NovelToon NovelToon
Ibuku Sayang Istriku Malang

Ibuku Sayang Istriku Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyesalan Suami / Hantu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.

“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.

Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”

“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.

Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.

Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.

Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

...🌼🌼🌼🌼...

“Dengar ibu baik baik Dayat! Kamu lanjutin nikah sama dia, kualat kamu sama ibu! Cuma tenaga kamu doang nanti yang di peras sama keluarganya Yati! Kalo bukan sama ibu, mau percaya sama siapa kamu hah? Durhaka kamu Dayat ngebantah ibu!” jerit Sari penuh emosi.

Nafas Dayat memburu kesal, dengan emosi yang meluap luap, “Cuma ibu satu satunya wanita di dunia ini, yang paling bersemangat menghancurkan masa depan putra kandung nya sendiri.”

Sari mengerdik kan dagunya, menatap Dayat penuh tanya, “Masa depan yang seperti apa yang sudah ibu hancurkan dari putra kandung ibu, Dayat?”

“Masa depan ku dengan Yati! Rumah tangga kami yang bah kan belum aku mulai bu! Ibu hancurkan begitu saja! Di mana hati ibu? Uang lamaran dan cincin yang sudah di berikan, sudah ibu minta kembali. Modal dari mana buat Dayat menikahi Yati? Jual rumah? Atau jual ibu?” cerocos Dayat tanpa saringan.

“Anak kurang ajar!” seru Danang, lalu menampar pipi Dayat cukup keras. Hingga sudut bibir Dayat berdarah.

Plak.

Tidak sampai di situ.

Bugh bugh bugh.

“Uuggghhhh!” Dayat mengerang sampai membungkuk ke depan. Memegangi perutnya yang di hadiahi 3 kepalan tangan Danang cukup keras.

‘Bagus Danang! Lagi, pukul adik mu kalo perlu sampai sekarat! Dia pantas mendapatkan nya! Anak kurang ajar sangat pantas di jadikan tumbaL!’ umpat batin Sari.

“Kenapa bang Danang memukul ku? Abang masih buta! Masih belum bisa menilai siapa yang salah di sini hah!” sungut Dayat dengan nafas memburu.

Danang mendengus kesal, masih dengan sisi amarah di dadanya, “Kamu lancang! Kamu pantas abang pukul! Biar otak mu gak lagi bergeser miring! Biar otak mu lempeng kembali ke jalur yang lempeng, Dayat!”

Dengan langkah gontai, Dayat menghampiri Danang, membiarkan darah terus keluar dari sudut bibirnya yang berdar4h.

“Aku tidak akan selancang ini, kalo ibu gak mulai bang!” serunya Dayat penuh penekanan.

Dayat mencengkram bahu Danang dengan kuat, netranya penuh dendam pada sang kaka,

‘Kelak, bang Danang bakal tau. Seperti apa jahatnya ibu yang selama ini ia sayang! Bang Danang bakal ngerasain, seribu lebih sakit dari yang aku rasain ini!’ jerit batin Dayat, dengan sorot mata penuh dendam pada Danang.

Danang menepis tangan Dayat dari bahunya, dengan suara yang lebih rendah, “Tapi kamu gak pantas ngomong gitu ke ibu, Dayat!”

Sari memegangi dadanya yang terasa sesak, air mata kekecewaan jelas di wajah paruh bayanya. Saat melihat api amarah masih membara di wajah Dayat untuknya.

“Ibu gak nyangka, kamu bakal ngomong gitu sama ibu. Kamu keterlaluan Dayat! Durhaka kamu jadi anak! Kesalahan ibu yang mana di masa lalu, sampai ibu bisa melahirkan dan membesarkan anak kurang ajar seperti kamu!” seru Sari dramatis, air mata kepalsuan dengan deras membanjiri pipinya.

‘Kehilangan satu putra tak berguna, untuk mendapatkan kekayaan. Bagi ku gak masalah. Sebagai ganti biaya hidup yang sudah aku keluarkan selama ini untuk Dayat.’ pikir Sari dengan memasang tampang seorang ibu yang hatinya hancur.

Dayat terkekeh bak orang hilang akal, “Kalo aku bisa milih, aku lebih memilih tidak di lahirkan. Dari pada terlahir dari rahim wanita seperti ibu yang gak punya perasaan. Ibu yang tega mengorbankan kebahagiaan putra kandungnya demi alasan yang gak masuk akal!”

“DAYAAAAAT!!!!” Danang berseru penuh emosi.

Emosi yang belum sepenuhnya hilang, kembali di pancing dengan perkataan Dayat. Membuat Danang, tanpa ragu mendorong Dayat. Hingga pemuda itu jatuh terjengkang di lantai cukup keras, usai punggungnya menabrak meja makan.

“Uuggghhhh!” Dayat mengerang kesakitan. Ia berusaha duduk dari posisi jatuhnya, namun gagal. Membuatnya hanya bisa mengerang dalam kesakitan. Tulang punggungnya seakan runtuh.

“Berhenti menyakiti ibu dengan perkataan gak tau diri mu itu! Jangan jadi anak gak tau tata krama Dayat! Dia itu ibu mu! Ibu ku, ibu dari adik adik kita! Tolong jangan kurangi rasa hormat mu padanya!” seru Danang dengan lantang. Bak jagoan, ia berdiri di samping tubuh Dayat yang tergeletak di lantai.

Sari berseringai dengan tatapan puas, ‘Putra sulung ku memang yang paling bisa di bangga kan!’

Dayat mengerdik kan dagunya, dengan suara lemah, “Ibu yang seperti apa yang harus aku hormati, bang?”

Brugh brugh brugh.

Suara gedoran pintu terdengar nyaring dari luar rumah.

“Nang, buka pintunya! Ini kenapa pintu kamu kunci segala sih!” suara teriakan Risan terdengar sampai di meja makan, tempat di mana Sari, Dayat dan Danang berada saat ini.

Netra Danang, Sari dan Dayat seketika tertuju pada pintu utama. Jelas mereka mengenali suara yang tengah berteriak itu.

‘Itu kan suara bapak? Jadi bapak dari tadi gak ada di rumah?’ pikir Danang dengan kening mengkerut dalam.

“Ibu masih anggap kamu anak! Ayo bangun!” dusta Sari, menarik lengan Dayat. Berusaha membantunya bangkit.

“Ibu bohong! Ibu ingin terkesan baik di mata bapak kan?” tebak Dayat.

Dengan wajah kelewat panik, Danang ikut bantu memapah Dayat, “A- ku bantu ibu bawa Dayat ke kamar!”

“Ibu dan anak sama aja! Kalian emang cocok! Jahat!” desis Dayat, membiarkan ibu dan kaka laki lakinya memapahnya ke kamar.

“Aku masih abang mu, Dayat!” sangkal Danang.

Sari melirik Dayat dengan ekor matanya, ‘Buat sementara kamu bisa bernafas lega Dayat! Tapi tidak dengan nanti malam! Habis kamu!’

“Urusan kita belum selesai, bang! Aya gak terima dengan perlakuan abang! Aya bukan samsak tinju yang bisa seenaknya abang pukulin!” gerutu Dayat dengan suara lemah.

Danang mendengus kesal, “Kalo lu tau batasan, kaga bakal abang pukulin lu! Abang punya kewajiban buat ngajarin lu! Biar lu lebih nurut, patuh, berbakti sama ibu! Gak boleh itu ngebangkang! Lu punya otak, gunain otak lu!”

Dayat menggeleng, “Gak ada batasan di rumah ini bang! Terlepas salah dan benar! Ibu selalu benar di mata bang Danang!”

“Karena perkataan ibu benar! Gak ada ibu yang mau ngeliat anaknya hancur, Dayat!” sangkal Danang.

“Dengar apa kata abang lu, Dayat!” timpal Sari.

Dayat mendengus kesal, “Persetan dengan itu semua!”

Suara gedoran pintu dari luar kembali terdengar. Sayangnya Sari dan Danang gak mendengarnya.

Brugh brugh brugh.

“Bang! Bu5et dah! Lagi ngapain sih lu! Buka pintunya kenapa!” suara Ratih dengan lantang.

Brugh.

Wajah dan tubuh Dayat kini terbenam di atas kasur, dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Saat Danang dan Sari dengan tega melempar tubuhnya ke tempat tidur. Bukan dengan hati hati, tapi bak barang yang pantas di lepar.

“Ugghhh!” suara erangan teredam dari mulut Dayat lolos tanpa permisi.

“Istirahat lu! Gua gak bakal minta maaf. Bukan kesalahan gua! Tapi salah lu!” maki Danang sebelum berlalu dari kamar Dayat.

Dari ujung tempat tidur, Sari menyilangkan kedua tangan di depan dada, “Ibu gak akan biarin kamu mati dengan mudah, Dayat!”

Dayat mencengkram sprei dari tempat tidurnya, dengan suara teredam, “Dayat bakal bikin perhitungan, kalau sampai ibu gak juga balikin cincin dan uang lamaran ke keluarga Yati!”

“Bukan urusan ibu! Kamu pikir, kamu masih punya waktu sampai matahari terbit? Kewarasan mu yang akan jadi taruhannya, Dayat!” sarkas Sari, sebelum meninggalkan Dayat seorang dir di kamar.

Sementara di depan pintu utama.

Kreeek.

“Pintu kenapa kamu kunci? Bikin susah orang masuk rumah aja!” cerocos Risan dengan menahan emosi.

Ratih menerobos Danang yang berdiri menghalangi di depan pintu, “Tau nih, gak biasanya! Abang sakit?”

“Bantu bapak bawa ini, Nang!” titah Risan, melihat Danang hendak masuk ke dalam rumah.

“Bapak sama Ratih abis dari mana? Kalian beli apa sebanyak ini? protes Danang, membawa kan 2 kantong kresek belanjaan Risan yang di letak kan bersandar di dinding dekat pintu. Sementara langit kala itu sudah gelap.

Belum sempat Risan menjawab pertanyaan Danang, suara teriakan Ratih memecah keheningan malam di kediaman Sari.

“Bapak …”

“Baaang! Ini kenapa rumah jadi kapal pecah gini ya? Kita gak habis kerampokan kan, bang?” seru Ratih setengah berteriak, berdiri depan ruang makan yang kacau.

Bersambung …

1
lina
siapa kata mak muda 🤭🤭
lina
eeeh dia ngelawak
lina
salam model modern ini nama nya
lina
kn msih muda juga. blm nikh 🤭
lina
ciiyeee yg g mau terpisahkan 🤣🤣
lina
tau tata krama bertamu itu namanya
lina
kaga bner emng nih org. pantes dah s ropih ora setuju anggi ama danang. omongan nya g d saring
lina
y salam. aib keluarga itu oy
lina
apa bae
lina
u juga bisa jadi calon pelaku ti dak kejahatan danang.
lina
bohong tu pih. alesan bae karung butek mah
lina
nh pelakunya
lina
minta d tinju nih mulut
lina
itu s ratihnya aja yg pilih2 tmn
lina
tuh denger danang. mang u.
lina
🤣 dasar pea siapa bae d kata
lina
semangt berkarya untuk q sendiri
lina
u aja jauh dr kata baik dananag. pake ngoreksi org lagi u
lina
buseeeh minta d potong lidahnya. biar ora ngomong nyelekit
lina
seengganya kan bisa ttp krj bagen udah nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!