NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Lampu kristal gantung yang bernilai ratusan ribu dolar memantulkan cahaya hangat ke seluruh penjuru kamar utama mansion Bel Air.

Karpet sutra tebal yang menyerap tiap langkah, perabotan dari kayu mahoni langka, serta pemandangan gemerlap kota Los Angeles di luar jendela kaca raksasa seharusnya menjadikan ruangan itu sebuah perlindungan yang tenang. Namun malam ini, kamar itu tak ubahnya sebuah arena eksekusi. Bau parfum mahal bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan dada.

"Sampai kapan? Sampai kapan kita harus menunda kehamilanmu, Cathez?!"

Teriakan itu menggema, memantul kasar pada dinding-dinding marble. Suara Rowan bukan sekadar nada tinggi biasa; itu adalah letupan frustrasi dari penderitaan yang telah dipendam bertahun-tahun.

Cathez, yang sedang duduk santai di depan meja rias berukir emas, bahkan tidak tersentak.

Jemari lentiknya yang terawat sempurna dengan cat kuku merah menyala masih memegang selembar kapas berinfus cleansing oil. Dengan gerakan yang teratur dan tenang—seolah teriakan suaminya hanyalah bising angin malam—ia mengusap riasan matanya.

"Kenapa kau kembali membahas hal ini, Rowan?" jawab Cathez lambat, menatap pantulan suaminya lewat cermin besar. "Sudah kukatakan berulang kali, aku belum siap hamil!"

"Bukan belum siap!" Rowan melangkah maju, bayangannya yang tinggi dan tegap mengintimidasi ruangan. "Kau memang tidak ingin hamil anakku, Cathez! Kau tidak ingin melahirkan darah dagingku!"

Rowan Vale-Knight tidak lagi bisa menahan amarahnya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya bertautan menahan gejolak emosi. Pria itu menatap wanita yang dinikahinya empat tahun lalu dengan tatapan asing. Sang istri... benar-benar tidak lagi bisa ia pahami.

Empat tahun pernikahan. Empat tahun masa di mana ia memberikan segalanya: kesetiaan, harta tanpa batas, status sosial, hingga kebebasan yang tak pernah diusik.

Namun, setiap kali topik penerus keluarga diangkat, Cathez selalu memiliki dinding pertahanan yang dibangun dari ribuan alasan absurd.

Rowan tersenyum sinis, sebuah tawa pahit yang muncul saat ingatan tentang kebohongan-kebohongan Cathez berputar di kepalanya.

Selama ini Cathez selalu beralasan. Mulai dari belum siap secara mental, tidak siap melihat bentuk tubuhnya hancur dengan perut buncit, tidak siap menderita mual-mual di pagi hari seperti yang dialami kakak-kakak iparnya, hingga alasan paling tak masuk akal: ia membenci suara bayi karena dianggapnya sangat berisik dan merusak estetika hidupnya.

Padahal, di luar sana, tekanan tak pernah berhenti menghantam Rowan.

Sebagai salah satu putra dari dinasti Vale-Knight yang berpengaruh, Rowan memiliki lima saudara laki-laki. Dan kelimanya sudah memiliki anak.

Setiap kali perkumpulan keluarga besar digelar di kediaman utama, rasa iri yang merayap perlahan-lahan menggerogoti hatinya. Rowan harus menyaksikan saudara-saudaranya memangku balita mereka, tertawa bersama anak-anak mereka, sementara ia dan Cathez hanya berdiri seperti dua patung porselen yang indah namun hampa.

Hingga tiba-tiba, di tengah keheningan yang tersisa dari amarah Rowan, Cathez meletakkan kapasnya. Wanita itu berbalik di atas kursi berputarnya, menatap Rowan dengan mata jernih tanpa dosa.

"Kau benar-benar ingin memiliki anak?" tanya Cathez datar.

Rowan menoleh, menatap mata istrinya. Ia mengangguk pelan. Ada sedikit binar harapan yang sempat terbit di benak pria berusia 29 tahun itu. Untuk sejurus, Rowan berpikir mungkin... mungkin setelah perdebatan sengit ini, hati istrinya melunak. Mungkin Cathez akhirnya sadar.

Dan sesungguhnya, jika Rowan mau jujur pada dirinya sendiri, keinginan terbesarnya untuk memiliki anak saat ini bukan semata-mata karena ia kepepet membutuhkan keturunan untuk nama besarnya. Ada motif lain yang jauh lebih dalam dan terdesak.

Rowan ingin ikatan. Ia ingin sesuatu yang bisa menahan Cathez. Sang istri terlalu liar untuk diikat oleh sebuah cincin pernikahan saja.

Waktunya selalu habis untuk mengurus butik mewahnya, terbang ke Paris dan Milan untuk perjalanan bisnis, hingga berlibur tanpa henti bersama kawan-kawan socialite-nya ke resort-resort pribadi di Yunani atau Karibia.

Rowan merasa istrinya selalu melayang jauh, dan kehadiran seorang anak adalah satu-satunya hal yang bisa membuat wanita itu menapak bumi, memiliki kewajiban riil di rumah, dan menjadikan mansion ini sebuah 'rumah' yang sebenarnya.

"Cathez," suara Rowan melunak, mencoba memandu negosiasi ini menuju jalan damai. "Setelah ini, aku tidak akan melarang ataupun memprotes jadwalmu, Sayang. Terbanglah ke mana pun kau mau. Biar aku yang mengurus anak kita. Aku yang akan bangun malam, aku yang akan menyewa perawat terbaik. Kau hanya perlu melahirkannya."

Namun, Cathez tidak tersentuh. Ia justru menggelengkan kepala perlahan, lalu kembali berbalik menghadap cermin untuk melanjutkan membersihkan sisa riasannya.

"No!" sahut Cathez dingin. "Bukan anak kita. Hanya... anakmu."

Langkah Rowan terhenti seketika. Alisnya bertaut tajam. "Apa maksudmu, Cathez?"

Cathez menghentikan jemarinya. Dari balik cermin, ia menatap Rowan dengan senyum tipis yang terasa begitu beracun.

"Central Valley..." gumam Cathez, mengucapkan nama sebuah kawasan pedesaan terpencil yang asing di telinga Rowan. "Adikku diasingkan di sana sejak dia kecil. Kau mungkin baru tahu hal ini sekarang, karena keluarga kami memang membuangnya. Tapi... dia bisa memberimu anak."

Deg.

Jantung Rowan seolah berhenti berdetak saat kalimat itu merambat di udara. Ruangan seluas itu mendadak kehilangan pasokan oksigen.

Rowan mematung, mencerna setiap kata yang baru saja lolos dari bibir manis istrinya.

Seorang wanita... menyodorkan adik kandungnya sendiri untuk melahirkan anak bagi suaminya, hanya demi menghindari rasa sakit kehamilan dan kebebasan hidupnya yang terusik?

"Kau egois..." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Rowan, lebih menyerupai bisikan penuh jijik daripada kemarahan.

Cathez hanya mengangkat bahunya ringan, seolah baru saja menawarkan secangkir teh. "Aku hanya memberikan jalan keluar untuk obsesimu pada seorang bayi, Rowan."

"Kau menyodorkan adikmu?" Rowan menatap Cathez dengan pandangan yang sama sekali baru. Rintihan penderitaan di matanya kini berganti menjadi dingin yang membekukan. "Baiklah... kau telah memberikan aku izin yang tidak bisa kau tarik kembali, Cathez. Berikan aku alamatnya, dan malam ini juga aku akan berangkat."

Deg.

Kini, giliran Cathez yang mematung. Tangannya yang memegang botol serum tergantung di udara.

Tubuhnya kaku. Demi Tuhan, itu tadi hanyalah lelucon sarkastik! Itu adalah taktik untuk memojokkan Rowan agar pria itu frustrasi dan berhenti membahas masalah anak! Cathez tahu betul suaminya adalah pria yang memegang teguh moraliti dan kehormatan keluarga. Ia tak pernah membayangkan Rowan akan menggigit umpan beracun itu.

"Apa maksudmu?!" Suara Cathez melengking, kepanikan mendadak menyusup ke matanya. "Kau setuju dengan lelucon yang baru saja kukatakan itu?! Hah?! Kau... kau tidak mencintaiku lagi?!"

Rowan tidak berteriak. Ia tidak lagi mengamuk. Pria itu justru terkekeh—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri—seraya memutar tubuhnya dan berjalan santai ke arah pintu keluar.

"Jangan pedulikan aku," ucap Rowan tanpa menoleh sedikit pun. "Tetaplah sibuk dengan butikmu itu... Istriku."

BRAKKK!!

Pintu kayu jati tebal itu dibanting dengan kekuatan penuh, menggetarkan pigura-pigura lukisan di dinding.

"Rowan! Rowan, kembali kau!" jerit Cathez histeris.

Menyadari suaminya benar-benar pergi, amarah dan kepanikan Cathez meledak. Dengan napas memburu, ia meraih botol-botol parfum kaca mahal, tempat perhiasan, dan wadah kosmetiknya di atas meja rias, lalu melemparkannya ke arah pintu dengan sekuat tenaga.

PRANGGG!!!!

PRANGGG!

Pecahan kaca bermerek bernilai jutaan rupiah hancur berhamburan di atas lantai, menumpahkan cairan wangi yang kini baunya mendadak menyengat dan membakar hidung.

Cathez terduduk di kursinya dengan dada naik turun, menatap pintu yang tertutup rapat dengan mata membara penuh amarah dan ketakutan yang tak beralasan.

...°°°°...

Sementara itu, di luar kamar, Rowan melangkah menuruni tangga melingkar yang megah. Wajahnya bak pahatan es, tanpa ekspresi, namun di dalam dadanya ada gemuruh yang menghancurkan seluruh sisa rasa hormatnya pada pernikahan ini.

Saat mencapai pijakan tangga bawah, ia hampir berpapasan dengan saudaranya.

Dorian Vale-Knight—saudara kembarnya yang memiliki fitur wajah hampir serupa namun memiliki aura yang jauh lebih tenang—sedang berdiri di dekat dapur bersih. Pria itu tampak santai, mengenakan pakaian rumah biasa, dan di kedua tangannya... ia sedang memegang dua botol susu formula hangat.

Dorian menghentikan langkahnya, menatap Rowan dari atas ke bawah, lalu melirik ke arah lantai dua tempat suara pecahan kaca baru saja terdengar menyakiti heningnya malam.

"Mau ke mana?" tanya Dorian pelan. Tangannya dengan telaten mengocok pelan botol susu di tangannya.

"Ke club malam? Mau ikut?"

Dorian terkekeh tipis, menggelengkan kepala melihat tingkah saudara kembarnya yang tampak seperti gunung berapi yang baru meletus.

"Pergilah," kata Dorian dengan nada menggoda namun sarat akan rasa syukur. "Aku memiliki tanggung jawab untuk berada di rumah, brother. Bayiku bisa bangun kalau mendengar ayahnya keluyuran."

Rowan berhenti sejenak. Matanya tertuju pada dua botol susu di tangan Dorian. Botol plastik sederhana berisi cairan putih hangat. Sebuah simbol dari tanggung jawab, ikatan, dan kelanjutan masa depan yang begitu sederhana, namun sangat mustahil untuk ia dapatkan di dalam kamarnya sendiri.

Rowan tersenyum pahit. Sebuah senyuman yang menyembunyikan kehancuran total di dalam hatinya. Tanpa mengiyakan atau menolak, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar mansion, meninggalkan Dorian yang menatapnya dengan rasa heran.

Bayi, batin Rowan saat hawa dingin malam Bel Air menyapa kulit wajahnya. Dia memiliki bayi. Tanggung jawab saudaranya.

Jika Cathez menganggap pernikahan ini hanyalah permainan status dan kenyamanan, maka Rowan siap memainkan permainan itu dengan aturan baru. Aturan yang akan mengubah hidup mereka Berdua selamanya.

🌷🌷🌷

Ma'aciww Sudah mampir Diceritakan Rowan Vale-Knight, Happy reading 🫶🏻

1
Nurul
kalau bisa, kehamilan jangan ditunda-tunda
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!