Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Suasana di ruang kerja yang semula tenang berubah hangat setelah kecanggungan di antara Lucas dan Alyssa perlahan mencair.
Alyssa masih memegang kotak P3K.
Sementara Lucas baru saja merapikan manset yang tadi membuat rambut Alyssa tersangkut.
Di balik pintu yang terbuka sedikit...
Leonardo masih mengintip.
Bocah kecil itu berdiri berjinjit sambil memeluk dinosaurus hijau kesayangannya.
Matanya membulat penuh rasa ingin tahu.
Ia bergumam pelan.
"Hmm..."
"Kenapa Daddy tadi pegang rambut Kak Alyssa?"
"Apa rambutnya ada semut?"
Ia memiringkan kepalanya.
"Atau..."
"Mungkin Daddy lagi belajar jadi tukang salon?"
Leonardo mengangguk sendiri.
"Iya."
"Pasti begitu."
Lalu ia kembali mengintip.
"Daddy senyum."
"Kak Alyssa juga senyum."
"Hmm..."
"Aneh."
Ia semakin mendekat ke pintu.
Hidungnya bahkan hampir menempel ke celah pintu.
"Tapi..."
"Mereka ngomong apa ya?"
Leonardo berusaha mendengar lebih jelas.
Sayangnya...
Tidak terdengar apa-apa.
Bocah itu mulai memasang berbagai gaya lucu.
Ia menempelkan telinga kirinya.
Tidak jelas.
Ganti telinga kanan.
Masih tidak jelas.
Ia bahkan sampai berjongkok.
"Lho?"
"Kenapa tetap nggak kedengeran?"
Saat itu juga...
Suara berat tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"TUAN KECIL!"
"ASTAGA!"
Leonardo menjerit keras.
Jantungnya hampir copot.
Ia spontan melompat karena kaget.
"AAAH!"
Karena kehilangan keseimbangan...
Tubuh mungilnya terdorong ke depan.
Pintu yang sejak tadi hanya terbuka sedikit...
Brak!
Terbuka lebar.
Leonardo ikut terdorong masuk ke dalam ruangan.
"Waaaa!"
"Jatuh!"
Semua terjadi begitu cepat.
Alyssa yang refleks melihat Leonardo hampir membentur lantai langsung menjatuhkan kotak P3K.
"Leonardo!"
Ia berlari.
Dengan sigap kedua tangannya menangkap tubuh bocah itu sebelum kepalanya mengenai lantai marmer.
"Hup!"
Leonardo akhirnya mendarat...
Bukan di lantai.
Melainkan tepat di pelukan Alyssa.
Beberapa detik...
Ruangan mendadak sunyi.
Leonardo membuka sebelah matanya.
"Hah?"
"Aku..."
"Nggak jadi jatuh?"
Alyssa masih memeluknya agar tidak tergelincir.
"Kamu tidak apa-apa?"
Leonardo berkedip beberapa kali.
Kemudian buru-buru berdiri.
Dengan wajah yang langsung memerah karena malu...
Ia berdeham keras.
"Ehem!"
"Ehem!"
Bocah itu mulai menepuk-nepuk piyama dinosaurusnya.
Seolah sedang membersihkan debu yang sebenarnya tidak ada.
Lalu ia merapikan kerah bajunya.
Mengusap rambutnya.
Bahkan membenarkan sandal rumahnya.
Semuanya dilakukan dengan ekspresi yang sangat serius.
Adrian yang berdiri di pintu sampai mengernyit.
"Tuan kecil..."
"Apa yang sedang Anda lakukan?"
Leonardo menjawab dengan wajah setenang mungkin.
"Aku?"
"Iya."
"Aku lagi..."
Ia berpikir keras.
"Lagi olahraga."
Adrian berkedip.
"Olahraga?"
"Iya."
"Olahraga jalan."
"Di depan pintu?"
"Iya."
Lucas yang sejak tadi diam mulai menggigit bibirnya sendiri.
Bahunya sedikit bergetar.
Ia sedang menahan tawa.
Alyssa juga menutup mulutnya.
Leonardo masih berusaha mempertahankan harga dirinya.
"Aku sama sekali tidak mengintip."
Tidak ada yang bertanya.
Bocah itu malah menambahkan,
"Aku juga tidak menguping."
Lucas akhirnya mengangkat alis.
"Oh?"
"Ayah bahkan belum mengatakan apa-apa."
Leonardo langsung membeku.
"Wah..."
"Salah ngomong."
Ia kembali berdeham.
"Maksudku..."
"Aku memang tidak ngapa-ngapain."
Adrian kini benar-benar tidak kuat menahan senyum.
"Tuan kecil."
"Iya?"
"Kalau tidak mengintip..."
"Kenapa wajah Anda tadi menempel di pintu?"
Leonardo langsung memegang pipinya.
"Hah?"
"Ada bekasnya?"
Adrian mengangguk sambil menahan tawa.
"Iya."
"Bekas gagang pintu."
Leonardo panik.
"Masa sih?"
Ia buru-buru mengusap pipinya berkali-kali.
Alyssa spontan tertawa kecil.
Melihat itu...
Leonardo baru sadar.
Ia ditipu.
"Paman Adrian!"
"Ih!"
"Paman bohong!"
Adrian akhirnya tertawa.
"Maaf, Tuan kecil."
Lucas pun ikut tersenyum lebar.
Sudah lama sekali rumah sebesar ini tidak dipenuhi suara tawa.
Leonardo memonyongkan bibir.
"Hmph."
"Kalian jahat."
Lucas menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Baiklah."
"Sekarang katakan."
"Sedang apa di depan pintu?"
Leonardo langsung menjawab cepat.
"Aku lewat."
"Terus?"
"Terus..."
"Lewat lagi."
Lucas mengangguk pelan.
"Kalau hanya lewat..."
"Kenapa hampir masuk ke dalam?"
Leonardo kembali berpikir.
"Soalnya..."
"Pintunya narik aku."
Alyssa spontan tertawa lebih keras.
"Pintunya?"
"Iya."
"Pintunya usil."
Lucas menatap Adrian.
"Kau dengar?"
Adrian mengangguk serius.
"Sangat berbahaya."
Lucas ikut menimpali.
"Besok pintunya kita hukum."
Leonardo langsung mengangguk semangat.
"Iya!"
"Pintunya nakal!"
Adrian menahan tawa.
"Hukumnya apa, Tuan?"
Lucas pura-pura berpikir.
"Kita suruh pintunya berdiri menghadap tembok."
Leonardo membelalakkan mata.
"Pintu bisa berdiri?"
Lucas mengangguk mantap.
"Bisa."
"Asal dia mau."
Leonardo langsung menoleh ke pintu.
Beberapa detik ia memperhatikannya dengan sangat serius.
Lalu...
Ia berbisik kepada pintu.
"Makanya jangan nakal."
"Nanti dihukum Daddy."
Melihat tingkah polos itu...
Alyssa sampai memegang perutnya karena menahan tawa.
Air mata tipis muncul di sudut matanya.
Lucas diam-diam memperhatikan.
Senyum Alyssa kali ini jauh lebih tulus dibanding sebelumnya.
Itulah yang sejak tadi ingin ia lihat.
Leonardo kembali menyilangkan tangan.
"Lagian..."
"Daddy juga salah."
Lucas pura-pura heran.
"Ayah?"
"Iya."
"Ngapain nutup pintu."
"Kalau Daddy nggak nutup pintu..."
"Aku nggak bakal..."
Ia langsung menutup mulutnya.
Lucas tersenyum tipis.
"Nggak bakal apa?"
"Nggak bakal..."
Leonardo memejamkan mata.
"...ngintip."
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu...
"Hahaha!"
Lucas akhirnya tertawa lepas.
Suara tawanya memenuhi ruangan.
Adrian ikut tertawa sampai memegang kusen pintu.
Alyssa bahkan harus duduk di sofa karena sudah tidak kuat menahan tawa.
Leonardo memandang mereka satu per satu.
"Hah?"
"Apa lucunya?"
Lucas masih tertawa.
"Tidak ada."
"Justru sangat serius."
Leonardo semakin bingung.
"Lho?"
Adrian mengusap sudut matanya yang sampai berair karena tertawa.
"Tuan kecil."
"Iya?"
"Lain kali kalau mengintip..."
"Maksud saya..."
"...kalau lewat."
Leonardo langsung menyela.
"Aku nggak ngintip."
"Iya."
"Kalau lewat..."
"Jangan berdiri tiga puluh menit di depan pintu."
Leonardo membelalakkan mata.
"Paman lihat?"
Adrian mengangguk.
"Dari awal."
"Wah..."
Leonardo langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya.
"Malu..."
Lucas mengusap kepala putranya.
"Kenapa malu?"
"Soalnya ketahuan."
Alyssa tersenyum hangat.
Ia berjongkok di depan Leonardo.
"Terima kasih ya."
Leonardo mengintip dari sela-sela jarinya.
"Kenapa?"
"Karena sudah mengkhawatirkan Daddy."
Leonardo perlahan menurunkan tangannya.
"Aku memang khawatir."
"Tapi..."
Ia melirik Lucas.
"...aku juga pengen tahu Daddy lagi ngapain."
Lucas mengangkat alis.
"Lalu?"
Leonardo menunjuk ayahnya.
"Daddy tadi pegang rambut Kak Alyssa."
Ruangan kembali sunyi.
Alyssa langsung tersedak ludahnya sendiri.
Lucas berdeham pelan.
Leonardo melanjutkan dengan wajah polos.
"Daddy mau buka salon ya?"
Alyssa spontan menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Lucas memijat pelipisnya.
"Bukan."
"Oh."
"Terus..."
"Daddy lagi sisiran?"
"Bukan juga."
"Terus kenapa pegang rambut?"
Lucas terdiam beberapa detik.
Belum sempat menjawab...
Adrian menyelamatkan keadaan.
"Mungkin Tuan sedang memastikan rambut Nona Alyssa tidak kusut."
Leonardo langsung mengangguk kagum.
"Wah..."
"Daddy hebat."
"Bisa jadi tukang salon."
Kali ini...
Bahkan Lucas pun tidak sanggup lagi menjaga wibawanya.
Ia tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
Sementara Alyssa hanya bisa tersenyum malu, wajahnya memerah hingga ke telinga.
Di tengah ancaman Patrick, hilangnya Isabel, dan luka yang masih membalut bahu Lucas...
Untuk beberapa saat, Mansion Laurent kembali dipenuhi gelak tawa.
Dan mungkin...
Itulah pertama kalinya sejak datang ke mansion itu, Alyssa benar-benar merasa seperti berada di sebuah rumah, bukan sekadar tempat untuk bersembunyi.