Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 24
Sementara itu, di balik pintu kamar di lantai dua yang terkunci rapat, suasana begitu kontras. Tidak ada air mata dari Kiara atau raut peyesalan dari wajah Kiara. Dia sudah benar-benar bulat dengan keputusannya. Kiara adalah seorang wanita yang memiliki prinsip dan dia tak akan menyesal mengambil keputusan melepaskan pria seperti Vino dari pada harus bertahan tapi menghancurkan hati dan hidupnya secara perlahan. Dia tak sebodoh dan sebucin itu kepada Vino.
Kiara duduk tenang di tepi ranjangnya. Ia mengenakan pakaian rumah yang nyaman setelah menanggalkan gaun krem yang dikenakannya tadi malam. Di sebelah meja riasnya, sebuah koper besar sudah terkunci rapat. Surat kepindahan tugas ke kantor pusat sudah tergeletak rapi di atas meja.
Ibunya, mengetuk pintu perlahan lalu melangkah masuk. Dia membawa secangkir teh hangat dan menatap putrinya dengan mata yang masih menyisakan bekas sembap. Dia merasa sedih dengan kisah cinta anaknya. Padahal selama dua tahun mengenal Vino, dia sudah menyukainya. Tapi, dia juga tak mengira kalau Vino akan berubah setelah datangnya wanita yang berstatus sepupu itu. Walau sedih, tapi Bu Anisa sangat mendukung keputusan anaknya.
"Kiara..." panggil Bu Anis lembut, duduk di samping putrinya dan mengusap punggungnya.
"Kamu beneran ndak apa-apa, Nak? Kalau mau nangis, nangis aja di pangkuan Ibu. Jangan ditahan-tahan..."
Kiara menoleh, mengulas senyum paling tulus yang pernah Bu Anis lihat selama beberapa bulan terakhir. Binar matanya jernih, tanpa ada genangan air mata sama sekali.
"Kiara ndak nangis, Bu," sahut Kiara lembut, menggenggam balik tangan ibunya.
"Air mata Kiara udah habis dari kemarin-kemarin, saat Kiara masih berjuang sendirian buat percaya sama Mas Vino. Malam ini... Kiara cuma merasa lega."
"Semuanya sudah siap, Nak?" tanya Bu Anis pelan, membelai rambut putrinya.
"Apa tidak terlalu cepat, Nak? Kamu bahkan belum sempat istirahat."
"Lebih cepat lebih baik, Bu," jawab Kiara dengan intonasi yang luar biasa stabil dan mantap.
"Semua berkas kepindahan ke kantor pusat juga sudah beres. Kiara mau mulai kehidupan baru di sana, fokus kerja, dan menyibukkan diri dengan tanggung jawab baru. Dengan menenggelamkan diri di pekerjaan kantor pusat, Kiara yakin bisa lebih cepat pulih dan melupakan semua sakit hati ini."
"Kamu yakin tidak mau memberi kesempatan untuk bicara sekali lagi?" bisik Bu Anis memastikan ketetapan hati anak gadisnya.
"Tidak perlu lagi, Bu. Pria yang tidak bisa berubah hanya akan terus mengulang kesalahan yang sama," sahut Kiara mantap.
"Mas Vino butuh wanita yang bisa dia kasihanin seperti Shela, sedangkan Kiara butuh pria yang bisa menghargai komitmen. Keputusan Kiara sudah bulat 100%. Subuh nanti Kiara berangkat, dan Kiara meninggalkan masa lalu itu sepenuhnya di rumah ini."
Bu Anis menatap putrinya dengan rasa bangga yang membuncah. Ketenangan Kiara bukanlah kepura-puraan untuk menutupi luka, melainkan tanda dari seorang wanita tegas yang telah selesai dengan masa lalunya dan siap melangkah maju tanpa penyesalan sedikit pun.
Di luar, hujan perlahan mereda. Vino masih terpuruk dalam frustrasi dan penyesalan di dalam mobilnya, memohon pada takdir yang tak lagi berpihak padanya. Sedangkan di dalam kamar yang hangat, Kiara menyandarkan kepalanya dengan tenang, menunggu fajar menyingsing untuk menyambut lembaran hidup baru tanpa kehadiran Vino lagi.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika deru mesin taksi online membelah kesunyian kompleks pemukiman itu. Kiara melangkah keluar dari pintu depan rumahnya, mengenakan trench coat hitam elegan yang membalut tubuh jangkandown-nya. Langkah kakinya stabil, tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa beraat hati.
Di bagasi taksi, koper besarnya sudah terikat rapi. Bu Anis menyusul keluar, membawa tas ransel berisi bekal makanan untuk perjalanan putrinya.
"Hati-hati di jalan ya, Nak. Nanti kalau sudah sampai di apartemen baru, langsung kabari Ibu," bisik Bu Anis dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Kiara memeluk ibunya erat-erat, menghirup aroma ketenangan yang selalu dipancarkan sang ibu.
"Pasti, Bu. Ibu jangan khawatir. Kiara di sana justru bakalan sibuk banget sama proyek baru. Jaga kesehatan Ibu di rumah, ya."
"Vino..." Bu Anis melirik samar ke arah jalanan luar kompleks.
"Mobilnya masih ada di dekat gerbang luar sejak semalam."
Kiara tersenyum tipis sebuah senyuman dingin tanpa dendam, hanya keterasingan yang mutlak.
"Biarkan saja, Bu. Dia cuma sedang memunguti sisa-sisa harga dirinya yang jatuh sendiri. Kiara pamit ya, Bu, Ayah..."
Taksi itu pun perlahan melaju, meninggalkan pekarangan rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan manis dan kepahitan yang baru saja usai.
Sementara itu, di pinggir jalan utama luar kompleks, mobil sedan hitam milik Vino dalam kondisi menyedihkan. Kaca depannya kotor terkena cipratan lumpur sisa hujan semalam. Di dalamnya, Vino terbangun dengan leher kaku dan kepala yang rasanya ingin pecah. Matanya sembap, memerah, dan dipenuhi garis-garis darah.
Saat ia membetulkan posisi duduknya, pandangannya menangkap sebuah taksi melintas melewatinya dari arah kompleks rumah Kiara. Melalui kaca mobil yang setengah basah, matanya menangkap siluet wanita yang sangat ia kenal di kursi belakang taksi.
"Kiara...?" gumam Vino linglung.
Seketika adrenalinya memuncak. Rasa panik menghantam dadanya bak hantaman ombak. Tanpa berpikir panjang, Vino memutar kunci kontak, menginjak pedal gas dalam-dalam, dan menyejajarkan mobilnya dengan taksi tersebut.
Ia menurunkan kaca jendela, berteriak kencang di tengah bisingnya lalu lintas pagi yang mulai ramai.
"Kiara! Ra, berhenti dulu! Tolong dengarin Mas sebentar aja, Ra!" raung Vino histeris, menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya melambai-lambai ke arah taksi.
Sopir taksi yang kaget melirik melalui kaca spion dalam.
"Mbak... itu mobil sebelah kenapa ya? Bawaannya ugal-ugalan banget, muter-muter manggil nama Mbak."
Kiara bahkan tidak menoleh ke jendela. Pandangannya lurus menatap layar ponselnya yang menampilkan jadwal penerbangan pagi ini.
"Biarkan saja, Pak. Nggak usah dilayani. Tolong tambah kecepatannya, kita harus ke bandara sekarang," sahut Kiara dengan suara luar biasa tenang.
"Tapi Mbak, dia memotong jalan kita!" teriak sopir taksi kaget.
Ckiiiiiit!
Vino nekat membanting kemudinya, memotong jalur taksi tepat di lampu merah persimpangan hingga sopir taksi harus mengerem mendadak. Bunyi klakson dari kendaraan lain bersahut-sahutan memecah keheningan pagi.
Vino melompat keluar dari mobilnya tanpa mematikan mesin. Penampilannya berantakan, kemeja kusut yang belum diganti sejak kemarin, rambut mencuat ke mana-mana, dan wajah pucat pasi. Ia berlari dan memukul-mukul kaca jendela belakang taksi tempat Kiara duduk.
"Kiara! Keluar, Ra! Tolong beri Mas satu menit aja! Mas mohon!" panggil Vino dengan suara serak, bahkan sampai berlutut di samping pintu taksi.
Pintu taksi akhirnya terbuka. Kiara keluar dengan tenang. Dia berdiri menjulang di hadapan pria yang dulu sangat ia cintai, namun kini terlihat begitu menyedihkan dan asing.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,