NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 41: Menyuap Mertua

Rian menerima tugas paling sulit selama bekerja untuk Arya: mencari kelemahan Papa Gunawan yang legal untuk dimanfaatkan.

“Hobi, bukan kelemahan,” koreksi Arya.

“Kalau tujuannya membuat calon mertua berhenti marah, perbedaannya tipis, Pak.”

Rian menghabiskan tiga hari memeriksa katalog pameran, rumah lelang, dan kolektor. Ia menemukan bahwa Papa Gunawan mengoleksi lukisan maestro Indonesia, terutama karya ekspresif bergaya Affandi. Satu karya bertema Ikan dan Bunga Teratai sudah lama ia cari.

“Pemiliknya tidak mau menjual,” lapor Rian.

“Tawarkan pertukaran dengan karya dari koleksi pribadi saya.”

“Yang nilainya dua kali lipat?”

“Bukan masalah.”

“Bagi Bapak.”

Perburuan Rian membawanya dari galeri Menteng ke gudang kolektor di Bandung. Ia memeriksa sertifikat, riwayat kepemilikan, kondisi kanvas, dan penilaian konservator. Dua karya ternyata palsu. Satu lagi terikat sengketa warisan. Karya yang benar akhirnya ditemukan di tangan kolektor tua yang bersedia bertukar karena menginginkan lukisan lanskap dari koleksi Arya.

“Kalau keluarga tahu koleksi dipakai untuk melamar calon mertua, saya yang dimarahi,” kata Rian.

“Ini bukan lamaran.”

“Kalau begitu, saya minta kenaikan gaji untuk misi pralamaran.”

Arya menyetujuinya tanpa menawar. Rian kemudian sadar status Kirana benar-benar berada di atas seluruh laporan kuartal DG.

Kirana mendengar percakapan itu di 805 dan langsung menyela. “Jangan beli Papa.”

“Saya membawa hadiah saat berkunjung.”

“Hadiah biasa itu kue atau buah.”

“Beliau kolektor.”

“Justru karena Mas tahu nilainya, itu seperti suap.”

Arya berpikir, lalu mengubah strategi. Lukisan tidak akan diberikan sebagai hadiah pribadi tanpa syarat. Ia akan meminjamkannya untuk pameran amal yang dikelola yayasan Saraswati, dengan opsi pembelian pada harga penilaian independen. Dengan begitu, Papa bisa menikmati karya itu tanpa merasa berutang.

“Mas selalu mengubah romantis jadi kontrak,” kata Kirana.

“Kontrak membuat niat jelas.”

Minggu berikutnya, Arya datang ke kediaman Saraswati di Kebayoran Baru. Ia membawa buah tangan untuk Mama Ratih, dokumen audit kerja sama, dan lukisan yang dibungkus peti kayu.

Papa Gunawan menerima di ruang tamu dengan wajah datar. “Saya bilang datang tanpa pasukan perusahaan.”

“Rian hanya membantu membawa peti.”

Rian menurunkan peti lalu mundur. “Saya dianggap furnitur, Pak.”

Mama Ratih menahan tawa dan mempersilakan mereka masuk.

Kediaman itu besar namun hangat, dipenuhi foto keluarga dan karya seni lokal. Papa membawa Arya ke ruang koleksi. Begitu peti dibuka, sikap dinginnya retak sepersekian detik.

Sebelum membuka peti, Papa sengaja mengajak Arya melihat koleksi lain. Ia menjelaskan sejarah setiap pelukis dan sesekali memberi informasi keliru untuk menguji. Arya tidak pura-pura tahu. Jika mengenal karya, ia memberi pendapat. Jika tidak, ia meminta Papa menjelaskan.

“Saya kira konglomerat hanya membeli nama besar,” sindir Papa.

“Koleksi tanpa memahami karya hanya gudang mahal.”

Papa mengangkat alis. “Setidaknya kamu bukan pembeli yang sepenuhnya bodoh.”

Itu terdengar seperti pujian pertama, meski dibungkus penghinaan.

“Ikan dan Bunga Teratai,” katanya.

“Karya dari periode yang Bapak cari.”

Papa mendekat, tetapi tidak menyentuh. “Mau menyuap saya?”

“Tidak. Karya ini dipinjamkan untuk pameran yayasan selama enam bulan. Setelah itu Bapak punya hak pertama membeli sesuai penilaian dua kurator independen. Kalau menolak, lukisan kembali ke koleksi saya.”

Papa membaca dokumen. “Kamu bahkan menyiapkan kontrak.”

“Agar tidak ada utang pribadi.”

“Tetap saja kamu tahu saya menginginkannya.”

“Saya ingin mengenal hal yang penting bagi Bapak.”

Jawaban itu membuat Papa diam lebih lama.

Di meja makan, Mama Ratih menyajikan sop buntut dan tempe mendoan. Arya tidak membawa staf, tidak meminta menu khusus, dan memuji sambal buatan rumah meski keringat muncul di pelipis.

“Mas tidak kuat pedas,” bisik Kirana.

“Saya kuat.”

Papa menyodorkan sambal lagi. “Tambah.”

Arya menerimanya. Kirana menendang kaki ayahnya di bawah meja.

Setelah makan, pembicaraan beralih pada bisnis. Papa menguji Arya dengan pertanyaan tentang risiko proyek bersama, perlindungan pekerja, dan kemungkinan DG mengambil alih Saraswati Group.

Arya menjawab tanpa merendahkan perusahaan yang lebih kecil. Ia mengusulkan batas kepemilikan, kursi independen, dan hak veto untuk keputusan yang mengubah identitas usaha keluarga.

“Kenapa memberi perlindungan sebesar itu?” tanya Papa.

“Karena kemitraan yang hanya menguntungkan pihak besar tidak akan bertahan.”

“Bukan karena Kirana?”

“Strukturnya layak meski saya tidak mengenal Kirana. Tapi karena saya mengenalnya, saya memastikan tidak ada orang di DG yang memperlakukan Saraswati sebagai hadiah untuk saya.”

Papa menatap dokumen, lalu putrinya. Kirana melihat pertahanan ayahnya bergerak sedikit.

Mama Ratih kemudian mengirim foto makan siang ke grup keluarga dengan keterangan: Tamu hari ini sopan dan habiskan sambal Papa.

Papa membalas dari kursi yang sama: Masih diuji.

Mama: Tapi lukisannya bagus?

Papa tidak menjawab. Lima menit kemudian ia mengirim foto lukisan dari tiga sudut.

Kirana menahan tawa. Arya membaca layar dari bahunya.

“Misi berhasil?” bisiknya.

“Jangan sombong. Papa belum menerima Mas.”

Sebelum pulang, Arya meminta waktu bicara empat mata di ruang koleksi.

“Saya tidak meminta restu hari ini,” katanya. “Saya meminta izin datang lagi sampai Bapak mengenal saya di luar kartu nama.”

Papa memandang lukisan, bukan Arya. “Kamu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan?”

“Dalam bisnis, sering. Dalam urusan Kirana, saya belajar menunggu.”

Papa berdiri di depan foto Kirana saat kecil, mengenakan seragam tari dan tersenyum dengan dua gigi depan hilang.

“Dia selalu terlihat berani,” katanya. “Padahal kalau terluka, dia menyembunyikan sampai demam. Kalau sedih, dia bilang capek. Saya takut laki-laki yang hidupnya penuh rapat tidak akan melihat hal kecil.”

“Saya melihat tangannya dingin sebelum dia mengaku takut. Saya tahu dia menambah sambal ketika gugup dan diam terlalu sopan ketika sedang marah.”

Papa menoleh. Arya melanjutkan, “Saya mungkin tidak selalu mengerti, tapi saya akan bertanya. Kalau dia belum bisa bicara, saya akan tinggal sampai dia siap.”

Untuk beberapa detik, keduanya tidak lagi berbicara sebagai pengusaha. Mereka hanya dua laki-laki yang sama-sama ingin melindungi Kirana, meski cara mereka belum tentu selalu benar.

“Dia bukan proyek.”

“Karena itu tidak ada target waktu.”

Papa akhirnya menoleh. “Datang lagi boleh. Tapi jangan bawa lukisan setiap minggu.”

“Baik, Pak.”

Di mobil, Kirana menggenggam tangan Arya. Ia tahu pria itu dapat memerintahkan ratusan orang, tetapi hari ini ia duduk kepedasan dan menerima ujian ayahnya tanpa memakai kuasa.

“Terima kasih sudah berusaha,” katanya.

Arya mencium buku jarinya. “Saya belum selesai.”

Di rumah, Papa Gunawan meminta staf memasang pencahayaan sementara untuk Ikan dan Bunga Teratai. Ketika Mama Ratih menggodanya, ia berdeham.

“Lukisannya boleh tinggal,” katanya. “Laki-lakinya juga boleh datang. Tapi soal beda umur delapan tahun, jangan kira semudah menyusun kontrak.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!