Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 - Batas yang Mulai Kabur
Alea tetap berdiri di balkon meski Raka sudah mengakhiri panggilan teleponnya.
Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan. Seharusnya suasana setenang ini mampu menenangkan pikirannya.
Nyatanya, justru semakin banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
*"Kalau identitasku terbongkar sekarang, semuanya akan gagal."*
Kalimat itu terus terngiang.
Raka kembali menghampirinya sambil memasukkan ponsel ke saku celana.
"Udara malam mulai dingin. Sebaiknya masuk."
Alea tidak bergerak.
"Tadi... siapa yang meneleponmu?"
Raka berhenti melangkah.
"Rekan kerja."
"Rekan kerja sampai harus bilang jangan hubungi ke rumah?"
Raka tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Masalah pekerjaan."
"Lalu identitas apa yang tidak boleh terbongkar?"
Hening.
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Alea mengembuskan napas pelan.
"Kalau memang belum mau cerita, tidak apa-apa."
"Tapi jangan bohong."
Raka menatapnya cukup lama.
"Aku memang belum bisa menjelaskan."
"Lalu kapan?"
"Kalau waktunya sudah tepat."
Jawaban itu terdengar klise.
Namun anehnya, Alea tidak lagi memaksa.
Entah karena lelah, atau karena ia sadar mereka hanyalah dua orang asing yang dipaksa menjadi suami istri.
"Aku mengerti."
Raka tampak sedikit terkejut.
"Kamu tidak marah?"
Alea tertawa kecil.
"Hari ini aku ditinggal calon suami, dikhianati sahabat, lalu menikah dengan pria yang baru kukenal."
Ia menggeleng pelan.
"Rasanya aku sudah terlalu lelah untuk marah."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Alea bukan sebagai bagian dari misinya.
Melainkan seorang perempuan yang hidupnya benar-benar hancur hanya dalam satu hari.
"Alea."
"Hm?"
"Mulai hari ini..."
"Aku mungkin belum bisa menjadi suami yang baik."
"Tapi aku akan memastikan tidak ada lagi orang yang menyakitimu."
Alea menatapnya.
Tatapan pria itu begitu tenang.
Tidak terdengar seperti rayuan.
Lebih seperti sebuah janji.
Dan entah mengapa...
Hatinya yang sejak pagi terasa beku mulai sedikit menghangat.
---
Keesokan paginya.
Sinar matahari masuk melalui celah gorden.
Alea terbangun lebih dulu.
Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah.
Butuh beberapa detik sampai ia ingat bahwa ini bukan kamar apartemennya.
Dan ia...
Sudah menikah.
Ia keluar kamar perlahan.
Rumah masih sunyi.
Dari arah dapur terdengar suara seseorang sedang memasak.
Alea melangkah mendekat.
Pemandangan di depannya membuatnya terpaku.
Raka mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Sebuah celemek abu-abu melingkar di pinggangnya.
Pria yang wajahnya selalu tampak serius itu kini sibuk membalik telur di atas wajan.
Alea tanpa sadar tersenyum.
"Kamu bisa masak?"
Raka menoleh.
"Sedikit."
"Sedikit?"
Alea melihat meja makan yang sudah dipenuhi roti panggang, telur, salad, buah potong, dan semangkuk sup hangat.
"Kalau ini namanya sedikit, aku penasaran yang disebut hebat seperti apa."
Raka terkekeh pelan.
Suara tawanya pelan, tetapi cukup membuat suasana terasa lebih ringan.
"Itu cuma sarapan sederhana."
Alea menarik kursi.
"Aku bahkan biasanya cuma sempat makan roti."
"Mulai sekarang jangan."
"Kenapa?"
"Kamu sering lupa sarapan."
Alea mengangkat alis.
"Kok kamu tahu?"
Raka langsung terdiam.
Ia baru sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.
"Menebak."
"Katanya konsultan hukum."
"Bukan cenayang."
Alea tertawa kecil.
"Itu tebakan yang terlalu tepat."
Raka hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pembicaraan.
"Coba dulu."
Alea mengambil satu suap sup.
Matanya langsung membesar.
"Enak."
"Serius ini buatanmu?"
"Iya."
"Kalau suatu hari nanti berhenti jadi konsultan hukum, kamu bisa buka restoran."
Raka tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suasana di antara keduanya terasa benar-benar hangat.
Namun kehangatan itu tidak berlangsung lama.
Bel rumah berbunyi nyaring.
Ting...
Ting...
Ting...
Raka berdiri.
"Aku buka."
Begitu pintu terbuka, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depan rumah dengan setelan jas mahal.
Di belakangnya, dua pria lain membawa koper hitam.
Pria itu langsung membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Tuan."
Raka menegang.
"Aku sudah bilang jangan datang ke sini."
"Maaf, Tuan. Tapi ini perintah langsung dari Ketua."
"Tidak sekarang."
Pria itu melirik ke arah ruang makan.
Tatapannya bertemu dengan Alea.
Ekspresinya berubah.
"Jadi... ini Nyonya?"
Sebelum pria itu sempat melangkah masuk, Raka berdiri menghalangi pintu.
"Cukup."
"Apa yang ingin kau sampaikan, katakan di luar."
Alea memperhatikan dari kejauhan.
Jantungnya berdegup pelan.
Ia semakin yakin.
Pria yang kini tinggal serumah dengannya...
Bukan sekadar konsultan hukum biasa.
Dan siapa pun orang-orang yang datang pagi ini...
Mereka jelas mengenal Raka dengan cara yang sangat berbeda.
**Bersambung...**