Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ajakan Makan Malam
Sekitar tiga puluh menit berkendara, Amora akhirnya tiba di kantor D'Endra Group. Gedung pencakar langit dengan desain modern itu menjulang megah di kawasan pusat bisnis yang sejak pagi sudah dipenuhi aktivitas. Logo perusahaan terpampang jelas di bagian depan bangunan, menjadi simbol kebangkitan D'Endra Group setelah sempat mengalami masa sulit sebelum akhirnya memperoleh dukungan investasi dari Askara Group, perusahaan yang dipimpin keluarga Bagaskara.
Mobil Amora memasuki area parkir khusus karyawan. Setelah mesin dimatikan, ia menyempatkan diri memandang bayangannya di kaca spion. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Semangat buat hari ini," bisiknya pelan, mencoba membangkitkan antusiasme sebelum memulai kembali rutinitas kantor.
Ia meraih tas kerjanya, lalu turun dari mobil. Blazer yang dikenakannya dirapikan sejenak, sementara angin pagi berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambut di sekitar wajahnya.
Pandangannya sempat tertuju pada bangunan tinggi di hadapannya. Sudah hampir sepekan ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini karena mengambil cuti mendadak untuk urusan keluarga. Rasanya sedikit asing, tetapi juga menghadirkan kerinduan akan kesibukan yang biasa ia jalani.
Amora teringat pesan ayahnya, Danendra Atmojo. Pernikahannya dengan Atharazka masih menjadi rahasia di lingkungan D'Endra Group. Seluruh karyawan hanya mengetahui bahwa dirinya mengambil cuti untuk menghadiri pernikahan sang kakak, Jelita Arumi Atmojo. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa justru dirinya yang telah resmi menikah.
Dengan pikiran itu, Amora melangkah memasuki lobi utama.
"Selamat pagi, Bu Amora."
Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menyapanya dengan ramah.
"Pagi," balas Amora sambil mengangguk dan tersenyum hangat kepada mereka.
Suasana kantor sudah mulai hidup. Sejumlah pegawai tampak sibuk berjalan menuju divisi masing-masing sambil membawa map dan laptop. Di dekat resepsionis, beberapa tamu sedang menunggu giliran, sementara aroma kopi yang berasal dari kafe kecil di sudut lobi memenuhi udara, menghadirkan suasana pagi yang akrab.
Amora menghampiri mesin absensi elektronik dan menempelkan kartu identitasnya. Setelah proses absensi selesai, ia langsung menuju deretan lift yang akan membawanya ke lantai 7, tempat divisi pemasaran berada.
Lingkungan ini sudah begitu akrab baginya. Sebagai Manager Pemasaran, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk menyusun strategi promosi, menganalisis perkembangan pasar, hingga mengevaluasi target penjualan perusahaan.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka disertai bunyi pelan. Amora masuk bersama beberapa pegawai lain. Ia berdiri di salah satu sudut kabin sambil memperhatikan angka pada panel digital yang terus bertambah seiring lift bergerak naik.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya mulai dipenuhi berbagai agenda yang harus diselesaikan hari itu. Laporan kinerja bulanan masih menunggu untuk diperiksa, rapat evaluasi divisi sudah dijadwalkan sejak pagi, ditambah pembahasan mengenai strategi peluncuran kampanye pemasaran terbaru.
Saat layar digital menunjukkan angka 7, lift berhenti. Pintu terbuka perlahan, dan Amora melangkah keluar dengan langkah mantap.
Begitu memasuki area Divisi Pemasaran, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Deretan meja kerja mulai dipenuhi para staf yang sibuk menyalakan komputer dan menyiapkan berkas. Suara ketikan keyboard, dering telepon, serta percakapan ringan para karyawan berpadu menciptakan suasana yang begitu khas.
Amora mengulas senyum kecil. Hari pertamanya kembali bekerja akhirnya benar-benar dimulai.
Atharazka masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang Wakil Direktur Askara Group. Sejumlah dokumen memenuhi meja kerjanya, sementara layar laptop di hadapannya menampilkan laporan keuangan dan perkembangan proyek yang harus segera ditinjau. Suasana ruangan begitu sunyi, hanya terdengar dengungan pendingin ruangan serta bunyi ketikan yang sesekali terhenti ketika ia membaca setiap data dengan saksama.
Di tengah kesibukannya, terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Tok... tok... tok...
Tanpa mengangkat kepala, Atharazka menjawab singkat, "Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Bukan Sesil yang muncul, melainkan Bima Bagaskara. Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan pembawaan tenang dan berwibawa. Kemeja berwarna abu-abu yang dikenakannya tampak rapi, dipadukan dengan jam tangan klasik yang semakin menegaskan karismanya sebagai pemimpin perusahaan.
"Lagi banyak pekerjaan?" tanya Bima sambil menghampiri meja putranya.
Atharazka menghentikan aktivitasnya, lalu menutup dokumen yang sedang dibaca.
"Iya, Dad. Ada beberapa laporan yang harus selesai hari ini," jawabnya singkat.
Bima mengangguk pelan. Tatapannya berkeliling sebentar ke seluruh ruangan yang selalu tertata rapi, sebelum kembali mengarah kepada putranya.
"Hari ini jangan pulang terlalu larut. Daddy ingin kamu datang ke rumah. Ajak Amora sekalian. Kita makan malam bersama."
Razka mengernyit tipis.
"Makan malam?" ulangnya. "Ada acara khusus?"
"Tidak ada acara apa-apa." Bima tersenyum tipis. "Daddy dan Mommy cuma ingin lebih mengenal Amora. Sekarang dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Rasanya kurang pantas kalau sampai sekarang kami belum sempat mengobrol dengannya dengan baik."
Ucapan itu membuat Razka terdiam beberapa saat.
5 hari telah berlalu sejak pernikahan mereka berlangsung. Semuanya terjadi begitu cepat hingga nyaris tidak memberi kesempatan bagi kedua keluarga untuk benar-benar saling mengenal. Pada hari pernikahan pun, suasana lebih banyak diisi dengan rangkaian acara resmi dibandingkan percakapan santai. Amora hampir tidak memiliki kesempatan berbincang dengan keluarga Bagaskara.
Bima memandang putranya dengan ekspresi tenang.
"Hubungan keluarga itu perlu dibangun perlahan, Razka. Daddy dan Mommy tidak ingin Amora merasa seperti orang asing di keluarga kita."
Atharazka mengembuskan napas pelan. Ia memahami maksud ayahnya. Bagaimanapun juga, Amora kini menyandang status sebagai istrinya, sehingga sudah sewajarnya kedua orang tuanya ingin mengenalnya lebih dekat.
"Iya, Dad," jawabnya akhirnya sambil mengangguk. "Nanti aku ngomong ke Amora."
"Bagus." Senyum Bima terlihat semakin lebar. "Semoga dia bisa datang."
Setelah menyampaikan pesannya, Bima menepuk bahu putranya pelan sebagai isyarat dukungan. Tidak lama kemudian, ia berbalik meninggalkan ruangan.
Klik.
Pintu kembali tertutup, mengembalikan suasana kantor pada keheningan semula.
Atharazka kembali menatap laptop di depannya, tetapi kali ini pikirannya tidak lagi tertuju pada deretan angka dan laporan yang memenuhi layar. Bayangan Amora justru memenuhi benaknya.
Ia memikirkan bagaimana respons perempuan itu ketika mendengar ajakan makan malam bersama Daddy dan Mommy. Akankah Amora merasa mau? Atau justru ajakan ini akan disambut dengan antusias?
Atharazka mengusap pelan pelipisnya sebelum mengembuskan napas panjang.
"Mudah-mudahan dia mau datang," gumamnya lirih.
Setelah itu, ia kembali mengalihkan perhatian pada pekerjaannya. Meski demikian, pikirannya sesekali kembali melayang kepada Amora dan makan malam yang akan mempertemukan istrinya dengan keluarga Bagaskara.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰