Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
Aula Besar Istana Valerian malam itu diterangi oleh ratusan lilin lebah yang tergantung di lampu-lampu gantung kristal raksasa. Musik simfoni lembut berdenting dari sudut galeri atas, berpadu dengan gemerincing piala perak dan gelak tawa para bangsawan yang mengenakan gaun sutra serta pakaian kebesaran yang mewah.
Perjamuan Musim Gugur adalah tradisi tahunan yang mengumpulkan seluruh adipati, baron, dan menteri dewan dari seluruh penjuru Kerajaan Aveloria. Namun malam ini, atmosfir di dalam aula terasa jauh lebih tegang di bawah lapisan kemewahannya.
Alena berdiri di sudut galeri samping, sedikit terpisah dari kerumunan utama.
Sesuai aturan protokoler, sebagai selir kerajaan yang baru diangkat, ia diwajibkan hadir dalam acara resmi tersebut. Alena mengenakan gaun sutra tebal berwarna hijau zamrud dengan kerah tinggi berenda perak—pakaian formal yang disediakan oleh pengurus istana. Walau penampilannya anggun dan menawan, pandangan matanya yang berwarna hijau hazel tetap waspada, meneliti setiap sosok yang melintas.
Di sisinya, Mira berdiri kaku dalam pakaian pelayan istana, matanya tak berhenti memperhatikan sekeliling. "Alena, hampir semua mata bangsawan di ruangan ini memperhatikanmu," bisik Mira pelan tanpa mengubah posisi berdirinya.
"Biarkan saja, Mira," sahut Alena tenang, meski Jemarinya meremas kipas kayu cendana di tangannya. "Selama kita tidak memancing perhatian lebih lanjut, mereka hanya akan menganggap kita sebagai bahan gosip sementara."
Namun harapan Alena untuk tetap tak terlihat sirna saat rombongan utama memasuki Aula Besar.
Bentara istana menyerukan nama-nama paling berpengaruh di Aveloria. Pangeran Adrian melangkah masuk di dampingi oleh Putri Mahkota, Lady Seraphina Ardent, serta sang ayah, Duke Darius Ardent.
Seraphina tampak luar biasa memesona. Ia mengenakan gaun sutra berwarna perak kebiruan yang menjuntai indah, dihiasi sulaman benang emas dan batu permata berlian di sepanjang garis lehernya. Senyumnya anggun, memancarkan pesona seorang calon Ratu yang berkuasa dan percaya diri. Tangan Seraphina melingkar dengan erat di lengan kanan Adrian, menunjukkan klaim kepemilikannya di hadapan seluruh hadirin.
Adrian sendiri mengenakan pakaian kebesaran militer berwarna hitam dengan tanda pangkat perak dan jubah beludru merah tua. Wajahnya tetap dingin, tenang, dan tidak menunjukkan ekspresi khusus saat ia membimbing Seraphina menyusuri karpet merah.
Namun, saat rombongan itu melintas di dekat tempat Alena berdiri, sudut mata abu-abu Adrian secara tidak sengaja bergulir.
Pandangan Adrian mengunci sosok Alena. Untuk beberapa detik, langkah sang pangeran sedikit melambat. Tatapannya meneliti Alena yang dibalut gaun hijau zamrud—warna yang selalu menjadi favoritnya dulu di Taman Mawar. Kilatan emosi yang dalam dan hangat berkelebat sekilas di mata Adrian sebelum pria itu memaksakan dirinya kembali menatap lurus ke depan.
Perubahan kecil pada langkah dan arah pandang Adrian itu tidak terlepas dari pengamatan dua orang.
Lady Seraphina pengetatan genggamannya pada lengan Adrian, matanya menyipit tipis saat melirik ke arah Alena dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan. Sementara di belakang mereka, Duke Darius Ardent—pria paruh baya berambut perak dengan raut wajah kaku dan berbahaya—memperhatikan interaksi tak kasat mata itu dengan kening berkerut dalam.
"Tampaknya Putra Mahkota masih memiliki perhatian pada masa lalunya, Seraphina," bisik Duke Darius pelan saat mereka berhenti di dekat meja utama dewan.
Seraphina menyunggingkan senyum elegan, menyapa seorang countess yang melintas, sebelum berbisik kembali pada ayahnya tanpa mengubah raut cantiknya. "Masa lalu hanyalah kerikil kecil, Ayah. Pria seperti Adrian tidak akan mempertaruhkan mahkotanya demi seorang wanita tanpa pengaruh."
"Namun wanita itu membawa seorang anak laki-laki ke Paviliun Barat," ingatkan Darius dingin. "Seorang anak yang usianya terlalu bertepatan dengan waktu kepergiannya tujuh tahun lalu."
"Aku sudah meminta orang-orang kita memeriksa dokumen kelahirannya di Bellmare," sahut Seraphina tenang. "Tetapi jika anak itu mulai menjadi ancaman... kita tahu apa yang harus dilakukan."
Sementara itu, perjamuan berlanjut dengan berbagai denting piala dan pertukaran diplomasi. Alena berusaha tetap berada di balik bayangan pilar stone, namun takdir istana tidak membiarkannya tenang.
Lord Vincent—seorang anggota dewan kerajaan berusia empat puluh tahun yang terkenal licik dan sering beraliansi dengan faksi-faksi penentang Putra Mahkota—melangkah mendekati tempat Alena berdiri, memegang piala anggur emasnya.
"Lady Alena Virelle," panggil Lord Vincent dengan suara yang sengaja dibesarkan sedikit agar terdengar oleh para bangsawan di sekitarnya. "Sungguh sebuah kehormatan melihat kembali putri keluarga Virelle di Istana Valerian setelah tujuh tahun menghilang."
Beberapa bangsawan di dekat mereka menghentikan percakapan, memalingkan kepala untuk menyimak. Alena membungkuk kaku. "Lord Vincent. Anda terlalu berlebihan."
"Oh, sama sekali tidak," ujar Vincent seraya tersenyum culas. "Kehadiran Anda sebagai selir baru adalah kejutan besar bagi dewan. Namun, ada satu hal yang memicu rasa penasaran kami para bangsawan..."
Vincent melangkah satu garis lebih dekat, matanya berkilat penuh niat tersembunyi.
"Kami mendengar Anda kembali ke Aveloria tidak sendirian, melainkan membawa seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Anak yang sangat tampan, konon katanya."
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Gelak tawa para lady di meja sebelah meredup. Perhatian mulai terpusat pada sudut galeri tersebut.
Alena merasakan dadanya dingin seketika. "Anak saya, Elian, adalah masalah pribadi saya, Lord Vincent. Saya tidak rasa hal itu relevan untuk dibicarakan dalam jamuan resmi kerajaan."
"Tentu saja relevan, Lady Alena!" potong Vincent dengan tawa pelan yang provokatif. "Setiap jiwa yang tinggal di dalam tembok Istana Valerian memiliki dampak pada keamanan tradisi. Apalagi seorang anak laki-laki yang dibesarkan tanpa catatan keluarga yang jelas..."
Vincent menaikkan volumenya sedikit lagi, memancing perhatian para dewan senior yang berada di dekat meja Raja.
"Rakyat di luar sana bertanya-tanya, Nona Alena... siapakah sebenarnya ayah dari anak laki-laki yang Anda bawa ke paviliun kerajaan ini?"
Pertanyaan itu terlempar bagai belati beracun di tengah ruangan yang megah. Alena membeku, napasnya terhenti di tenggorokan saat puluhan pasang mata bangsawan kini tertuju padanya, menantikan kehancuran atau kebohongan dari bibirnya.