Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidangan Di Penghujung Hari
Aura, yang baru genap berusia dua puluh tiga tahun, memang tumbuh dalam isolasi yang begitu menjaga kepolosannya. Hidup terpisah dari tipu daya dan kepalsuan dunia luar selama bertahun-tahun membuatnya memandang segala hal dengan kejujuran yang murni. Tanpa ada sedikit pun keraguan, ia menelan mentah-mentah seluruh cerita bohong yang disusun oleh Dante. Bagi Aura, pria berwajah keras di sampingnya hanyalah korporat atau warga biasa yang bernasib malang, nasibnya sama tragisnya dengan mendiang keluarganya.
Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala utara, melukis langit di atas Hutan Hitam dengan warna jingga keunguan yang pekat. Kegelapan malam merayap cepat, membawa serta angin dingin yang berembus menembus celah-celah pepohonan tinggi. Suara jangkrik dan nocturnal hutan mulai bersahutan, menandakan sang malam telah tiba.
Aura berdiri dari tempat duduknya, mengibaskan debu tanah yang menempel pada rok kain sederhananya. Gadis itu menatap langit yang makin menggelap lalu beralih menatap Dante yang masih terduduk tegak di atas kayu lapuk.
"Oh ya, malam akan segera tiba," ucap Aura dengan nada suara gembira yang alami. "Kau pasti sangat lapar setelah pingsan seharian. Aku ada persediaan stok daging kelinci yang kuburu sendiri."
Dante menaikkan alisnya, sedikit terkejut. "Kau berburu kelinci sendiri?"
"Tentu saja!" sahut Aura bangga sambil menepuk dadanya pelan. "Kehidupan di hutan menuntutku untuk bisa melakukan apa saja. Aku memasang jebakan kayu di dekat aliran sungai kecil. Tenang saja, rasanya enak kalau dipanggang dengan bumbu rempah hutan."
Tanpa menunggu balasan dari Dante, Aura berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah bambu. Dante memandangi punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu kayu. Ada rasa heran yang menggelitik pikirannya. Seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun, berani dan mandiri bertahan hidup sendirian di tengah hutan rimba, namun memiliki hati yang sangat polos dan mudah percaya. Di dunia yang dibesarkan oleh Dante, orang sejujur Aura tidak akan bertahan hidup lebih dari sehari.
Dengan hati-hati, Dante mendorong tubuhnya untuk berdiri menggunakan kayu penopang. Meski kakinya masih terasa amat nyeri, kekuatannya bertambah pesat berkat perawatan telaten Aura. Pria itu menyusul masuk ke dalam gubuk yang kini telah diterangi oleh cahaya hangat dari lampu minyak jelantah dan nyala api di tungku sudut ruangan.
Aura tampak sibuk di depan tungku. Tangan mungilnya yang cekatan sedang memotong-motong daging kelinci segar, menyiramnya dengan rempah-rempah halus yang ia tumbuk sendiri, lalu menusuknya dengan bilah bambu tipis. Aroma gurih rempah dan daging yang mulai bersentuhan dengan bara api segera memenuhi ruangan sempit itu, memancing cacing di perut Dante yang sudah kosong sejak pertarungan mematikan semalam.
Dante duduk di salah satu bangku kayu dekat tungku, memperhatikan gerak-gerik Aura yang lincah. Nyala api tungku memantulkan cahaya kemerahan di wajah gadis itu, mempertegas kecantikan alaminya yang tanpa riasan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Aura tanpa menoleh, memasang tusukan daging kelinci di atas bara api.
"Hanya bingung," kata Dante datar. "Gadis seumuranmu di kota biasanya sibuk belanja pakaian, pergi ke pesta, atau bermain media sosial. Tapi kau di sini, menguliti kelinci di tengah hutan belantara."
Aura tertawa kecil—suara tawa yang bening dan renyah. "Kota tidak pernah menarik bagiku lagi sejak malam itu, Dante. Pakaian bagus dan pesta tidak bisa mengembalikan keluargaku. Di sini, meski harus memburu makanan sendiri, aku merasa bebas dan tenang."
Ia mengambil satu tusuk daging kelinci yang sudah matang sempurna—warnanya kecokelatan dengan aroma asap yang menggugah selera—lalu menyodorkannya pada Dante.
"Coba ini. Hati-hati, masih panas," ujar Aura ramah.
Dante menerima tusukan bambu tersebut. Pria yang biasanya memakan hidangan kelas atas di restoran mewah itu menggigit daging kelinci panggang buatan gadis desa tersebut. Dagingnya empuk, meresap bumbu gurih alami yang tajam di lidah.
"Bagaimana?" tanya Aura penasaran, menatap Dante dengan mata berbinar-binar.
Dante mengunyah pelan, lalu mengangguk singkat. "Enak. Kau pandai memasak."
Senyum lebar mengembang di wajah Aura. Gadis itu mengambil bagian dagingnya sendiri dan mulai makan dengan lahap. Di dalam rumah bambu yang sederhana itu, diiringi derak kayu terbakar dan keheningan malam hutan, Dante merasakan kedamaian yang belum pernah ia kecam sepanjang tiga puluh dua tahun hidupnya.
Namun di balik kenyamanan itu, naluri alamiahnya sebagai seorang penguasa klan mafia tidak pernah benar-benar mati. Sambil menikmati santap malamnya, telinga tajam Dante tetap pasang waspada pada setiap suara asing di luar gubuk, memastikan bahwa kegelapan malam tidak membawa musuh-musuhnya kemari.