Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
#13
Terpaksa.
Dinda benar-benar dipaksa keluar dalam kondisi rambut yang masih basah, meski, pakaiannya sudah rapi dan siap pergi ke tempat kerja, tapi rambut basah ini mungkin akan jadi bahan bulan-bulanan Mbak Tari dan Mama Yanti. Mana bangunnya kesiangan, makin komplit saja derita Dinda.
Benar saja, begitu Dinda bergabung di meja makan, Mama Yanti dan Mbak Tari tak hanya menyambutnya dengan senyuman. Tapi juga tatapan tak biasa, sebab rambut Dinda dan Bagas sama-sama basah.
“Kompak amat keramas pagi-pagi,” cetus Mbak Tari, tengil sekali, mirip dengan Bagas.
Kan, sudah Dinda duga ini akan terjadi, tapi yang membuat Dinda makin keki adalah ucapan Eyang Tuti selanjutnya.
“Ya, nggak papa, toh. Biar mereka bisa segera kasih adek bayi buat Abel,” cetus Eyang Tuti.
Uhuk!
Uhuk!
Ucapan Eyang Tuti yang spontan, membuat Dinda tiba-tiba tersedak. Bagas buru-buru menuangkan air ke gelas Dinda. “Minum dulu,” kata Bagas, tangannya memijat tengkuk Dinda dengan gerakan lembut.
“Maaf,” ucap Dinda setelah kondisinya membaik, wanita itu juga membetulkan posisi duduknya.
“Dinda belum siap, Eyang,” kata Bagas bijak, tapi cukup mampu membuat Dinda terbelalak, ingin marah, tapi situasinya tak memungkinkan. “Iya, kan, Sayang?”
Lagi dan lagi, Bagas memanfaatkan kesempatan tersebut agar bisa bersikap mesra di depan semua orang. “Eh, i-iya Eyang. Kami masih kepikiran Abel,” jawab Dinda, terpaksa.
“Jangan lama-lama, Ya. Biar rumah ini ramai lagi,” sambung Eyang Tuti belum mau menyerah.
“Tapi itu gak mungkin, Eyang!” Dinda hanya bisa menjerit dalam hatinya.
Heran juga, sih, katanya eyang demensia, kok, dua hari ini Dinda merasa eyang baik-baik saja, bahkan ingatannya sangat normal? “Minta Mbak Tari hamil juga Eyang.”
“Eh, eh, kok, jadi aku dibawa-bawa, sih,” sungut Mbak Tari yang memang sudah tak menginginkan anak lagi, agar bisa fokus mengurus putra tunggalnya.
“Pelan-pelan saja, Bu. Nanti kalau Bagas dan Dinda siap, mereka juga tak akan berpikir lama untuk menambah momongan.” Mama Yanti menengahi dengan bijak, tak enak juga bila sang mantan menantu merasa tak nyaman. Dinda hanya mampu menundukkan wajahnya dalam-dalam, ingin rasanya punya kekuatan super agar bisa menghilang saat ini juga.
“Eyang juga nggak maksa, kok. Hanya saja, Eyang tak ingin kalian kesepian terlalu lama.” Eyang Tuti tersenyum penuh pengertian,
Tangan kiri Dinda meremas ujung pakaian kerjanya, satu-satunya harapan Dinda saat ini adalah Abel kembali ke pelukannya. Hanya itu saja, perkara Bagas mau melanjutkan hidup dengan wanita lain, itu tak lagi menjadi urusannya.
Sarapan pagi yang rasanya sungguh adudu itu pun selesai, Dinda bergegas kembali ke kamar guna mengambil tas serta ponselnya, tak lupa memesan taksi online sebab Dinda harus merelakan mobilnya dipakai Dara.
“Beneran tidur se kamar, nih? Kirain gak akan berani?”
“Apa yang Mbak pikirkan?” gerutu Bagas.
“Kalian tidur sekamar lagi, mana pas keluar rambut kalian sama-sama basah, kan, jadi makin kepikiran aku,” jawabnya seraya menaik turunkan alisnya.
“Tak seperti yang ada di pikiranmu, Mbak. Dinda tidur di kasur aku di sofa.” Dengan malas Bagas mengkonfirmasi hal yang sebenarnya tak perlu ia beritahukan, toh, dirinya dan Dinda sudah sama-sama dewasa, tahu batasan, meski ada kesempatan tidur di kamar yang sama.
Mbak Tari mengantarkan Bagas dan Dinda yang sama-sama hendak pergi ke tempat kerja masing-masing. “Mas Bagas benar, Mbak. Ini semua karena tak ada hair dryer di kamar,” sungut Dinda sambil menunjuk kepalanya sendiri.
“Oh, Hair dryer, toh, saya lihat ada di laci kabinet dekat rak buku, Nyonya. Nanti saya pindahkan ke kamar.” Bi Sani yang sedang melintas, tiba-tiba ikut bicara.
“Benarkah? terima kasih, Bi.” Wajah Dinda kembali lega.
“Sama-sama, Nyonya.” Bi Sani kembali ke dalam, sambil menahan tawa kecilnya.
“Mbak kira sudah terjadi sesuatu,” sambung Mbak Tari.
“Astaghfirullah, jangan sampai kamu terjerumus ke perbuatan zina, Mbak.”
Mbak Tari menangkupkan kedua tangannya, tanda permohonan maaf, “Sorry, tapi, Mbak seneng lihat kamu di sini, ini salah satu doa Mbak, loh.”
“Emang Mbak berdoa apa?”
“Biar kalian rujuk lagi, kasihan mantan suamimu, sudah seperti layangan putus. Kacau balau susah move on.” Mbak Tari memberikan kode pada Bagas yang sedang berpamitan dengan Eyang Tuti dan Mama Yanti.
“Ah, mungkin itu perasaan Mbak saja, bulan depan sudah genap empat tahun, dia pasti move on, kok.”
Ngomong-ngomong soal move on, mendadak Dinda teringat pemandangan di mall kala itu. Dimana Bagas berpelukan dengan seorang wanita, di tangannya terdapat buket bunga, lali wanita itu tak segan mencium pipinya.
Bagas berjalan menghampiri Dinda dan Mbak Tari yang masih terlibat obrolan. “Kamu sudah move on?”
“Sudah,” jawab Dinda, memberi keyakinan pada dirinya, bahwa tak ada masa depan bersama Bagas.
“Kamu sudah punya kekasih?”
“Sudah,” jawab Dinda datar.
“Ya—” Mbak Tari mendesah kecewa, padahal ia sangat berharap Bagas dan Dinda bisa bersama lagi seperti dulu. Mereka terlalu serasi untuk berpisah.
Kedatangan taksi online pesanan Dinda, menjadi penyelamat wanita itu, “Taksiku sudah datang,” katanya dengan senyum lega.
Mama Yanti ikut datang menghampiri. “Lho, Mama kira diantar Bagas?”
“Nggak, Ma. Aku sedang buru-buru, ada janji dengan pemilik toko kain.”
“Oh, begitu, padahal, kan—” Mama Yanti pun tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.
Detik berikutnya Dinda kebingungan, apakah ia harus mencium tangan Bagas, atau tidak?
Bagas jadi ikut salah tingkah.
“Aku duluan, ya.” Akhirnya Dinda bisa melangkah pergi, pamitnya cukup begitu saja, lagipula Eyang Tuti tak melihatnya.
“Hati-hati, Dind,” pesan Mbak Tari.
“Iya, Mbak.”
Mbak Tari jadi gemas sendiri melihat adik dan mantan adik iparnya itu. Kentara sekali kalau masih saling cinta, kenapa pakai gengsi segala? “Kenapa nggak cium tangan?”
“Bukan suami istri, Mbak,” jawab Bagas saat berjalan menuju mobilnya.
“Tapi tidur, se kamar.”
Bagas berbalik, “Dinda mau tidur di ruang tengah, Mbak. Masa iya aku diam saja? Kalau Eyang lihat bagaimana?”
“Oh, begitu. Jadi cuma karena Eyang, toh.”
“Mbak pikir karena apa?”
Mbak Tari pun mengakhiri perdebatan, jika tidak, maka ini akan terus berlangsung sampai besok pagi lagi.
“Dinda, sudah punya pacar? Apa mungkin pria yang kemarin itu?” gumam Bagas ketika membuka pintu mobilnya.
•••
Siang harinya.
Dinda baru saja kembali dari toko kain, dan ia mampir ke playgroup milik Dinara sahabatnya.
“Duh, lama nih Ibu Bos nggak datang.”
“Kamu ini bisa saja.”
Dinda menyempatkan diri mampir sebab ia ingin bercerita, dan hanya Dinara yang bisa ia percaya. “Hidupku sedang sangat melelahkan.”
“Kenapa? Bukannya bahagia, karena sekarang kamu tinggal sama Bagas? Ups—” Dinara keceplosan.
Dinda melotot, karena Dinara tahu dirinya tinggal di rumah Bagas. “Kok, kamu tahu?”
“Maaf, aku yang memberitahu dia alamat butikmu. Habis aku tak tega, wajahnya benar-benar kacau, Dind. Setelah kalian bercerai, Bagas sengaja tidak melewati lokasi butik lamamu, jadi jalan itu, seperti jalan keramat bagi Bagas.”
“Tapi, dia kembali datang dan melihat tempat itu kini berubah menjadi pet shop. Karena itulah dia mendatangiku.”
Dinda tak bisa berbuat apa-apa, semua sudah terjadi. “Jadi, gimana rasanya bisa tinggal serumah lagi?”
“B ajah,” jawab Dinda malas.
“Masa, sih, cuma B?”
Dinda menyendok ice cream yang di suguhkan Dinara. “Ini makan ice cream dulu, aku mau ngecek anak-anakku, sudah pulang semua atau belum?”
Dinda menatap kepergian Dinara, “Eh, Alisha, sudah di jemput, Sayang?”
“Sudah, Bu. Itu sama Mbak Mirna, karena Mami di rumah sakit sampai malam,” jawab gadis kecil itu dengan sangat pengertian.
Dinda menatap gadis kecil yang dipanggil dengan sebutan Alisha itu, senyumnya cerah ceria karena pengasuhnya sudah datang menjemput. Tapi, senyuman itu mirip senyuman seseorang yang sangat ia kenal.
“Salam buat Mami, ya, Sayang?” pesan Dinara, setelah menyerahkan Alisha ke pengasuhnya.
“Iya, Bu Dinar, bye— bye—”
“Bye Alisha, sampai jumpa besok.”
Tatapan mata Dinda tak bisa lepas dari gadis kecil itu, ada magnet tak kasat mata yang menarik dirinya, tak bisa berpaling sampai Alisha menghilang di balik pintu mobil.
Jantung Dinda berdebar kencang, kenapa, kenapa perasaan aneh ini melingkupi hatinya?
aku lupa nama Kaka nya bagas