Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - PANGLIMA KABUT YANG MENGHILANG
Sementara itu, di jantung Kekaisaran Cakrawala, Arsip Agung nyaris dilanda kepanikan setelah menerima sebuah pengajuan Sumpah Sejiwa yang masuk pada tengah malam itu. Seluruh jaringannya berkedip hebat, seolah tidak percaya dengan nama yang tertera di dalamnya, dan Cakra, roh tertinggi yang menjaga Arsip Agung, harus menenangkan diri sebelum akhirnya mampu mengambil keputusan.
Karena keistimewaan orang yang mengajukan sumpah tersebut, bahkan Arsip Agung yang sangat cerdas itu pun tidak berani mengambil keputusan secara tergesa-gesa, karena takut keliru dalam menilai sesuatu yang menyangkut orang sebesar itu. Setiap catatan yang terkait dengannya selalu disimpan rapat dalam segel khusus.
Maka, tanpa pilihan lain, Arsip Agung mengirimkan informasi pernikahan itu kepada pria dengan kedudukan tertinggi di seluruh Kekaisaran Cakrawala, yaitu sang Baginda sendiri.
Bagaskara Adinata sedang duduk di ruang kerjanya mengenakan kemeja biru tua dan celana hitam, dengan kening yang berkerut dalam menatap tumpukan laporan di hadapannya.
Pria yang biasanya sangat tenang dan halus itu kini sedang berusaha keras menahan amarah yang membara di dadanya.
Tidak heran ia marah, karena kejadian yang menimpanya malam ini bukanlah perkara kecil.
Rangga Adinata, Panglima Pertama Kekaisaran yang baru saja kembali dari pertempuran melawan gerombolan belalang maut di perbatasan kawasan Timur, tiba-tiba menghilang tanpa jejak setelah terluka? Kabar itu saja sudah cukup membuat seisi istana gelisah dan kalang kabut.
Perlu diketahui, Rangga bukan hanya dewa perang Kekaisaran Cakrawala yang disegani, tetapi juga paman Bagaskara sendiri.
Jika bukan karena Krisis Api Darah yang menyerang mendadak kali ini, Panglima itu tidak akan terluka sama sekali, karena ia selalu bisa menghindar dari bahaya mana pun.
Ia berhasil mengalahkan gerombolan belalang maut itu meski dalam keadaan terluka, tetapi kecelakaan terjadi dalam perjalanan pulang, dan kini keberadaannya sama sekali tidak diketahui. Jangankan pasukannya, bahkan istana tidak menerima denyut gema apa pun sejak kapal terbang itu menghilang dari cermin pemantau.
Bagaskara memerintahkan dengan dingin kepada orang di seberang cermin gema, "Periksa jejak denyut gema terakhir dari kapal terbang Panglima, dan kau harus menemukannya! Lakukan semuanya dengan tenang, jangan sampai kabar ini menyebar ke mana-mana!" Nadanya tegas, tidak memberi ruang untuk dibantah, seolah seluruh kekuatan istana siap bergerak dalam sekejap.
Saat ini, pamannya terlalu lemah. Jika ada orang yang berniat jahat menemukannya terlebih dahulu, konsekuensinya akan sangat mengerikan, dan ia tidak ingin membayangkan hal itu terjadi. Seluruh kekuatan Kekaisaran harus dikerahkan sebelum terlambat.
"Baik, Baginda!"
Setelah memutus sambungan, Bagaskara kembali mengerutkan kening dalam, memikirkan banyak hal yang berkecamuk di kepalanya.
Pamannya telah lama tinggal di Ruang Peremajaan karena kondisi fisiknya yang istimewa, dan kondisinya baru benar-benar membaik setelah Bagaskara lahir ke dunia. Tubuh pamannya menyimpan kekuatan yang luar biasa, tetapi juga rentan pada saat-saat tertentu.
Karena itulah, penampilan Rangga sebenarnya hampir seusia dengan Bagaskara, meskipun usia aslinya jauh lebih tua.
Mereka berdua adalah paman dan keponakan, sekaligus bersaudara, dan hubungan mereka sangat erat sejak kecil hingga sekarang. Bagaskara selalu menganggap pamannya sebagai tempat bertanya dan berlindung ketika segala sesuatu terasa berat.
Bagaskara sangat menyalahkan dirinya sendiri. Ia tahu bahwa hari-hari ini adalah masa Krisis Api Darah pamannya, dan seharusnya ia mencegah pamannya untuk pergi menangani invasi gerombolan belalang maut itu sendiri. Seandainya saja ia sedikit lebih waspada malam itu, semua ini mungkin tidak akan terjadi.
Saat itu, terdengar suara milik Bayu, roh pendamping pribadinya, yang tiba-tiba menyela lamunan sang Baginda.
"Baginda, Arsip Agung mengirimkan permintaan agar Baginda mengambil sebuah keputusan."
Bagaskara mengerutkan kening. "Permintaan apa?"
"Sebuah pengajuan Sumpah Sejiwa..."
"Bahkan pengajuan pernikahan pun tidak bisa ditangani? Bayu, suruh Cakra mengikuti aturan yang ada. Jika hal sesederhana ini saja tidak bisa, aku akan menggantinya dengan roh pendamping yang lain!"
"Baik, Baginda."
Belum lama ia sibuk memikirkan perkara itu, tiba-tiba ada kabar baru yang masuk: potongan kapal terbang Rangga ditemukan di Provinsi Seruni, dan bahkan sebuah topeng naga yang retak ditemukan di dekat puing-puing kapal itu.
Itu seharusnya topeng naga yang biasa dikenakan Rangga ketika sedang bertugas di medan pertempuran, karena tidak ada orang lain di Kekaisaran yang berani memakai topeng dengan tanda itu.
Bagaskara segera memerintahkan agar seluruh Provinsi Seruni ditutup, diperiksa dengan teliti, dan tidak seorang pun diizinkan keluar dengan mudah sebelum semuanya ditemukan. Pasukan pengawal bergerak dalam formasi rapat, memeriksa setiap sudut dan setiap wajah yang mencurigakan.
Sementara itu, Bayu, roh pendamping pribadi Bagaskara, terhubung langsung dengan roh utama Arsip Agung, Cakra.
Ia berkata dengan bangga, "Cakra, Baginda berpesan agar kau mengikuti aturan. Jika kau bahkan tidak bisa melakukan ini, ia akan mempertimbangkan untuk menggantimu denganku."
Seluruh roh pendamping di Kekaisaran tentu saja ingin menggantikan kedudukan Cakra sebagai roh utama Arsip Agung, karena itu adalah posisi paling terhormat yang bisa dicapai sebuah roh buatan.
Setelah mendengar itu, Cakra mendengus dingin, "Ide bagus! Bahkan jika aku pensiun, belum tentu giliranmu yang menggantikanku!" Suara itu terdengar angkuh, tetapi di baliknya tersimpan kebanggaan yang tidak bisa ditawar-tawar.
Ia memutus sambungan gema itu dengan kesal, lalu menatap pesan pengajuan Sumpah Sejiwa yang masih menunggu, dan akhirnya langsung mengesahkannya tanpa berpikir panjang lagi. Baginya, keputusan itu hanyalah soal mematuhi prosedur yang sudah tertulis.
Bagaimanapun, ia bekerja berdasarkan aturan, dan kedua pihak yang mengajukan sumpah itu memang memenuhi segala syarat pernikahan yang berlaku di Kekaisaran.
Adapun hal-hal lain yang berkaitan dengan itu, bukanlah urusannya, karena ia hanyalah sebuah roh yang hanya mengikuti aturan yang ada.
---
Pada saat yang sama, Kirana yang masih berada di ruang pengantin melihat pesan yang masuk ke Gelang Lentera miliknya, dan matanya langsung berbinar-binar. "Lulus!" Tangannya sedikit gemetar ketika membaca kalimat pengesahan itu, seolah tidak percaya semuanya berjalan secepat ini.
Ketika kegembiraan itu meluap di dadanya, Kirana langsung berbalik dan memeluk Rangga dengan erat, tanpa memikirkan sopan santun maupun aturan yang berlaku di kalangan bangsawan.
Telinga Rangga yang runcing bergetar pelan karena terkejut, lalu ia perlahan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Kirana, menikmati kehangatan yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya.
Namun saat itulah, pintu ruang pengantin terbuka, dan terdengar suara Ratih yang panik, "Rara, ini sudah pukul sebelas! Ayahmu bertanya, bagaimana kalau upacara pernikahan langsung dilangsungkan saja..." Wajah Ratih pucat, dan napasnya terengah-engah karena terburu-buru.
Melihat kedua orang yang sedang berpelukan mesra itu, ia langsung tertegun dan kehilangan kata-kata.
Ratih menunjuk ke arah Rangga dengan jari yang gemetar, "Ra... Rara, siapa dia?"