NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

***

Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menyusup masuk melalui celah-celah ukiran kayu Rumah Adat Utama, melukis garis-garis keemasan di atas peraduan. Suara kicauan burung hutan beradu merdu dengan hembusan angin pagi yang menyejukkan.

Di atas pembaruan yang bertabur ronce melati, Melani perlahan membuka matanya. Bulu matanya bergetar pelan saat rasa kantuknya menguap. Namun, saat mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, bidan muda itu mendadak meringis menahan napas. Seluruh persendiannya terasa pegal, dan area intimnya terasa amat perih, lebam, serta ngilu akibat guncangan gairah semalam suntuk yang tiada hentinya.

"Ssshh... aduh..." ringis Melani lirih, meremas kain selimut tenun yang menutupi dada polosnya.

"Jangan bergerak dulu, Dinda..."

Suara bariton yang berat, hangat, dan sarat akan kelembutan menyapa pendengarannya. Dari arah pintu kamar yang terbuka sedikit, Rangga Wira melangkah masuk. Sang Ketua Adat telah segar bugar, mengenakan celana kain hitam dan kemeja tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang tegap. Di tangannya, Rangga membawa sebuah baskom kayu berisi air hangat, sebaskom rebusan daun sirih, dan selembar kain katun lembut.

Pipi Melani seketika membara merah padam saat teringat potongan-potongan adegan panas malam panjang yang mereka lalui hingga menjelang subuh. Bidan muda itu buru-buru menarik selimut tenun hingga menutupi dagunya.

Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan. Pria tegap itu meletakkan wadah air di atas meja samping tempat tidur, lalu duduk perlahan di tepi pembaruan. Jemari kekarnya dengan sangat lembut mengusap dahi Melani dan merapikan helai rambut hitam yang menempel di pipinya.

"Bagaimana keadaanmu, Istriku? Masih sangat sakit?" tanya Rangga tulus dengan raut cemas yang begitu protektif.

Melani menundukkan pandangannya, tidak berani menatap langsung mata suaminya yang kelam. "P-pegal sekali, Mas... Perih dan ngilu..."

"Maafkan suamimu ini, Dinda..." tutur Rangga penuh penyesalan, mencium lembut punggung tangan Melani. "Saya terlalu terbawa rasa cinta dan gairah semalam hingga lupa menjaga tubuhmu dengan baik."

"Mas Rangga..." bisik Melani malu-malu.

Rangga perlahan menyibak selimut tenun di bagian bawah tubuh Melani. Melani tersentak kaget, mencoba menahan ujung selimutnya dengan jemari yang gemetar. "M-Mas... mau apa?"

"Saya ingin merawatmu, Dinda," pukas Rangga lembut namun penuh ketegasan yang tak terbantahkan. "Tadi pagi saya bertanya pada Mbah Salma tentang ramuan tradisional untuk meredakan bengkak dan perih setelah malam pertama. Mbah Salma menyiapkan rebusan daun sirih dan racikan herbal ini."

Melani membelalakkan matanya, pipinya yang tadinya merah kini terasa membara seperti terbakar. "Mas bertanya pada Mbah Salma?! Ya Tuhan... malu sekali, Mas..."

Rangga terkekeh renyah seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Mbah Salma justru tersenyum bahagia, Dinda. Beliau tahu suamimu sangat menyayangimu."

Rangga meremas pelan kain katun di dalam air rebusan sirih yang hangat, merasnya hingga lembab. Dengan sangat telaten, sabar, dan penuh rasa hormat, Rangga memposisikan dirinya di antara kedua kaki istrinya.

Melani memejamkan matanya rapat-rapat, meremas bantal erat-erat demi menahan rasa malu yang membuncah ketika suaminya melihat seluruh area pribadinya tanpa terkecuali. Sebagai seorang bidan, ia biasa memeriksa pasiennya, namun berada di posisi ini di hadapan suaminya sendiri membuat seluruh teori medisnya lebur tak berbekas.

Saat usapan kain hangat itu perlahan menyentuh bagian lahirnya yang membengkak dan memerah, Melani menahan napasnya seraya meringis pelan.

"Ssshh... hangat, Mas..." desah Melani pelan.

"Tahan sebentar ya, Dinda... Ini akan meredakan bengkak dan rasa perihnya," tutur Rangga sangat lembut. Jemari kekar sang Ketua Adat bergerak begitu hati-hati, mengompres bagian yang memar dengan kelembutan yang tiada tara, memastikan tidak ada rasa sakit berlebih yang dirasakan istrinya.

Rangga menatap wajah pasrah istrinya dengan pendar kasih sayang yang teramat dalam. Perlahan, dipasangkannya kembali kain sarung sutra yang bersih untuk menutupi tubuh Melani, lalu merengkuh tubuh molek istrinya ke dalam pelukan dadanya yang hangat.

"Terima kasih, Mas..." bisik Melani, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rangga, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan.

"Sama-sama, Melani-ku," balas Rangga seraya mengecup puncak kepala istrinya. "Pagi ini kamu istirahat saja di kamar. Saya sudah menyiapkan sup ayam rempah hangat untuk sarapanmu."

**

Tiga hari berlalu dalam suasana penuh pemulihan dan kehangatan pengantin baru di Rumah Adat Utama. Rasa pegal dan lebam di tubuh Melani telah sirnah sepenuhnya, berganti dengan pendar kebahagiaan seorang wanita yang dicintai seutuhnya oleh sang suami.

Pagi itu, dengan mengenakan pakaian dinas bidan yang rapi dipadu selendang tenun kebesaran Hulu Rawa dan mahkota kecil Ibu Adat di rambutnya, Melani melangkah keluar rumah didampingi Rangga Wira.

Tujuan mereka adalah Pustu Hulu Rawa—tempat di mana pengabdian Melani pertama kali bersemi.

Begitu rombongan Rangga dan Melani tiba di halaman Pustu, sorak-sorai gembira seketika membahana. Bangunan Pustu yang kini telah diperluas, dicat bersih, dan dilengkapi dengan ruang inap bersalin yang steril tampak begitu kokoh berdiri.

Di depan teras, Mbah Salma, Nek Timah, Bu Minah, Melati, serta belasan anak-anak desa sudah berdiri berjejer rapi membawa untaian bunga hutan.

"Selamat datang kembali, Ibu Pelindung kami!" seru Seno dan para pemuda adat dengan bungkukan hormat yang amat dalam.

Anak-anak kecil—Bimo dan Ratih—berlarian mendekat, menyodorkan sebuah papan kayu ukir baru berisikan tulisan warna emas: "Pusat Kesehatan Desa & Mitra Medis Bidan Pelindung Hulu Rawa".

"Bu Bidan! Eh... Ibu Pelindung!" panggil Ratih polos seraya memeluk pinggang Melani. "Pustunya sekarang bagus sekali! Mas Rangga sama pemuda desa yang bangun kemarin waktu Bu Bidan di kota!"

Melani terpaku takjub, matanya berkaca-kaca menatap bangunan Pustu baru yang begitu indah dan memadai. Ia berpaling menatap Rangga Wira yang berdiri gagah di sebelahnya seraya tersenyum amat tampan.

"Mas... ini semua..." bisik Melani haru.

"Ini adalah hadiah dari saya dan seluruh rakyat Hulu Rawa untukmu, Dinda," pukas Rangga Wira mantap, meremas lembut jemari Melani. "Agar kamu bisa terus menjalankan tugas medismu dengan nyaman, aman, dan dihormati oleh siapa pun."

Mbah Salma melangkah maju seraya menggenggam tangan Melani. "Bidan Melani... kami semua sangat bahagia kamu telah kembali sebagai Ibu Adat kami. Mulai hari ini, para dukun beranak siap menjadi asisten medismu yang setia."

"Terima kasih, Mbah Salma... Terima kasih semuanya," pukas Melani dengan air mata bahagia yang menetes manis di pipinya. "Saya berjanji akan memberikan seluruh kemampuan medis saya untuk menjaga kesehatan seluruh warga Hulu Rawa."

Teplok tangan dan sorak gembira warga kembali membahana di halaman Pustu.

Melani melangkah masuk ke dalam ruang periksa barunya, memegang stetoskop di lehernya dengan rasa bangga dan syukur yang meluap-luap. Di ambang pintu, Rangga Wira berdiri tegap menjaga—menjadi benteng pelindung abadi bagi sang Bidan Pelindung dalam mengabdi demi kemanusiaan dan cinta sejati mereka di tanah Hulu Rawa.

Bersambung...

1
falea sezi
benerr pergi
falea sezi
pergi jauh
dika edsel
noh istrimu sudah mode pasrah dan tertekan...huh..ntar klo terjadi sesuatu sama istrmu pegimana...?? emang anda sudah siap jd duda?? kita mikir yg buruk aja deh..klo diliat dr kondisinya melani yg kian hari kian ngenes ini😌
Heresnanaa_: iyaa, Ki Rangga benar benar yaaa 😌
total 1 replies
Ayusha
Dr. (Doktor)
dr. (dokter)
Ayusha: macama. lanjut kak, semangat 💪
total 2 replies
Kusii Yaati
wes mboh sak karepmu Ki...lama" Melani bisa depresi semua di pendam sendiri.😩
Heresnanaa_: kann, author juga ngerasa kaya gitu 🥹🥹
total 1 replies
falea sezi
klo q jd Melani pergi plg ke rmh ortu 🤣🤣 ngapain di situ punya suami goblok
Ayusha
jadi keinget lahiran pertama /Smile/
Kusii Yaati
up lagi dong Thor, jangan satu bab aja 🥺
Heresnanaa_: stay tune ya beb😚🫶
total 1 replies
Kusii Yaati
yang sabar Melani,Ki Rangga sedang capek dan banyak pikiran jadi nggak bisa ngontrol emosinya 🤧... semoga lekas berbaikan 🥹
Kusii Yaati: up lagi dong Thor...2 bab ya 🤭
total 2 replies
neng ade
tapi jangan yang berat konfliknya,
Heresnanaa_: amannn kok 🤭
total 1 replies
Reni Anggraeni
bagus sekali
Reni Anggraeni
emmm bagus ceritanya
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bongkarkan yang hati busuk thor
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
habislah tamat riwayat
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bunga² sedang mekar..
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bagus di awal bacaannya
sunshine wings
yang sabar ya pak ketua adat.. lumrah ibu hamil bermacam ragam.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
hebat kisahnya aku sukaaa..
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
neng ade
Alhamdulillah, Melani hamil ..
🤲
Kusii Yaati
ya ampun pak ketua suku ganas amat ,air tenang menghanyutkan ya, semalam suntuk di gempur sama pak ketua suku 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!