NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Selamat Tinggal, Cibungur

Pagi keenam Karina di dunia ini dimulai dengan melipat pakaian yang jumlahnya bahkan tidak memenuhi satu tas.

Ia kembali ke rumah tanah bersama Nathan dan Lucas setelah matahari terbit. Pagar yang rusak masih miring. Sapu tua tergeletak di halaman, ijuknya patah dan gagangnya penuh bekas benturan.

Karina mengangkatnya, membersihkan tanah yang menempel, lalu menyandarkannya di sisi pintu.

Sapu itu tidak akan dibawa ke Jakarta. Namun ia juga tidak lagi terlihat seperti benda yang harus ditakuti.

"Baju Lucas taruh sini," katanya.

Nathan memasukkan dua helai pakaian adiknya yang penuh tambalan. Karina menambahkan bajunya sendiri, beberapa surat dan buku tabungan yang sudah dibungkus kain, gelang emas, serta bungkusan kecil berisi sisa permen.

"Permennya tinggal berapa?" Lucas mencoba mengintip.

"Tiga," jawab Nathan lebih cepat.

"Kakak hitung terus."

"Biar nggak hilang."

Karina tersenyum dan menutup bungkusan itu. Ketika ia berbalik mengambil sisir, Nathan menyelipkan sesuatu ke lipatan bajunya.

Gerakannya terlalu cepat untuk dianggap tidak mencurigakan.

"Apa itu?" tanya Karina.

Nathan membeku. Perlahan ia menunjukkan sepotong perban bersih yang telah dilepas dari lukanya pagi tadi. Simpul kecil berbentuk pita masih terikat pada bagian ujung, meski sudah agak kusut.

"Sudah kotor sedikit," katanya. "Tapi boleh dibawa?"

Karina merapikan simpul itu dengan ujung jari. "Boleh. Bungkus dulu supaya tetap bersih."

Nathan mengambil kertas dan melipatnya hati-hati seperti menyimpan benda mahal. Karina tidak berkata lagi. Jika ia membuka mulut terlalu cepat, suaranya mungkin terdengar bergetar.

Di luar, para pengawal memeriksa kendaraan. Golok berkarat milik Tuti telah dicatat dan dibungkus terpisah bersama bukti kejadian kemarin, jauh dari ruang penumpang.

Saat tas terakhir dibawa ke mobil, Tuti datang dari rumah pinjaman. Perban menutupi pelipisnya. Langkahnya masih pelan, tetapi tatapannya tidak sekosong kemarin.

"Bu Karina."

Karina menoleh. "Lukamu bagaimana?"

"Masih sakit, tapi saya bisa jalan." Tuti meremas kedua tangan. "Saya mau minta sesuatu."

Ia melirik Sebastian yang berdiri dekat mobil, lalu kembali memandang Karina.

"Bawa saya ikut. Saya nggak punya tempat lain. Kalau tetap di sini, mereka bisa datang lagi setelah rombongan ini pergi." Matanya memerah. "Saya bisa bekerja. Saya bisa bersih-bersih, masak sedikit, apa saja. Saya nggak akan merepotkan."

"Kamu tidak perlu membayar pertolongan dengan bekerja untuk saya," kata Karina.

"Saya tahu. Tapi saya benar-benar nggak punya siapa-siapa."

Karina memahami ketakutan itu. Meninggalkan Tuti di desa setelah membuatnya menjadi saksi terbuka bukan pilihan aman. Namun membawa seseorang ke rumah Sebastian juga bukan keputusan yang bisa dibuatnya sendirian.

Ia memandang lelaki itu. "Bagaimana dengan pemeriksaan dan keterangannya?"

"Sudah diatur agar ditangani melalui jalur yang aman," jawab Sebastian. Tatapannya singkat beralih kepada Tuti. "Kalau dia ingin ikut, satu mobil masih cukup."

Tuti menutup mulut. Air matanya jatuh sebelum sempat diseka.

"Terima kasih." Ia membungkuk dalam-dalam kepada Karina. "Terima kasih, Bu."

Karina memegang bahunya agar ia berdiri tegak. "Ikut boleh. Tapi nanti kamu juga harus memikirkan hidupmu sendiri, bukan hanya mengikuti saya."

Tuti mengangguk berkali-kali.

Rombongan mulai bergerak menjelang pukul delapan. Warga berdiri di depan rumah masing-masing, sebagian ingin melihat mobil hitam dari dekat, sebagian hanya memastikan keluarga Karta tidak kembali.

Di dekat ujung desa, Bu Sumiati berdiri jauh di beranda. Ujang tidak terlihat. Perempuan itu tampak ragu sebelum akhirnya mengangkat suara.

"Jaga anak-anaknya baik-baik, ya!"

Karina tidak tahu apakah itu nasihat, permintaan maaf, atau cara Bu Sumiati menutup rasa bersalahnya. Ia hanya mengangguk dari dekat pintu mobil.

"Iya, Bu."

Pak Hendi sama sekali tidak muncul. Seorang warga yang membantu mengangkat tas berkata pelan bahwa sejak kemarin siang lelaki itu jarang terlihat dan beberapa kali pergi lewat jalan belakang. Tak ada yang tahu apa yang direncanakannya.

Karina menyimpan informasi itu, tetapi tidak menunda keberangkatan. Ada ancaman yang perlu dihadapi dan ada dendam kecil yang hanya ingin menyeretnya kembali. Hari ini ia memilih jalan keluar desa.

Nathan dan Lucas duduk di sampingnya di kursi belakang. Begitu mobil bergerak, keduanya menempelkan wajah ke jendela.

Mereka melihat sumur tempat Karina pertama kali mengambil air untuk memasak. Melihat jalan tempat Lucas pernah menggenggam permen pertamanya. Melihat atap rumah tanah yang bocor dan sapu tua yang kini berdiri diam di sisi pintu.

Lucas melambaikan tangan meski tidak jelas kepada siapa.

"Rumahnya makin kecil," katanya.

Nathan memegang bungkusan perban pita di pangkuan. "Karena kita pergi jauh."

"Kita balik lagi?"

Nathan tidak menjawab. Ia menoleh kepada Karina.

"Sekarang kita ke tempat yang lebih aman," kata Karina. "Yang penting kita tetap bersama."

Lucas menerima jawaban itu dan kembali melihat keluar.

Hanya enam hari telah berlalu sejak Karina terbangun di lantai rumah tersebut dalam tubuh seorang perempuan yang seharusnya berakhir tragis. Dalam waktu sesingkat itu, dua anak yang semula mengangkat sapu untuk melawannya kini duduk rapat di kedua sisinya dan membawa simpul perban sebagai harta kecil.

Cibungur miskin dan keras, tetapi aturannya mudah terlihat. Rasa lapar, pagar rapuh, fitnah di depan rumah, dan preman di jalan datang dengan wajah terbuka.

Jakarta tidak akan sesederhana itu.

Karina memandang mobil Sebastian di depan. Di balik kaca gelap itu menunggu seorang suami yang mengetahui lebih banyak daripada yang mau ia katakan, sebuah keluarga besar, dan permainan kekuasaan yang dalam novel berakhir dengan darah.

Ia meraih tangan Nathan dan Lucas.

Apa pun yang menunggu, ia tidak akan melepaskan keduanya.

Jalan tanah menanjak lalu bertemu aspal yang lebih lebar. Desa Cibungur mengecil di kaca belakang, tertutup debu, dan akhirnya hilang setelah mobil berbelok di lereng.

Di depan, sebuah papan hijau menunjukkan arah menuju jalan tol ke Jakarta.

Rombongan melaju ke arah dunia yang jauh lebih besar.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!