"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Mata-mata Yuli
Nama itu tertulis di sana: Yuli Andriani.
Raka tidak langsung menelepon.
Ia membuka profil singkat yang dikirim Sari: mantan analis lapangan untuk firma investigasi kecil, asal Bandung, keluar setelah menolak permintaan klien memalsukan bukti perselingkuhan. Dua tahun terakhir bekerja lepas, mengambil pekerjaan due diligence, pelacakan aset terbuka, dan verifikasi latar belakang.
Catatan Sari di bawahnya lebih menarik.
Sari: Dia tidak murah. Dia juga tidak mudah percaya orang kaya.
Raka menyukai dua kalimat itu.
Orang yang terlalu murah biasanya menjual sesuatu yang tidak terlihat.
Orang yang terlalu mudah percaya biasanya akan percaya kepada lawan juga.
Ia mengirim pesan singkat.
Raka: Saya mendapat kontak Anda dari Sari. Saya butuh investigator independen untuk pekerjaan terbatas dan legal. Bisa bertemu?
Balasan datang dua puluh menit kemudian.
Yuli: Sari jarang memberi kontak sembarangan. Tapi saya tetap perlu tahu, ini kerja apa?
Raka: Verifikasi utang judi online seseorang, pola kontak sosial mantan istri saya, dan risiko reputasi. Tanpa akses ilegal ke akun pribadi.
Yuli: Mantan istri?
Raka: Sudah diputus cerai.
Yuli: Banyak pria bilang begitu, lalu minta saya membuntuti perempuan karena cemburu.
Raka membaca pesan itu, lalu tersenyum tipis.
Bagus.
Yuli tidak mengambil umpan uang. Ia menguji niat.
Raka: Saya bawa dokumen pengadilan dan batas tugas tertulis. Anda boleh menolak setelah membaca.
Yuli: Besok pukul sepuluh. Kafe Kalibokor. Duduk dekat jendela. Jangan bawa orang.
Keesokan paginya, Raka datang lima belas menit lebih awal.
Kafe itu kecil, tidak terlalu ramai, dengan dinding bata ekspos dan suara mesin kopi yang kasar. Ia memilih meja dekat jendela sesuai instruksi. Di luar, motor lewat seperti arus yang tidak pernah berhenti.
Pukul sepuluh tepat, seorang perempuan masuk.
Rambutnya sebahu, diikat asal dengan karet hitam. Jaket denim, tas selempang lusuh, sepatu kanvas, dan mata yang bergerak lebih cepat daripada langkahnya. Ia memindai pintu, kasir, kamera CCTV, meja keluar, lalu baru menatap Raka.
"Mas Raka?"
"Yuli."
"Saya belum bilang nama lengkap."
"Sari sudah kirim kontak."
"Bisa saja kontak palsu."
"Bisa. Tapi kamu sudah datang."
Sudut bibir Yuli bergerak sedikit. "Oke. Tidak terlalu bodoh."
Logat Bandungnya tipis, muncul di ujung kalimat, tidak dibuat-buat. Ia duduk tanpa melepas tas dari bahu.
Mata Pemimpin aktif.
[Yuli Andriani]
[Potensi observasi: 92]
[Analisis data terbuka: 89]
[Penyamaran sosial: 86]
[Kecenderungan: skeptis, cepat membaca pola, menolak manipulasi bukti]
[Risiko: sulit percaya klien; akan mundur jika batas etika dilanggar]
[Status kepercayaan: belum terbentuk.]
Raka menahan reaksi.
Angka itu tinggi.
Sangat tinggi.
Tetapi baris terakhir lebih penting daripada semua angka.
Belum terbentuk.
Artinya, seperti Sari dan Hendra, Yuli bukan pion yang otomatis menjadi miliknya hanya karena sistem menyala. Ia manusia dengan mata tajam, luka kerja, dan pintu keluar.
Yuli menunjuk map di depan Raka. "Dokumen?"
Raka menyerahkannya.
Ia membaca cepat, tetapi tidak asal. Putusan, catatan terbatas soal akta perdamaian, ringkasan perkara, dan satu halaman batas tugas. Saat membaca bagian DNA, alisnya bergerak sedikit, tetapi ia tidak berkomentar.
"Anak tidak boleh jadi bahan tekanan," katanya akhirnya.
"Setuju."
"Mantan istri tidak boleh dijebak dengan bukti palsu."
"Setuju."
"Saya tidak membobol akun, tidak menyadap ponsel, tidak masuk rumah orang, tidak memancing orang berjudi. Kalau ada klien minta begitu, saya pulang."
"Itu sebabnya saya datang."
Yuli menatapnya lebih lama.
"Orang kaya biasanya bilang begitu di awal. Setelah panik, mereka berubah."
"Kalau saya berubah, kamu boleh berhenti. Tulis di kontrak."
Untuk pertama kalinya, Yuli melepas tas dari bahunya.
"Bayaran?"
"Rp 30 juta untuk dua minggu masa uji. Bonus jika laporanmu bisa dipakai pengacara tanpa merusak prosedur."
Yuli bersiul pelan. "Lumayan juga. Tapi uang besar bikin pertanyaan besar."
"Tanya."
"Sumber danamu bersih?"
Raka menggeser satu ringkasan rekening dan surat dari akuntan.
"Legal. Bisa diverifikasi."
Yuli membaca, lalu memotret beberapa bagian dengan izin setelah Raka menutup data sensitif.
"Saya akan cek dulu. Kalau ada yang aneh, saya tidak ambil."
"Silakan."
"Saya juga akan cek kamu. Bukan cuma target."
"Itu yang saya harapkan."
Yuli menyipit. "Kamu aneh, Mas Raka."
"Baru bebas dari keluarga aneh. Mungkin tertular sedikit."
Ia tertawa pendek. "Oke. Setidaknya bisa bercanda."
Ia belum menandatangani apa pun saat itu. Justru setelah pertemuan selesai, Yuli menghilang selama enam jam.
Raka tidak mengejar.
Menjelang sore, pesan masuk.
Yuli: Kamu benar resign dari kantor lama. Sidang cerai benar ada. Mobilmu bukan hasil leasing bodong. Tapi lonjakan asetmu tetap aneh.
Raka: Aneh bukan berarti ilegal.
Yuli: Betul. Aku belum menemukan ilegalnya. Itu beda.
Raka tersenyum.
Kalimat itu sangat Yuli, bahkan sebelum ia benar-benar mengenalnya.
Yuli: Aku juga cek Sari. Dia memang kenal kamu. Dia bilang kalau kamu minta bukti palsu, aku boleh lempar kopi ke wajahmu.
Raka: Dia bilang begitu?
Yuli: Versi sopannya.
Raka menatap layar beberapa detik, lalu mengetik.
Raka: Kalau aku minta bukti palsu, kamu tidak perlu lempar kopi. Kamu cukup pergi dan kirim invoice penuh.
Yuli: Nah, itu baru klien yang bisa diajak kerja.
Kontrak singkat ditandatangani sore itu juga setelah Yuli mengirim pesan bahwa identitas dan dasar pembayaran Raka tidak menunjukkan pola kriminal. Pembayaran dilakukan melalui transfer resmi.
Di halaman kedua kontrak, Yuli menambahkan klausul sendiri: semua temuan harus menyertakan sumber, tanggal akses, dan cara perolehan. Informasi dari grup publik boleh dipakai. Percakapan pribadi, akun tertutup, dan perangkat tanpa izin tertulis tidak boleh disentuh.
Raka menandatangani tanpa mengubah satu kata.
[Transaksi tervalidasi.]
[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga: Rp 30.000.000.]
[Cashback 10x diproses: Rp 300.000.000.]
Saldo: Rp 18.954.633.900.
Yuli tidak melihat panel itu. Ia hanya melihat notifikasi banknya, lalu mengangkat alis.
"Cepat banget."
"Aku suka pekerjaan yang jelas."
"Aku suka klien yang bayar duluan."
"Kita cocok untuk masa uji."
"Jangan ge-er dulu, atuh. Masa uji bukan nikah."
Raka hampir tersedak kopi.
Yuli berdiri, memasukkan kontrak ke tas. "Aku mulai dari Budi. Utang judi online biasanya punya pola: nomor rekening penampung, grup Telegram, kontak rentenir, dan tempat nongkrong. Semua bisa dicari dari jejak terbuka kalau orangnya cukup ceroboh."
"Budi sangat ceroboh."
"Bagus. Orang bodoh membuat investigator hemat waktu."
Dua hari kemudian, laporan pertama masuk melalui folder terenkripsi yang Yuli buat sendiri. Raka membukanya di apartemen baru yang terasa lebih sunyi sejak Ratna tidak lagi punya tempat di hidupnya.
Ada foto Budi di warung kopi dekat jalan besar.
Ada tangkapan layar promosi judi online dari grup publik.
Ada nama dua orang yang pernah muncul dalam chat ancaman rentenir.
Dan ada satu catatan Yuli di bagian atas.
Budi sedang bertemu orang-orang judi lagi, Mas Raka.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....