NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / CEO / Penyelamat / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Sumpah Sang Komandan

​​Bau hangus yang menyengat hidung memaksa Zoya membuka mata.

​Tidak ada sinar matahari yang masuk karena semua jendela sudah dipaku mati dengan papan kayu oleh Kalandra. Tapi asap tipis berwarna kelabu jelas terlihat melayang di udara kamar, menyelinap masuk dari celah bawah pintu.

​"Kebakaran?" batin Zoya panik.

​Zoya langsung melompat dari kasur, menyambar pisaunya yang ada di nakas, lalu berlari keluar kamar dengan jantung berdegup kencang.

​"Mas Kalandra!" teriak Zoya saat membuka pintu.

​Pemandangan di dapur membuatnya mengerem mendadak.

​Bukan Hanggara. Bukan bom molotov.

​Kalandra, Sang Komandan Reskrim yang ditakuti penjahat satu kota, sedang berdiri di depan kompor dengan memakai celemek merah muda bermotif bunga-bunga—celemek hadiah dari deterjen yang tidak pernah Zoya pakai. Tangan kanannya memegang spatula kayu, sementara tangan kirinya sibuk mengibas-ngibaskan asap dari wajan teflon yang mengepul hitam.

​"Sialan, kenapa gosongnya cepet banget sih? Padahal di YouTube bilangnya api sedang," gerutu Kalandra pada wajan itu.

​Zoya menurunkan pisaunya, bahunya merosot lega sekaligus takjub.

​"Mas, kamu lagi masak apa eksperimen senjata kimia?" tanya Zoya sambil berjalan mendekat, menginjak lantai marmer yang dingin tanpa alas kaki.

​Kalandra menoleh kaget. Wajahnya cemong kena noda hitam entah dari mana.

​"Eh, udah bangun?" Kalandra cengengesan, mencoba menutupi wajan dengan badannya yang besar. "Ini... scrambled egg ala chef. Cuma agak... well-done dikit tingkat kematangannya."

​Zoya melongok dari balik punggung suaminya. "Itu bukan well-done, Mas. Itu karbon murni. Kamu mau ngeracunin aku biar Hanggara nggak perlu repot-repot?"

​"Sembarangan. Ini penuh cinta tahu," Kalandra mematikan kompor, lalu dengan paksa memindahkan gumpalan hitam dan kuning itu ke piring. "Duduk. Aku ambilin roti bakar. Rotinya aman kok, cuma pinggirnya doang yang item dikit."

​Zoya duduk di kursi bar dapur. Dia menatap piring di depannya dengan tatapan analitis yang biasa dia pakai untuk memeriksa organ dalam.

​"Jangan diteliti gitu. Makan aja. Protein," perintah Kalandra sambil meletakkan segelas susu hangat di depan Zoya. Dia sendiri tidak makan, hanya berdiri di seberang meja sambil menatap istrinya lekat-lekat.

​Zoya mengambil garpu. Dia mencoba memotong telur itu. Namun, saat dia mengangkat garpu ke mulutnya, tangan kanannya kembali berulah.

​Getaran itu datang lagi.

​Tremor halus yang menyebalkan. Garpu di tangannya bergoyang, membuat potongan telur jatuh kembali ke piring. Tring.

​Zoya membeku. Rasa malu dan trauma semalam kembali menghantamnya. Dia meletakkan garpu itu pelan-pelan, lalu menyembunyikan tangannya di bawah meja.

​"Aku nggak laper," ucap Zoya pelan, memalingkan wajah.

​"Zoya."

​Kalandra memutari meja bar. Dia tidak marah. Dia tidak memaksa Zoya makan.

​Pria itu justru berlutut.

​Ya, Kalandra berlutut dengan satu kaki tepat di samping kursi Zoya, membuat posisi kepalanya sejajar dengan tangan Zoya yang bersembunyi di paha.

​"Keluarin tangannya," pinta Kalandra lembut.

​"Nggak mau. Jelek."

​"Zoya, keluarin."

​Zoya menyerah. Dia mengeluarkan tangan kanannya yang masih sedikit gemetar. Kalandra langsung menyambar tangan itu, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang besar, kasar, dan hangat.

​"Dengerin aku," ucap Kalandra, menatap lurus ke manik mata Zoya. Tatapannya intens, serius, tanpa setitik pun candaan.

​"Semalam kamu bilang tangan ini tangan pembunuh. Kamu bilang tangan ini nggak berguna buat nyelamatin orang hidup. Kamu salah."

​Kalandra mencium punggung tangan Zoya, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri yang kasar karena belum cukuran.

​"Mulai hari ini, kalau tanganmu gemetar lagi... pakai tanganku."

​Zoya tertegun. "Maksud Mas?"

​"Aku serius. Kalau kamu harus bedah orang tapi kamu nggak kuat pegang pisau, aku yang bakal pegangin pisaunya buat kamu. Kalau kamu harus hajar orang tapi kamu takut, aku yang bakal tonjok mukanya buat kamu. Kalau kamu mau nyekek Hanggara tapi tanganmu lemas, pinjam tanganku. Aku bakal jadi tanganmu, Zoya."

​Kalandra mempererat genggamannya, menyalurkan kekuatan.

​"Kamu otak, aku otot. Kamu mikir, aku yang eksekusi. Jadi berhenti merasa sendirian. Tangan ini..." Kalandra mengangkat tangan Zoya lagi. "...tangan ini nggak perlu nanggung beban dunia sendirian lagi. Ada aku."

​Air mata Zoya merebak. Bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang menyesakkan dada. Dia menatap suaminya—pria yang dulu dia anggap musuh bebuyutan karena dijodohkan paksa—kini terlihat seperti pahlawan kesiangan dengan celemek bunga-bunga.

​"Mas gombal banget sih pagi-pagi," cibir Zoya, berusaha menutupi rasa malunya, meski pipinya sudah merah padam.

​"Biarin. Istri sendiri ini," Kalandra nyengir lebar, merasa menang karena berhasil membuat Zoya tersipu. "Jadi gimana? Telurnya dimakan ya? Sayang kalau dibuang, telur organik mahal."

​Zoya tersenyum kecil. "Iya, bawel. Suapin tapi. Tanganku masih males gerak."

​"Siap, Nyonya Besar!"

​Kalandra bangkit dengan semangat, mengambil garpu. Suasana tegang dan suram semalam seolah lenyap digantikan hangatnya matahari pagi—meski jendela mereka tertutup rapat.

​Namun, baru saja suapan pertama mendekati mulut Zoya...

​Kring! Kring! Kring!

​Ponsel Kalandra yang tergeletak di meja berdering nyaring, memecah momen romantis itu seperti kaca dilempar batu.

​Kalandra mendengus kesal. "Siapa sih? Ganggu orang pacaran aja."

​Dia melirik layar ponselnya. Wajah kesalnya langsung berubah serius.

​"Papa?" gumam Kalandra bingung. Ayahnya, Jenderal Purnawirawan Dirgantara, jarang menelepon pagi-pagi buta kecuali ada hal mendesak.

​Kalandra meletakkan garpu, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Pa? Tumben telepon pagi—"

​"Kalandra!"

​Suara bentakan panik dari seberang sana membuat Kalandra spontan berdiri tegak. Zoya ikut tegang melihat perubahan ekspresi suaminya.

​"Pa? Kenapa? Papa sakit?" tanya Kalandra cepat.

​"Bukan Papa! Ibumu, Kalan! Ibumu!" Suara ayahnya terdengar bergetar, penuh ketakutan yang belum pernah Kalandra dengar seumur hidupnya.

​"Mama kenapa?"

​"Ibumu diculik barusan! Di depan salon langganannya!" teriak ayahnya histeris. "Sopirnya dipukul sampai pingsan. Ada saksi bilang dia diseret masuk ke mobil van putih. Dan... dan pelaku ninggalin boneka, Kalan! Boneka Barbie yang pakai baju persis kayak ibumu!"

​Dunia Kalandra runtuh. Garpu di piring jatuh berdenting.

​Zoya langsung paham tanpa perlu mendengar suara di telepon. Dia melihat wajah suaminya memucat.

​"Hanggara..." desis Zoya. "Dia nggak main-main soal Ibu."

1
Arum Dyah
pasutri yg absurd... ngakak sma critanya
RusNa ANtox DEwi
baguss
Inarairlan 0811
wkwkkwkwkwkkwkwkwkwkwkwk
herlin meigo
bagus banget ceritanya terimakasih..🤗
Rinisa
Menegangkan....
Rinisa
Wow...
musuhnya bukan kaleng2 nich
nina azis
baru baca dan bagus banget ceritanya...setiap bab dibuat deg degan...kerennn abis
nor hidayah
sy suke baca non stop hingga selesai ..jadi lebih seru milih novel yg sudah tamat..
nor hidayah
xboleh bhenti membaca... aduhhh... 😍😍😍
Dorialam Lubis
bagus ceritanya, tokohnya kadang lucu, kadang membuat suasana tegang
dewi rofiqoh
Siap siaga selalu kapan saja dan dimana saja itulah gambaran yang seharusnya para pengayom
dewi rofiqoh
Welcome baby altair.... Para nenek hebring sendiri🤭🤭
Lilis Sondari
mau berapa bab yg author sediakan aku mah tim yg baca sampai habis..😍😍
Tamirah
Emmang kepala komandan perlu digetok udah tahu istri hamidun masih ngeyel.
Tamirah
Ha..ha...ha..pembunuh berdarah dingin kalah telak bukan Karena sayatan pisau bedah tapi tendangan maut Zoya dalam kondisi setengah sadar,tapi mematikan buat Hanggara karena aset masa depan nya hancur.,Toh kalau sembuh jadi laki laki impoten apa yg mau dibanggakan.
Tamirah
Hanggara terlalu obsesi pada Zoya mungkin karena lawan yg sepadan sama-sama ahli bedah dalam kedokteran.
Tamirah
Zoya laksana Super Hero terlalu sempurna untuk seorang wanita.
Tamirah
Sehebat apapun laki laki dia punya titik lemah, yaitu ibu kandung,anak dan istri. Hanggara sangat tahu karena dia pembunuh propesional .
Lanjutt Thor semakin penasaran
Tamirah
Salut dengan Novel ini Author nya mengenal' dunia medis dan forensik serta kriminal.Apakah author punya latar belakang itu semua karena setiap alur cerita dikemas secara detil.
Savana Liora: riset harus ada sebelum menulis suatu tema kak. supaya gak ngasal. effortnya luar biasa emang. makanya aku ga pernah gubris kalo readers ga suka alurku dan mereka ingin aku menulis sesuai yg mereka mau.. karna aku risetnya capek
total 1 replies
Suraiya Hasan Umar Haruna
kenapa kalandra tidak bisa membantu, apa dia lumpuh juga?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!