Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — DEMAM
Cuaca ekstrem yang melanda kota dalam seminggu terakhir—perubahan drastis dari panas terik di siang hari menjadi hujan lebat di sore hari—akhirnya memakan korban. Ditambah lagi dengan rasa lelah emosional dan fisik pasca Garuda Bangsa Art Festival, pertahanan tubuh Naya resmi tumbang.
Rabu pagi, Naya terbangun dengan kepala yang terasa seberat bongkahan batu dan tenggorokan yang teramat kering. Tubuhnya menggigil halus di bawah selimut tebal, padahal udara kamar tidak terlalu dingin.
"Aduh... pusing banget..." keluh Naya serak, mencoba mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
Arka yang baru selesai mengikat tali sepatunya di depan cermin berbalik. Manik mata hitamnya menangkap wajah Naya yang pucat pasi, bibir bawahnya yang agak kering, dan binar matanya yang sayu berair.
Arka melangkah mendekat tanpa suara. Tanpa meminta izin, laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya dan menempelkan punggung tangannya di dahi Naya.
Sensasi dingin dari telapak tangan Arka membuat Naya refleks memejamkan mata.
"Badan kamu panas sekali, Naya," kata Arka dengan kerutan dahi yang sangat dalam. "Hari ini kamu tidak usah sekolah. Istirahat di rumah."
"N—nggak mau!" elak Naya gelagapan dengan suara parau. Ia berusaha berdiri, walau kakinya sedikit bergoyang kaku. "Hari ini ada ulangan harian Sosiologi sama praktik Seni Budaya. Kalau gue susulan, gurunya galak banget. Gue bisa ikut masuk sekolah kok!"
"Naya, suhu badan kamu ini minimal tiga puluh delapan derajat," tegur Arka tegas, menahan bahu Naya agar tidak melangkah. "Jangan keras kepala."
"Gue kuat, Arka! Cuma pusing dikit doang!" paksanya sambil menarik tas sekolahnya dari atas meja.
Arka menatap Naya dengan hembusan napas panjang yang amat pasrah. Tahu betul betapa keras kepalanya gadis di hadapannya ini, Arka memilih mengalah sementara. "Baik. Tapi kalau di sekolah kamu merasa tidak kuat, kamu harus nurut kata saya."
Keputusan Naya untuk memaksakan diri ternyata menjadi keputusan paling buruk yang ia ambil hari itu.
Saat jam pelajaran ketiga dimulai di kelas 12 IPS 2, kondisi Naya kian merosot tajam. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan setiap kali guru menjelaskan di depan kelas, suara itu terdengar bagaikan berasal dari dalam sumur tua yang jauh.
Saskia yang duduk di sebelahnya menyenggol lengan Naya dengan raut cemas luar biasa. "Nay! Muka lo pucat banget kayak kertas HVS! Bibir lo sampai putih gitu. Lo sakit ya?"
"G—gue... nggak apa-apa, Sas..." bisik Naya lemah, menyandarkan kepalanya yang berat di atas telapak tangan.
Tiba-tiba, pintu kelas 12 IPS 2 diketuk pelan dari luar.
Pak Danu—guru Sosiologi yang sedang mengajar—menghentikan penjelasannya dan membuka pintu. Di balik pintu, Arka berdiri tegap mengenakan kemeja seragam yang rapi dan papan jalan kayu di tangannya.
"Selamat pagi, Pak Danu. Maaf mengganggu jam pelajaran Bapak," ujar Arka dengan nada suara yang teratur dan formal. "Saya membawa surat izin dari piket kedisiplinan dan UKS untuk menjemput siswi bernama Naya Aurelia. Kondisi fisiknya perlu penanganan di ruang kesehatan."
Pak Danu menoleh ke arah barisan meja Naya, mengangguk paham. "Oh, iya, Arka. Tadi Naya memang kelihatan lelah sekali. Naya, kamu ikut Arka ke UKS sekarang ya."
Seluruh siswa di kelas menoleh ke arah Naya. Saskia dengan sigap membantu Naya berdiri dari kursinya.
"Gue... gue bisa sendiri..." gumam Naya pelan saat melangkah keluar kelas dengan bahu yang lunglai.
Begitu pintu kelas tertutup dan mereka berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sepi, Naya menghentikan langkahnya. Ia menyandarkan punggungnya di dinding semen koridor, menatap Arka dengan mata berair gara-gara menahan pusing yang makin hebat.
"Arka... lo ngapain sih sampai izin ke guru segala?" protes Naya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Nanti anak-anak kelas pada curiga kenapa Ketua OSIS sibuk banget ngurusin gue yang cuma pusing dikit!"
Arka tidak membalas omelan itu dengan alibi hukum atau pasal sekolah. Laki-laki itu melangkah mengikis jarak, memegang pergelangan tangan Naya dengan genggaman yang hangat dan kokoh untuk menopang tubuh cewek itu yang bergoyang.
"Jalan ke UKS sekarang, Naya. Jangan banyak bicara," kata Arka datar, namun nada suaranya memancarkan rasa khawatir yang teramat pekat.
"Gue bisa sendiri..." bisik Naya kaku.
"Aku tahu," sahut Arka cepat. Laki-laki itu kembali menggunakan kata 'Aku'—sebuah pertanda bahwa di dalam dirinya, rasa khawatir seorang suami telah sepenuhnya mengalahkan peran seorang Ketua OSIS.
Naya menengadah lemah, menatap mata hitam Arka yang teduh. "Lalu kenapa kamu ikut?"
Arka menatap Naya lurus-lurus. Jemari tangannya yang kokoh berpindah menggenggam jemari Naya yang dingin, menyelipkannya dengan lembut.
"Karena aku mau," jawab Arka singkat, lugas, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Karena aku mau.
Jawaban dua kata dari Arka itu memukul dada Naya dengan kehangatan yang luar biasa dahsyat. Naya bungkam total. Rasa dingin yang menggigit tubuhnya perlahan meleleh, digantikan oleh debar jantung yang tak lagi bisa ia lawan.
Ruang UKS sekolah sangat tenang dan beraroma kayu manis bercampur minyak kayu putih. Hanya ada kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.
Naya berbaring di atas tempat tidur berseprai putih, terselimuti hingga sebatas dada. Petugas UKS yang merupakan siswi kelas 11 sudah memberikan obat penurun panas dan kompres air hangat di dahi Naya sebelum akhirnya pamit kembali ke kelas atas perintah halus Arka.
Di samping tempat tidur, Arka duduk di kursi kayu. Laki-laki itu melepaskan jas OSIS-nya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Kemeja putihnya tergulung hingga siku, memperlihatkan lengan tangannya yang tegap.
Arka meraih mangkuk air kompresan, memeras handuk kecil berwarna putih itu, lalu mengganti kompresan di dahi Naya dengan gerakan yang teramat pelan, lembut, dan berhati-hati.
Naya membuka matanya sedikit, menatap Arka yang duduk bertopang dagu di sebelahnya.
"Arka..." bisik Naya lemah. "Lo nggak kembali ke kelas? Nanti dicariin Pak Danu atau Melisa lho."
Arka tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Naya. Tangannya terulur, mengusap pelan helai rambut depan Naya yang basah oleh keringat dingin dari dahinya.
"Urusan OSIS sudah diselesaikan Dito," kata Arka pelan, suaranya sangat serak dan menghangatkan keheningan ruang UKS. "Tugas saya sekarang cuma menjaga kamu di sini."
Naya menyunggingkan senyum tipis yang amat lemah. "Bawel..."
"Tidurlah," bisik Arka, ibu jarinya bergerak lembut mengusap pipi Naya yang hangat. "Aku di sini sampai kamu merasa lebih baik."
Naya memejamkan matanya perlahan. Rasa pusing yang menghantam kepalanya perlahan sirnah, tergantikan oleh rasa aman dan nyaman yang teramat dalam di bawah usapan lembut jemari Arka.
Di dalam ruangan kesehatan yang sepi itu, Arka tetap setia duduk mendampinginya jam demi jam—membuktikan bahwa di balik seragam kaku sang Ketua OSIS, ada sosok suami yang rela menyisihkan seluruh dunianya demi memastikan gadis yang dicintainya tetap aman dalam dekapannya.