Salsa terdengar lirih. "Mungkin permintaan Kakak ini terdengar sangat egois."
Ia tersenyum hambar. "Bahkan Kakak sendiri merasa menjadi perempuan paling egois di dunia. Tapi..." Kalimat itu terputus sementara dadanya kembali terasa sesak. "Kalau bukan kamu yang menolong Kakak, siapa lagi?"
Di balik pintu Aisyah langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Tangisnya kembali pecah, Ia menggigit bibir bawahnya agar isaknya tak terdengar keluar. Sementara Salsa melanjutkan ucapannya dengan suara yang semakin bergetar.
"Kakak tahu, Kakak tidak berhak meminta masa depanmu. Kakak juga tidak berhak menentukan jalan hidupmu. Tapi Kakak benar-benar sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk meminta pertolongan." Air mata Salsa kembali jatuh. Ia kemudian menundukkan kepalanya.
"Hampir setiap hari, Ibu mertua kakak selalu menanyakan hal yang sama." Nada suara Salsa berubah semakin pelan.
"Salsa, kapan kamu memberikan cucu untuk keluarga Adhitama?"
Salsa menutup matanya seolah kalimat itu kembali terngiang di telinganya.
"Lalu Ayah mertua akan berkata, Perusahaan sebesar ini butuh penerus. Sampai kapan kami harus menunggu?'
Salsa mengusap air matanya.
"Dek... Kamu tahu tidak, setiap kali mereka bertanya seperti itu, Kakak hanya bisa tersenyum. Padahal sebenarnya hati Kakak rasanya seperti diremas." Suara itu mulai dipenuhi isak. "Kakak ingin menjawab. Kakak ingin bilang kalau Kakak juga ingin menjadi seorang ibu. Kakak ingin mengandung. Kakak ingin merasakan bayi kakak bergerak di dalam perut Kakak. Kakak ingin melahirkan anak untuk Ammar. Tapi..." Salsa menundukkan kepalanya semakin dalam. "Allah belum mengizinkan."
Keheningan kembali memenuhi lorong rumah. Pak Umar yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang putrinya hanya mampu menundukkan wajahnya. Dadanya ikut terasa sesak. Sebagai seorang ayah, Ia benar-benar tidak tega melihat kedua anak perempuannya sama-sama menangis. Sementara Salsa kembali bersuara.
"Setelah dokter memvonis Kakak mandul, semuanya berubah. Rumah besar keluarga Adhitama yang dulu terasa hangat, sekarang terasa begitu asing. Kakak mulai merasa kalau kehadiran Kakak sudah tidak lagi berarti." Setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu rapuh. "Kakak sering melihat Ibu mertua memandangi anak-anak kecil dengan tatapan sedih. Sering mendengar mereka membicarakan soal pewaris ketika Kakak lewat. Mereka memang tidak pernah menghina Kakak secara langsung.Tapi, cukup dengan tatapan mereka, Kakak sudah mengerti." Air mata Salsa kembali jatuh. "Mereka kecewa karena Kakak tidak bisa menjadi menantu yang sempurna."
Di balik pintu, tubuh Aisyah bergetar semakin hebat. Tangannya mencengkeram ujung gamis yang masih dikenakannya. Ia bisa membayangkan bagaimana beratnya hidup Salsa selama ini. Namun tetap saja ia tidak sanggup menerima permintaan itu. Salsa menarik napas panjang.
"Lalu, beberapa hari yang lalu, kakak tanpa sengaja mendengar pembicaraan Ayah dan Ibu mertua." Kalimat itu membuat Pak Umar mengangkat wajahnya. Bahkan Aisyah yang berada di balik pintu ikut menahan napas.
"Mereka berkata, kalau Salsa memang tidak bisa memberikan keturunan, kita harus mencarikan Ammar istri lain.' Suara Salsa terdengar pecah. "Kakak mendengarnya sendiri, Dek. Dengan telinga Kakak sendiri. Rasanya, dunia Kakak langsung hancur." Tangis Salsa tak lagi bisa ditahan. "Kakak takut, sangat takut. Takut kehilangan Ammar. Takut kehilangan rumah tangga yang sudah Kakak bangun selama lima tahun. Kakak benar-benar takut." Ia memegang dadanya yang terasa sesak. "Kamu tahu kenapa Kakak meminta kamu supaya mau menikah dengan Ammar? Karena Kakak mengenalmu. Kakak tahu seperti apa hatimu. Kakak tahu kalau kamu tidak akan pernah merebut apa yang menjadi milik Kakak. Kamu tidak akan pernah menghasut Ammar agar membenci Kakak. Kamu tidak akan mengajarkan anak-anak nanti untuk menjauh dari Kakak. Kamu..." Salsa kembali menangis. "Kamu tetap adik yang selama ini Kakak besarkan."
Suasana kembali sunyi. Angin pagi berembus pelan melewati jendela lorong. Salsa mengusap wajahnya perlahan sebelum kembali berkata,
"Dek... Bayangkan kalau perempuan lain yang masuk ke keluarga Adhitama. Kakak bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana kalau dia ingin mengambil posisi Kakak sebagai istri pertama? Bagaimana kalau dia memengaruhi Ammar? Bagaimana kalau dia mengusir Kakak dari rumah itu? Bagaimana kalau suatu hari... Anak-anak yang lahir nanti diajarkan untuk membenci Kakak?" Suara Salsa kembali bergetar. "Kakak tidak sanggup. Sungguh, Kakak tidak sanggup membayangkan semua itu." Ia kembali menyandarkan kepalanya pada pintu. "Kalau perempuan lain yang menikahi Ammar... Mungkin perlahan Kakak akan kehilangan semuanya. Tapi kalau itu kamu,"
Salsa memejamkan matanya. "Kakak percaya kalau kamu tidak akan pernah menyakiti Kakak. Kamu pasti tetap menganggap Kakak sebagai kakakmu. Kamu pasti tetap menghormati Kakak. Itulah satu-satunya alasan kenapa Kakak memohon kepadamu. Kakak benar-benar sudah tidak punya pilihan lagi, Aisyah."
Kalimat terakhir itu meluncur bersama tangis yang pecah begitu saja. Di balik pintu, Aisyah terduduk lemas di lantai. Air matanya mengalir tanpa henti. Untuk pertama kalinya, ia mendengar sendiri betapa hancurnya hati sang kakak dan untuk pertama kalinya pula, hatinya mulai goyah, meski bibirnya masih terlalu berat untuk mengucapkan sepatah kata.
Keheningan kembali menyelimuti lorong rumah. Tak ada lagi suara selain isak tangis Salsa yang sesekali pecah di depan pintu kamar itu. Di balik pintu Aisyah masih terduduk memeluk kedua lututnya. Setiap kata yang diucapkan Salsa bagaikan batu yang menghantam hatinya satu per satu. Selama ini ia hanya melihat kakaknya tersenyum. Ia hanya melihat Salsa selalu tampak baik-baik saja setiap kali pulang ke rumah. Tak pernah sekali pun kakaknya mengeluh, tak pernah sekalipun Salsa memperlihatkan luka yang selama ini disembunyikannya.
Ternyata, di balik senyum itu, perempuan yang paling ia sayangi sedang berjuang sendirian.
Air mata kembali mengalir di pipi Aisyah.
"Kakak...." lirih Aisyah hampir tak terdengar.
Tangannya mengepal erat, dadanya terasa sesak. Ia ingin berlari memeluk kakaknya. Ia ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, ia juga tidak sanggup mengorbankan hidupnya dengan cara seperti itu. Di luar kamar, Salsa mengusap air matanya berkali-kali. Ia sadar, Mungkin apa yang dimintanya terlalu kejam, terlalu berat.
Namun jika ia tidak mencobanya sekarang, mungkin ia benar-benar akan kehilangan rumah tangganya.
"Dek," Suara Salsa kembali terdengar lirih. "Kakak nggak minta kamu jawab sekarang. Kakak cuma ingin kamu tahu kalau kakak benar-benar sudah di ujung jalan." Tangisnya kembali pecah. "Kakak capek harus pura-pura kuat. Kakak capek pura-pura tersenyum setiap kali ditanya soal anak. Capek mendengar orang berkata, Perempuan yang tidak bisa memberi keturunan pasti akan ditinggalkan suaminya." Salsa memejamkan matanya. "Awalnya Kakak mencoba nggak peduli. Tapi semakin hari, ucapan itu semakin nyata. Ayah dan Ibu mertua mulai sering membahas calon pewaris di depan Kakak. Setiap kali ada acara keluarga, Topiknya selalu sama. Kapan keluarga Adhitama punya penerus? Kamu tahu bagaimana rasanya, Dek?" Suaranya bergetar. "Rasanya seperti sedang dihakimi setiap hari. Aku bahkan mulai takut turun ke ruang makan. Takut bertemu mereka, takut mendengar pertanyaan yang sama." Tangan Salsa mengepal. "Padahal, bukan aku yang memilih menjadi mandul." Kalimat itu keluar bersama tangisan yang begitu memilukan. "Aku juga tidak ingin hidup seperti ini."