Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Mendapatkan Pil Laut Ilahi!
Batu Warisan Pedang itu ternyata memengaruhi semuanya. Sisi milik Fang Zhelan pun ikut menerima dampaknya. Seluruh batu, baik ikan hitam maupun ikan putih, diselimuti pusaran kabut biru yang bergolak.
Batu Warisan Pedang mengeluarkan ratapan yang memilukan. Warnanya yang semula hitam dan putih berubah menjadi semburan kabut biru yang dahsyat. Aura kehancuran yang mengerikan menyelimuti Jing Yan, Fang Zhelan, dan Ning Ziyi, menekan mereka bagaikan beban tak terbendung.
Gelombang kekuatan menghantam mereka hingga terpental ke belakang. Kaki mereka bergesekan dengan tanah saat berusaha menjaga keseimbangan.
Bahkan sebelum Ning Ziyi sempat berdiri tegak, matanya membelalak ngeri ketika Batu Warisan Pedang dipenuhi retakan besar yang menyebar dari dalam.
"Batu itu akan hancur!" seru para tetua.
Lalu, dengan ledakan yang memekakkan telinga, Batu Warisan Pedang benar-benar hancur berkeping-keping, bahkan tak meninggalkan satu serpihan pun.
"Batu Warisan Pedang... hancur!" Para tetua mengusap mata mereka, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ini bencana besar!" dahi Tetua Ran dipenuhi keringat, suaranya bergetar.
"Sepanjang sejarah Sekte Pedang Roh Biru, Batu Warisan Pedang belum pernah hancur. Tahukah kalian apa artinya?" Para tetua mengalihkan tatapan mereka yang penuh keterkejutan kepada Jing Yan dan Fang Zhelan.
"Itu berarti ada Jiwa Pedang seseorang yang mungkin telah melampaui tingkat Bintang!"
"Hari ini benar-benar membuka mata kita," para tetua menghela napas, bahkan terasa sulit bernapas karena begitu terkejut.
"Apakah aku ketahuan?" Jing Yan menghela napas.
Tiba-tiba langit bergemuruh, awan bergolak, dan suara dentingan pedang memenuhi udara.
Saat mendongak, Jing Yan melihat lebih dari selusin pedang raksasa menembus angin dan awan, melesat cepat ke arah mereka. Di sekitar Platform Warisan Pedang, pepohonan dan bebatuan tiba-tiba dipenuhi bekas sayatan, seakan-akan ada pedang tak kasatmata yang baru saja melintas.
"Wah! Siapa mereka?" gumam Jing Yan.
Tak lama kemudian, cahaya pedang yang menyilaukan turun dari langit dan menghujam ke atas platform.
Mata Jing Yan menyipit.
Ia langsung menyadari bahwa para pendatang itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka pasti berasal dari jajaran petinggi Sekte Pedang Roh Biru.
Di antara mereka, ada satu sosok yang paling menonjol. Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi dengan sikap angkuh.
Para tetua segera membungkuk hormat.
"Salam hormat kepada Yang Mulia Pedang!"
Termasuk Tetua Ran, semuanya menundukkan kepala penuh hormat. Beberapa bahkan mundur selangkah, sementara keringat dingin mulai membasahi dahi mereka.
"Yang Mulia Pedang?" gumam Jing Yan.
Namun bukan hanya Yang Mulia Pedang. Para pemuda dan pemudi yang mengikutinya juga luar biasa. Mengenakan jubah pedang, memancarkan aura yang agung, memiliki kultivasi yang dalam, dan dikelilingi energi pedang yang berputar-putar, mereka adalah para Kultivator Pedang muda terbaik di Sekte Pedang Roh Biru. Dalam segala hal, murid baru seperti Jing Yan tampak begitu jauh tertinggal dibandingkan mereka.
"Hancurnya Batu Warisan Pedang bahkan menarik perhatian Yang Mulia Pedang dari Puncak Pertama..." gumam seorang murid dengan penuh kekaguman.
"Yang Mulia Pedang dari Puncak Pertama?" pikir Jing Yan. "Tang Long dijuluki Raja Pedang Puncak Pertama. Pasti ada hubungan besar antara dirinya dengan Yang Mulia Pedang ini."
Benar saja, Ning Ziyi segera melangkah maju memberi hormat dengan wajah penuh rasa hormat.
"Ziyi memberi salam kepada Yang Mulia Pedang."
Yang Mulia Pedang bahkan tidak meliriknya. Tatapannya yang tajam menyapu seluruh kerumunan, lalu berhenti pada satu orang—bukan Jing Yan, melainkan Fang Zhelan yang berdiri di sampingnya.
"Kemarilah," panggilnya, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik.
"Baik, Yang Mulia Pedang." Tubuh Fang Zhelan sedikit gemetar saat ia melangkah mendekat dengan patuh.
"Berlututlah," perintah Yang Mulia Pedang tanpa mengalihkan pandangannya.
Tanpa ragu, Fang Zhelan langsung berlutut. Kedua telapak tangannya dipenuhi keringat dingin.
"Namamu." Suara itu kembali terdengar dari atas.
"Fang Zhelan."
"Angkat kepalamu."
Fang Zhelan sempat ragu. Pandangannya hanya berani sampai ke dada pria itu dan tidak berani menatap matanya secara langsung.
Namun, di luar dugaan, Yang Mulia Pedang sedikit membungkukkan tubuhnya. Senyum tipis muncul di wajahnya, sementara tatapannya yang tajam berubah menjadi jauh lebih lembut.
"Fang Zhelan, apakah kau bersedia menjadi murid langsungku?"
Hati Fang Zhelan langsung dipenuhi kegembiraan. Saat itu juga ia sadar bahwa inilah sosok penting yang pernah disebutkan Kakak Senior Tang kepadanya. Orang itu memang tidak berada di Platform Warisan Pedang, tetapi ternyata sejak awal telah mengamati Batu Warisan Pedang.
"Dapat menjadikan Yang Mulia Pedang sebagai guru adalah keberuntungan terbesar dalam tiga kehidupanku." Fang Zhelan menundukkan kepala dan memberi hormat dengan penuh rasa syukur.
"Bagus! Mulai hari ini, kau adalah murid ketiga belasku. Aku akan membimbingmu untuk terbang menembus langit!" seru Yang Mulia Pedang, kepuasan terpancar jelas dari sikapnya.
Beberapa pemuda dan pemudi luar biasa yang berdiri di belakang Yang Mulia Pedang memandang Fang Zhelan dengan tatapan kagum.
"Salam, Adik Junior."
"Fang Zhelan memberi salam kepada para Kakak Senior," kata Fang Zhelan sambil memandang mereka dengan penuh kekaguman
"Fang Zhelan." Panggil Yang Mulia Pedang. Di telapak tangannya muncul sebuah botol giok kecil berwarna biru.
Meskipun ukurannya kecil, rasanya seolah-olah di dalamnya tersimpan lautan yang tak bertepi. Saat botol itu digoyangkan, terdengar suara deburan ombak dari dalamnya.
"Ini adalah Pil Laut Ilahi, hadiah dariku sebagai tanda awal perjalanan kultivasimu."
Kemunculan benda itu langsung membuat mata ketujuh Tetua membelalak karena terkejut. Bahkan para Kultivator Pedang muda di belakang Yang Mulia Pedang pun sempat terdiam, mata mereka dipenuhi rasa iri yang begitu kuat.
"Pil Laut Ilahi!" Tetua Ran berseru dengan mata membulat. "Yang Mulia Pedang benar-benar murah hati. Baru pertama kali bertemu saja sudah memberikan harta sebesar itu."
"Nilai pil ini paling tidak sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada tulang iblis berusia lima ratus tahun!"
"Sepuluh kali lipat? Apakah kau bercanda? Di seluruh Sekte Pedang Roh Biru hanya ada satu Pil Laut Ilahi! Ini adalah harta langka yang memungkinkan seorang kultivator di Alam Mata Air Naga menerobos dengan sangat cepat menuju Alam Laut Ilahi!"
Dikatakan bahwa di seluruh tahapan Alam Mata Air Naga, hanya pada alam inilah seorang kultivator dapat mengandalkan pil untuk mencapai terobosan dengan kecepatan luar biasa.
"Terima kasih, Guru! Aku pasti tidak akan mengecewakan Guru dan akan segera memperluas Mata Air Naga milikku untuk melangkah ke Alam Laut Ilahi!" Jantung Fang Zhelan berdegup kencang, nyaris tak mampu menahan luapan kegembiraan di dalam hatinya.