NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Sebuah Tawaran

Semalaman Arga hampir tidak memejamkan mata. Begitu tubuhnya direbahkan di atas ranjang, bayangan Nadira justru datang silih berganti memenuhi pikirannya. Bukan wajah perempuan itu yang terus mengusiknya, melainkan hal-hal sederhana yang terjadi sepanjang hari.

Cara Nadira bersikeras membayar makan siang karena tidak ingin berutang budi, caranya menyapa pemilik warung dengan akrab, hingga tawa lepasnya yang bermakna. Semua itu terasa begitu kontras dengan kehidupan yang selama ini dijalaninya.

Sudah bertahun-tahun Arga menghabiskan waktunya di balik meja rapat, menghadapi angka, target, dan kontrak bernilai miliaran rupiah. Hampir setiap orang yang mendekatinya selalu memiliki tujuan tertentu. Ada yang mengincar relasi, jabatan, bahkan harta keluarganya. Namun, saat bersama Nadira untuk pertama kalinya ia merasa diperlakukan sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai pewaris Wijaya Group, melainkan Arga yang hanya sebatas individu biasa. 

Pukul tiga dini hari, Arga menyerah. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju balkon kamarnya lalu memandangi gemerlap lampu malam yang tak pernah benar-benar tidur. Angin malam menerpa wajahnya, tetapi tidak mampu mengusir sesak di dadanya. Malam itu dia habiskan untuk menyelami pikiran-pikiran berisik dan mengurainya satu-persatu. 

Keesokan paginya, Arga datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Namun, setumpuk dokumen di atas meja sama sekali tidak menarik perhatiannya. Berkali-kali ia membuka laporan keuangan, berkali-kali pula pikirannya melayang ke perempuan yang baru kembali ditemuinya beberapa hari lalu.

Ponselnya bergetar pelan.

Pesan dari Pak Dimas.

Bagaimana keputusanmu?

Arga membaca pesan itu beberapa detik sebelum akhirnya membalas singkat.

Saya sudah menentukan orangnya.

Balasan datang hampir seketika.

Kalau begitu, jangan menunda. Semakin lama kamu berpikir, semakin banyak keraguan yang muncul. Carilah seseorang yang bisa kamu percaya. Pernikahan yang dibangun atas kepercayaan akan lebih kuat daripada yang dibangun hanya karena cinta.

Arga mengembuskan napas panjang. Kalau memang harus menikah hanya satu nama yang terus muncul di kepalanya.

Keputusan ini memang terdengar gila. Bahkan ia sendiri belum sepenuhnya yakin. Namun, waktu yang dimilikinya tidak banyak. Wasiat sang kakek tidak memberinya kesempatan untuk terus menunggu.

Setelah menarik napas panjang, ia membuka daftar kontak dan menemukan nama Nadira. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menekan tombol panggil.

Di sisi lain, Nadira yang sedang menyusun buku-buku baru di rak langsung menghentikan pekerjaannya ketika layar ponselnya menyala. Nama Arga terpampang jelas di sana.

"Halo, selamat pagi, Ga … " sapanya pelan.

"Iya, pagi juga."

Suara Arga terdengar tenang seperti biasanya, tetapi entah mengapa Nadira menangkap nada ragu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

"Aku ganggu?"

"Nggak kok. Ada apa?"

"Aku ... ingin ketemu,” ujar Arga terdengar ragu-ragu.

Nadira mengernyit. "Sekarang?"

"Kalau kamu nggak sibuk."

Ada jeda beberapa detik. Nadira spontan teringat ucapan Arga semalam saat mengantarnya pulang. Kalimat yang terlontar begitu saja hingga membuatnya sulit tidur semalaman.

"Kalau gitu nikah sama aku aja ..."

Mungkin Arga malu dengan ucapannya. Mungkin laki-laki itu ingin meminta maaf karena telah membuat suasana menjadi canggung. Tanpa sadar, Nadira tersenyum kecil.

"Baik. Di mana?"

"Ada coffee shop dekat taman kota. Jam empat sore?"

"Oke."

Setelah sambungan telepon terputus, Maya yang sejak tadi memperhatikan dari balik rak buku langsung menghampiri dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

"Itu Mas Arga, ya?"

Nadira mengangguk pelan.

"Katanya mau ketemu."

"Wih..." Maya menyenggol pelan lengan Nadira. "Jangan-jangan mau ngajak makan lagi."

Nadira terkekeh kecil sambil menggeleng. "Nggak mungkin."

"Lah terus?"

"Kayaknya..." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih pelan. "Kayaknya dia mau minta maaf."

"Minta maaf?"

"Iya. Soal omongannya kemarin."

Maya mengernyit bingung. "Emang ngomong apa?"

Nadira hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Dalam hati ia sudah menyiapkan kalimat yang akan diucapkan nanti.

Tenang saja, Ga. Aku nggak menganggap ucapanmu serius, batinnya.  Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sore nanti justru hidupnya akan berubah karena ucapan itu ternyata bukan sebuah candaan.

Nadira datang lima belas menit lebih awal. Coffee shop yang dipilih Arga tidak terlalu ramai. Interiornya didominasi warna cokelat hangat dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke taman kota. Beberapa orang tampak sibuk bekerja di depan laptop, sementara alunan musik jazz mengisi ruangan dengan volume yang pelan.

Nadira memilih meja di dekat jendela. Sesekali ia melirik jam tangan, kemudian kembali mengaduk perlahan segelas ice latte yang baru saja diantar pelayan. Entah mengapa ia merasa sedikit gugup. Padahal, di dalam pikirannya sudah tersusun rapi berbagai kemungkinan alasan Arga mengajaknya bertemu.

Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka. Arga masuk dengan kemeja putih polos dan celana bahan hitam. Penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan kesan rapi dan berwibawa. Begitu melihat Nadira, ia tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri.

"Maaf, nunggu lama?"

Nadira menggeleng sambil membalas senyumnya. "Aku juga baru datang."

Arga menarik kursi di hadapannya dan duduk. Tidak seperti pertemuan mereka sehari sebelumnya, kali ini wajahnya terlihat jauh lebih serius. Jemarinya bahkan beberapa kali mengetuk pelan permukaan meja, seolah sedang memikirkan bagaimana memulai pembicaraan.

Melihat kegugupan itu, Nadira justru tersenyum kecil.

"Kalau soal kemarin ..." katanya lebih dulu. "Kamu nggak usah merasa nggak enak."

Arga mengangkat wajahnya. "Maksudnya?"

"Soal ucapanmu." Nadira tertawa pelan, berusaha mencairkan suasana. "Aku anggap itu cuma keceplosan. Jadi kamu nggak perlu minta maaf."

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Bukannya lega, Arga justru memandang Nadira dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku nggak datang untuk minta maaf."

Senyum di wajah Nadira perlahan memudar. "Bukan?"

Arga menggeleng pelan. "Aku datang karena ingin melanjutkan pembicaraan itu."

Jantung Nadira berdetak sedikit lebih cepat. Sebelum sempat bertanya, Arga membuka tas kerja yang dibawanya. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah map cokelat yang terlihat cukup tebal. Map itu diletakkan perlahan di atas meja, tepat di depan Nadira.

"Apa ini?" tanya Nadira pelan.

"Buka saja."

Dengan dahi berkerut, Nadira membuka map tersebut. Di halaman pertama terpampang sebuah judul yang dicetak tebal.

PERJANJIAN PERNIKAHAN

Tangannya spontan berhenti bergerak. Nadira membaca judul itu sekali lagi, memastikan matanya tidak salah melihat.

Perlahan, ia mengangkat kepala. "Kamu … serius?"

"Iya." Jawaban Arga terdengar mantap.

Suasana yang semula terasa hangat mendadak menjadi begitu sunyi. Nadira menatap laki-laki di hadapannya beberapa saat, berharap menemukan tanda-tanda bahwa semua ini hanyalah candaan. Namun tidak. Tatapan Arga tetap tenang.

"Tunggu..." Nadira menggeleng pelan. "Aku nggak paham."

Arga menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. Untuk pertama kalinya, ia membuka sesuatu yang selama ini hanya diketahui keluarga dan orang kepercayaannya. Ia menceritakan tentang wasiat sang kakek, syarat pernikahan yang harus dipenuhi dalam waktu tiga puluh hari, hingga ancaman kehilangan hak untuk memimpin perusahaan apabila gagal memenuhi syarat tersebut.

Nadira mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Semakin lama penjelasan itu berlangsung, semakin sulit ia percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.

"Jadi..." ucapnya lirih. "Kamu ingin menikah  hanya karena wasiat?"

Arga tidak langsung menjawab. "Awalnya, iya."

Jawaban jujur itu justru membuat dada Nadira sedikit sesak.

"Tapi setelah bertemu lagi denganmu," lanjut Arga pelan, "aku sadar aku nggak bisa asal memilih orang."

Tatapannya bertemu dengan mata Nadira. "Aku memilihmu karena aku percaya sama kamu."

Kalimat sederhana itu membuat Nadira terdiam.

"Aku tahu ini terdengar egois," kata Arga. "Dan aku juga sadar kita sudah lama nggak bertemu. Tapi selama dua hari terakhir, aku melihat kamu tetap menjadi orang yang sama seperti yang kuingat dulu. Kamu jujur, bertanggung jawab, dan selalu berusaha membalas kebaikan orang lain. Aku rasa ... aku bisa mempercayakan hal sebesar ini kepadamu."

Arga mendorong map itu sedikit lebih dekat ke aeah Nadira.  "Ini kontraknya. Kamu boleh baca semuanya. Kalau ada poin yang nggak kamu setujui, kita bisa bicarakan."

Nadira menunduk melihat tumpukan kertas di depannya.

Pernikahan.

Kontrak.

Kompensasi.

Semua kata itu terasa begitu asing ketika disatukan dalam satu kalimat. Ia mengembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Arga.

Nadira menggeleng pelan sambil terkekeh tak percaya. “Pernikahan bukan hal yang bisa dijadikan  permainan, apalagi seenaknya membuat dan memutus sebuah ikatan suci hanya dari perjanjian remeh.” Dia berbicara ketus. “Kamu gila, Ga.”

Sudut bibir Arga akhirnya terangkat. "Mungkin."

Nadira menyandarkan tubuhnya ke kursi, masih berusaha mencerna semuanya. "Apa sepenting itu pernikahan ini untuk kamu?"

Arga mengangguk. "Tentu."

"Aku nggak bisa jawab sekarang."

"Aku memang nggak minta kamu menjawab sekarang." Arga berdiri sambil merapikan jas tipis yang disampirkan di lengannya. "Bawa saja kontraknya. Baca pelan-pelan."

Laki-laki itu berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan suara yang jauh lebih lembut. "Kalau akhirnya kamu menolak, aku juga akan menghargai keputusanmu,” ucapnya lalu meninggalkan coffee shop lebih dulu.

Sementara Nadira masih terduduk memandangi map cokelat di hadapannya. Tangannya perlahan menyentuh sampul dokumen itu. Ia datang dengan keyakinan bahwa Arga hanya ingin meminta maaf.

Nyatanya laki-laki itu benar-benar datang untuk memintanya menjadi seorang istri. Meski hanya melalui sebuah kontrak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!