"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Sret... jleb... sret...
Astra mengeksekusi sisa potongan daging kelinci dengan gerakan yang jauh lebih stabil. Satu per satu bagian tubuh kelinci sudah terpisah dengan rapi, tidak ada lagi adegan daging hancur secara acak-adul.
Mendengar suara ketukan pisau yang mulai beraturan, Vito meletakkan pisau dagingnya. Pria bertubuh tegap itu melangkah menghampiri meja Astra, melipat tangan di dada sembari menatap tumpukan daging kelinci yang kini sudah rapi di atas nampan kayu.
"Kau belajar dengan cepat, Julian," ucap Vito datar, tanpa nada judes lagi.
Astra seketika menjadi salah tingkah. Biasanya di dunia nyata ia cuma menerima makian, dipuji pria sesangar Vito jelas membuatnya ingin terbang.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah... enggak juga, Kak. Ini semua berkat Kak Vito yang udah mau ajarin aku tadi."
Tepat saat itu, Yisla datang menghampiri mereka sembari membawa semangkuk besar sup daging hangat. Begitu melihat hasil kerja Astra, mata gadis itu langsung berbinar cerah.
"Wah, hebat banget!" puji Yisla. "Lihat ini, Kak! Potongan Julian rapi sekali, bahkan hampir sama rapinya dengan potongan Kakak!"
Astra tersenyum bangga. Namun, begitu melihat tumpukan daging kelinci dan rusa yang menggunung di dapur, pundaknya langsung merosot lesu. Pinggangnya mendadak terasa encok akibat terlalu lama membungkuk menjagal hewan.
"Sialan," Astra menggerutu sendiri. "Aku emang lolos dari sindikat perdagangan orang di desa ini, tapi kalau pagi-pagi udah disuruh kerja rodi begini... sama aja jadi budak ini mah!"
"Hah?! Kau bilang apa?!"
Suara berat Vito menggelegar, memutus gerutuan Astra. Pria itu menatap Astra dengan dahi mengkerut tajam, seolah baru saja mendengar kata-kata yang paling terlarang untuk di ucapkan oleh orang yang tidak tahu cara berterimakasih.
Astra seketika kicep, wajahnya langsung memucat. Mampus, aku keceplosan?!
"E-eh? Gak ada! Aku gak bilang apa-apa, Kak!" seru Astra buru-buru menyangkal sembari melambaikan tangannya dengan panik. Pisau di tangan kanannya bahkan sampai ikut terkibas-kibas di udara.
"Maksudku... potongan daging kelinci ini... iya, ini maksudnya udah siap semua! Gak ada yang kurang! Hehehe..."
Vito menyipitkan matanya curiga, menatap Astra lekat-lekat sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek.
"Jangan bicara yang aneh-aneh. Cepat bereskan itu, kita harus sarapan sebelum dagingnya membeku lagi."
Astra mengangguk cepat-cepat, mengusap dahinya yang mendadak banjir keringat dingin.
Mulut sialan, hampir aja aku didepak keluar dari sini!
"Sudah, letakkan pisaunya. Taruh daging itu di wadah sebelah sana, lalu kita makan," perintah Vito.
Yisla langsung menyenggol lengan Astra pelan dengan wajah semringah.
"Ayo! Supnya mumpung masih panas, keburu dingin nanti."
Mereka bertiga akhirnya duduk mengelilingi meja makan kayu yang sederhana. Suasana kali ini terasa jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara sendok kayu yang beradu dengan mangkuk.
Di tengah-tengah makan, Yisla melirik kakaknya ragu-ragu. "Kak..." panggilnya lirih.
"Apakah... kalau daging kita habis terjual, boleh aku beli pakaian baru di pasar nanti?"
Vito menghentikan suapannya sesaat. Ia menatap adiknya, lalu beralih menatap mantel wol usang Yisla yang memang sudah menipis di beberapa bagian.
Ekspresi keras di wajah Vito seketika melunak. Pria itu mengangguk pelan.
"Kakak usahakan. Kalau semua daging beku kita laku keras hari ini, Kakak belikan baju baru buat kamu."
Mata Yisla seketika berbinar-binar penuh harap. "Benarkah? Terima kasih banyak, Kak!"
Astra yang mendengar permintaan Yisla tertegun di seberang mereka, sendoknya kini tertahan di depan mulutnya.
Menyaksikan interaksi hangat antara kakak-beradik yatim piatu itu membuat sudut hatinya berdenyut nyeri. Yisla sudah terlalu baik padanya.
Aku pengen banget bisa beliin Yisla baju baru sebagai tanda terima kasih... batin Astra, menunduk lesu menatap mangkuknya sendiri.
Tapi... apalah daya... Pemilik tubuh ini saja seorang budak gimana mau beli baju coba!
Wush.
Suhu ruangan mendadak drop lagi. Namun, seperti biasa Yisla dan Vito tak menyadari kehadiran dua entitas itu.
"Kalau kamu bisa belikan pakaian itu, kemungkinan besar Yisla akan jatuh cinta padamu, Author," bisik Anima tiba-tiba. Wajah cantiknya sudah berada tepat di samping telinga Astra, sembari mengembuskan napas yang membuat bulu kuduk Astra berdiri merinding.
Animus muncul di sisi lain, melipat tangan dengan wajah sedatar biasanya.
"Dan genre cerita ini otomatis akan bertambah menjadi romance. Tapi semua itu tergantung pada keputusanmu sendiri. Ingin Yisla kau jadikan apa? Pasangan di masa depan, sekedar teman, atau saudara perempuan? Terserah, kau yang memegang kendali atas narasi ini."
"Benar sekali," timpal Anima, matanya berbinar. "Kalau kau memilih Yisla sebagai pasangan, genre romance akan langsung terkunci ke dalam plot ini secara permanen."
Astra bergidik ngeri, meremas sendok kayunya kuat-kuat. Mampus! Sekarang penambahan genre!
Jujur saja, di dunia nyata, kelemahan utama Astra saat menulis novel adalah genre romantis! Dia selalu payah merangkai kata-kata manis atau adegan yang bikin baper, dan sekarang dia malah disuruh mempraktikkannya langsung dengan female lead di depannya? Yang benar saja!
"Tapi, aku sangat menyarankanmu untuk menambahkan unsur romance di cerita ini," cetus Animus tiba-tiba, menepuk gulungan kertasnya.
"Cerita tanpa bumbu romansa biasanya kurang memikat pembaca—atau dalam kasusmu ini, kurang memicu takdir yang menarik."
"Aku setuju! Sedikit romansa gak akan membunuhmu, Sayangku~" dukung Anima gemas.
Astra mengembuskan napas pasrah dalam hati. Sementara duo Hemisphere itu perlahan memudar.
Astra termenung, menimbang-nimbang pilihan di otaknya yang mendadak pening. Perlahan, ia mendongak dan menatap wajah Yisla yang sedang tersenyum riang di depan kakaknya.
Astra menelan ludah. Jika diperhatikan baik-baik dari dekat... Yisla ini jujur saja cantik banget. Tipe gadis desa yang polos, manis, dan punya aura hangat yang menenangkan.
Sial... apa aku coba aja ya masuk ke genre romance? batin Astra mulai goyah, menatap Yisla lekat-lekat dengan jantung yang mendadak berdegup agak aneh.
...***...
Tak!
"Aduh!" Astra tersentak begitu sebuah sendok kayu mendarat tepat di puncak kepalanya, membuyarkan segala fantasi plot romansa yang baru saja terbentuk di otaknya.
Astra mengerjap panik. Ia baru sadar posisinya masih mematung dengan sendok tertahan di udara, sementara matanya sedari tadi menatap lekat ke arah wajah Yisla tanpa berkedip.
"Hei, Julian! Kamu mikirin apa, sih? Melamunnya sampai segitunya," tanya Yisla heran, menarik kembali sendok kayunya sambil menahan senyum geli.
Sementara itu di ujung meja, Vito ikut menatap Astra dengan satu alis terangkat. Tatapannya seolah-olah siap menguliti pemuda yang baru saja kedapatan memandangi adiknya tanpa berkedip itu.
Wajah Astra seketika terasa panas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat—bukan karena baper, tapi karena takut dibacok pakai kapak oleh Vito! Ia buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"E-eh?! Enggak! Gak mikirin apa-apa kok!" seru Astra panik, suaranya naik satu oktav karena salah tingkah.
Ia buru-buru menyendok sisa sup di mangkuknya dengan brutal. "Ini... supnya enak banget! Iya, aku cuma terlalu kagum sama rasa supnya sampai melamun. Hehe..."
Yisla terkekeh geli melihat kepanikan Julian yang tampak kentara. "Kalau enak, ya dihabiskan, Julian. Jangan cuma ditatap."
Astra meringis kaku, merutuki otaknya yang gampang goyah oleh hasutan duo Hemisphere tadi.
Sialan, baru juga mau coba mikirin genre romance, malah udah dicap aneh duluan!
Setelah mereka selesai makan, Yisla bangkit dan mulai menyusun piring serta mangkuk kotor di atas meja.
"Kak, aku beresin ini dulu, ya. Nanti aku nyusul Kakak ke depan," ujar Yisla pada kakaknya.
Vito hanya mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursinya untuk bersiap-siap pergi ke pasar membawa stok daging beku.
Melihat Vito yang hendak melangkah pergi, alarm bahaya di otak Astra langsung berbunyi. Dia tidak mau ditinggal sendirian di sini tanpa memberikan impresi yang baik pada si kepala keluarga. Pokoknya, Vito tidak boleh sampai marah lagi atau mendepaknya keluar dari rumah ini!
Dengan gerakan secepat kilat, Astra meletakkan mangkuknya sendiri, lalu buru-buru bangkit berdiri dan ikut mengintil tepat di belakang punggung Vito seperti anak ayam kehilangan induknya.
Vito yang menyadari ada bayangan yang mengikutinya mendadak menghentikan langkahnya di ambang pintu depan.
Ia memutar tubuhnya perlahan, membuat Astra hampir saja menabrak dada bidang pria itu.
"Mau apa lagi?" tanya Vito, menatap Astra datar dengan mata menyipit curiga.