Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Cahaya matahari menyusup melalui jendela kaca besar, menerangi tumpukan dokumen di meja CEO. Arya duduk dengan punggung tegak, kemeja hitamnya rapi, tapi wajahnya menunjukkan rasa lelah dan kemarahan yang tertahan. Di depannya, Tony berdiri dengan sikap formal, map dokumen masih di tangan.
“Tuan, pihak sekolah Nona Keysa belum bisa mengambil keputusan,” terang Tony dengan suara tenang namun penuh kehati-hatian.
“Orang tua mereka tidak terima jika anaknya dikeluarkan dari sekolah. Mereka menganggap itu hanya candaan anak-anak. Kepala sekolah juga tidak setuju dengan keputusan itu. Beliau khawatir reputasi sekolah akan rusak jika sampai ada siswa yang dikeluarkan secara paksa.”
Arya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Keheningan di ruangan terasa berat. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berbicara, suaranya rendah namun tajam.
“Kalau begitu, hentikan semua dana kita ke sekolah itu,” tegas Arya tanpa ragu. Matanya yang tajam kini menatap langsung ke arah Tony. “Semua bantuan beasiswa, sumbangan tahunan, dan kerja sama yang selama ini kita berikan, hentikan semuanya. Mulai hari ini.”
Tony mengangguk cepat, wajahnya tetap tenang meski dalam hati ia mengerti betapa seriusnya keputusan itu. “Baik, Tuan. Saya akan segera mengurus surat pemutusan kerja sama dan menghentikan semua transfer dana.”
Arya menyandarkan punggungnya ke kursi, rahangnya mengeras. “Saya tidak mau bernegosiasi lagi. Mereka sudah diberi kesempatan. Kalau pihak sekolah lebih memilih melindungi anak-anak yang merundung daripada melindungi korban, biar mereka tanggung sendiri akibatnya. Keysa tidak akan kembali ke sekolah yang tidak mampu menjaganya.”
Tony mengangguk sekali lagi. “Saya mengerti, Tuan. Akan segera saya laksanakan.”
Setelah Tony keluar dari ruangan, Arya terdiam lama. Ia menutup mata sejenak, membayangkan wajah putrinya yang terluk. Dia tidak terima putrinya di hina sebagai anak haram. Rasa marah dan rasa bersalah bercampur di dadanya. Ia tidak akan membiarkan hal seperti itu terulang.
Keputusan sudah diambil secara sepihak. Tidak mau berkompromi lagi. Mereka yang memulainya terlebih dahulu, tidak ada maaf bagi siapapun yang sudah berniat jahat pada putrinya. Pihak sekolah sudah tidak profesional, bahkan mereka berniat menyembunyikan kecelakaan putrinya darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang perawatan yang tenang, Keysa dan Zara duduk berdekatan di atas ranjang. Kedua gadis kecil itu saling mendekatkan kepala, berbisik-bisik dengan serius seolah sedang merencanakan sesuatu yang sangat penting. Sesekali mereka melirik ke arah sudut ruangan, tempat Zelia duduk sambil memainkan ponselnya dengan wajah bosan.
Keysa yang baru benar-benar menyadari kehadiran wanita muda itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Zala, itu aunty mu ya?” tanyanya pelan, matanya melotot penasaran.
Zara mengangguk, lalu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya seperti gaya orang dewasa yang prihatin. “Eum… kacihan cekali dia. Jomblo cejak lahil. Cepertinya nda ada plia yang cuka cama dia,” bisiknya penuh drama.
Keysa langsung mengangguk-angguk seolah paham sekali. Matanya berbinar penuh ide. “Nanti ya, cetelah Key celesai jodohkan Papa cama Aunty Alya, kita jodohkan aunty mu cama Om Tony, mau nda? Dia acisten Papa. Olangnya tinggi, cuka pakai jas, telus celalu ikut Papa ke mana-mana.”
Zara langsung menatap Keysa dengan serius. “Dia ganteng nda? Kalau nda ganteng pasti Aunty Ze nda mau. Aunty itu cangat pemilih, makanya nda laku-laku campai cekalang,” bisiknya lagi, kali ini lebih pelan.
Mereka berdua saling mengangguk penuh semangat, seolah sudah menemukan solusi untuk masalah besar di dunia orang dewasa. Tangan kecil mereka saling menggenggam, merencanakan masa depan Aunty Zelia dengan sangat serius.
Di sudut ruangan, Zelia yang tadinya asyik bermain ponsel tiba-tiba menghentikan gerakan jarinya. Telinganya berdenging. Ia mengangkat wajah, memicingkan mata ke arah dua bocah yang sedang berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya.
“Sepertinya, ada yang sedang membicarakan aku,” gumamnya lirih, alisnya naik satu. Ia tidak mendengar detailnya, tapi dari cara kedua anak itu berbisik dan melirik, jelas sekali namanya sedang jadi bahan obrolan.
Zelia menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi, dan memutar bola matanya. “Anak kecil memang suka sekali bikin drama,” gumamnya lagi. Meski begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia tidak tahu bahwa di kepala dua gadis kecil itu, ia sudah hampir dijodohkan dengan seorang pria bernama Tony.
Keysa dan Zara masih terus berbisik, semakin serius merancang rencana jodoh mereka, tanpa menyadari bahwa Aunty Zelia sudah mulai curiga.
Ceklek.....
Pintu ruang perawatan terbuka pelan. Alya sengaja tidak berangkat ke kantor, karena harus menggantikan Arya menjaga Keysa. Di tangannya ia membawa kantong kecil berisi buah dan susu box untuk Keysa. Senyum lembut langsung tersungging di wajahnya saat melihat suasana di dalam ruangan.
“Eh, sedang ada tamu ya?” sapa Alya dengan suara hangat, membuat semua orang di dalam ruangan langsung menoleh ke arahnya.
Keysa yang sedang bersandar di bantal langsung tersenyum lebar. Zara di sampingnya juga langsung duduk lebih tegak, matanya berbinar melihat Alya. Sementara di sudut ruangan, Zelia hanya mengangguk sopan, sedikit terkejut dengan kedatangan wanita cantik yang aura kelembutannya langsung terasa.
“Iya, Aunty. Zala pulang cekolah langcung ke cini. Mau lihat cahabat kepompong, coalnya khawatil cekali cama Keyca,” jawab Keysa penuh drama, suaranya masih sedikit serak tapi penuh semangat. Ia bahkan menggerakkan tangan kecilnya seolah sedang menceritakan kisah heroik.
Alya terkekeh pelan, suaranya lembut memenuhi ruangan. Ia mendekati ranjang, lalu mengusap kepala Zara dan Keysa secara bergantian dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih ya, sudah mau menjadi sahabatnya Keysa,” ucap Alya tulus. Matanya menatap Zara dengan hangat. “Aunty senang sekali Keysa punya teman seperti kamu"
Zara langsung tersipu, pipinya memerah. Ia mengangguk cepat. “Iya, Aunty. Zala celalu temenin Keyca. Nanti kalau ada yang jahat lagi, Zala bilang ke Aunty atau ke Papa Key, ya.”
Keysa mengangguk-angguk setuju, lalu meraih tangan Alya. “Aunty, Zala baik banget celalu belain Key. Nanti kita ajak Zala main ke lumah Papa, ya? Bial Zala kenalan sama Oma juga.”
Alya tersenyum semakin lebar. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengusap rambut kedua gadis kecil itu. Di dalam hatinya, rasa lega dan bahagia bercampur. Kehadiran Zara yang tulus membuatnya semakin yakin bahwa Keysa tidak sendirian menghadapi dunia yang kadang kejam.
Zelia yang duduk di sudut hanya mengamati dalam diam, sesekali tersenyum tipis melihat interaksi itu. Suasana di ruang perawatan yang tadinya sepi kini terasa jauh lebih hidup dan penuh kehangatan.
...----------------...
Jangan lupa support. Komen dan like 🙏